Blog Archives

10 Alasan Israel Bisa Dikalahkan


Serangan Israel yang tidak pandang bulu terhadap Gaza sekali lagi mengangkat isu atas legitimasi Israel. Para penguasa Muslim memutuskan untuk tidak memutuskan diri dari masa lalu dan sekali lagi melakukan tindakan untuk sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap pendudukan Israel. Mereka adalah para penguasa yang secara sadar maupun tidak menjaga argumen Israel sebagai sebuah negara yang tak terkalahkan dan bahwa dunia Muslim harus menerima keberadaan Israel dan bernegosiasi dengan apa yang tersisa dari Palestina. Berikut adalah 10 contoh yang membantah argumen bahwa Israel adalah negara tak terkalahkan.

Kedalaman Strategis – Israel adalah negara buatan yang diciptakan oleh kekuasaan kolonial. Negara ini sangat kecil sehingga dalam setiap skenario perang wilayah Israel akan menderita kerugian dan kerusakan yang signifikan karena harus berjuang dari dalam wilayahnya sendiri. Sebuah pesawat tempur musuh bisa terbang di seluruh wilayah Israel (dengan luas 40 mil laut dari Sungai Yordan hingga ke Laut Mediterania) dalam waktu empat menit.

Kohesi internal – stabilitas domestik selalu menjadi masalah bagi Israel karena negara itu didirikan atas dasar rasisme. Realitas Israel sebagai negara sekuler adalah bahwa praktek rasisme dilakukan pada tingkat negara, bahkan pada orang-orang Yahudi sendiri. Korelasi erat antara etnis dan kelas sosial-ekonomi di Israel masih merupakan sumbu utama. Hal ini terlihat pada kelompok-kelompok etnis dan kelas sosial ekonomi antara Ashkenazi – Yahudi  Eropa – dan Oriental – Yahudi Timur Tengah. Pembentukan kelas etnis Israel membagi masyarakat Yahudi Israel dari dalam. Politik Apartheid ini kini telah mengakar ke dalam sistem hukum, peraturan dan praktek yang mengatur pengoperasian lembaga negara.

Jumlah penduduk yang kecil – Masalah terbesar Israel adalah populasi yang relatif kecil. Israel memiliki penduduk sejumlah 7,9 juta orang dan memiliki masalah dalam peningkatan demografi jika ingin bertahan hidup di wilayah tersebut. Kaena Israel sangat jauh kalah dari segi jumlah dengan bangsa-bangsa di sekitarnya, negara itu memiliki ketergantungan besar pada migrasi. Dalam dekade terakhir tidak ada negara lain di dunia yang telah memiliki sebagian besar imigran baru yang akan hengkang dari negara itu. Karena kekhawatiran akan keamanan, semakin banyak warga Israel yang ingin meninggalkan Israel dan sekarang berada dalam situasi di mana setiap tahun lebih banyak orang Yahudi yang meninggalkan Israel untuk pergi ke Eropa dan Amerika Serikat daripada beremigrasi ke Israel.

Masalah Buruh –  Pengaruh dari kecilnya populasi adalah kekurangan tenaga kerja. Israel hanya memiliki tenaga kerja sejumlah 3,3 juta orang. Pembangunan ekonomi dan pembangunan industri adalah  industri padat karya yang bergantung pada pengetahuan dan keterampilan. Dengan tenaga kerja yang kecil, Israel sangat bergantung pada pengetahuan dan keahlian orang asing.

Ekonomi – Ekonomi Israel bernilai $ 245 milyar, dan ini terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan penduduk Israel. Hal ini membawa dampak pada seberapa banyak pajak pemerintah terkumpul untuk mensubsidi orang-orang Yahudi di dunia untuk bermigrasi ke Israel agar jumlah penduduknya menjadi normal. Akibatnya, Israel telah fokus pada industri-industri kunci untuk kelangsungan hidupnya. Ini berarti banyak industri-industri seperti pertambangan dan manufaktur telah terabaikan. Untuk mengkompensasi hal ini Israel mengandalkan teknologi, militer dan transfer bantuan asing. Hal ini juga bergantung pada orang-orang Yahudi yang berpengaruh di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat untuk memanipulasi kebijakan luar negeri dari negara-negara yang mendukung Israel. Israel memiliki ketergantungan yang besar pada kemauan baik negara-negara lain. Jika negara itu tidak disukai, Israel terlalu kecil untuk menjadi sebuah negara mandiri.

Kemiskinan – Salah satu efek dari kebijakan ekonomi tersebut adalah kemiskinan di Israel. Dua puluh empat persen – yakni lebih dari 2 juta warga Israel – hidup di bawah garis kemiskinan. Anggaran kecil dari pemerintah Israel telah menyebabkan banyak orang yang memanfaatkan hubungan keluarga untuk mendapatkan kekayaan. Sebuah laporan tahun 2010 menyoroti 18 keluarga Israel yang menguasai 60% dari semua perusahaan Israel. Kekayaan mereka terkonsentrasi di empat industri terbesar Israel: perbankan dan asuransi, bahan kimia, teknologi tinggi, dan militer / keamanan tanah air.

Kurangnya sumber daya – Israel tidak akan pernah menjadi mandiri karena harus selalu mengimpor energi. Israel sangat bergantung pada impor eksternal untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya, menghabiskan jumlah yang signifikan dari anggaran dalam negeri bagi sektor transportasi yang mengandalkan bensin dan solar, sementara sebagian besar produksi listrik dihasilkan dengan menggunakan batubara impor. Sementara wilayah lain memiliki banyak minyak dan gas, Israel tidak memiliki apa-apa.

Ketergantungan pada ekspor – pasar asing sangat penting bagi Israel. Karena memiliki pasar domestik yang sangat kecil (karena populasi yang kecil) negara itu terpaksa mencari pasar luar negeri untuk menghasilkan kekayaan. Negara industri umumnya menfokuskan 10% dari ekonomi mereka terhadap perdagangan luar negeri (impor dan ekspor). Namun 30% dari ekonomi Israel bergantung pada ekspor yang sangat tinggi. Ekspor utama Israel 10 tahun lalu adalah jeruk Jaffa dan produk pertanian lainnya. Saat ini diperkirakan 80% dari ekspor produk Israel adalah komponen berteknologi tinggi dan elektronik. 40 % dari ekspor Israel berakhir di pantai AS meskipun AS dapat membuat barang-barang pertanian dan perangkat keras komputer yang sama. Sebuah ketergantungan pada pasar luar negeri membuat perekonomian tergantung pada asing sehingga terus mengkonsumsi dan mengikat nasib ekonominya kepada negara lain.

Pertanian – Geografi Israel tidak kondusif untuk pertanian secara alami. Lebih dari setengah luas daratannya adalah padang pasir, dimana iklim dan kurangnya sumber daya air tidak mendukung pertanian. Hanya 20% dari luas daratan Israel yan hidup subur secara alami. Sementara Israel kini mampu menghasilkan sebagian besar dari apa yang dibutuhkan, negara itu juga harus mengekspor apa yang diproduksinya untuk memperoleh devisa yang sangat dibutuhkan. Walaupun Israel memiliki Perusahaan sepatu Achilles-Heel, negara itu perlu untuk mengimpor gandum. Delapan puluh persen gandumnya adalah impor, suatu hal yang merupakan beban bagi pendapatan pajak pemerintah.

Air – Israel menderita kekurangan air yang kronis. Dalam beberapa tahun terakhir dikhawatirkan bahwa di Israel mungkin terasa sulit untuk cukup dapat memasok kebutuhan air dalam kota dan rumah tangga. Sumber air Israel diperkirakan akan habis dimana 95% habis dikonsumsi. Sumber-sumber baru air yang dianggap kecil tidak akan dapat sepenuhnya menggantikan sumber utama air ketika sudah habis. (RZ; Current Affairs, 25 November 25, 2012 )

 

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/11/29/10-alasan-israel-bisa-dikalahkan/

Perancis Melarang Drama Anti-Islam Tahun 1890 Setelah Ada Penentangan Dari Khilafah Utsmani


Oleh Abdul-Kareem
Henri de Bornier, seorang penyair dan dramawan Perancis menulis drama bernuansa anti-Islam yang berjudul “Mahomet (Muhammad)” pada tahun 1889. Perdana Menteri Prancis Charles de Freycinet melarang drama itu pada tahun 1890 setelah ada penentangan dari Khilafah Utsmani.

“Bornier sendiri merupakan korban dari prasangka buta dan tidak beralasan kaum Muslim berkaitan dengan dramanya yang berjudul Muhammad itu. Mereka sedang berlatih drama pada tahun 1889 ketika sebuah surat kabar Turki memberitakan dari sumber berita jurnal Prancis tentang adanya rencana pergelaran drama itu. Kementrian Luar Negeri Perancis meyakinkan duta besar Turki di Paris, Es’at Pasha, bahwa drama itu bukan merupakan serangan terhadap Nabi Muhammad dan menghargai keyakinan kaum muslim. Bornier menunjukkan bahwa drama ta’ziya Persia atau drama yang berisi kesengsaraan yang menggambarkan wafatnya Nabi Muhammad maupun juga kematian para mujahid Syi’ah secara rutin telah dipertunjukkan, dan dia menawarkan pelarangan atas karyanya yang sedang dimainkan di Aljazair dan Tunisia. Namun, argumen itu masih belum berhasil untuk memuaskan otoritas Turki, dan pada tahun 1890 Kepala Pemerintahan Perancis, Freycinet, melarang pertunjukkan drama berjudul “Muhammad” di Perancis, larangan yang, seperti dilaporkan, menyenangkan Sultan Abdul Hamid II. Memang harus diakui bahwa tidak dapat disangkan umat Islam akan menganggap drama itu sebagai penghinaan di mana Nabi Muhammad digambarkan melakukan bunuh diri karena seorang wanita dan karena perasaan rendah diri atas agama Kristen, tetapi tidak ada bukti bahwa baik Duta Besar Turki atau Sultan telah menyaksikan drama itu, apalagi membacanya, ketika mereka pertama kali mengajukan keberatan atas hal itu. Menyerahnya Pemerintah Perancis atas tekanan Turki ini adalah hal yang masuk akal disebabkan oleh Martino hingga situasi politik kontemporer masa itu, karena pada tahun 1889 Kaisar Jerman William II memulai perjalanannya ke Istanbul dan Timur Dekat, dan Prancis takun untuk melakukan apapun yang mungkin mendorong Turki jatuh kedalam pangkuan Jerman, sedangkan kepekaan atas banyaknya warga Prancis Muslim di Afrika Utara juga harus telah menjadi pertimbangan. Baru pada tahun 1896, kutipan atas drama Muhammad ditmapilkan kepada publik dalam suatu gubahan yang khusus dibuat untuk deklamasi teater. Sejak zaman Bornier itu, tidak ada dramawan besar Eropa yang tampaknya telah memainkan drama tentang kehidupan Nabi. “

Sumber: C.E. Bosworth, ‘Sebuah Dramatisasi atas Kehidupan Nabi Muhammad: Drama ‘Mahomet’ karya Henri de Bornier, Numen, Vol. 17, Fasc. 2 (Agustus, 1970), hal 116

Khilafah di masa mendatang akan menggunakan semua sumber daya politik, ekonomi dan militernya untuk melindungi kehormatan Nabi Muhammad SAW dan semua nabi lainnya termasuk Adam, Nuh (Nuh), Musa (Musa) dan Yesus putra Maryam (Isa bin Maryam) alaihi salam.

sumber: khilafah.com (3/11/2011)

Balita Tewas tak Tertolong RS


Tragedi warga miskin berhadapan dengan pelayanan rumah sakit kembali terulang. Somadin (31 tahun), warga RT 04/06 Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, harus merelakan putri semata wayangnya meregang nyawa lantaran tidak mendapat pelayanan maksimal dari rumah sakit.

Peristiwa memilukan itu terjadi Rabu (2/11) sekitar pukul 07.30 WIB. Kala itu Somadin yang bekerja sebagai pedagang batagor sedang menyiapkan dagangannya. Ketika Somadin sedang membuat bumbu kacang, tiba-tiba putrinya, Siti (1,5), bergelayut di penggorengan. Seketika itu pula sekujur tubuh balita itu tersiram minyak panas.

Somadin segera membawa putrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok. Sayang, upaya menyelamatkan nyawa Siti mesti terhambat ketidakmampuan RSUD Depok memberikan perawatan. ”Rumah Sakit menolak dengan alasan tidak memiliki peralatan medis yang memadai,” kata Lukman Hakim, ketua RT 04 yang ikut mengantar Somadin, kepada Republika kemarin.

RSUD Depok langsung merujuk putri Somadin ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan, tanpa memberikan bantuan ambulans. Lukman pun menilai pertolongan yang diberikan tidak maksimal. ”Luka bakar putrinya cuma diberi salep.”

Mereka pun membawa putri menuju RS Fatmawati dengan mobil tetangga. Dalam perjalanan, tiba-tiba Somadin berubah pikiran. Dia meminta anaknya dibawa kembali ke rumah karena trauma dengan penolakan RSUD Depok. Apalagi Somadin merasa tak mampu membiayai pengobatan anaknya. ”Sepanjang perjalanan dia mengeluh takut soal biaya,” tutur Lukman.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Siti akhirnya mengembuskan napas terakhir. Saat mengetahui putrinya meninggal, Sodiman menumpahkan kemarahannya dengan memukul tembok rumah. Hampir seluruh tetangga yang datang ke rumahnya tak kuat menahan haru.

Warga lalu berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu penguburan putri Somadin. Armah (45), tetangga Somadin, mengaku tak habis pikir mengapa rumah sakit tega menolak merawat balita kecil yang terluka parah. ”Kulitnya berwarna biru dan terkelupas karena luka bakar,” ujar Armah sambil berurai air mata.

Republika belum bisa menemui Somadin karena pulang ke Garut, Jawa Barat, untuk mengurus pemakaman putrinya. Dia merupakan warga pendatang yang baru mukim di Pengasinan sekira dua bulan lalu dan belum memiliki kartu identitas sebagai warga Depok.

Ketika dikonfirmasi Republika, RSUD Depok justru menanyakan nama pasien dan alasan penolakan perawatan. Mereka tak bisa mengomentari kasus ini karena setelah diperiksa nama putri Somadin itu tidak ditemukan dalam daftar pasien yang ditangani. ”Nama Siti tidak terdaftar di register,” ujar Kepala Subbagian Umum Perencanaan RSUD Depok Bety S.

Menurut Betty, semua pasien yang datang ke RSUD Depok harus melalui pendaftaran di resepsionis meskipun tidak mendapatkan perawatan apa pun. Dia justru meminta Republika untuk mengonfirmasi nama lengkap Siti. ”Kami tidak bisa memberikan keterangan lebih dari ini,” ujar Bety sambil mempersilakan media untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Dokter Kholid yang membantu mencarikan data rekam medis Siti mengatakan, jika pasien diberi rujukan oleh RSUD Depok ke rumah sakit lain, bisa jadi karena RSUD memang tidak memiliki alat canggih untuk menangani kasus seperti yang dialami Siti. Untuk pasien luka bakar di atas 40 persen, kata Kholid, RSUD Depok memang tak punya peralatan canggih perawatan luka bakar.

Kholid membantah tuduhan bahwa RSUD Depok tidak mau mengobati pasien yang miskin. Menurutnya, biaya pengobatan bukanlah penghalang untuk menolong pasien.

RSUD Depok memang tidak ada klinik khusus luka bakar. Namun, rumah sakit kelas B yang didirikan tahun 2004 ini telah menduduki peringkat pertama se-Jawa Barat sebagai rumah sakit yang cepat tanggap dalam melayani pasien. Penghargaan Citra Pelayanan Prima juga diterima RSUD Depok dari Wakil Presiden Boediono pada Desember 2010 lalu.

Namun, di mata warga Kampung Kebon Kopi kualitas pelayanan RSUD Depok terhadap warga tak mampu masih sangat buruk. Nining, tetangga Somadin, bercerita, setelah kematian Siti, banyak warga mengeluarkan sumpah serapah atas pelayanan buruk rumah sakit.

Somadin bukan satu-satunya korban buruknya pelayanan RSUD Depok yang kerap menolak warga tak mampu dengan berbagai alasan. ”Kadang bilang tidak ada dokternya. Kadang bilang tidak ada peralatannya,” kata Nining.

Iyos (34) mengaku pada Agustus 2011 lalu datang untuk melakukan persalinan. Di ruang persalinan, Iyos terkejut ketika petugas rumah sakit langsung menanyakan sistem pembayaran. Dengan polosnya Iyos menjawab menggunakan kartu Jaminan Persalinan (Jampersal).

Mendengar jawaban Iyos, petugas rumah sakit itu langsung mengatakan bahwa kamar persalinan sedang penuh. Iyos pun dirujuk ke RS Fatmawati. ”Bukannya tanya saya sakit apa. Tapi malah ditanya saya bayar pakai apa. Perut saya sakit sekali lantaran bayi sudah hampir keluar,” ujar Iyos menahan kesal.

Juniati (40) hampir mengalami nasib seperti Somadin ketika mengantar suaminya yang mengalami perdarahan di kepala akibat kecelakaan. Tanpa ada pertolongan, Juniati mendapat jawaban klasik bahwa kamar sudah penuh.

Suami Juniati sempat koma sebelum akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit di Ciputat, Tangerang Selatan. Suami saya kehabisan darah. Untungnya masih bisa diselamatkan. (republika, 4/11/2011)

AS Sedang Bunuh Diri


AS terhitung gencar memerangi kartel narkoba di Meksiko. Pasalnya, barang haram itu memang membanjiri AS melalui banyak cara, terlebih yang ilegal.

Kendati begitu, sebuah laporan kongres sebagaimana warta APdan AFP pada Selasa (14/6/2011), justru memberikan fakta mengejutkan. Laporan bertajuk “Mencegah Penyelundupan Senjata Api AS ke Meksiko” oleh tiga senator Partai Demokrat menyebutkan 70 persen senjata api yang dipakai untuk tindak kriminal di Meksiko sepanjang 2009-2010 berasal dari AS. Mayoritas pengguna adalah kartel narkoba Meksiko. Fakta ini menunjukkan kesan AS justru sedang bunuh diri tatkala melancarkan perang terhadap narkoba.

Dengan temuan tersebut, ketiga senator yakni Dianne Feinstein (California), Charles Schumer (New York) dan Sheldon Whitehouse (Rhode Island) mendesak adanya pengetatan peraturan untuk mencegah aliran senjata ilegal ke Meksiko. “Senjata AS ikut berkontribusi dalam peningkatan kekerasan berbahaya di Meksiko,” kata ketiganya.

Data

Sementara itu, Pejabat Direktur Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) Kenneth Melson menyebutkan dari 29.284 senjata api yang ditemukan di tempat kejadian perkara, 20.504 berasal dari Amerika Serikat.

Kemudian, laporan tersebut merekomendasikan sejumlah kebijakan menangani penyelundupan senjata api. Yang termasuk dalam rekomendasi tersebut antara lain Kongres meloloskan peraturan pemeriksaan latar belakang untuk setiap pembelian senjata api termasuk saat pameran berlangsung, ATF memperketat UU ekspor impor senjata militer,  dan penjual melaporkan setiap senjata api yang terjual untuk mempermudah penegakan hukum saat menelusuri pembelian senjata api.

Para senator juga menuduh Kongres AS menjadi terlihat nyaris mati ketika kartel Narkoba Meksiko menyelundupkan senjata api dari AS.

Laporan ini keluar sehari setelah Presiden Meksiko Felipe Calderon menuduh industri senjata AS menyebabkan ribuan orang tewas di Meksiko. “Kenapa bisnis senjata ini tetap berlanjut?” tanya Calderon.

“Saya katakan dengan terbuka, ini karena keuntungan yang diperoleh industri senjata AS,” tambahnya.

Berulang kali Calderon meminta AS mengimplementasikan UU senjata api yang lebih ketat. (kompas.com, 14/6/2011)

Carol Doyle, Menjadi Muslim Sebulan


Carol Doyle, Menjadi Muslim Sebulan

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL–Khawatir dan was-was. Itulah gambaran hati Carol Doyle, pelatih kuda dan terapis pijat dari Dublin, Irlandia, saat menginjakan kaki di  Istanbul Turki. Doyle, 27 tahun, sedang mengikuti program menjadi Muslim selama sebulan.

Dua pertanyaan yang mengemukan dalam benak Doyle. Pertama, apakah tempat tidurnya senyaman miliknya? Kedua, apakah secara fisik dan mental akan membuat dirinya nyaman. “Ya ampun, saya akan belajar menjadi Muslim selama sebulan,” gumam dia dalam hati, seperti dikutip dari Alarabiya, Senin (13/6).

Program Muslim sebulan merupakan program Yayasan Muslim For A Month yang berbasis di Istanbul, Turki. Yayasan ini memberikan kesempatan kepada warga dunia untuk mengenal tradisi Islam di Turki. Oleh yayasan tersebut, mereka yang terpilih akan diajak untuk menyelami ajaran-ajaran Rumi dan Sufi yang berkembang di Turki. Doyle merupakan salah seorang yang terpilih mengikuti program tersebut.

Doyle, yang baru pertama kali menginjakan kaki di Turki, sempat mengunjungi Masjid Eyup, masjid bersejarah di Turki. Di tempat ini, Doyle yang ditemani seorang pembimbing diperkenalkan dengan tradisi yang berkembang di masjid Eyup. Doyle mengaku, program ini banyak menceritakan kisah menarik.

Sebagai contoh, Doyle berkesempatan untuk mendapatkan cerita dari dua orang Muslim kelahiran Barat. Sosok pertama, merupakan Muslim yang lahir dan dibesarkan di Kanada. Yang kedua, seorang perempuan Inggris yang memutuskan masuk Islam. Dari kedua narasumber itu, Doyle mendapatkan pengetahuan tentang seluk beluk Islam. “Mereka banyak berbicara kehidupan mereka sebagai Muslim dan bagaimana keyakinan mereka kepada Islam membantu untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia,” cerita Doyle.

Dalam kesimpulannya, Doyle mengatakan bahwa agama memberikan pengaruh pada budaya yang selanjutnya membantu individu mengintepretasikan sosok Tuhan. Lantaran pengaruh itu pula, agama mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. “Lantas mana yang datang terlebih dahulu, berdoa atau keyakinan itu sendiri?” tanya Doyle.

Doyle mengatakan dengan suasana Islam yang begitu kental, seorang turis yang tidak beragama pun sulit untuk menghindari suasana azan yang kental dengan nuansa ritual Muslim. Dia mengaggumi panggilan ritual itu yang menyebutkan nama Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengejawantahan kemurahan hati dan kebaikan. “Apa pun alasan Anda, saya menemukan kebaikan dalam diri masyarakat jika diikuti, sama hal melepaskan kebencian dalam diri,” kata Doyle.

Doyle juga menganggumi pemandangan indah Istanbul, Bursa, Edirne, dan Konya, tempat asal Rumi. Secara pribadi, Doyle menilai keindahan arsitektur  begitu mencengangkan. Apalagi, ketika mengetahui bagaimana setiap bangunan yang ada dibangun dengan tidak mengandalkan inteletual tetapi juga spiritualitas. “Saya merasa dalam batu bata itu semua untuk saya. Saya merasa bagian dari itu,” ungkap Doyle.

Doyle pun menyempatkan diri mengenalkan jilbab. Saat mengenakan jilbab, ia merasa dekat dengan Tuhan. Doyle percaya setiap manusia memiliki perasaan khusus dan terhubung dengan yang lain, dan merasa memiliki kelemahan yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Mungkin, kata dia, manusia hanya berpikir kelemahan hadi karena mempermalukan manusia lain. “Kita bukanlah mahluk yang kuat. Apalagi saat kita menyadari bahwa diri kita berasal dari batu bata itu, kuat dan indah,” kata dia.

Menurut dia, memasuki kepercayaan agama lain tidak akan membagi organisasi agama, tetapi membagi keyakinan terhadap Tuhan dengan perspektif baru. Satu hal lain, dari setiap anggota dari kelompoknya melihat dan merasakan bagaimana kepercataan dalam praktek kehidupan membuat mereka melihat kembali keyakinannya dengan pandangan baru. “Kamu menemukan banyak hal yang belum pernah kami lihat sebelymnya,” kata dia.

Setiap Muslim,  tidak percaya Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.Bagi mereka, Tuhan itu tak berbentuk, tak terbatas dan mencakup semua. Bagi mereka tidak ada pemisahan antara siapa dan apa pun, entah itu Yahudi, Kristen, atau Ateis.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Agung Sasongko
%d bloggers like this: