Blog Archives

Penduduk Pribumi Amerika ‘Dibantai, Dikorbankan, dan Dirampas Tanahnya”


Seorang penduduk pribumi Amerika, Russell Means, telah meninggal dunia pada hari Senin. Pada tahun 2008 ia bertemu dengan Russian Today (RT) untuk berbicara tentang nasib penduduk pribumi Amerika, orang Indian, dan perjuangan mereka untuk mendapatkan pengakuan dan betapa tidak bahagianya dia berkewarganegaraan AS.

Pada akhir tahun 2007, sekelompok besar penduduk pribumi Amerika dari South Dakota menyatakan kemerdekaan Republik Lakotah dari Amerika Serikat, dan menanggalkan kewarganegaraan AS.

Russel yang pernah diwawancarai oleh Kevorkova Nadezhda dari Russia Today, bercerita tentang perjuangannya untuk memperoleh kemerdekaan. Berikut adalah ringkasan wawancaranya.

Dalam wawancara itu Russel menyatakan bahwa dia tidak lagi berkewarganegaraan Amerika dan telah menjadi warga negara Lakotah.
Menurutnya  Amerika Serikat adalah sebuah negara palsu yang tidak memiliki budaya. Sangat mudah untuk memanipulasi negara semacam itu dan mengarahkan rakyatnya. Menurutnya gambaran yang orang lihat adalah bukan realitas Amerika Serikat pada hari ini. Bahkan Presiden yang berkantor pada hari ini tidak benar-benar terpilih. Orang-orang muda di seluruh dunia berusaha sampai ke Amerika untuk mencapai impian mereka: menjadi kaya dan sukses. Itu juga merupakan alasan orang-orang Eropa datang ke sini. Ini adalah prinsip dari kehidupan Amerika.

 

Ketika ditanyakan bagaimana tanggapan orang orang setelah dideklarasikannya Republik independen Lakotah dari Amerika Serikat, dia menjawab telah mendapatkan respon yang besar yang telah berkembang dari hari ke hari. “Sejumlah besar orang mendukung, dan menyambut kami. Orang-orang jelas tertarik pada kemerdekaan kami, namun tidak bagi pemerintah AS”, katanya.

Menurutnya, para pendukungnya yang adalah para profesional seperti dokter, pengacara, dosen, guru, ilmuwan, insinyur dari berbagai profil, spesialis komputer, hingga petani yang jumlahnya ribuan.
Dikatakan juga, penduduk asli Indian Amerika tidak terwakili di Senat AS, Kongres, atau Mahkamah Agung, kendati mereka telah tinggal di Amerika selama berabad-abad. Bahkan Amerika melakukan genosida terhadap mereka.

Diapun mengatakan bahwa pemerintah AS harus memberi kedaulatan bagi orang India. Jika menolak, mereka akan membawa kasusnya ke Mahkamah Agung, yang senantiasa berbicara tentang supremasi hukum.

Russel menambahkan selama berabad-abad, pemerintah Amerika  telah membantai penduduk asli, mengorbankan, mencuri dan memagari tanah mereka.
Menurut data,  ketika Eropa datang ke Amerika, ada sekitar 12 juta orang Indian di 48 negara. Pada awal abad 20, hanya ada 250.000 penduduk peribumi Amerika yang selamat. Sekitar 70% dari orang Indian menjadi pengungsi di negaranya sendiri. “AS telah melakukan sebuah genosida yang tak tertandingi dengan membunuh 99,6% orang Indian”, katanya.

 

Russel menganggap ada dua negara di dunia yang tetap melanggar hukum internasional: AS dan Israel. Sementara AS telah mengabaikan konstitusinya sendiri, yang mengatakan bahwa kita semua adalah orang yang bebas dan dapat mendeklarasikan kemerdekaan setiap saat. (RZ)

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2012/10/26/penduduk-pribumi-amerika-dibantai-dikorbankan-dan-dirampas-tanahnya/

Pemerintah Hendak Mengunci Langkah Ormas Islam yang Dianggap Vokal


Pro kontra kehadiran Rancangan Undang-undang Keormasan (RUU Keormasan) yang sedang dibahas di DPR RI ternyata kurang tersosialisasikan dengan baik ke kalangan umat Islam sendiri. Hal ini telah mendapat perhatian serius oleh Harits Abu Ulya, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA).

Menurut Harits, jika umat Islam tak mengawal dengan baik, bisa jadi banyak kepentingan masuk. Termasuk kepentingan kalangan liberal yang  sangat ingin “menghabisi” ormas-ormas Islam. Apa maksudnya?

Hidayatullah.com mewawancarai panjang lebar terkait proses RUU keormasan. Inilah petikannya.*

Banyak kalangan Muslim tidak tahu perkembangan dan keberadaan RUU keormasan ini. Bagaimana tanggapan Anda?

Betul, mayoritas umat Islam tidak tahu banyak terkait proses dan produk legislasi yang sedang di godok DPR termasuk langkah Revisi UU No 8 Tahun 1985 tentang Ormas. Persoalan dana asing via LSM lokal dengan berbagai motif kepentingannya itu hanya salah satu pointnya saja. Justru spirit dominan munculnya revisi ini adalah untuk menangani ormas-ormas yang selama ini dianggap melakukan tindak kekerasan dan anarkisme.

Prinsipnya mereka mufakat harus ada regulasi yang lebih ketat untuk mengatur ormas-ormas, terutama Ormas yang selama ini dianggap banyak melakukan tindakan anarkis dan mengganggu ketertiban umum.

Bahkan pemerintah minta agar ada poin sanksi bagi Ormas-ormas yang selama ini sering melakukan tindakan kekerasan. Pemerintah meminta kewenangan dengan Undang-undang tersebut untuk bisa langsung membekukan dan membubarkan. Sekalipun untuk poin pembubaran pemerintah tetap setuju lewat mekanisme pengadilan, tapi untuk pembekuan pemerintah minta agar secara administratif bisa melakukan tindakan pembekuan.

Kontrol seperti apa yang seharusnya dilakukan negara terhadap aliran-aliran dana luar negeri yang diterima langsung oleh ormas terutama Ormas liberal yang suka menjual isu-isu intoleran dan HAM ke luar negeri, bahkan merugikan Negara?

Pemerintah bisa saja menetapkan melalui Undang-undang adanya kewajiban transparasi keuangan ormas. Melalui instrument yang dimiliki semisal PPATK bisa membuat analisa dan pelaporan alur lalu lintas dana yang masuk di akun rekening LSM tersebut. Tidak hanya itu, tapi  akuntabilitas penggunaan dana tersebut juga harus ada. Maka bersama institusi pemerintah lainnya semisal pihak intelijen bisa membuat rekomendasi kepada pengguna, apakah tindakan dan aksi-aksi LSM yang sering menjual isu HAM keluar negeri bisa dianggap melahirkan distabilitas politik atau sesuatu yang kontraproduktif  atas visi pembangunan negara.

Bagaimana dengan isu asas tunggal yang diperjuangkan kelompok tertentu untuk menanggulangi apa yang mereka sebur “Ormas radikal” atau isu transnasional?

Saya mencatat beberapa hal terkait masalah ini. Pertama; pemerintah berusaha memaksakan diri memasukkan Pancasila menjadi ideologi ormas. Tapi ini tidak mudah, karena di saat yang sama kita bisa melihat keberadaan parpol yang juga tidak bisa di seragamkan harus mengadopsi Pancasila menjadi ideologi partai. Kalau partai saja tidak bisa, bagaimana dengan ormas?

Atau muncul wacana perlunya ormas berwatak “lokal”, artinya mengedepankan nilai-nilai kultural masyarakat Indonesia.Tapi ini menjadi ambigu dan sulit dirumuskan karena parameternya tidak jelas.

Kedua;  ada kecenderungan terus mengekspos beberapa kasus kontraksi sosial, dan di kait-kaitkan dengan ormas keagamaan tertentu. Saya melihat, dengan upaya revisi undang-undang keormasan pemerintah hendak mengunci mati langkah ormas-ormas Islam yang dianggap vokal selama ini. Pemerintah bermain di banyak lini, terutama di penguatan legal frame. Ada usaha serius untuk melahirkan regulasi yang bisa mengendalikan Ormas, karena selama ini peran pemerintah  sebagai pembina, pengawas dan pemberi sanksi bila Ormas melanggar dirasa masih kurang efektif. Karenanya, merasa perlu ada undang-undang yang lebih keras, dijadikan pijakan untuk menindak.

Ketiga; saya menangkap sikap “hipokrit” pemerintah. Kenapa juga tidak mempersoalkan LSM-LSM yang kerap melakukan pelanggaran? Kalau konsisten, nanti kita juga bisa tuntut pemerintah agar partai-partai yang suka bikin rusuh juga harus dibubarkan saja. Karena setiap Pemilu selalu ada saja yang melakukan tindak kekerasan. Baik Pemilu nasional, maupun Pemilukada. Lagian hasil Pemilu tidak juga membawa perubahan nasib rakyat. Sudah membuang banyak duit, rakyat sering jadi korban dan rakyat hanya jadi obyek kepuasaan syahwat kekuasaan orang dan kelompok-kelompok partai yang ada.

Menurut  Anda, apakah RUU Keormasan ini bermanfaat bagi keberadaan Ormas-ormas Islam sendiri?

Saya mencermati  itu ada plus minusnya. Contoh umat Islam perlu waspada atas tafsir Pasal 50 ayat 2, tentang larangan. Karena ini terkait tafsir subyektif pemegang kewenangan dengan mendasarkan kepada UU lainya. Misal UU Intelijen dan Kamnas tentang ancaman aktual  dan potensial terhadap ketahanan Ideologi dan bentuk NKRI. Kalau Ormas Islam mengusung formalisasi syariat Islam dianggap mengancam ketahanan ideologi kan bisa runyam.

Di pasal 50 ayat 4 ada penjelasan; Yang dimaksud dengan “ajaran dan paham yang bertentangan dengan Pancasila” antara lain ajaran atau paham Komunisme, Marxisme, Leninisme, Kapitalisme, dan Liberalisme”. Nah ini kan perlu di ekspos terus, dan bisa menjadi pijakan untuk membangun kesadaran masal bahwa negeri ini dikelola dengan sistem kapitalisme yang merugikan rakyat. Jadi bukan saja Ormas yang membahayakan, tapi negara sendiri sudah melakukan tindakan yang destruktif dan membahayakan kelangsungan hidup anak cucu kita kita hari ini dan kedepan.

Tapi menurut saya kalau pemerintah mau terbuka dan obyektif, maka tidak perlu kawatir terhadap keberadaan Ormas-ormas keagamaan khususnya Islam. Selama jelas-jelas mereka berdiri tegak berdasarkan Islam dan garis perjuangannya juga berlandaskan Islam maka sesungguhnya itu ada berkah dan kebaikan untuk bangsa Indonesia. Justru yang perlu diwaspadai adalah ormas-ormas/orpol/LSM komprador yang menebarkan virus sekulerisme, pluralisme dan liberalisme yang jelas-jelas membahayakan nasib Indonesia kedepan.

Pemerintah perlu secara terbuka kalau berani, debat publik dengan mengundang Ormas-ormas yang dituduh selalu melakukan kekerasan atau Ormas Islam tertentu yang dianggap meresahkan masyarakat. Apakah benar paradigma dan argumentasi pemerintah, biar masyarakat yang cerdas ini menilai.

Jangan sampai istilah “meresahkan”, membuat tidak “nyaman” masyarakat itu hanya propaganda dan akal-akalan untuk membungkam langkah ormas Islam dalam upaya amar makruf nahi mungkar, khususnya yang di arahkan kepada penguasa yang selama ini di anggap dzalim dan lalai terhadap urusan umat Islam yang mayoritas menghuni tanah air Indonesia ini. Contoh sikap lembeknya pemerintah adalah kasus kelompok sesat Ahmadiyah yang terkatung-katung hingga saat ini.

Apa langkah yang harus dilakukan umat Islam untuk mengawal RUU ini?

Komponen umat Islam terutama melalui para representasinya perlu konsulidasi dan ikut monitoring (memantau) kemudian  mengadvokasi kepentingan umat Islam atas RUU Ormas, mengingat ini produk politik yang sarat dengan kepentingan. Sadar atau tidak, begitu regulasi ini jadi maka di tingkat operasionalnya  akan melahirkan dampak jika banyak pasal-pasal yang ambigu dan multitafsir. Apalagi paradigma dari undang-undang tersebut adalah liberal-sekuler.

Bagaimana dengan  ormas atau LSM yang suka menjadi isu isu intoleransi beragama sebagai proyek cari uang ke luar negeri dengan alibi memperjuangkan HAM?

Harus diatur juga. Hukumannya di bekukan dan di bubarkan, jika jelas-jelas menjadi kaki tangan asing dengan kedok HAM mengacak-acak kedaulatan bangsa Indonesia. Dan pemerintah memonitoring aktor-aktornya dan seluruh bentuk metamorfosanya, karena LSM dibubarkan hari ini sangat mudah besok membuat LSM dengan nama dan bendera yang beda tapi agendanya ya sama saja dengan sebelumnya.

Dalam RUU ini sudah memuat konten mekanisme pembubaran Ormas. Cuma menurut saya pemerintah harus konsisten dan tidak tebang pilih atau secara spesifik diarahkan hanya kepada Ormas atau kelompok Islam yang kritis terhadap kebijakan pemerintah dan carut marutnya kehidupan sosial politik ekonomi budaya dan keamanan. (hidayatullah.com, 22/10/2012)

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/10/22/pemerintah-hendak-mengunci-langkah-ormas-islam-yang-dianggap-vokal/

Balita Tewas tak Tertolong RS


Tragedi warga miskin berhadapan dengan pelayanan rumah sakit kembali terulang. Somadin (31 tahun), warga RT 04/06 Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, harus merelakan putri semata wayangnya meregang nyawa lantaran tidak mendapat pelayanan maksimal dari rumah sakit.

Peristiwa memilukan itu terjadi Rabu (2/11) sekitar pukul 07.30 WIB. Kala itu Somadin yang bekerja sebagai pedagang batagor sedang menyiapkan dagangannya. Ketika Somadin sedang membuat bumbu kacang, tiba-tiba putrinya, Siti (1,5), bergelayut di penggorengan. Seketika itu pula sekujur tubuh balita itu tersiram minyak panas.

Somadin segera membawa putrinya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok. Sayang, upaya menyelamatkan nyawa Siti mesti terhambat ketidakmampuan RSUD Depok memberikan perawatan. ”Rumah Sakit menolak dengan alasan tidak memiliki peralatan medis yang memadai,” kata Lukman Hakim, ketua RT 04 yang ikut mengantar Somadin, kepada Republika kemarin.

RSUD Depok langsung merujuk putri Somadin ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan, tanpa memberikan bantuan ambulans. Lukman pun menilai pertolongan yang diberikan tidak maksimal. ”Luka bakar putrinya cuma diberi salep.”

Mereka pun membawa putri menuju RS Fatmawati dengan mobil tetangga. Dalam perjalanan, tiba-tiba Somadin berubah pikiran. Dia meminta anaknya dibawa kembali ke rumah karena trauma dengan penolakan RSUD Depok. Apalagi Somadin merasa tak mampu membiayai pengobatan anaknya. ”Sepanjang perjalanan dia mengeluh takut soal biaya,” tutur Lukman.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Siti akhirnya mengembuskan napas terakhir. Saat mengetahui putrinya meninggal, Sodiman menumpahkan kemarahannya dengan memukul tembok rumah. Hampir seluruh tetangga yang datang ke rumahnya tak kuat menahan haru.

Warga lalu berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu penguburan putri Somadin. Armah (45), tetangga Somadin, mengaku tak habis pikir mengapa rumah sakit tega menolak merawat balita kecil yang terluka parah. ”Kulitnya berwarna biru dan terkelupas karena luka bakar,” ujar Armah sambil berurai air mata.

Republika belum bisa menemui Somadin karena pulang ke Garut, Jawa Barat, untuk mengurus pemakaman putrinya. Dia merupakan warga pendatang yang baru mukim di Pengasinan sekira dua bulan lalu dan belum memiliki kartu identitas sebagai warga Depok.

Ketika dikonfirmasi Republika, RSUD Depok justru menanyakan nama pasien dan alasan penolakan perawatan. Mereka tak bisa mengomentari kasus ini karena setelah diperiksa nama putri Somadin itu tidak ditemukan dalam daftar pasien yang ditangani. ”Nama Siti tidak terdaftar di register,” ujar Kepala Subbagian Umum Perencanaan RSUD Depok Bety S.

Menurut Betty, semua pasien yang datang ke RSUD Depok harus melalui pendaftaran di resepsionis meskipun tidak mendapatkan perawatan apa pun. Dia justru meminta Republika untuk mengonfirmasi nama lengkap Siti. ”Kami tidak bisa memberikan keterangan lebih dari ini,” ujar Bety sambil mempersilakan media untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Dokter Kholid yang membantu mencarikan data rekam medis Siti mengatakan, jika pasien diberi rujukan oleh RSUD Depok ke rumah sakit lain, bisa jadi karena RSUD memang tidak memiliki alat canggih untuk menangani kasus seperti yang dialami Siti. Untuk pasien luka bakar di atas 40 persen, kata Kholid, RSUD Depok memang tak punya peralatan canggih perawatan luka bakar.

Kholid membantah tuduhan bahwa RSUD Depok tidak mau mengobati pasien yang miskin. Menurutnya, biaya pengobatan bukanlah penghalang untuk menolong pasien.

RSUD Depok memang tidak ada klinik khusus luka bakar. Namun, rumah sakit kelas B yang didirikan tahun 2004 ini telah menduduki peringkat pertama se-Jawa Barat sebagai rumah sakit yang cepat tanggap dalam melayani pasien. Penghargaan Citra Pelayanan Prima juga diterima RSUD Depok dari Wakil Presiden Boediono pada Desember 2010 lalu.

Namun, di mata warga Kampung Kebon Kopi kualitas pelayanan RSUD Depok terhadap warga tak mampu masih sangat buruk. Nining, tetangga Somadin, bercerita, setelah kematian Siti, banyak warga mengeluarkan sumpah serapah atas pelayanan buruk rumah sakit.

Somadin bukan satu-satunya korban buruknya pelayanan RSUD Depok yang kerap menolak warga tak mampu dengan berbagai alasan. ”Kadang bilang tidak ada dokternya. Kadang bilang tidak ada peralatannya,” kata Nining.

Iyos (34) mengaku pada Agustus 2011 lalu datang untuk melakukan persalinan. Di ruang persalinan, Iyos terkejut ketika petugas rumah sakit langsung menanyakan sistem pembayaran. Dengan polosnya Iyos menjawab menggunakan kartu Jaminan Persalinan (Jampersal).

Mendengar jawaban Iyos, petugas rumah sakit itu langsung mengatakan bahwa kamar persalinan sedang penuh. Iyos pun dirujuk ke RS Fatmawati. ”Bukannya tanya saya sakit apa. Tapi malah ditanya saya bayar pakai apa. Perut saya sakit sekali lantaran bayi sudah hampir keluar,” ujar Iyos menahan kesal.

Juniati (40) hampir mengalami nasib seperti Somadin ketika mengantar suaminya yang mengalami perdarahan di kepala akibat kecelakaan. Tanpa ada pertolongan, Juniati mendapat jawaban klasik bahwa kamar sudah penuh.

Suami Juniati sempat koma sebelum akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit di Ciputat, Tangerang Selatan. Suami saya kehabisan darah. Untungnya masih bisa diselamatkan. (republika, 4/11/2011)

Jadilah Salah Satu Dari Tujuh


 

 

oleh Aid Abdullah al-Qarni

Abu Hurairah ra menuturkan, aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda, “Tujuh macam manusiayang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah pertama, seorang pemimpin yang adil, kedua, seorang pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah, ketiga, dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah, keempat, seseorang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian dan kemudian bercucuran air matanya, kelima, seseorang yang hatinya tertambat pada masjid-masjid, keenam, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya (sedekahnya) itu hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan koleh tangan kanannnya, ketujuh, seseorang yang ketika dipanggil oleh seseorang wanita yang bermartabat dan cantik jelita, ia menjawab, “Sesungguhnya akut takut kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Ketujuh macam orang itu, menurut para ulama, termasuk para penganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dan yang dimaksud adalah bukan tujuh individu, melainkan tujuh golongan.

Adapun golongan pertama, adalah golongan pemimpn yang adil. Mereka itu adalah setiap orang yang berbuat adil terhadap orang-orang yang dipimpinnya, baik ia seorang pemimpin dalam arti umum – sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah atau pun pemimpin dalam arti khusus.

Bahkan,menurut sebagian ulama, seorang guru yan berbuat adil terhadap murid-muridnya, misalnya kemudian ia menilai hasil ujian mereka dengan adil, maka ia termasuk orang yang adil, sebagaimana dimaksud oleh hadist ini.

Ketika seorang guru menguji murid-muridnya, misalnya kemudian ia menilai hasil ujian mereka dengan adil, maka ia termasuk orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak naungan lain selain naungan-Nya.

Sedangkan yang sayogyanya diperbuat oleh setiap mukmin adalah, berupaya semaksimal mungkin agar dirinya memilikisalah satu sifat dari ketujuh golongan ini. Atau, kalau bisa, hendaknya ia berusaha agar memiliki dua, atau tiga dari ketujuh sifat itu.

Dan, hal itu sangat mudah bagi siapa saja yang dimudahkan Allah. Bahkan, sangat ringan bagi siapa yang dirinya diringan Allah Ta’ala.

Terbukti, orang-orang mengakui Umar ibn Abdul Aziz ra, salah satu seorang Khalifah dari Bani Umawiyyah, sebagai orang yang pada dirinya terdapat beberapa sifat dari ketujuh golongan tadi. Diantaranya, pertama, ia adalah seorang pemuda yang tumbuh berkembang, atau menghabiskan masa mudanya dalam peribadahan kepada Allah, kedua, ia pemimpin yang adil, ketiga, hatinya selalu tertambat di masjid-masjid.Dengan demikian, sangat mungkin pula,ia termasuk orang yang senang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian kemudian air matanya bercucuran. Bahkan, tidak berlebihan pula, bial ia diyakini sebagai seseorang yang mencintai kaumnya, karena Allah dan bersama-sama mereka dalam mencintai Allah.

Perkataan Rasulullah shalllahu alaihi wassalam, “Tujuh macam manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungn selain naungan-Nya”, ini mengabarkan, bahwa pada hari kiamat kelak tidak ada tempat bernaung satupun, selain naungan Allah. Pada hari itu, juga tidak tempat teduh satupun, selain keteduhan yang diberikan Allah Ta’ala.

Begitulah, pada hari kiamat kelak tidak ada naungan, tak ada pohon, tak tempat berteduh, dan tak ada sesuatu pun yang bisa melindungi manusia dari sengatan terik matahari yang pada saat itu sangat dekat sekali dengan kepala seluruh manusia.

Al-Miqdad ibn al-Awwad mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam mengatakan, “Matahari, pada hari kiamat kelak, akan sangat dekat dengan kepala manusia, dan bahkan, jarak antara matahari dan manusia saat itu, hanya satu mil saja. Miqdad berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu, apakah yang dimaksud dengan satu mil itu adalah milnya alat celak mata, ataukah mil itu yang dimaksud berlaku umum?”.

Disebutkan, pada hari itu Sang Maha Perkasa nampak dengan segala keagungannya dan kebesaran-Nya duduk di singgsana yang amat agung. Menurut sebuah riwayat, saat itu, singgasana Allah ini dipikul oleh delapan malaikat dan Allah berada diatasnya dengan segala keagungan, kebesaran, kemuliaan-Nya yang tiada bandingan sedikitpun. Semua itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Entah bagaimana, di mana, seperti apa, dan laksana apa? Yang jelas, Dia akan berahta di singgasana-Nya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an.

Kemudian, dari atas singgasana-Nya itu, Allah akan menyeru dengan suara-Nya yang terdengar sama oleh mereka yang dekat dan mereka yang jauh. “Akulah Sang Raja Mahadiraja” – yang Mahasuci lagi Mahaagung.Dialah sang Raja, yakni sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an, “Yang menguasai Hari Pembelasan”. (QS : al-Fatihah : 3). Artinya, tidak ada raja selain Dia.

Dalam sebuah hadist Qudsi, disebutkan Allah Ta’ala, berfirman : “Akulah Sang Raja, dimanakah raja-raja dunia?”. Kemudian Dia mengulanginya lagi hingga tiga kali, “Akulah Sang Raja, dimanakah raja-raja dunia?”.

Lalu Dia bertanya, “Milik siapakah kekuasaan pada hari ini? Milik siapakah kekuasaa hari ini? Miliki siapakah kekuasaan pada hari ini? Lantas, Allah menjawabnya sendiri seraya berkata, “Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. (QS : Ghafir : 16)

Sesaat kemudian, Allah Ta’ala mengawali panggilannya. Dia berkata, “Mana orang-orang yang cinta-mencitai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku,sedang hari ini tidak ada naungan selain naungan-Ku”.

Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Menurut riwayat ini, ketika seluruh manusia – dari sejak dahulu kala, hingga akhir zaman nanti – dikumpulkan menjadi satu, Allah aka menyeru mereka. Dia akan berkata, “Mana orang-orang saling mencintai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku. Maka, bangkitlah orang-orang itu menuju Allah Azza Wa Jalla. Wallahu’alam.

sumber : http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/jadilah-salah-satu-dari-tujuh.htm

Kemunduran dan Kejatuhan Imperium Amerika


Lokomotif ekonomi Abad ke-20 muncul lebih kuat dari Era Depresi Ekonomi. Tapi ketika dihadapkan dengan pembusukan budaya, kelemahan struktural dan ketergantungan pada keuangan , dapatkah Amerika melakukannya lagi?

Amerika mencatat sebuah rekor minggu lalu. Jatuhnya harga perumahan baru-baru ini berarti bahwa harga perumahan real estate telah turun 33% sejak puncak kejatuhan – bahkan lebih besar dari 31% ketika John Steinbeck menulis The Grapes of Wrath.

Pengangguran belum kembali ke tingkat Era Great Depression tetapi level pengangguran 9,1%  dari jumlah tenaga kerja itu masih pada level yang akan mengkhawatirkan Gedung Putih. Presiden terakhir yang  terpilih kembali dengan pengangguran di atas 7,2 % adalah Franklin Delano Roosevelt.

Amerika adalah negara dengan segudang masalah serius. Saat ini, ada satu dari enam warga Amerika bergantung pada kupon makanan pemerintah untuk memastikan bahwa mereka memiliki cukup makanan.  Anggaran, yang pernah sedikit surplus lebih dari satu dekade yang lalu, kini memiliki defisit dengan perbandingan sebesar defisit negara Yunani. Ada kelumpuhan kebijakan di Washington.

Asumsinya adalah bahwa masalah-masalah itu dapat dengan mudah diselesaikan karena Amerika adalah negara ekonomi terbesar di planet ini, satu-satunya negara dengan jangkauan militer global, pemilik cadangan mata uang dunia, dan sebuah bangsa dengan catatan penemuan kembali jati diri yang bisa dibanggakan yang terjadi sekali atau lebih dalam setiap generasi.

Semua ini adalah benar dan masih banyak lagi. Universitas-universitas  Amerika adalah universitas-universitas hebat, yang  menarik  orang-orang  paling pintar  dari seluruh dunia. Ini adalah sebuah negara yang mendorong batas-batas teknologi. Jadi, sangat mungkin bahwa Amerika akan muncul lebih kuat daripada sebelumnya melebihi mimpi buruk terpanjang dari krisis subprime mortgage (krisis kredit pemilikan rumah). Posisi keuangan yang kuat dari perusahaan-perusahaan Amerika bisa melepaskan gelombang investasi baru selama beberapa tahun mendatang.

Biarkan saya menempatkan suatu hipotesis alternatif. Pada tahun 2011, Amerika adalah  seperti Romawi  pada tahun 200AD atau  seperti Inggris menjelang Perang Dunia Pertama: sebuah imperium yang berada di puncak kekuasaan, tetapi dengan keretakan yang mulai terlihat.

Pengalaman dari Romawi dan Inggris menunjukkan bahwa sulit untuk menghentikan kebusukan sekali saja hal itu mulai terjadi, jadi yang berikut ini adalah beberapa tanda peringatan : militer yang menyebar dimana-mana, jurang yang melebar antara si kaya dan si miskin, ekonomi dengan sebuah lubang menganga lebar, warga yang menggunakan hutang di luar kemampuannya untuk bertahan hidup, dan kebijakan-kebijaan yang  pernah efetif tapi saat ini tidak lagi bisa menyelesaikan. Tingginya tingkat kejahatan dengan kekerasan, epidemi obesitas, kecanduan pornografi dan penggunaan energi yang berlebihan semuanya ini dapat memberitahu kita suatu hal : Amerika Serikat berada dalam dekadensi budaya yang akut.

Kemunduran Imperium terjadi karena berbagai alasan, tapi faktor-faktor tertentu adalah faktor-fator kambuhan. Ada keengganan awal untuk mengakui bahwa ada banyak hal yang seharusnya meresahkan, dan datangnya sebuah penantang (atau beberapa penantang) dalam tatanan internasional. Dalam kasus Spanyol pada masa lalu, saingan itu adalah Inggris. Dalam kasus Inggris pada masa lalu, saingan itu adalah Amerika. Dalam kasus Amerika saat ini, ancaman itu berasal dari Cina.

Kemunduran Inggris berlangsung sangat cepat setelah tahun 1914. Pada tahun 1945, Inggris adalah sedikit pemain di dunia bipolar (dua kutub) yang didominasi oleh Amerika dan Uni Soviet, dan jantung sterling – standar emas abad ke-19 – dengan cepat kehilangan kilauannya sebagai mata uang cadangan. Ada kekhawatiran, yang disuarakan sejauh kembali ke Era Penemuan tahun 1851, bahwa orang-orang yang lebih lapar,  adalah produsen-produsen yang lebih efisien di Jerman dan Amerika Serikat yang mengancam hegemoni industri Inggris. Tapi tidak ada tindakan serius yang diambil sebagai kebijakan. Dalam paruh kedua abad ke-19 terjadi pergeseran halus dalam perekonomian, dari Utara ke Selatan Inggris, dari manufaktur kepada keuangan, dari membuat sesuatu kepada hidup dari penghasilan investasi. Pada tahun 1914, tulisan itu terpampang di dinding.

Dalam dua hal penting, Amerika pada hari ini berbeda dari Inggris seabad yang lalu. Amerika jauh lebih besar, yang berarti bahwa negeri itu mengambil manfaat dari ekonomi skala-benua, dan negara itu telah hadir dalam industri yang akan  merupakan  industri strategis  yang  penting pada paruh pertama abad 21. Inggris pada tahun 1914 terlalu tergantung pada batubara dan pembuatan kapal laut, yakni suatu industri yang bergantung pada perang dunia, dan telah gagal untuk cukup awal memahami  akan pentingnya kemunculan teknologi-teknologi  baru.

Meskipun demikian, ada kesejajaran. Telah ada pergeseran jangka panjang dari penekanan dalam ekonomi Amerika dari manufaktur dan menuju keuangan. Ada tantangan yang berkembang dari produsen di bagian-bagian lain dunia.

Kegilaan

Sekarang, perhatikanlah hal kontras antara pemulihan ekonomi dan pola siklus-siklus sebelumnya. Secara tradisional, pemulihan ekonomi Amerika melihat pengangguran turun pada saat suku bunga yang lebih rendah mendorong konsumen untuk berbelanja dan industri konstruksi mulai membangun perumahan lagi. Kali ini, masalahnya telah berbeda. Ada kegilaan untuk membangun perumahan selama tahun-tahun masa gelembung ekonomi, yang menyebabkan kelebihan pasokan perumahan bahkan sebelum harganya terjun bebas dan meningkatnya pengangguran menyebabkan penyitaan perumahan dengan cepat.

Amerika memiliki lebih banyak rumah lebih dari yang  negeri itu tahu apa yang harus dilakukannya, dan bahwa keadaan itu tidak akan berubah selama bertahun-tahun.

Selama beberapa bulan terakhir, pemberitaan  tentang kondisi ekonomi yang buruk sangat sedikit  sehingga telah meluluhkan harapan akan pemulihan berkelanjutan. Optimisme saat ini telah digantikan oleh kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat menuju kepada resesi ekonomi berganda (double-dip recession mengacu pada resesi yang diikuti oleh pemulihan ekonomi singkat, lalu diikuti oleh resesi lain-pent) yang ditakuti.

Di pasar real estat, yang merupakan gejala mendalam dari kelesuan ekonomi Amerika, double dip telah tiba. Pengurangan pajak (tax break adalah pengurangan pajak yang diberikan untuk mendorong aktiitas komersial-pent)  bagi para pemilik rumah hanya diberikan sementara karena pasar yang jatuh sementara jutaan orang Amerika tinggal di rumah-rumah yang nilainya kurang dari harga yang mereka bayar untuk rumah-rumah mereka. Angka-angka terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 28% rumah-rumah dengan hipotek berada dalam ekuitas negative (negative equity adalah nilai properti kurang dari saldo pinjaman untuk membeli aset/properti itu). Tidak mengherankan, hal itu telah membuat Amerika jauh lebih berhati-hati dalam hal pengeluaran uang. Naiknya harga-harga komoditas memperburuk masalah, karena hal itu mendorong inflasi dan mengurangi daya beli yang berasal dari upah dan gaji.

Kebijakan makro-ekonomi telah terbukti kurang efektif daripada kebijakan normal. Namun, hal itu bukan karena keinginan untuk mencoba. Amerika Serikat memiliki tingkat suku bunga jangka pendek sebesar 0 % selama lebih dari dua tahun. Tingkat suku bunga ini memiliki dua dosis besar pelonggaran kuantitatif, dimana dosis yang kedua saat ini berakhir. Defisit anggaran negera itu begitu besar sehingga telah menyebabkan diberikannya peringatan dari lembaga-lembaga pemeringkat kredit, meskipun ada status mata uang dolar cadangan. Dan Washington telah mengadopsi kebijakan kebijakan yang jinak terhadap mata uang, meskipun ada retorika dolar yang kuat, dengan harapan bahwa ekspor murah akan menekan pengeluaran konsumen.

Kebijakan, seperti biasanya, diarahkan pada pertumbuhan karena ketakutan yang besar pada The Fed, Departemen Keuangan dan siapa saja yang menempati Gedung Putih adalah seperti kembali ke era tahun 1930-an. Pada saat itu, kelesuan ekonomi sebagian besar disebabkan oleh deflasi kebijakan ekonomi yang memperdalam resesi yang disebabkan oleh munculnya gelembung pasar saham pada tahun 1920. Tanggapan yang lemah untuk obat pertumbuhan saat ini menunjukkan bahwa Amerika secara struktural jauh lebih lemah daripada di tahun 1930-an. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu dibutuhkan keuangan yang melanggar batas ekonomi dan langkah-langkah untuk meningkatkan daya beli keluarga pada umumnya sehingga mengurangi ketergantungan mereka pada utang. Hal ini akan memerlukan amnesti bagi pasar perumahan. Di atas segalanya, Amerika harus menemukan kembali kualitas yang pada awalnya membuatnya besar. Hal itu tidaklah mudah. (rza)

Guardian (6/6/2011)

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2011/06/13/kemunduran-dan-kejatuhan-imperium-amerika/

%d bloggers like this: