Blog Archives

Gerobak Pelaku Pemicu Revolusi Tunisia Ditawar 10 Ribu Dolar


Seorang pengusaha Kuwait menawarkan diri untuk membeli gerobak milik pemuda Tunisia terkenal Muhammad Bouazizi, yang membakar dirinya sendiri sebagai protes dari tindakan represi pemerintah dan memicu percikan revolusi yang menggulingkan presiden Ben Ali.

Penguasaha Kuwait itu menawarkan untuk membayar 10 Ribu dolar untuk gerobak buah-buahan dan sayuran yang dipakai Bouazizi untuk berjualan mencari nafkah dan grobak itu disita oleh otoritas keamanan dengan alasan ia tidak memiliki izin berjualan, sehingga mendorongnya untuk bunuh diri dengan membakar diri, surat kabar Kuwait al-Ray melaporkan Rabu lalu.

Melalui media, pengusaha Kuwait ingin permintaannya diketahui oleh anggota keluarga Bouazizi, yang tinggal di pusat Gubernuran Sidi Bouzid. Dia mengatakan bahwa dia akan membeli gerobak itu dengan segera, jika pihak keluarga menyetujui.

“Gerobak ini mengubah perjalanan sejarah,” katanya kepada media. “Gerobak ini telah menjadi simbol dari revolusi Tunisia.”

Pengusaha itu menambahkan bahwa ia akan menghubungi pihak berwenang Tunisia dan meminta mereka untuk mengalokasikan tempat di pusat ibu kota Tunisia untuk gerobak ini.

“Harusnya kita menciptakan sebuah tugu peringatan untuk Bouazizi dan saya akan membayar semua biaya yang diperlukan,” pungkasnya. (fq/aby)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/gerobak-pelaku-pemicu-revolusi-tunisia-ditawar-10-ribu-dolar.htm

Advertisements

Mantan Bos Blackwater Melatih Milisi Somalia untuk Hadapi Bajak Laut


Erik Prince, mantan pimpinan perusahaan Blackwater Worldwide, telah menjadi identik dengan penggunaan pasukan keamanan swasta AS di Irak dan Afghanistan, namun sekarang diam-diam dirinya telah mengambil peran baru dalam membantu untuk melatih pasukan di Somalia tanpa hukum.

Prince terlibat dalam program bernilai jutaan dolar yang dibiayai oleh negara-negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab, untuk memobilisasi sekitar 2.000 warga Somalia yang direkrut untuk melawan bajak laut yang meneror pantai Afrika, menurut seseorang yang akrab dengan proyek dan melihat laporan intelijen yang didapat oleh The Associated Press.

Nama Prince muncul dalam konflik Somalia terkait perdebatan bagaimana pasukan keamanan swasta harus digunakan di beberapa tempat di dunia yang paling berbahaya.

Blackwater, sekarang dikenal sebagai Xe Services, menjadi simbol di Washington sebagai kontraktor jasa keamanan yang memiliki serangkaian insiden, termasuk satu pada tahun 2007 di mana pasukan Blackwater didakwa karena menewaskan 14 warga sipil di ibukota Irak.

Meskipun perompak Somalia telah menyita banyak kapal di bawah berbagai bendera, sebagian besar pemerintah enggan untuk mengirim pasukan darat untuk menghapus bajak laut di sebuah bangsa yang telah penuh-anarki selama dua dekade tersebut.

Pasukan yang sekarang sedang dilatih Prince dimaksudkan untuk membantu mengisi kekosongan itu.

Dalam menanggapi permintaan untuk wawancara dengan Prince, juru bicaranya lewat e-mail menanggapi pernyataan singkat bahwa pendiri Blackwater tertarik untuk “membantu Somalia mengatasi momok pembajakan” dan telah menyarankan upaya-upaya anti pembajakan.

Jurubicara Mark Corallo mengatakan Prince “tidak berperan dalam hal keuangan” dalam proyek tersebut dan menolak menjawab pertanyaan tentang keterlibatan Prince.

Peran Prince membangkitkan kembali pertanyaan tentang penggunaan kontraktor militer. Kritik mengatakan hal itu bisa melemahkan upaya masyarakat internasional untuk melatih dan mendanai pasukan Somalia untuk melawan perlawanan kelompok Islamis yang memiliki hubungan dengan Al-Qaidah.

Bulan lalu, AP melaporkan bahwa proyek Somalia mencakup pelatihan pasukan 1.000 tentara anti pembajakan di wilayah utara Somalia semiotonom Puntland dan pengawal presiden di Mogadishu.(fq/ap)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/mantan-bos-blackwater-melatih-milisi-somalia-untuk-hadapi-bajak-laut.htm

Pengadilan Berlin Larang Seorang Siswa Melaksanakan Shalat


Sebuah pengadilan Jerman telah menolak pengaduan hukum oleh seorang pelajar muslim berusia 16 tahun untuk mendapatkan haknya melakukan ibadah shalat di sekolahnya, sebuah laporan mengatakan.

Pengadilan di Berlin memutuskan pada hari Kamis lalu (27/5) menolak pengaduan Yunis untuk melakukan shalat, yang oleh pengadilan dinyatakan bahwa tindakan Yunis akan merusak kedamaian yang ada di sekolah, dan Yunis juga dianggap melakukan penyalahgunaan hak-hak siswa terhadap hak lingkungan yang tenang dalam pendidikan, menurut laporan Reuters.

Pemeliharaan lingkungan akademik sekolah lebih diutamakan atas hak siswa untuk taat menjalankan ajaran agamanya, kata pengadilan.

“Ritual shalat memiliki karakter demonstratif dan berfungsi sebagai kontrol sosial,” kata seorang pejabat senat Berlin mendukung putusan pengadilan.

“Ini adalah hari yang baik untuk sekolah di Berlin,” kata direktur sekolah Brigitte Burchardt setelah putusan itu ditetapkan.

Dia mengatakan keputusan akan mengurangi potensi konflik yang mungkin timbul di sekolah.

Tahun lalu murid yang sama awalnya diberi hak untuk melakukan shalat sekali sehari di sekolah yang sama. Namun pada tahun ini pengadilan yang lebih tinggi Berlin membatalkan keputusan tersebut.

Jerman memiliki populasi umat islam sebanyak empat juta jiwa, dan putusan pengadilan itu memberikan beban berat pada umat Islam di negeri itu untuk melaksanakan ajaran agamanya seperti shalat, Spiegel Online mengatakan.(fq/prtv)

sumber : http://eramuslim.com/berita/dunia/pengadilan-berlin-larang-seorang-siswa-melaksanakan-shalat.htm

Film “Cry of Stone”, Buku Harian Rakyat Palestina yang Penuh Darah


Wajar kalau ternyata Israel sangat murka dan marah dengan serial TV yang di tayangkan di stasiun televisi MBC, karena film yang berjudul “Cry of Stone” tersebut dengan sangat jelas memaparkan realitas kehidupan rakyat Palestina yang sangat menderita dan tersiksa oleh perilaku bengis tentara Israel.

“Cry of Stone” bukan hanya sebuah film yang menampilkan adegan-adegan yang bergerak secara demonstratif, film ini merupakan sebuah karya kelas tinggi yang memaparkan sisi-sisi dan nilai kemanusiaan yang mengingatkan kita akan realitas penderitaan rakyat Palestina sepanjang hari.

Dalam serial TV ini ditampilkan gambar-gambar yang menyedihkan, dan sang sutradara mampu memaparkan karakteristik manusia, serta persepsi yang sesuai dengan realitas yang ada, dan selaras dengan adegan-adegan yang sebenarnya telah gagal ditampilkan oleh semua saluran televisi dan media-media resmi lainnya dari sudut pandang netralitas. Dan “Cry of Stone” telah mampu memaparkan semua hal tersebut secara dramatis menjelaskan apa yang terjadi di Palestina.


“Cry of Stone” adanya film yang sangat realistis menggambarkan penderitaan rakyat Palestina, dan serial TV ini tidak hanya memiliki visi strategis ataupun berorientasi bisnis semata, namun sebenarnya mengingatkan kita secara interaktif atas apa yang terjadi pada rakyat Palestina yang hidup dalam bencana besar (Nakbatul Kubro) sejak tahun 1948.

“Crt of Stone” juga mengirimkan pesan dengan serangkaian adegan-adegan yang memilukan, banyak pesan yang disampaikan termasuk menjelaskan bahwa kematian adalah suatu rutinitas sehari-hari yang menjadi bagian dari kehidupan rakyat Palestina. Banyak adegan dramatis ditampilkan seperti pemandangan seorang wanita Palestina yang terpaksa harus melahirkan di pos pemeriksaan Israel setelah dirinya dilarang menuju ke rumah sakit, dan hal tersebut merupakan pemandangan yang biasa terjadi di Palestina.

Militer Israel memukul seorang laki-laki tua sehingga tewas di depan mata kepala istrinya hanya karena laki-laki tua itu tidak suka cara militer Israel yang sangat arogan menjaga pos pemeriksaan, dan hal ini pun menjadi lumrah dalam realitas kehidupan di Palestina. Adanya adegan yang sangat menyakitkan, dimana tentara Israel menembak seorang anak Palestina yang dengan tersenyum sebelum peluru menembus dadanya.

Serial Televisi “Cry of Stone” telah membuat gempar Israel, yang dipandang oleh banyak pengamat bahwa film tersebut telah menampilkan realitas sesungguhnya Israel dalam berurusan dengan rakyat Palestina, film ini juga sangat akurat dalam menampilkan detail-detail tiap adegan ‘menyedihkan’ yang di alami rakyat Palestina.

“Cry of Stone” menyampaikan pesan ke seluruh dunia, di luar dari persoalan para politisi maupun politik, yang menyatakan bahwa inilah realitas sehari-hari yang dialami warga Palestina bahkan mungkin lebih dasyat dari apa yang digambarkan oleh film ini.

“Cry of Stone” telah menjadi lensa pembesar yang menyorot sebuah buku harian rakyat Palestina yang penuh darah, air mata dan kesedihan.(fq/aby)

Harun Yahya: Muslim Indonesia Bersiap Jemput Masa Keemasan


ISTANBUL — Cendikiawan Turki Dr. Adnan Oktar yang kondang di dunia dengan nama pena Harun Yahya menyatakan, Muslim Indonesia agar menyiapkan diri menjemput masa keemasan yang datang sepuluh tahun ke depan.

“Asal anda bersatu, tidak terpecah-pecah, Insya Allah kebangkitan Islam di Asia akan berpusat di Indonesia. Kami di Turki akan mendorong ‘renaissance’ (kebangkitan kembali) yang sama di Eropa,” katanya dalam wawancara khusus dengan Antara di kediamannya, pinggiran selat Bhosporus, Istanbul, Turki, Sabtu.

Harun Yahya adalah cendekiawan Muslim yang dihormati dan punya andil besar dalam perjuangan Islamisasi dalam masyarakat Turki yang sekuler.

Ia dianggap tokoh yang mengantarkan kemenangan Partai Keadilan dan Kesejahteraan (AKP) dalam Pemilu di Turki dan keberhasilan Abdullah Gul menduduki kursi orang nomor satu di negara sekuler itu. Abdullah Gul meraih suara mayoritas dari parlemen yang memang didominasi AKP.

Ini dianggap sejumlah kalangan sebagai awal era Islamisasi Turki yang dalam kurun waktu lama sangat kuat memegang sekularisme.

Terhitung, sejak ambruknya Khilafah Islamiyah Turki pada 1924, negeri itu menjadi simbol sekulerisme dipelopori pendirinya, Mushtafa Kamal Ataturk. “Islam sudah bangkit di Turki dan tentu saja di Indonesia,” katanya.

Harun pernah datang ke Indonesia dua tahun lalu dalam Konferensi Cendikiawan Muslim dunia dan melihat perkembangan pemahaman dan pelaksanaan Islam yang makin kuat di Indonesia.

Semarak agama dan ibadah sangat terasa, namun dari segi-segi kepartaian dianggap terlalu banyak partai yang berlabel Islam. “Sekarang kehidupan partai di negeri anda nampak masih berkaum-kaum, nanti Insya Allah akan fokus bersatu,” kata Harun Yahya yang menulis ratusan buku dan DVD tentang Islam dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Situs yayasannya bahkan dikunjungi lima juta orang setiap bulan.

Ia menekankan pentingnya kaum Muslim di Indonesia, Turki atau di mana pun untuk berjuang menggapai kekuasaan melalui cara-cara demokratis lewat Pemilu, bukan dengan kekerasan, anarki, apalagi terorisme. “Prinsip Islam itu sejalan dengan demokrasi. Mari berjuang dengan cara (demokrasi) ini,” nasihatnya.

Dalam 10 tahun yang akan datang, lanjutnya, Islam akan bangkit setelah terpuruk akibat serangan 11 September 2001.

Islam yang “Rahmatan Lilalamin” sudah dibajak oleh radikalisme Taliban dan Al-Qaeda. “Mereka bukan representasi Islam. Mayoritas Muslim adalah moderat dan cinta damai. Terorisme dan kekerasan bukan jiwa Islam,” katanya. Tapi radikalisme dan terorisme, justru membuat fobia Islam (ketakutan pada Islam) meningkat di Eropa dan negara Barat.

Ia mengatakan model pemerintahan masa kekuasan Otoman 500 tahun lalu bisa mengakhiri fobia Islam dan paranoia di Barat terhadap Islam dan kaum Muslimin. Kesultan Otoman (Usmaniyah), katanya, sangat toleran terhadap warga Kristen dan Yahudi selama berabad-abad masa kekuasaannya.

Indonesia dan Turki bisa berperan penting dalam menepis isu terorisme dan Islamophobia di Barat, dan harus berkampanye mencegah prasangka buruk dan pemahaman yang salah tentang isu-isu itu. “Misi kita adalah agar Barat bisa memahami Islam yang sebenarnya dan tidak salah faham terhadapnya,” demikian Dr. Harun Yahya.  (ant/ah)

sumber : http://www.republika.co.id/berita/2809/harun_yahya_muslim_indonesia_bersiap_jemput_masa_keemasan

%d bloggers like this: