Blog Archives

Presiden Obama Mulai Lawatan ke Asia Pasifik


Presiden Amerika Barack Obama memulai lawatan sembilan hari untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Presiden Obama pertama akan menjadi tuan rumah KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di kota kelahirannya, Honolulu, Hawaii. Diperkirakan, ia akan membahas usulan zona perdagangan bebas Pasifik yang mencakup Amerika, Australia, Brunei, Chili, Malaysia, Selandia Baru, Peru, Singapura dan Vietnam.

Jepang hari Jumat menyatakan akan ikut perundingan mengenai zona perdagangan bebas itu, untuk lebih menarik negara-negara ekonomi kuat lain di kawasan itu seperti Tiongkok.

Setelah singgah di Australia, Obama akan melakukan kunjungan kedua ke Indonesia sebagai presiden. Dalam lawatan ini, Obama akan menjadi presiden pertama Amerika yang menghadiri KTT ASEAN yang akan dilangsungkan di Bali.

Menurut pengamat, Obama juga memanfaatkan lawatannya ini untuk menegaskan kepada sekutu-sekutu, Amerika akan tetap berperan besar di kawasan itu guna mengimbangi pengaruh Tiongkok yang semakin kuat.(voanews.com, 11/11/2011)

Advertisements

Penasehat Ekonomi Obama Mundur


Presiden AS Barack Obama telah mengumumkan kepergian mantan Ketua Federal Reserve Paul Volcker sebagai kepala Dewan Penasehat Pemulihan Ekonomi.

“Sejak kampanye saya untuk Presiden, saya telah mengandalkan nasihat dari Paulus Volcker pada saat kami bekerja untuk pulih dari krisis ekonomi terburuk sejak terjadinya depresi besar,” dikutip kantor berita Associated Press atas pernyataan Obama Kamis malam (20/1).

Dengan niat untuk merestrukturisasi dewan penasehat ekonomi, Obama menempatkan CEO General Electric Jeffrey Immelt sebagai kepala penasehat ekonomi yang baru.

Ketua Dewan baru ini akan fokus pada peningkatan kerja.

Immelt telah menjadi sekutu Gedung Putih sejak awal kepresidenan Obama, meski kontribusi politiknya cenderung bipartisan dan ia secara finansial mendukung Hillary Clinton dan tokoh Republik John McCain, Rudy Giuliani dan Mitt Romney dalam pemilu presiden 2008 lalu.

Volcker selama dua tahun penuh menjadi salah satu pemikir ekonomi paling bijaksana di dalam pemerintahan Obama. (fq/prtv)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/penasehat-ekonomi-obama-mundur.htm

Seruan Bodoh Menteri Pakistan: Jadikan Barack Obama Khalifah Umat Islam


Seorang menteri Pakistan menginginkan Presiden AS Barack Obama untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di lokasi Ground Zero di New York dan menjadi “Amir-ul-Mukminin” atau Khalifah umat Islam sedunia.

Menteri Negara untuk Industri Pakistan Ayatullah Durrani, yang merupakan menteri dari partai yang berkuasa, mengatakan hari raya Idul Fitri mendatang, diharapkan dapat jatuh pada tanggal 11 September, akan menjadi “kesempatan emas” untuk Obama melaksanakan shalat Idul Fitri dan menyatakan dirinya sebagai pemimpin semua umat muslim.

“Dengan cara ini, semua masalah dunia Islam akan dipecahkan,” kata Durrani kepada surat kabar The Nation.

Durrani, seorang mantan anggota Dewan ideologis Pakistan, berpendapat bahwa dunia Muslim membutuhkan lebih dari seorang khalifah dan sosok ini ada pada diri Obama, dan Obama layak diberi gelar sebagai “Mullah Barack Hussain Obama” atau “Allamah Obama”.

Dia berkata: “Waktunya sudah dekat. Barack Hussain Obama harus bertindak sekarang. Ini adalah kesempatan emas, Muslim sangat membutuhkannya.”

Elevasi Obama terhadap kekhalifahan Islam akan menjadi kunci keberhasilan, klaim menteri Pakistan tersebut tanpa merinci maksud dari pernyataannya.(fq/thenation)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/seruan-bodoh-menteri-pakistan-jadikan-barack-obama-khalifah-umat-islam.htm

Obama Perlu Dialog Dengan Ikhwanul Muslimin untuk Menghadapi Salafi


LONDON- Sebuah laporan merekomendasikan Presiden AS Barack Obama agar membuka ruang dialog dengan Ikhwanul Muslimin untuk mencegah apa yang ia sebut dengan kelompok-kelompok ekstremis Salafis mengisi kekosongan akibat tidakadanya partisipasi “Aktivis Islam Moderat” dalam politik.

Laporan yang dibuat oleh Institut Brookings Amerika, dan disusun oleh peneliti di the Saban Center untuk Kebijakan Timur Tengah, Shadi Hamid dengan judul: “Reaksi Aktivis Islam Terhadap Penindasan …. Apakah Mainstream Kelompok Islam Akan Memakai Ekstremisme?

Laporan itu menetapkan langkah-langkah praktis yang perlu diambil oleh pemerintah Obama, terutama dukungan secara terbuka terhadap hak semua kelompok oposisi, termasuk gerakan Islam, khususnya Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Yordania, untuk berpartisipasi dalam pemilu mendatang. Dan mendukung hak semua kelompok politik “non kekerasan” untuk berpartisipasi dalam proses pemilihan .

Menanamkan Pengaruh Amerika

Laporan ini juga merekomendasikan tentang perlunya kedutaan Amerika kembali berdialog dengan para aktivis Islam, setelah hampir satu dekade setelah pemerintah mantan Presiden AS, George W. Bush dan Ikhwanul Muslimin memutuskan untuk tidak berdialog di antara kedua belah pihak pasca serangan 11 September 2001.

Laporan tersebut menegaskan bahwa dengan saluran-saluran dialog yang terbuka ini memungkinkan Amerika Serikat untuk menanamkan pengaruh dalam strategi yang ditempuh oleh kelompok Islam, khususnya yang berkaitan dengan partisipasi dalam pemilu.

Korban “Permainan” Hasil Pemilihan

Laporan tersebut mengakui bahwa Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Yordania telah menjadi korban dari “permainan” hasil pemilihan terakhir.

Laporan itu memaparkan inisiatif reformasi yang dilontarkan oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir pada tahun 2004. Bahkan hal ini dianggapnya sebagai “Tonggak utama dalam evolusi politik dalam Ikhwanul Muslimin, yang merupakan upaya untuk mengangkat masalah demokrasi dan pengumpulan kekuatan-kekuatan politik lainnya di sekitar visi bersama demi sebuah perubahan.”

Laporan itu mengatakan bahwa ini merupakan yang pertama kalinya kelompok (Ikhwanul Muslimin) menyatakan keyakinan mereka terhadap sistem parlemen, dan hak partai untuk memenangkan sebanyak mungkin suara dalam rangka membentuk pemerintahan.

Laporan itu juga memaparkan pengalaman Ikhwanul Muslimin di Yordania, serta pemboikotan mereka terhadap pemilihan umum pada tahun 1997, dan kembali berpartisipasi di tahun 2003. Bahkan dalam pemilihan kali ini mereka mendapatkan 17 kursi, dan memenangkan mayoritas suara.

Laporan juga menunjuk pada program reformasi yang diumumkan oleh kelompok (Ikhwanul Muslimin) pada tahun 2005. Dan laporan menilai hal ini sebagai “Ekspresi dari arah jangka panjang gerakan Islam baru untuk fokus pada reformasi demokratis.”

Laporan memaparkan tentang keputusan Ikhwanul Muslimin di Yordania untuk memboikot pemilu yang akan berlangsung tahun ini setelah menuduh pemerintah berlaku curang dalam pemilihan umum tahun 2007.

Menurut laporan itu, bahwa penyelenggaraan pemilu tanpa partisipasi kelompok Islam “Akan mengurangi legitimasi, dan membuka pintu bagi kelompok-kelompok Salafis untuk mengisi kekosongan itu.” (islammemo.cc, 23/8/2010)

OBAMA dateng tanggal 14 Juni…


image

JAKARTA – Setelah tertunda, Presiden AS Barack Obama dipastikan berkunjung ke Indonesia 14 Juni mendatang. Tanggal perjalanan Obama ke Jakarta itu diungkapkan oleh Wakil Menlu Maria Otero yang baru saja bertandang ke Indonesia. Salah satu tujuan kunjungan Otero ke Indonesia itu untuk mempersiapkan kedatangan Obama.

”Untuk mengantisipasi dan menyiapkan perjalanan Presiden pada 14 Juni, saya telah berada di Indonesia untuk bertemu dengan pejabat pemerintah, organisasi nirlaba, LSM, dan masyarakat, untuk membicarakan masalah global yang dapat dikerjasamakan antara AS dan Indonesia,” ujar Otero dalam jumpa pers sebagaimana dilansir situs Deplu AS edisi 24 Mei 2010.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia menyebutkan Obama akan datang sekitar bulan Juni. Namun, tanggal pastinya belum ada pemberitahuan. Rencana kedatangan Obama pada Maret lalu batal karena saat itu dia tengah disibukkan pembahasan UU Kesehatan.

Deplu AS juga menyebutkan, kemungkinan Obama akan berkunjung selama empat hari. Setelah itu dia direncanakan meneruskan perjalanan ke Australia.
Sumber dari pemerintah Australia mengatakan, Obama akan berpidato di Parlemen Australia pada 18 Juni 2010, kemudian berakhir pekan di Negeri Kanguru itu. Dengan demikian, Obama kemungkinan akan berada di Indonesia pada 14-17 Juni 2010. Agenda kedatangannya akan mengikuti jadwal semula yang dibuat Maret 2010. Dia juga akan membawa istri dan anak-anaknya.
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan, pihaknya telah menyiapkan kedatangan presiden negara adidaya itu. “Segala persiapaan sudah kami lakukan,” ujar juru bicara Kemenlu Teuku Faizasyah.

Obama semula dijadwalkan datang pada 20-22 Maret. Lalu ditunda menjadi 23-25 Maret dan akhirnya ditunda lagi. Akhirnya, waktu yang dipersiapkan adalah bulan Juni saat masuk libur musim panas. Dengan jadwal baru itu, kemungkinan istri dan anak Obama akan ikut seperti rencana awal. (dtc-65)

sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/26/110900/Datang-14-Juni

%d bloggers like this: