Blog Archives

Demokrasi: Senjata Beracun untuk Menikam Islam


Barat kembali menunjukkan watak kebenciannya terhadap Islam. Sebuah majalah Prancis, Charlie Hebdo membuat edisi terbaru dengan mengklaim sebagai “majalah Syariah Mingguan”, mencantumkan nama Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin redaksi dan redaktur tamu (lihat, Republika.co.id, 2/11). Sampul majalah itu menunjukkan Nabi saw mengatakan: “100 cambukan jika anda tidak tertawa”. Lalu, ada sebuah halaman berisi gambar hidung Nabi Muhammad yang memerah, di bawahnya tertulis, “Ya, Islam identik dengan humor”. Dalam pernyataannya majalah itu dikeluarkan untuk merayakan kemenangan partai an-Nahdhah dalam pemilu Tunisia.

Hal itu segera mengundang reaksi kemarahan dari kaum Muslim di Prancis. Menurut Ahmed Dabi, aktivis pembela hak Muslim Perancis, majalah itu sengaja memprovokasi kemarahan dan ketidaksukaan terhadap Muslim (lihat, news.yahoo.com, Rabu, 2/11).

Sekjen OKI, Profesor Ihsanoglu mengatakan: “Publikasi dari kartun yang menghina oleh majalah – yang memiliki sentimen yang menyerang Muslim melalui publikasi sangat provokatif, dan tidak toleran terhadap Islam dan Muslim – adalah sebuah tindakan keterlaluan dari hasutan, kebencian dan penyalahgunaan kebebasan berekspresi. “(eramuslim, 3/11)

Kebencian Barat

Olok-olok terhadap Islam oleh Barat sudah berulangkali terjadi. Tahun 2005, koran Jyland Posten Denmark memuat 12 karikatur yang menghina Nabi saw. Di Belanda, tahun 2004, Theo van Gogh membuat film yang melecehkan Islam. Masih di Belanda, Geert Wilders, anggota Parlemen Belanda dari Partai Kebebasan, juga menghina Islam melalui berbagai pernyataan, tulisan dan film yang dibuatnya.

Di Amerika Serikat, tahun lalu, dalam rangka peringatan tragedi WTC 9/11, sekte kecil agama Kristen di Florida, pimpinan Pastor Terry Jones dari Gereja World Outreach Center, membakar al-Quran. Sementara itu di bulan Oktober lalu film kartun South Park juga menampilkan sosok Nabi saw. dalam salah satu episodenya.

Semua itu hanya menunjukkan betapa dalam kebencian barat kepada Islam dan Umat Islam. Kebencian itu nampak pula dari sikap diskriminatif mereka terhadap warga muslim yang berdomisili di Eropa. Berdasarkan laporan dari Departemen Luar Negeri AS tahun lalu tentang HAM, telah terjadi peningkatan diskriminasi dan rasisme terhadap umat Islam di Eropa (sabili.co.id,12/3/2010).

Pemerintah Prancis, akhir tahun lalu, mengeluarkan UU yang menetapkan denda sebesar 150 Euro bagi wanita yang mengenakan niqab (cadar). Seorang suami yang terbukti memaksa istrinya untuk memakai niqab (cadar), akan dijatuhi sanksi penjara satu tahun dan denda 30 ribu Euro. Dan orang yang sengaja memaksa perempuan memakai niqab (cadar), maka akan jatuhi sanksi penjara hingga dua tahun dan denda yang lebih besar .

Kaum Muslim di sejumlah negara di Eropa juga masih kesulitan membangun tempat peribadatan. Pada Oktober lalu, pemerintah Swiss melarang pembangunan menara mesjid di negeri tersebut.

 

Kebusukan Demokrasi

Ironinya, semua serangan terhadap Islam dan kaum Muslim di Barat terjadi dengan alasan demokrasi dan kebebasan. Contoh, editor Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier mengatakan, “Kami pikir mungkin akan ada rasa hormat yang lebih untuk pekerjaan satir kami, hak kami untuk mengejek. Kebebasan untuk memiliki tawa yang baik adalah sama pentingnya dengan kebebasan berbicara.” Koran Jylland Posten memuat karikatur yang menghina Nabi saw juga dengan dalih kebebasan berpendapat.

Semua itu menampakkan dengan jelas kepada kita bahwa demokrasi selalu menerapkan standar ganda, khususnya untuk Islam dan kaum Muslim. Dengan dalih kebebasan, Barat beramai-ramai melecehkan ajaran Islam dan menghina Rasulullah saw. Di sisi lain, mereka melarang tulisan atau propaganda yang menyerang Yahudi dan Israel dengan dalih anti-Semit. Jika terkait Islam dan kaum Muslim, maka demokrasi dan kebebasan berpendapat bahkan kebebasan beragama, tiba-tiba saja menjadi tidak ada.

Kebusukan demokrasi juga nampak dari sikap tidak toleran mereka terhadap kaum Muslim. Pelarangan niqab, tudingan radikalisme, pelarangan pembangunan masjid di sejumlah negara di Eropa tidak pernah mereka anggap sebagai melanggar kebebasan warga negara, atau dituding melakukan praktek tirani mayoritas. Sedangkan di Indonesia, pelarangan pembangunan gereja seperti GKI Yasmin di Bogor, dengan cepat dinilai sebagai penindasan oleh mayoritas (umat Islam), meski sebenarnya pembangunan itu dilakukan dengan memanipulasi tanda tangan warga.

Sungguh telah jelas sikap permusuhan Barat terhadap Islam dan umat Islam. Berulangkali mereka telah melakukan tikaman keji terhadap umat ini. Lalu masih layakkah umat mempercayai dan menjadikan mereka sebagai teman? Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. (QS. Ali Imran [3]: 118).

 

Sungguh tampak jelas, demokrasi adalah senjata beracun yang digunakan Barat untuk menikam Islam dan umat Islam. Maka saatnya umat mencampakkan demokrasi itu, dan kembali kepada syariat Allah. Tidak pantas seorang muslim yang mengaku mencintai Rasul saw justru memilih aturan hidup lain yang rusak, padahal Nabi saw telah bersabda:

« يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ »

Hai manusia sungguh telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

 

Sikap Islam

Imam Asy-Syaukani menukil pendapat para fuqaha bahwa orang kafir dzimmi seperti Yahudi, Nashrani, dan sebagainya, yang menghujat Rasul saw. terhadap mereka harus dijatuhi hukuman mati, kecuali apabila mereka bertaubat dan masuk Islam. Sedangkan bagi seorang Muslim, ia harus dieksekusi tanpa diterima taubatnya. (Nailul Authar, VII/213-215). Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan:

« أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتِمُ النَّبِىَّ e وَتَقَعُ فِيهِ فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ e دَمَهَا »

Bahwa seorang wanita yahudi mencaci dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Maka ada seorang laki-laki mencekiknya hingga mati. Maka Rasulullah saw. membatalkan (diyat) darahnya. (HR Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Ibnu Abbas telah meriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki buta yang istrinya senantiasa mencaci dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Lelaki itu telah berusaha melarang dan memperingatkan agar istrinya tidak melakukannya. Sampai suatu malam istrinya itu mulai lagi mencaci dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Lelaki itu lalu mengambil kapak kemudian dia tebaskan ke perut istrinya dan ia hunjamkan dalam-dalam sampai istrinya itu mati. Keesokan harinya, beliau saw mengumpulkan kaum Muslim dan setelah laki-laki itu menceritakannya Nabi saw bersabda:

« أَلاَ اِشْهَدُوْا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ »

 Saksikanlah bahwa darahnya (wanita itu) halal (HR. Abu Dawud, al-Hakim dan al-Baihaqi)

 

Hukum itu dan penjagaan atas kehormatan Islam, Nabi saw, sahabat, keluarga beliau dan umat Islam hanya bisa sempurna dilaksanakan oleh seorang Khalifah dengan sistem Khilafah. Sejarah telah menunjukkan hal itu.

Bahkan saat dalam kondisi lemah sekalipun, Khilafah tetap menjaga Islam dan kaum Muslim. Khilafah tetap mampu menghembuskan ketakutan ke dalam hati kaum kafir penjajah. Henri de Bornier, seorang penyair dan dramawan Perancis menulis drama bernuansa anti-Islam yang berjudul “Mahomet (Muhammad)” pada tahun 1889. Perdana Menteri Prancis Charles de Freycinet melarang drama itu pada tahun 1890 setelah ada penentangan dari Khilafah Utsmani.

Bernard Shaw menyebutkan dalam memoarnya, bahwa pada tahun 1913 M, yaitu pada zaman Khilafah Utsmaniyah sudah lemah, dia dilarang mengeluarkan kisah yang berisi penghinaan kepada Nabi saw. Lord Chamberlin melarangnya karena takut terhadap reaksi duta besar Daulah Khilafah Utsmaniyah di London.

Maka pada saatnya, Khilafah akan menggunakan semua sumber daya politik, ekonomi dan militernya untuk melindungi kehormatan Nabi Muhammad SAW dan semua nabi lainnya (Adam, Nuh Musa dan Isa bin Maryam dsb). Juga membela kehormatan umat Islam dan Islam itu sendiri.

 

Wahai Kaum Muslim

Karena itulah, siapa saja yang mencintai Nabi saw., dia harus berjuang untuk mendirikan Khilafah. Siapa saja yang perasaannya marah kepada orang yang menghina Rasul saw., dia harus berjuang untuk mendirikan Khilafah. Siapa saja yang marah karena Nabi saw., dia harus berjuang untuk mendirikan Khilafah. Siapa saja yang menginginkan Allah mengobati hati orang-orang Mukmin dari perilaku orang yang menghina Rasul saw., dia harus berjuang untuk mendirikan Khilafah. Siapa saja yang mencintai Rasulullah saw., dia pun harus mengikuti Beliau saw. dan berjuang untuk mengangkat seorang Khalifah yang dibaiat sehingga dia tidak mati dalam keadaan Jahiliah. Khilafah inilah yang akan melindungi tanah dan kehormatan. Karena itu, berjuanglah, wahai para pejuang. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Syariat Islam Menghilangkan Money Politic


Oleh: Hafidz Abdurrahman

Praktik politik uang (money politic) berkembang dan marak dalam sistem politik oportunistis. Sistem politik yang jauh dari pondasi agama, alias sekuler. Sistem politik yang lahir dari cara pandang benefit (asas manfaat), di mana untung dan rugi merupakan satu-satunya standar dalam berpolitik. Untuk meraih benefit (keuntungan), segala cara pun dihalalkan, asal tujuan tercapai.

Dalam landscape politik seperti itu, para politikus tidak pernah berpikir bagaimana mengurus urusan umat. Karena itu, mereka tidak pernah hadir di tengah-tengah umat, ketika mereka dibutuhkan. Mereka pun jauh dari umat. Mereka baru mendekat, atau tepatnya mendekati umat, ketika mereka membutuhkan umat untuk kepentingan politik mereka. Karenanya, aceptabilitas (penerimaan) mereka di tengah-tengah umat pun rendah. Demikian juga elektabilitas (keterpilihan) mereka.

Namun, alih-alih mereka memerhatikan dan mengurus kepentingan umat dengan tulus, yang dengan begitu aceptabilitas dan elektabilitas mereka bisa naik, justru mereka lebih memilih jalan pintas. Pada saat seperti itu, mereka pun menyogok umat dan siapapun yang bisa disogok dengan uang najis para politikus oportunistis itu. Umat yang hidup dalam kultur politik yang korup dan kesulitan ekonomi pun tidak jarang yang akhirnya ikut menikmati uang najis itu. Karenanya, terjadilah patgulipat, alias simbiosis mutualisme.

Landscape dan kultur politik seperti inilah yang berkembang dalam sistem politik kapitalis. Selama pondasi, standar dan cara pandang politiknya masih dibangun berdasarkan sekularisme dan asas manfaat, selama itu pula landscape dan kultur politik seperti ini akan terus hidup dan tumbuh subur. Untuk menghentikan praktik politik seperti ini, yang dibutuhkan bukan hanya sekadar reformasi, tetapi perubahan mendasar. Akidah sekuralisme, yang menjadi pondasi politik oportunistis harus dibuang, diganti dengan Islam. Demikian pula, standar dan cara pandang benefit, harus dibuang jauh-jauh, diganti dengan halal-haram. Praktik menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan juga harus dihilangkan, diganti dengan keterikatan pada hukum syariah. Inilah perubahan mendasar yang dibutuhkan dan harus dilakukan.

Pertanyaannya kemudian, apa jaminannya jika Islam diterapkan, landscape dan kultur politik yang korup, termasuk politik uang (money politic) bisa dihilangkan? Jawabannya, pertama, jaminan itu ada pada akidah Islam yang menjadi pondasi kehidupan, termasuk sistem politik. Akidah Islam menjadikan setiap pemeluknya mempunyai ketakwaan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga muncul self control (control pribadi) di dalam diri mereka. Dengan ketakwaan yang sama, masyarakat juga memilikisocial control, sehingga kewajiban amar makruf dan nahi munkar bisa berjalan dengan baik dan efektif di tengah-tengah masyarakat. Dengan akidah Islam pula, tidak ada satu pun hukum yang dijalankan oleh negara, kecuali hukum Islam. Negara pun tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum terhadap seluruh rakyat. Karena itu, dengan ketiga faktor ini, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan negara yang konsisten menegakkan hukum Islam, maka satu-satunya kultur yang tumbuh dan berkembang adalah kultur yang baik dan sehat.
Ketika Abu Hurairah diutus oleh Nabi SAW selaku kepala negara untuk mengambil jizyahdan kharaj dari warga Yahudi, mereka pun berusaha menyuap utusan Nabi tersebut dengan mengumpulkan perhiasan istri-istri dan anak-anak mereka. Mereka mengatakan, “Kami telah mengumpulkan perhiasan ini dari istri-istri dan anak-anak perempuan kami untuk Anda, agar Anda bisa mengurangi jumlah pungutan yang Anda ambil dari kami.” Dengan tegas, Abu Hurairah pun menolak, seraya berkata, “Celakah kalian wahai bangsa Yahudi. Karena tindakan kalian, Allah telah melaknat kalian melalui lisan Nabi Dawud.” Ketika mendengar jawaban Abu Hurairah itu, mereka menyatakan, “Andai saja para pejabat negara seperti Anda, niscaya langit dan bumi ini akan tetap tegak selamanya.” Abu Hurairah bisa seperti itu karena ketakwaan pribadinya, sehingga self control-nya begitu kuat, dan tidak mempan disuap.

Ketika Khalifah Mu’awiyah melaknat Imam ‘Ali di mimbar-mimbar masjid, Asma’ binti Abu Bakar, mendatanginya dan menasihatinya agar tidak melakukan tindakan tidak etis itu. Bukan hanya Asma’, jamaah pun meninggalkannya agar tidak mendengarkannya melaknat ‘Ali (al-Ya’qubiTarikh al-Ya’qubi, 155). Ketika Khalifah Ja’far bin al-Manshur berangkat haji dari Baghdad ke tanah suci dengan menyertakan rombongan, maka seorang ulama berdiri menasihatinya seraya mempertanyakan dana yang digunakan sang  khalifah untuk memberangkatkan mereka. Ulama itu adalah Sufyan as-Tsauri (Ibn Qutaibah ad-Dainuri, al-Imamah wa as-Siyasah, Juz II/172). Seorang raja ulama sekelas Izzuddin bin Abdussalam, ketika melihat kesalahan penguasa dalam kebijakan politik mereka, tidak segan-segan untuk membeberkan dan mengoreksi kesalahan tersebut di mimbar-mimbar khutbah. Ketika ditanya oleh muridnya, apakah ia tidak khawatir dengan tindakannya? Dengan tegas ia menyatakan, “Ketika Allah telah aku hadirkan dalam diriku, maka penguasa itu di mataku, ibarat seekor kucing.” (Fauzi Sinnuqarth, Taqarrub Ila-Llah,  hal. 161) Sekali lagi, ketakwaanlah yang membentuk social control dalam diri Asma’, Sufyan as-Tsauri dan Izzuddin Abdussalam.

Ini hanya sekelumit contoh, bahwa Islam merupakan jaminan tumbuh dan berkembangnya landscape dan kultur politik yang bersih di tengah-tengah masyarakat. Selain ketiga faktor di atas, Islam juga mempunyai mekanisme yang jelas sehingga praktik-praktik politik yang kotor dan korup itu bisa dibersihkan.

Islam, misalnya, dengan tegas mengharamkan praktik suap, penyuap (ar-rasyi), penerima suap (al-murtasyi) dan perantara/broker (ar-ra’is bainahuma). Bukan hanya suap yang diharamkan, tetapi hadiah yang diberikan kepada penguasa juga diharamkan. Selain mengharamkan praktik suap dan hadiah, Islam juga menutup celah tumbuh dan berkembangnya praktik kotor seperti ini. Karena umumnya praktik suap dan hadiah ini terkait dengan kepentingan (kemaslahatan) penyuap yang hendak dipenuhi, sementara aspek ini terkait dengan urusan administrasi dan birokrasi, maka Islam pun membangun administrasi dan birokrasinya dengan tiga prinsip dasar: (1) birokasi yang sederhana (basathah fi an-nidzam); (2) cepat proses dan penyelesaiannya (sur’ah fi injaz); (3) ditangani oleh orang cakap dan bertakwa (‘Abd al-Qadim Zallum, Nidzam al-Hukm fi al-Islam, hal. 211-213).

Selain ketiga ciri di atas, birokrasi dan administrasi negara juga tidak bersifat sentralistik, tetapi desentralistik. Di tiap kota kecil atau besar ada biro administrasi, yang memungkinkan penduduk setempat untuk menyelesaikan urusan administrasi cukup di tempatnya, tidak perlu harus merujuk ke pusat. Manajemennya pun berkembang mengikuti perkembangan sarana dan prasarana, atau teknologi mutakhir. Tidak hanya itu, biro-biro ini juga dikepalai oleh ahli di bidangnya, serta memiliki sifat amanah, ikhlas, bertakwa kepada Allah dan cakap (Muhammad Husain ‘Abdullah, Dirasat fi al-Fikr al-Islam, hal. 86).

Dengan sistem seperti itu, celah dan peluang terjadinya praktik suap dan korupsi bisa ditutup rapat-rapat. Jika seluruh celah dan peluang tersebut tidak ditutup, tetapi masih nekat melakukan korupsi, maka hukum akan ditegakkan dengan tegas, tanpa pandang bulu. Islam pun menetapkan ta’zir, sebagai bentuk sanksi yang diberlakukan kepada mereka, di mana kadar dan beratnya akan ditetapkan oleh hakim.

Dengan semuanya itu, maka masyarakat pun bersih dari landscape dan kultur politik yang korup dan kotor, yang bukan saja membahayakan pelakunya, tetapi juga sendi-sendiri kehidupan masyarakat, bisa dibersihkan sebersih-bersihnya. Namun, semuanya itu hanya bisa diwujudkan dalam sebuah negara yang bernama Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Itulah negara yang diidam-idamkan oleh setiap orang Mukmin.Wallahu a’lam.

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2011/06/05/syariat-islam-menghilangkan-money-politic/

Carol Doyle, Menjadi Muslim Sebulan


Carol Doyle, Menjadi Muslim Sebulan

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL–Khawatir dan was-was. Itulah gambaran hati Carol Doyle, pelatih kuda dan terapis pijat dari Dublin, Irlandia, saat menginjakan kaki di  Istanbul Turki. Doyle, 27 tahun, sedang mengikuti program menjadi Muslim selama sebulan.

Dua pertanyaan yang mengemukan dalam benak Doyle. Pertama, apakah tempat tidurnya senyaman miliknya? Kedua, apakah secara fisik dan mental akan membuat dirinya nyaman. “Ya ampun, saya akan belajar menjadi Muslim selama sebulan,” gumam dia dalam hati, seperti dikutip dari Alarabiya, Senin (13/6).

Program Muslim sebulan merupakan program Yayasan Muslim For A Month yang berbasis di Istanbul, Turki. Yayasan ini memberikan kesempatan kepada warga dunia untuk mengenal tradisi Islam di Turki. Oleh yayasan tersebut, mereka yang terpilih akan diajak untuk menyelami ajaran-ajaran Rumi dan Sufi yang berkembang di Turki. Doyle merupakan salah seorang yang terpilih mengikuti program tersebut.

Doyle, yang baru pertama kali menginjakan kaki di Turki, sempat mengunjungi Masjid Eyup, masjid bersejarah di Turki. Di tempat ini, Doyle yang ditemani seorang pembimbing diperkenalkan dengan tradisi yang berkembang di masjid Eyup. Doyle mengaku, program ini banyak menceritakan kisah menarik.

Sebagai contoh, Doyle berkesempatan untuk mendapatkan cerita dari dua orang Muslim kelahiran Barat. Sosok pertama, merupakan Muslim yang lahir dan dibesarkan di Kanada. Yang kedua, seorang perempuan Inggris yang memutuskan masuk Islam. Dari kedua narasumber itu, Doyle mendapatkan pengetahuan tentang seluk beluk Islam. “Mereka banyak berbicara kehidupan mereka sebagai Muslim dan bagaimana keyakinan mereka kepada Islam membantu untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia,” cerita Doyle.

Dalam kesimpulannya, Doyle mengatakan bahwa agama memberikan pengaruh pada budaya yang selanjutnya membantu individu mengintepretasikan sosok Tuhan. Lantaran pengaruh itu pula, agama mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. “Lantas mana yang datang terlebih dahulu, berdoa atau keyakinan itu sendiri?” tanya Doyle.

Doyle mengatakan dengan suasana Islam yang begitu kental, seorang turis yang tidak beragama pun sulit untuk menghindari suasana azan yang kental dengan nuansa ritual Muslim. Dia mengaggumi panggilan ritual itu yang menyebutkan nama Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengejawantahan kemurahan hati dan kebaikan. “Apa pun alasan Anda, saya menemukan kebaikan dalam diri masyarakat jika diikuti, sama hal melepaskan kebencian dalam diri,” kata Doyle.

Doyle juga menganggumi pemandangan indah Istanbul, Bursa, Edirne, dan Konya, tempat asal Rumi. Secara pribadi, Doyle menilai keindahan arsitektur  begitu mencengangkan. Apalagi, ketika mengetahui bagaimana setiap bangunan yang ada dibangun dengan tidak mengandalkan inteletual tetapi juga spiritualitas. “Saya merasa dalam batu bata itu semua untuk saya. Saya merasa bagian dari itu,” ungkap Doyle.

Doyle pun menyempatkan diri mengenalkan jilbab. Saat mengenakan jilbab, ia merasa dekat dengan Tuhan. Doyle percaya setiap manusia memiliki perasaan khusus dan terhubung dengan yang lain, dan merasa memiliki kelemahan yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Mungkin, kata dia, manusia hanya berpikir kelemahan hadi karena mempermalukan manusia lain. “Kita bukanlah mahluk yang kuat. Apalagi saat kita menyadari bahwa diri kita berasal dari batu bata itu, kuat dan indah,” kata dia.

Menurut dia, memasuki kepercayaan agama lain tidak akan membagi organisasi agama, tetapi membagi keyakinan terhadap Tuhan dengan perspektif baru. Satu hal lain, dari setiap anggota dari kelompoknya melihat dan merasakan bagaimana kepercataan dalam praktek kehidupan membuat mereka melihat kembali keyakinannya dengan pandangan baru. “Kamu menemukan banyak hal yang belum pernah kami lihat sebelymnya,” kata dia.

Setiap Muslim,  tidak percaya Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.Bagi mereka, Tuhan itu tak berbentuk, tak terbatas dan mencakup semua. Bagi mereka tidak ada pemisahan antara siapa dan apa pun, entah itu Yahudi, Kristen, atau Ateis.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Agung Sasongko

Karena Ada Kamera Pengawas, Rabbi Yahudi Larang Berdoa di Tembok Barat


Seorang rabbi Yahudi terkemuka Israel telah mendeklarasikan Tembok Barat terlarang bagi kaum yahudi taat pada hari paling suci dalam seminggu (hari Sabtu) karena adanya kamera keamanan yang menurutnya telah menodai hari Sabat.

Masalah tempat doa yang dianggap paling suci dalam Yudaisme adalah dengan teknologi, kata Rabbi Yosef Shalom Eliashiv.

Yahudi yang taat benar-benar mengikuti perintah taurat untuk tidak bekerja pada hari Sabat (Sabtu). Eliashiv mengatakan adanya kamera pengawas tertutup yang diaktifkan, telah melanggar larangan Yahudi pada mengoperasikan peralatan elektronik pada hari Sabat.

Sebuah koran Yahudi ultra-Ortodoks di Israel menerbitkan peringatan rabbi tersebut akhir pekan lalu taat. Rabbi yahudi tersebut mengatakan orang-orang Yahudi tidak boleh mengunjungi situs Tembok ratapan pada hari Sabat sampai teknologi kamera pengawas aktif hilang di daerah itu.

Rabbi yang mengawasi Tembok Barat, Shmuel Rabinowitz, mengatakan ia dan polisi Yerusalem bekerja untuk memperbaiki masalah ini.

Jurubicara kepolisian Shmuel Ben-Ruby mengatakan jika pihak berwenang rabbi mengusulkan solusi teknologi, “kami dengan senang hati akan mempertimbangkannya.”

Tembok Barat, yang terletak di Kota Tua Yerusalem, konon menurut keyakinan Yahudi adalah dinding penahan dari kuil yahudi yang telah berdiri 2.000 tahun yang lalu. (fq/ap)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/rabbi-yahudi-nyatakan-tembok-ratapan-terlarang-karena-ada-kamera-pengawas.htm

Inilah Tanda-tanda Kehancuran Zionis


Inilah Tanda-tanda Kehancuran Zionis

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN–Situs Debkafile yang berafiliasi terhadap rezim Zionis Senin lalu mengemukakan prediksi akan terjadinya sejumlah peristiwa penting di kawasan. Pasalnya, di Amman, ibu kota Yordania baru-baru ini berlangsung pertemuan keamanan segi lima yang dihadiri para pejabat tinggi Amerika Serikat, Yordania, Otorita Ramallah, Mesir dan Israel. Pertemuan keamanan itu membahas agenda utama mencari strategi mewujudkan proses perundingan damai antara Israel dan Palestina yang menemui jalan buntu.

Tersebarnya berita diterimanya prakarsa penghentian pembangunan permukiman Zionis selama 90 hari oleh Perdana Menteri rezim Zionis, Benyamin Netanyahu yang ditebus dengan sejumlah dana besar tampaknya biasa saja. Namun, berita ini menjadi sorotan ketika bersanding dengan kabar sakitnya Raja Arab Saudi yang semakin parah. Pasalnya penguasa Arab berusia 83 tahun ini adalah salah seorang inisiator program perdamaian Arab Beirut tahun 2002 lalu.

Di luar itu, sekutu strategis Israel lainnya, Presiden Mesir Hosni Mubarak dan suksesi di Mesir serta gunungan masalah internal Israel lainnya menjadi agenda utama pertemuan Amman. Kini, kawasan Timur Tengah menghadapi peristiwa penting.

Menengok sejarah, Raja Abdullah ketika masih menjadi putra Mahkota pernah mengusulkan perdamaian Arab dalam pertemuan Liga Arab di Beirut pada tahun 2002. AS berharap Arab Saudi di tangan Abdullah bisa mendukung pemulihan hubungan Arab-Israel di satu sisi dan hubungan Palestina-Israel di sisi lain.

Setelah Abdullah diangkat menjadi orang nomor satu di Arab Saudi, ia mengusulkan partisipasi Fatah dalam pemerintahan Palestina di Jalur Gaza dalam pertemuan Mekah pada tahun 2007. Padahal, berdasarkan undang-undang Palestina sendiri, Fatah tidak berhak mendapat jatah kue kekuasaan dalam pemerintahan yang dimenangkan Hamas secara demokratis pada pemilu tahun 2006.

Tidak bisa dipungkiri, Saudi dengan menguasai Fatah dalam pemerintahan baru Palestina, bermaksud menguasai hirarki kekuasaan di Palestina. Tidak mengherankan, ketika Hamas, berdasarkan undang-undang, tidak menyepakati keberadaan Fatah di kementerian yang sensitif, tidak ada negara Arab, terutama Riyadh dan Kairo yang mendukung pemerintahan Hamas di Jalur Gaza.

Sejatinya, Arab Saudi, Mesir dan Yordania memainkan peran penting di Palestina. Mesir yang tidak menyetujui peran Arab Saudi dalam kasus Palestina, setelah kegagalan kesepakatan Mekah menggulirkan rekonsiliasi nasional Palestina. Eksekusi prakarsa Kairo ini relatif bisa menangguhkan pembentukan pemerintahan baru Palestina, namun akhirnya Hamas membentuk pemerintahan Palestina di Jalur Gaza.

Hamas akhirnya menyerahkan sejumlah kementerian kepada gerakan Fatah. Pemerintah pilihan rakyat Palestina yang mengusung reformasi sosial dan politik di Palestina, memulai program pembersihan orang-orang yang tidak layak di pemerintahan Palestina di Jalur Gaza, yang berbuntut tersingkirnya orang-orang Fatah dari jabatan kementerian.

Sontak, Fatah mereaksinya dengan berang, dan menyebut pemerintahan pilihan rakyat Hamas di Jalur Gaza tidak demokratis. Kemudian pemerintah Riyadh dan Kairo sebagai sekutu Otorita Ramallah memboikot pemerintahan baru Hamas di Jalur Gaza. Inilah pemicu boikot total Barat dan rezim Zionis atas Gaza. Sementara itu, Saudi dan Mesir terus memimpin arus anti-muqawama di kawasan.

Pasca empat tahun dari kemenangan pemilu demokratis di Jalur Gaza yang dimenangkan Hamas, pemerintah Riyadh dan Kairo sebagai negara poros anti muqawama di kawasan mengkhawatirkan eskalasi dukungan terhadap Hamas di kawasan.

Tampaknya, Presiden Mesir Hosni Mubarak dan sejawatnya Raja Abdullah tidak lama lagi akan mengakhiri karir politiknya sebagai orang nomor satu di negaranya masing-masing. Dalam kondisi sensitif saat ini, tidak diragukan lagi perundingan segi lima di Amman yang membahas perundingan Palestina-Israel tidak lagi menjadi isu penting bagi Washington.

Mengingat situasi politik di Mesir dan Arab Saudi, serta kondisi sensitif di kawasan terutama wajah suram AS di Timur Tengah, tampaknya transisi kekuasaan di Arab Saudi dan Mesir tidak akan berjalan mulus. Untuk itu, pemimpin kedua negara saat ini tengah mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah itu.

Pertemuan segi lima Amman merupakan tempat yang tepat untuk membahas solusi mengenai masalah tersebut serta mengantisipasi kemungkinan kudeta di dua negara poros utama pendukung perdamaian Arab-Israel.

Sementara itu, koalisi baru muncul di kawasan dan membentuk bola salju yang terus menggelinding kencang. Melebihi sebelumnya, kondisi ini semakin mempersulit AS dan sekutunya di kawasan.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/10/11/24/148502-inilah-tandatanda-kehancuran-zionis

%d bloggers like this: