Blog Archives

RUU Kamnas Berpihak Kepentingan Asing


Kamnas (Keamanan Nasional) kembali mengundang polemik. RUU Kamnas banyak menuai protes dari berbagai kalangan. RUU Kamnas yang beberapa tahun lalu pernah diusulkan belum juga disahkan DPR akan dibahas lagi oleh DPR bersamaan dengan diajukannya RUU Anggaran BNPT. Masih banyaknya pasal karet dan penentangan yang dilakukan oleh masyarakat bukti bahwa RUU Kamnas ini bermasalah. Penolakan dilakukan oleh LSM HAM, Pakar Tata Negara, Ormas Islam, dan berbagai elemen masyarakat dan pergerakan lainnya. RUU Kamnas disinyalir merupakan penjelmaan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) 13 tahun lalu. RUU Kamnas pun dinilai akan memunculkan kembali rezim militer dan otoriter gaya baru. Selain itu, akan melindungi status quo yang koruptif dan berpihak kepada asing. Dan menjadi legitimasi formal untuk menzalimi rakyat.

Sebagai pihak yang menginginkan keberadaan RUU Kamnas adalah pemerintah. Hal ini direpresentasikan oleh Departemen Pertahanan (Dephan). Dephan kemudian mengusulkan RUU Kamnas ke DPR sebagai legitimasi. Sesungghunya semangat RUU Kamnas sejalan dengan reformasi Tap MPR RI No. VI Tahun 2000 mengenai Pemisahan TNI-Polri dan Tap MPR RI No. VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri mengandung konsekuensi perubahan cukup signifikan dalam penataan sistem pertahanan dan keamanan di Indonesia. RUU Kamnas merupakan penjabaran dari pasal 30 UUD 1945. RUU Kamnas bagi pemerintah begitu esensial dan penting. Hal ini dikarenakan begitu banyaknya muncul upaya disintegrasi, separatisme, terorisme, ancaman luar negeri, dan lainnya. RUU Kamnas diharapkan mampu untuk segera menindak pelaku yang mengancam negeri ini.

Untung vs Buntung RUU Kamnas

Konsekuensi logis dari pemerintahan yang mengambil demokrasi adalah banyaknya UU yang akan dibuat. DPR yang ada semenjak berdiri sudah mulai memprioritaskan RUU yang akan disahkan. RUU yang ada selanjutnya masuk ke program legislasi nasional (prolegnas). UU yang disahkan pun sering bertentangan satu sama lainnya. Tumpang tindih tak beraturan. Ada juga UU yang digugat oleh masyarakat ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena dampak negatif yang dihasilkan. Sering juga UU yang dihasilkan tidak bermutu dan tidak pro rakyat. Cenderung menghamburkan uang hanya untuk sidang yang panjang.

Prof. PH. Kooijmans menilai bahwa pembangunan hukum di Indonesia tidak taat azas dan tidak taat prosedur dan ini merupakan sebuah kemunduran (sit back). Menurut pakar hukum dari Universitas Leiden Belanda itu juga menyoroti mengenai mekanisme pembuatan RUU yang banyak terdapat undang–undang baru saat ini yang bertentangan dengan produk undang – undang induk, yang semestinya dijadikan sebagai acuan.

Terkait RUU Kamnas, di antara keuntungannya ternyata banyak kerugiannya. Jika maksud RUU Kamnas ini baik untuk menjaga keutuhan NKRI, menjaga keamanan dalam negeri, dan menghukum siapa pun yang mengancam keamanan nasional. Lantas, kenapa banyak ditolak? Hal ini mengindikasikan bahwa RUU Kamnas dan lainnya kehilangan arah. Cenderung menyakiti dan mendzalimi rakyat.

Ada beberapa bukti kerugian dari efek pengesahan RUU Kamnas.

1. Tidak jelasnya definisi yang jelas terait ancaman nasional. Hal ini akan berakibat represifnya pemerintah kepada siapa pun yang dianggap mengancam keamanan dan kepentingan negara. Hal ini sebagaimana terjadi pada masa orde baru. Rakyat dibuat takut dengan teror.

2. Berpotensi menimbulkan ancaman bagi rakyat yang mayoritas beragama Islam. Akibat tidak jelasnya basis ideologi negeri ini. RUU ini bisa secara serampangan menyasar siapa saja yang dianggap melawan penguasa dengan dalih mengancam keamanan nasional. Dengan kata lain, RUU ini berpotensi digunakan sebagai alat represi pemerintah sehingga merugikan hak dan privasi rakyat, sementara sesuatu yang semestinya harus dianggap sebagai ancaman justru luput dari sorotan. Misalnya, berbagai kasus kesalahan penangkapan dan penembakan oleh BNPT dan Densus 88 atas yang diduga melakukan tindak terorisme dari kalangan aktivis Islam (dari kalangan Muslim) tanpa melalui proses pengadilan (extra judicial killing). Di lain pihak kasus berbagai pengeboman oleh OPM di Papua yang jelas-jelas mengancam keamanan nasional belum satupun terdapat pernyataan resmi melalui Mabes Polri bahwa ini termasuk terorisme. Ini jelas-jelas standart ganda yang sangat membahayakan rakyat karena siapa yang mengancam keamanan nasional tidak jelas rumusannya dan lebih sarat dengan kepentingan penguasa.

3. Pasal 17 tentang Jenis dan Bentuk Ancaman dan Pasal 54 tentang Penyadapan, Pemeriksaan dan Penangkapan. Kedua pasal itu membuka kesempatan dalam keterlibatan militer lewat definisi ancaman yang tidak jelas.

4. Banyak rumusan norma yang harus ditata ulang. Sebuah norma haruslah jelas dan tegas. Penataan tidak hanya terhadap rumusan norma tetapi juga struktur norma (Pasal 36, 37, 38, 39, 40) Masih banyak terdapat pengulangan norma yang tidak dikelompokkan menjadi satu bagian, sehingga terkesan ada upaya “penyelundupan” norma. Misalnya, tentang Dewan Keamanan Nasional dicantumkan dalam Pasal 36 tetapi penjabaran lebih lanjut dalam Pasal 41. Sedangkan Pasal 37 dan seterusnya membicarakan tentang posisi Presiden. Contoh lainnya adalah Pasal 54 dan Pasal 64. Dalam Pasal 54, dinyatakan bahwa TNI wajib memberikan bantuan. Tetapi dalam Pasal 64, posisi TNI menjadi pemeran utama. Hal inilah yang akan menimbulkan kekacauan dalam memahami makna norma.

5. Misi utamanya untuk mengamankan seluruh pembangunan nasional dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan, demi mengundang investasi. RUU Kamnas sangat berpihak kepada asing. Sebagaimana pasal 20 poin 3 RUU Kamnas, sangat cenderung melindungi investasi asing di berbagai daerah di Indonesia, khususnya perlindungan hak pengelolaan lahan tanah oleh investor asing. RUU Kamnas ini menjadi Cap Stempel untuk melanggengkan kepentingan Asing melalui penjajahan.

6. Adanya Dewan Keamanan Nasioanal yang melibatkan banyak komponen. Hal ini mengindikasikan jika RUU Kamnas sarat akan kepentingan kekuasaan. Rakyat kembali dibuat bingung dengan berbagai pengaturan dan regulasi UU yang tidak jelas.

7. Terindikasi jika RUU Kamnas hampir mirip dengan RUU Intelijen. Dan semakin mengukuhkan legal of frame untuk menghabisi rakyat yang notabene mayoritas muslim.

Kesalahan Mendasar

Sistem demokrasi yang dianut negeri ini menjadikan setiap hukum ada di tangan rakyat. Undang-undang dibuat berdasarkan kesepakatan anggota parlemen. Jual beli pasal pun sering terindikasi di tiap RUU yang dibahas. Ketidakjelasan ideologi dan sikap pragmatisme anggota parlemen sering melahirkan kebijakan tidak pro rakyat. UU yang dihasilkan pun liberal dan cenderung berpihak kepada asing. Sebagai contoh UU Migas, UU SDA, UU Penanaman Modal Asing, UU Kelistrikan, dan lainnya. Atas nama rakyat mereka membuat UU yang justru menindas rakyat.

RUU Kamnas pun demikian. RUU ini cenderung mengekor kepada kepentingan barat terutama Amerika Serikat. Sebut saja National Security Council di Amerika Serikat (AS). Depertemen tersebut baru dibentuk setelah keruntuhan gedung WTC. Pemerintah AS menggunakannya sebagai payung hukum untuk menangkap siapapun terduga “teroris” dari kalangan Muslim. Baik perorangan, kelompok, maupun negara. Demikian juga di Indonesia. RUU Kamnas akan digunakan pemerintah dan aparat keamanan sebagai payung hukum. Selama ini aparat keamanan merasa tidak mempunyai payung hukum menindak pelaku teror dan separatisme. RUU Kamnas ini akan disandingkan dengan RUU Intelijen dan UU Anti Teror.

Hal mendasar yang perlu dikoreksi adalah negara gagal memberikan rasa aman. Indonesia sebagai wilayah yang berpulau-pulau dengan wilayah yang luas tidaklah aman. Indonesia siap-siap dirong-rong dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari dalam negeri ditunjukan makin banyaknya aksi separatisme di beberapa wilayah (Aceh, Maluku, dan Papua). Rasa aman bagi individu pun hilang. Orang tidak lagi takut untuk membunuh, merampok, menjarah, bahkan tawuran antarwarga, antar pelajar dll. Apalagi sikap aparat keamanan sekarang yang dinilai buruk dalam kinerja. Sikap represif yang dilakukan oleh Densus 88 secara membabi buta serta tuduhan BNPT secara berlebihan terhadap kesadaran Islam yang tumbuh melalui Rohis. Mereka tidak lagi mengayomi dan melindungi masyarakat. Justru mereka menjadi contoh buruk dalam pelaksanaan hukum. Kasus terbaru simulator SIM dan lainnya. Pungli dan suap pun kerap terjadi. Sehingga masyarakat tidak lagi mempercayai lembaga penegak hukum tersebut.

Ancaman dari luar negeri kerap tidak disadari oleh pemerintah. Ancaman berupa penjajahan ekonomi, politik, dan budaya begitu kental. Pemerintah pun gagal menjaga pulau-pulau terluar. Bahkan rakyatnya pun cenderung diabaikan. Pulau Ambalat dan Ligitan bisa jadi contoh. TNI kerap digunakan pemerintah untuk menjaga kepentingan pengusaha. Peran mereka dikebiri. Kalaupun mendapat tugas perdamaian itupun sifatnya membantu PBB. Perlengkapan dan persenjataan perang pun minim. Jika demikian adanya. Lantas berharap kepada siapa dalam menjaga keamanan nasional negeri ini ?

Maka tidak ada pilihan lagi selain ada perombakan total. Baik pada sistem peraturan hidup ataupun politik negeri ini. Demokrasi tidak lagi menjadikan negeri ini makmur. Yang terjadi justru keterpurukan akan senantiasa menimpa. UU yang dibuat pun tidak layak untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyat. Selayaknya aturan yang dibuat bersifat mengayomi, sesuai fitrah manusia, menentramkan jiwa, memuaskan akal dan layak. Sesungguhnya semua itu berpulang kepada aturan Sang Maha Pencipta, Allah Swt. Dzat yang menciptakan manusia dan mengatur kehidupan ini. Itulah yang terwujud dalam Syariah Islam dalam bingkai Khilafah.

Aman Hanya dengan Islam

Hendaknya pemimpin negeri ini hanya mengambil Islam. Islam dijadikan ideologi dan pengatur kehidupan. Terbukti Islam membawa kesejahteraan. Jika umat sejahtera maka rasa aman pun didadapat. Negara dan aparat keamanan menjadi sahabat umat. Semua itu hanya bisa terwujud jika Islam diterapkan kaffah dalam bingkai Khilafah.

Khilafah mempunyai kebijakan unik terkait keamanan dalam negeri dan menjaga ancaman dari luar negeri. Karakter dari negara Khilafah adalah dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia. Pendidikan ketrampilan dan kemiliteran merupakan salah satu perlengkapan pasukan. Pelatihan dengan ketrampilan-ketrampilan perang dengan berbagai jenis persenjataan merupakan masalah pasukan yang urgen. Oleh karena pasukan tersebut adalah pasukan Islam, serta tentara negara khilafah yang mengemban dakwah Islam, maka pasukan tersebut harus dididik dengan pengetahuan Islam (tsaqofah Islamiyah) secara umum, serta pengetahuan-pengetahuan Islam yang berhubungan dengan perang, hukum-hukum perang, hukum perdamaian, perang, gencatan senjata, perjanjian-perjanjian, penyerahan-penyerahan, kesepakatan-kesepakatan, serta masalah-masalah tersebut secara detail. Karena itu, akademi-akademi militer dengan semua jenjangnya serta duta-duta militer marupakan wewenang departemen peperangan ini.

Adapun Departemen Pertahanan dan keamanan dalam negeri, cukup hanya meminta bantuan polisi untuk menjaga keamanan negara, dan tidak akan meminta bantuan kepada selain polisi, kecuali kalau polisi tidak sanggup menjaga keamanan tersebut. Dalam keadaan seperti itu, bisa meminta khalifah untuk memperkuat pengamanan polisi tersebut dengan bantuan angkatan bersenjata, ataupun dengan bantuan tentara sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang ada.

Diantara ancaman dalam negeri adalah murtad dari Islam, pembangkangan atau memisahkan diri dari negara Islam, yang boleh jadi berupa serangan serta pembakaran. Seperti pengerusakan, sabotase instansi-instansi strategis milik negara, maupun melakukan penghalang-halangan, dengan disertai perampasan milik individu, milik umum atau miliki negara. Dan boleh jadi berupa pemisahan diri dari negera Islam dengan membawa persenjataan untuk memberontak negara. Termasuk hal-hal yang bisa mengancam pertahanan dan keamanan dalam negeri lainya adalah pembegalan, menteror penduduk agar menyerahkan hartanya dan menakut-nakuti keselamatan jiwanya. Termasuk yang lain adalah tindakan yang mengancam harta benda seperti pencurian, perampasan, perampokan, penggelapan harta (korupsi), serta tindakan yang mengancam jiwa seperti memukul, melukai, membunuh serta tindakan yang bisa mengancam kehormatan seperti menuduh berbuat zina, berzina, dan mempublikasikan kejelekan.

Khilafah pun mengharamkan untuk memata-matai rakyatnya. Yang akan diawasi justru musuh-musuh yang akan menghancurkan Islam. kemanan dan ketentaman itu dapat terwujud jika pemerintah sebagai pelayan bagi rakyat. Inilah esensi dari Islam sebagai rahmat seluruh alam yang diterapkan Khilafah Islamiyah.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (al-anbiya’:107).

Gerobak Pelaku Pemicu Revolusi Tunisia Ditawar 10 Ribu Dolar


Seorang pengusaha Kuwait menawarkan diri untuk membeli gerobak milik pemuda Tunisia terkenal Muhammad Bouazizi, yang membakar dirinya sendiri sebagai protes dari tindakan represi pemerintah dan memicu percikan revolusi yang menggulingkan presiden Ben Ali.

Penguasaha Kuwait itu menawarkan untuk membayar 10 Ribu dolar untuk gerobak buah-buahan dan sayuran yang dipakai Bouazizi untuk berjualan mencari nafkah dan grobak itu disita oleh otoritas keamanan dengan alasan ia tidak memiliki izin berjualan, sehingga mendorongnya untuk bunuh diri dengan membakar diri, surat kabar Kuwait al-Ray melaporkan Rabu lalu.

Melalui media, pengusaha Kuwait ingin permintaannya diketahui oleh anggota keluarga Bouazizi, yang tinggal di pusat Gubernuran Sidi Bouzid. Dia mengatakan bahwa dia akan membeli gerobak itu dengan segera, jika pihak keluarga menyetujui.

“Gerobak ini mengubah perjalanan sejarah,” katanya kepada media. “Gerobak ini telah menjadi simbol dari revolusi Tunisia.”

Pengusaha itu menambahkan bahwa ia akan menghubungi pihak berwenang Tunisia dan meminta mereka untuk mengalokasikan tempat di pusat ibu kota Tunisia untuk gerobak ini.

“Harusnya kita menciptakan sebuah tugu peringatan untuk Bouazizi dan saya akan membayar semua biaya yang diperlukan,” pungkasnya. (fq/aby)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/gerobak-pelaku-pemicu-revolusi-tunisia-ditawar-10-ribu-dolar.htm

Karadzic Perintahkan Penyerangan terhadap Rumah Kaum Muslim


DEN HAAG-Mantan pemimpin Serbia Bosnia, Radovan Karadzic, memerintahkan penyerangan terhadap rumah-rumah yang dihuni kaum Muslim di Kota Pale, Serbia. Perintah itu tak hanya dikumandangkan sekali, namun beberapa kali dalam berbagai kesempatan secara terbuka. Hal itu diungkapkan seorang saksi yang dihadirkan dalam Pengadilan Kejahatan Perang International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) atas mantan orang nomor satu Serbia Bosnia yang kini menghadapi dakwaan genosida itu.

Seorang saksi penuntut, Sulejman Crncalo, bersaksi bahwa Karadzic telah mengatakan kepada orang banyak dalam sebuah pidato terbuka mengenai hal ini. Ia mengatakan cara itu adalah “cara untuk mempertahankan rumah Serbia” . Dia sendiri mendengar langsung dalam sebuah pidato pada bulan Juni 1992. “Itu kata-kata mengerikan di telinga kita,” kata Crncalo di pengadilan PBB itu.

Karadzic membantah 11 tuduhan genosida, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam perang Bosnia 1992-1995. Pada hari Selasa, saksi penuntut pertama berkataayah mertuanya telah dibakar hidup-hidup oleh pasukan Serbia dekat Sanski Most pada tahun 1992.

Ahmet Zulic, saksi penuntut pertama, juga mengatakan ia telah menyaksikan pembantaian Juni 1992 sekitar 20 orang Muslim yang dipaksa untuk menggali kuburan mereka sendiri dan kemudian ditembak atau leher mereka dipotong oleh seorang tukang daging Serbia. Namun Karadzic membantahnya dan menyatakan tukang jagal itu siap untuk menuntutnya karena fitnah.

Namun Zulic membalasnya dengan menunjuk ke bekas luka di lehernya. Ia menyatakan tukang daging itu meninggalkannya setelah yakin dia mati. Ia juga menunjukkan giginya yang rontok akibat moncong senjata tentara Karadzic yang dimasukkan ke dalam mulutnya.

Crncalo, saksi penuntut kedua, tinggal di Pale, sebelah timur Sarajevo, sampai ia diusir oleh pasukan Serbia pada tahun 1992. Pada bulan Juni tahun yang sama, ia mendapati dirinya berdiri di kerumunan sekitar 20m dari Karadzic, saat mantan pemimpin Serbia Bosnia berpidato, katanya.

“Dia mengatakan kepada hadirin bahwa setiap rumah muslim harus diserang karena itulah cara untuk mempertahankan rumah Serbia.”

Mr Crncalo mengatakan kepada pengadilan bahwa ia dan keluarganya terpaksa meninggalkan Pale sebulan kemudian, dan menghabiskan tiga setengah tahun berikutnya dengan hidup di bawah pengepungan di Sarajevo.

Dia kemudian mulai menangis saat ia menceritakan bagaimana istrinya berada di antara 43 orang tewas ketika kota itu dikupas Markale pasar pada bulan Agustus 1995. “Ada darah al di mana-mana, mengalir di jalan-jalan, potongan-potongan daging manusia berserakan, potongan pakaian robek dan tersebar di seluruh,” katanya.

Ia melihat istrinya terbaring lemah. “Ketika saya mendatangi istri saya, ada perempuan berbaring di sebelah istri saya dan lengannya terputus dan menempel tubuh istri saya. Saya hanya menangis,” tambahnya.

Dalam sidang itu, Karadzic menyatakan belasungkawa kepada Crncalo. Dia mengatakan akan menunjukkan “siapa yang bisa Anda salahkan untuk hal ini.”

Karadzic menghadapi dua tuduhan genosida, serta sembilan dakwaan penting lainnya termasuk pembunuhan, pembasmian, penganiayaan dan deportasi paksa. Jaksa mengatakan dia mengatur sebuah kampanye “pembersihan etnis” terhadap Muslim dan Kroasia di Bosnia timur untuk menciptakan sebuah negara Serbia etnis murni.

Karadzic ditangkap pada 2008 setelah hampir 13 tahun dalam pelarian. Selama kekuasaannya, 100 ribu orang Muslim tewas secara mengenaskan. (republika.co.id, 15/4/2010)

AL-QUDS TAK BISA DIBEBASKAN OLEH BARISAN KATA-KATA, TETAPI OLEH BARISAN TENTARA YANG MEMERANGI NEGARA YAHUDI!


[Al-Islam 500] Para penguasa Arab menutup KTT Arab ke-22 pada sore hari (Ahad) ini, 28 Maret 2010, setelah berlangsung selama dua hari di kota Sirte Libia. Resolusi-resolusi KTT dipenuhi oleh paragraf lama yang diperbarui—seputar upaya perdamaian, konflik Arab-Israel, Inisiatif Arab, situasi di Irak dan Semenanjung Emirat; dukungan atas perdamaian; pembersihan kawasan Arab dari senjata nuklir; dan lain- lain. Semuanya merupakan resolusi bombastik yang tak ada artinya, hanya sekadar kata-kata kosong!

Hanya saja, terdapat dua perkara menarik selama penyelenggaraan KTT hingga dikeluarkannya pernyataan final. Pertama: antek-antek Inggris secara jelas melakukan sejumlah ‘upaya panas’ untuk mempengaruhi sekaligus mengendalikan resolusi Liga Arab. Yaman, misalnya, mengusulkan pembentukan Persatuan Arab untuk menggantikan Liga Arab. Jelas, usulan itu sesuai dengan pendapat Ketua KTT, Penguasa Libia (Qadafi). Kemudian Qadafi mengatakan bahwa resolusi tersebut disetujui. Ini di satu sisi. Di sisi lain, Qadafi sebagai ketua KTT pada periode saat ini telah meminta keistimewaan sebagai ketua KTT untuk memiliki wewenang mengoreksi Sekjen Liga dan menyerukan penyelenggaraan KTT Istimewa. Di sisi ketiga, Qatar mengusulkan pembentukan suatu komite yang bisa berkomunikasi langsung dengan Ketua KTT.

Semua itu menunjukkan bahwa melalui antek-anteknya Inggris ingin menancapkan pengaruhnya atas Liga Arab atau membentuk organisasi pengganti Liga Arab. Ini karena Liga Arab merupakan buatan Inggris pada tanggal 22 Maret 1945. Namun, pada tahun-tahun terakhir ini Amerika telah masuk sangat dalam ke dalam Liga dan memiliki pengaruh yang ada nyata dalam resolusi-resolusi yang dikeluarkan oleh Liga. Pusat pengaruh AS itu ada di Kairo. Presiden Mesir adalah antek Amerika sekaligus penjaga Amerika dan nilai-nilai Amerika.

Kedua: masalah al-Quds. Sejumlah resolusi KTT menjadikan masalah al-Quds dipenuhi dengan berbagai hal yang menyenangkan para peserta konferensi dan sarat dengan kata-kata manis. Mereka dengan bangga telah mengumumkan bahwa mereka telah menyiapkan strategi untuk membebaskan al-Quds, yang mereka fokuskan pada tiga poros: politik, perundang-undangan dan finansial. Mereka menyerukan agar Dewan Keamanan (DK) PBB memikul tanggung jawabnya sekaligus bergerak mengambil langkah-langkah dan mekanisme yang diperlukan untuk menyelesaikan pertikaian Arab-Israel. Mereka memutuskan untuk mengarahkan resolusi kepada Mahkamah Kejahatan Internasional untuk menghakimi kejahatan Israel di kota-kota yang disucikan. Mereka juga memutuskan mendukung al-Quds dengan dana sebesar setengah miliar dolar AS untuk menghadapi rencana-rencana permukiman Israel. Akhirnya, meski bukan yang paling akhir, mereka saling berlomba secara ‘hangat’ untuk menyampaikan kecintaan atas al-Quds dan pujian atas al-Aqsa.

Wahai Manusia:

Sungguh para penguasa itu memiliki akal tetapi tidak mereka gunakan untuk berpikir; mereka memiliki telinga tetapi tidak mereka gunakan mendengar; mereka juga memiliki mata tetapi tidak melihat. Sungguh bukanlah mata mereka yang buta melainkan hati yang ada di dalam dada merekalah yang buta! Bisakah al-Quds dibebaskan dengan perundingan umum yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun? Ataukah al-Quds bisa dibebaskan dengan dukungan finansial yang tidak akan bisa sampai ke al-Quds kecuali di bawah pengawasan Yahudi? Bisakah al-Quds dibebaskan dengan seruan kepada Dewan Keamanan PBB yang justru telah mendirikan negara Yahudi di Palestina? Ataukah al-Quds bisa dibebaskan dengan mengajukan tuntutan kepada Mahkamah Internasional yang tidak bisa memutuskan kebenaran dan tidak pula bisa menolak kebatilan?! Ataukah al-Quds bisa dibebaskan dengan ucapan-ucapan hangat tentang kecintaan dan kerinduan kepada al-Quds, sementara pemilik ucapan itu justru membuka kedutaan untuk negara Yahudi di negerinya dan mengundang pembantai al-Quds ke negerinya?!

Wahai Manusia:

Dulu ada orang yang mengatakan bahwa para penguasa itu—meski berlepas diri dari Palestina yang diduduki—tidak akan pernah berlepas diri dari al-Quds dan al-Aqsa; jika bukan karena dorongan takwa, pastilah karena dorongan rasa malu. Namun, sekarang al-Quds telah digali dari sekelilingnya, bahkan dari jantungnya; dari arah kubah ash-Shakhrah dan masjidnya. Yahudi telah bermain di atas dan bawahnya. Yahudi telah mengosongkan tanah di bawahnya, menodai kehormatannya dari atasnya serta memenuhi tanahnya dengan permukiman dari depan dan belakangnya. Bahkan Yahudi telah ‘menghadiahi’ KTT mereka, pada sore hari pelaksanaannya, dengan agresi atas Gaza dan deklarasi panas seputar kelanjutan kebijakan pembangunan permukiman di al-Quds tanpa ada perubahan sedikitpun. Para penguasa itu telah menyaksikan dan mendengar semua itu; mereka saling bertemu dan berjabat tangan, makan-makan dan tertawa. Namun, nyatanya mereka hanya berdiri temangu!

Wahai Kaum Muslim:

Sungguh yang bisa membebaskan al-Quds adalah seorang panglima yang ikhlas kepada Rabb-nya, yang membenarkan Rasul-Nya serta yang memimpin tentara kaum Muslim dan menghimpun orang-orang yang mampu untuk bergabung di dalam pasukan. Yang bisa membebaskan al-Quds adalah seorang panglima yang kuat lagi bertakwa, yang mengembalikan jejak al-Faruq (Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.) yang telah membebaskan al-Quds pada tahun 15 H dan menetapkan Dokumen Umariah, yang di dalamnya dinyatakan bahwa tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal di al-Quds. Yang bisa membebaskan al-Quds adalah seorang panglima yang mengembalikan jejak langkah Shalahuddin yang telah membebaskan al-Quds dari najis kaum Salibis pada tahun 583 H dan mengangkat Qadhinya, Muhyiddin, yang membuka khutbah Jumat pertama setelah pembebasannya itu dengan ayat yang mulia:

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala pujian bagi Allah, Tuhan semesta alam (QS al-An’am [6]: 45).

Yang bisa membebaskan al-Quds adalah panglima yang mengembalikan sejarah Abdul Hamid II, yang menjaga al-Quds dan menghalangi Hertzel dan para begundalnya untuk memasuki al-Quds, meskipun harta yang besar ditawarkan Hertzel ke kas negara. Jawaban Abdul Hamid II pada tahun 1901 adalah: “Sesungguhnya Palestina bukanlah milikku, tetapi milik bangsaku yang telah mengairinya dengan darah mereka. Karena itu, hendaklah Yahudi menyimpan saja jutaan uangnya. Sesungguhnya sayatan pisau di badanku lebih sepele daripada aku melihat Palestina dikerat dari negaraku. Perkara itu tidak akan terjadi.”

Begitulah, al-Quds akan bisa dibebaskan dari gerombolan Yahudi oleh tentara kaum Muslim yang mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka duga dan menyerang mereka dengan serangan yang membuat mereka melupakan bisikan-bisikan setan. Mereka adalah tentara yang bergegas meraih satu di antara dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid.

Wahai Para Tentara di Negeri Kaum Muslim:

Sungguh tidak ada alasan dan uzur bagi orang yang mencari-cari alasan dan uzur. Janganlah Anda mengatakan bahwa para penguasa telah melarang Anda. Di tangan Andalah kekuatan. Bahkan Anda yang menjaga para penguasa itu. Di tangan Andalah nasib mereka. Jika Anda menaati mereka, niscaya mereka menjerumuskan Anda ke dalam dosa dan permusuhan, dan Anda tidak akan bisa merasakan telaga Rasulullah saw. Jika Anda tidak menolong mereka dalam kezalimannya, tidak membenarkan kebohongan mereka, maka Rasul saw. akan menjadi bagian dari Anda dan Anda menjadi bagian dari beliau; Anda pun akan bisa merasakan nikmatnya telaga Rasulullah saw. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Kaab bin Ujrah:

«أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِى فَمَنْ غَشِىَ أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِى كَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْهُ وَلاَ يَرِدُ عَلَىَّ الْحَوْضَ وَمَنْ غَشِىَ أَبْوَابَهُمْ أَوْ لَمْ يَغْشَ فَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ فِى كَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّى وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَىَّ الْحَوْضَ»

Aku berlindung kepada Allah untukmu, wahai Kaab bin Ujrah, dari para pemimpin yang akan ada sesudahku. Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu mereka lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka atas kezalimannya, maka ia bukan bagian dari golonganku dan aku bukan bagian dari golongannya; ia pun tidak akan bisa merasakan telaga bersamaku. Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu mereka atau tidak mendatangi, lalu tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu mereka atas kezalimannya, maka dia bagian dari golonganku dan aku bagian dari golongannya serta ia akan bisa merasakan telaga bersamaku (HR at-Tirmidzi).

Wahai Para Tentara di Negeri Muslim:

Sungguh Hizbut Tahrir meminta pertolongan (nushrah) Anda untuk menegakkan Khilafah. Karena itu, berikanlah nushrah Anda. Hizbut Tahrir menyeru Anda untuk berhambur memerangi Yahudi. Karena itu, penuhilah seruan itu. Sungguh memerangi Yahudi dan kemenangan atas mereka itu telah dinyatakan di dalam Kitabullah SWT (lihat: QS al-Isra’ [17]: 7-8); juga di dalam hadis Rasul saw.:

«لَتُقَاتِلُنَّ الْيَهُودَ فَلَتَقْتُلُنَّهُمْ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِىٌّ فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ»

Sungguh kalian akan memerangi Yahudi dan kalian memerangi mereka hingga batu pun berkata, “Hai Muslim, ini Yahudi. Kemarilah, bunuh dia.” (HR Muslim dari Ibn Umar ra.).

Tidak adakah di antara Anda orang cerdas yang berangkat dengan tentaranya; yang melindas setiap penguasa yang menghadangnya; yang menegakkan pemerintahan Islam di atas muka bumi, yaitu Khilafah Rasyidah; yang membebaskan al-Aqsa; yang membaca dalam khutbah Jumat pertama setelah pembebasannya dari najis Yahudi ayat yang pernah dibaca oleh Qadhi Muhyiddin (QS al-An’am [6]: 45); yang kemudian disebut oleh Allah SWT di dalam Kerajaan-Nya di sisi-Nya, dicemburui oleh para malaikat di langit dan orang-orang shalih di muka bumi sehingga ia menjadi mulia di dunia dan di akhirat; yang semua itu benar-benar kesuksesan yang agung?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (QS al-Anfal [8]: 24).

[Diringkas dari nasyrah resmi yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tanggal 12 Rabi ats-Tsani 1431 H/28 Maret 2010]

Film “Cry of Stone”, Buku Harian Rakyat Palestina yang Penuh Darah


Wajar kalau ternyata Israel sangat murka dan marah dengan serial TV yang di tayangkan di stasiun televisi MBC, karena film yang berjudul “Cry of Stone” tersebut dengan sangat jelas memaparkan realitas kehidupan rakyat Palestina yang sangat menderita dan tersiksa oleh perilaku bengis tentara Israel.

“Cry of Stone” bukan hanya sebuah film yang menampilkan adegan-adegan yang bergerak secara demonstratif, film ini merupakan sebuah karya kelas tinggi yang memaparkan sisi-sisi dan nilai kemanusiaan yang mengingatkan kita akan realitas penderitaan rakyat Palestina sepanjang hari.

Dalam serial TV ini ditampilkan gambar-gambar yang menyedihkan, dan sang sutradara mampu memaparkan karakteristik manusia, serta persepsi yang sesuai dengan realitas yang ada, dan selaras dengan adegan-adegan yang sebenarnya telah gagal ditampilkan oleh semua saluran televisi dan media-media resmi lainnya dari sudut pandang netralitas. Dan “Cry of Stone” telah mampu memaparkan semua hal tersebut secara dramatis menjelaskan apa yang terjadi di Palestina.


“Cry of Stone” adanya film yang sangat realistis menggambarkan penderitaan rakyat Palestina, dan serial TV ini tidak hanya memiliki visi strategis ataupun berorientasi bisnis semata, namun sebenarnya mengingatkan kita secara interaktif atas apa yang terjadi pada rakyat Palestina yang hidup dalam bencana besar (Nakbatul Kubro) sejak tahun 1948.

“Crt of Stone” juga mengirimkan pesan dengan serangkaian adegan-adegan yang memilukan, banyak pesan yang disampaikan termasuk menjelaskan bahwa kematian adalah suatu rutinitas sehari-hari yang menjadi bagian dari kehidupan rakyat Palestina. Banyak adegan dramatis ditampilkan seperti pemandangan seorang wanita Palestina yang terpaksa harus melahirkan di pos pemeriksaan Israel setelah dirinya dilarang menuju ke rumah sakit, dan hal tersebut merupakan pemandangan yang biasa terjadi di Palestina.

Militer Israel memukul seorang laki-laki tua sehingga tewas di depan mata kepala istrinya hanya karena laki-laki tua itu tidak suka cara militer Israel yang sangat arogan menjaga pos pemeriksaan, dan hal ini pun menjadi lumrah dalam realitas kehidupan di Palestina. Adanya adegan yang sangat menyakitkan, dimana tentara Israel menembak seorang anak Palestina yang dengan tersenyum sebelum peluru menembus dadanya.

Serial Televisi “Cry of Stone” telah membuat gempar Israel, yang dipandang oleh banyak pengamat bahwa film tersebut telah menampilkan realitas sesungguhnya Israel dalam berurusan dengan rakyat Palestina, film ini juga sangat akurat dalam menampilkan detail-detail tiap adegan ‘menyedihkan’ yang di alami rakyat Palestina.

“Cry of Stone” menyampaikan pesan ke seluruh dunia, di luar dari persoalan para politisi maupun politik, yang menyatakan bahwa inilah realitas sehari-hari yang dialami warga Palestina bahkan mungkin lebih dasyat dari apa yang digambarkan oleh film ini.

“Cry of Stone” telah menjadi lensa pembesar yang menyorot sebuah buku harian rakyat Palestina yang penuh darah, air mata dan kesedihan.(fq/aby)

%d bloggers like this: