Blog Archives

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2011


Al-Islam edisi 586, 23 Desember 2011-28 Muharram 1433 H

Tahun 2011 segera berlalu. Menilik catatan berbagai peristiwa yang terjadi dan kondisi riil kehidupan umat, terlihat jelas bahwa umat masih menderita disebabkan kapitalisme. Catatan berikut adalah sebagian kecil faktanya:

Rakyat Nganggur dan Miskin di Negeri Kaya

APBN-P 2011 sebesar Rp 1.321 triliun meningkat Rp 279 triliun. Namun, utang Pemerintah juga meningkat. Dari Statistik Utang Kemenkeu, per Oktober 2011 utang Pemerintah mencapai Rp 1.768 triliun. Maka 20% dari APBN (Rp 266,3 triliun ) pun habis hanya untuk membayar utang dan bunganya.

Diperkirakan, tahun 2011 angka pertumbuhan 6,5% dan PDB mencapai US$ 752 miliar. Menurut Majalah Forbes yang dirilis November lalu, dari jumlah itu 11 % atau US$ 85,1 miliar dimiliki hanya oleh 40 orang terkaya di negeri ini. Hal ini menunjukkan lebarnya kesenjangan dan buruknya distribusi kekayaan di negeri ini.

Di sisi lain, berdasarkan data BPS tahun 2011 terdapat 8,12 juta orang menganggur. Sementara data Kadin, justru ada tambahan 1,3 juta penganggur tiap tahun. Sebab tambahan lapangan kerja hanya 1,61 juta sementara tambahan tenaga kerja baru mencapai 2,91 juta orang (lihat, Republika, 15/12).

Angka kemiskinan pun tetap tinggi. Berdasarkan Data BPS tahun 2011 di negeri ini ada 30 juta orang miskin dengan standar kemiskinan yaitu pengeluarannya kurang dari 230 ribu/bulan. Jika ditambahkan dengan yang ‘hampir miskin’ (pengeluarannya Rp 233-280 ribu/bulan), jumlahnya menjadi 57 juta orang atau 24% dari penduduk negeri ini. Apalagi kalau menggunakan standar Bank Dunia (pengeluaran kurang dari US$ 2 per hari) maka ada lebih dari 100 juta orang miskin di negeri ini. Sungguh ironi.

Kekayaan alam begitu melimpah di negeri ini. Tapi sebagian besarnya dikuasai asing. Tentu hasilnya lebih banyak dinikmati asing. Contohnya, Freeport yang sudah bercokol 40 tahun di bumi Papua, antara tahun 2004 -2008 pendapatannya US$ 19,893 milyar (sekitar Rp 198 triliun). Sementara pemerintah selama 5 tahun itu hanya menerima Rp 41 triliun dalam bentuk pajak dan royalti.

Kenapa semua itu bisa terjadi? Kesenjangan, kemiskinan, pengangguran, penguasaan asing dan swasta atas kekayaan negeri dan sebagainya itu, tak lain akibat diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini.

Korupsi Makin Menjadi

Menurut survei Transparency International yang dilansir pada bulan Desember 2011, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) negeri ini hanya 3.0 (skala 0 terkorup – 10 terbersih). Indonesia menempati rangking 100 dari 183 negara yang disurvei. Dalam 10 tahun ini, IPK Indonesia hanya naik 0,8. Artinya, pemberantasan korupsi 10 tahun ini tidak menunjukkan perubahan berarti.

Korupsi menjangkiti semua instansi dan lembaga, baik parpol, birokrasi, legislatif dan yudikatif. Kasus Nazarudin sang bendahara Parpol berkuasa, kasus korupsi di Kemenakertrans, korupsi wisma atlet SEA GAMES Palembang, mafia anggaran di DPR, banyaknya pegawai muda memiliki rekening bejibun, puluhan kepala daerah terjerat korupsi, jaksa dan hakim tertangkap korupsi dan menerima suap, dsb, secara nyata menjadi buktinya.

Akar penyebabnya tak lain adalah sistem politik yang berbiaya tinggi. Perlu modal besar untuk membiayai proses politiknya. Besarnya biaya itu tak sebanding dengan perolehan yang sah. Dari mana lagi menutupinya kalau bukan dengan korupsi, kolusi dan manipulasi? Itulah sistem politik demokrasi.

UU Represif dan Liberal

Tahun ini, rakyat dihadiahi UU Intelijen. UU ini berpotensi mengancam kebebasan dan hak-hak privasi rakyat. Banyaknya istilah, definisi dan pasal multi tafsir memungkinkan terjadinya penyalahgunaan wewenang demi kekuasaan. Adanya wewenang penyadapan, pemeriksaan rekening dan penggalian informasi berpotensi menjadi alat represif dan melanggar hak-hak privasi rakyat. Celakanya bagi orang yang merasa dilanggar hak dan privasinya oleh intelijen, tidak ada mekanisme untuk mengadu dan mendapatkan keadilan. Potensi lahirnya rezim represif itu makin besar dengan dibahasnya RUU Kamnas dan RUU Ormas yang senafas dengan UU Intelijen.

Disisi lain, UU BPJS dan UU Pengadaan Lahan untuk Pembangunan menambah daftar UU liberal yang menyengsarakan rakyat. UU BPJS dan UU SJSN dengan spirit neoliberal membenarkan negara berlepas tangan dari menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat, khususnya kesehatan. Atas nama UU, beban itu dilimpahkan ke pundak rakyat. Rakyat wajib membiayai sendiri dan saling membiayai jaminan kesehatan melalui skema asuransi sosial. Dengan UU ini setiap rakyat diwajibkan menjadi peserta asuransi sosial dan wajib membayar premi. Maka yang pasti, beban di pundak rakyat makin berat. Seolah belum cukup beban dan penderitaan rakyat akibat berbagai UU bernafas liberal, DPR dan Pemerintah pun giat membahas RUU lainnya seperti RUU Pangan, RUU Perguruan Tinggi dan RUU lainnya. Semuanya kental dengan ideologi liberal yang mengancam rakyat.

Gejolak Papua

Gejolak di Papua diantaranya adalah dampak perebutan kekuasaan dalam Pilkada seperti yang terjadi di Kabupaten Puncak dan mengakibatkan 20 orang lebih tewas pada Juli silam. Gejolak juga terjadi berkaitan dengan keberadaan PT Freeport Indonesia (PTFI). Terjadi pemogokan karyawan PTFI dan berujung bentrokan dengan aparat menewaskan dua orang pada Oktober silam. Gejolak lainnya terkait separatisme untuk memisahkan Papua.

Sementara itu, kekerasan lain yang terus terjadi di Papua adalah rangkaian penembakan yang diduga dilakukan oleh OPM. Rangkaian penembakan itu telah menjadi teror tersendiri dan memakan korban tewas 12 orang termasuk Kapolsek Mulia. Ironisnya, meski sudah berupa teror dan menimbulkan korban tewas, semua itu tidak pernah disebut dan ditindak seperti terorisme. Mereka dianggap sebagai pelaku kriminal biasa. Lebih parah lagi sebagian besar pelakunya belum tertangkap.

Ironi Deradikalisasi

Salah satu proyek yang dengan sangat semangat dilakukan pemerintah adalah deradikalisi. Didukung anggaran yang meningkat menjadi lebih dari Rp 400 milyar, proyek deradikalisasi ini menjadikan Islam dan umat Islam sebagai target utama. Diantara kriteria radikal yang digunakan adalah mereka yang memperjuangkan formalisasi syariat Islam dalam negara dan mereka yang menggangap Amerika Serikat sebagai biang kezaliman global. Syariah Islam justru dianggap ancaman. Itulah ironi negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini. Muslim yang menentang penjajahan brutal Amerika pun dianggap musuh.

Pemerintah dalam proyek ini banyak mengadopsi rekomendasi lembaga kajian asing seperti Rand Corporation. Menurut lembaga kajian asal Amerika ini, deradikalisasi adalah proses memoderatkan keyakinan seseorang (Rand Corporation, 2010, Deradicalizing Islamist Extremist, hal. 5). Maka deradikalisasi itu adalah upaya membuat kaum muslim menjadi liberal, moderat, pluralis, menerima sekulerisme dan kapitalisme serta tidak anti AS dan Barat. Tentu saja yang dirugikan adalah umat Islam. Sebaliknya itu akan melanggengkan penjajahan dan menguntungkan asing terutama AS.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pertama, Setiap sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Zat Maha Tahu, pasti akan menimbulkan kerusakan dan akhirnya tumbang. Rapuhnya kapitalisme dengan berbagai bentuk kerusakan dan segala dampak ikutan yang ditimbulkannya berupa kemiskinan dan kesenjangan kaya miskin serta ketidakstabilan ekonomi dan politik, seperti yang saat ini terjadi di berbagai belahan dunia adalah bukti nyata. Kenyataan ini semestinya menyadarkan kita semua untuk bersegera kembali kepada jalan yang benar, yakni jalan yang diridhai oleh Allah SWT, dan meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi kufur. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Rum [30]: 41)

Kedua, Sekuat apapun sebuah rezim yang otoriter, korup, menindas rakyat dan durhaka kepada Allah SWT, meski telah dijaga dengan kekuatan senjata dan didukung oleh negara adidaya, cepat atau lambat pasti akan tumbang dan tersungkur secara tidak terhormat. Jatuhnya Ben Ali, Mubarak, Qaddafi, Ali Abdullah Saleh dan mungkin segera menyusul penguasa Suria Bashar Assad, serta penguasa lalim di negara lain, adalah bukti nyata. Kenyataan ini semestinya memberikan peringatan kepada penguasa dimanapun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar, penuh amanah demi tegaknya kebenaran, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada negara penjajah. Pembuatan berbagai UU yang bakal membungkam aspirasi rakyat, seperti UU Intelijen atau RUU Kamnas dan yang serupa di negeri ini, mungkin sesaat akan berjalan efektif, tapi cepat atau lambat itu semua justru akan memukul balik penguasa itu sendiri.

Ketiga, Oleh karena itu, bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini, maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Dzat yang Maha Baik, itulah syariah Allah dan pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Di sinilah esensi seruan ”Selamatkan Indonesia dengan Syariah” yang gencar diserukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Karena hanya dengan sistem berdasar syariah dengan menegakkan Khilafah yang dipimpin oleh orang amanah (Khalifah) saja Indonesia benar-benar bisa menjadi baik. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar

Studi Bank Dunia: Kelas menengah yaitu mereka yang pengeluarannya US$ 2-20 per hari 56,5% dari 237 juta penduduk Indonesia atau sekitar 134 juta orang. Namun dari jumlah itu, yang masuk kategori belanja US$ 6 – 20 per hari hanya 14 juta orang. Lainnya, tidak mandiri dan rentan menjadi miskin (lihat, Kompas, 20/12).

  1. Artinya, kelas menengah yang benar-benar kaya hanya 14 juta orang (5,6 % dari penduduk Indonesia). Sementara 120 juta orang (50,6% dari penduduk Indonesia) tidak mandiri dan rentan menjadi miskin. Di luar itu, lebih dari 100 juta orang (atau sekitar 45 % penduduk Indonesia) terkategori miskin menurut standar Bank Dunia.
  2. Itulah prestasi sistem kapitalisme: kesenjangan yang lebar, distribusi kekayaan yang tak adil, memiskinkan mayoritas rakyat dan sebaliknya menumpuk kekayaan pada sebagian sangat kecil dari rakyat.
  3. Terapkan Sistem Ekonomi Islam, niscaya kesenjangan menyempit dan hampir hilang, kekayaan terdistribusi secara adil. Kesejahteraan dan kemakmuran bisa dirasakan oleh semua.
Advertisements

Republik Bola dan Berhala Nasionalisme


Oleh: A. Baedlowi (Alumni Ponpes Al Huda Oro-oro Ombo Madiun)

Kemenangan Tim Garuda atas tim Philipna dalam laga sepakbola piala AFF Suzuki 2010 benar-benar menyihir para bola mania tanah air. Aneka tingkah polah soporter tampak dari atribut, dan dandanan ala hooligan Inggris juga mewarnai euporia kemenanngan tersebut.

Kemenangan tersebut dinyatakan oleh Presiden SBY sebagai bukti bahwa Indonesia bisa mengubah keadaan apabila bersatu dan bersama-sama berjuang dengan tidak saling menyalahkan satu sama lain.

Sepak bola, bagi Presiden, adalah salah satu wahana pemersatu bangsa di tengah dinamika demokrasi yang terkadang memang wajar memunculkan benturan elit politik baik di tingkat daerah maupun pusat. Sedangkan menurut Abu Rizal Bakri, “Sepak bola telah terbukti bisa membangkitkan rasa nasionalisme, membangkitkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang kadang-kadng turun naik,” (Antara).

Bahkan demi kebanggan tersebut keluarga besar Bakrie hari ini memberikan hibah tanah seluas 25 hektar kepada PSSI,” kata Sekjen PSSI Nugraha Besoes saat pertemuan timnas, pengurus PSSI dengan keluarga besar Bakrie di kediaman Aburizal Bakrie di Jakarta, Senin. (Antara). tanah berlokasi di Jonggol Jabar tersebut akan dibangun pusat pelatihan PSSI lengkap dengan prasarananya.

Tempat ini akan menjadi “base camp” PSSI. Andai saja keluarga Bakrie menghadiahkan tanah itu kepada warga korban Lapindo dimana hingga kini PT Minarak Lapindo belum juga mau melunasi kewajibannya yakni ganti rugi tanah yang dituntut oleh warga Siring Sidoarjo.

Sementara Presiden SBY pernah meyakinkan kepada warga Lapindo bahwa keluarga Bakrie pasti melunasinya karena kekayaannya yang melimpah. Tapi mereka sepertinya telah kehabisan air mata dan kehilangan harapan untuk mendapatkan hak-haknya.

SBY agaknya menyadari berbagai ekses proyek demokratisasinya. Dan Sepak Bola tampaknya dipilih sebagai ‘solusi’ untuk mempersatukan rakyat dan elit dari segala bentuk konflik politik. Jadi untuk sementara waktu para elit maupun gras root harus melupakan jejak rekening gendut, skandal century, korban Merapi-Mentawai, Lumpur Lapindo, bocoran kawat Wikileaks dan rencana pencabutan subsidi (baca: kenaikan) BBM. Lebih Ironis bak orchestra tanpa seorang dirigen, media massa juga ikut tersihir.

Mereka berlomba-lomba menjadikannya sebagai head line news. Bahkan reportase sejumlah staisun TV seratus persen berisi berita ulasan aksi-aksi individu para pemain naturaliasi.

Menjadi Republik Bola
Italia, Brasil, dan Argentina dapat dikatakan mewakili profil Republik Bola. Di tengah kemiskinan, pengangguran yang tinggi, dan kebodohan masif, anak bangsa Republik Bola melihat bintang sepak bola sebagai obsesi hidupnya. Lalu para Kapitalis pun menemukan lahan empuk ini sebagai intertainment industry untuk mendulang banyak dollar.

Di saat begitu tingginya kompetisi hidup, anak-anak gras root hanya melihat satu-satunya jalan instan meraih sukses adalah menjadi bintang bola dan artis. Walhasil para dhu’afa di negeri ini pun yang masa depannya suram lebih memilih mengadu nasib di club-club Liga Nasional daripada meraih gelar sarjana yang tak terjangkau biayanya.

Rakyat di Republik Bola memiliki kesadaran politik (tentang hak dan kewajiban rakyat) yang teramat rendah. Sebagai contoh, di Italia hari ini jelas-jelas di pimpin oleh seorang Silvio Borlusconi politisi korup dan sangat doyan zina. Kemampuanya menduduki kursi Presiden tak lepas dari perannya dalam bisnis Club SepakBola negeri Azuri ini.

Begitu pula di Brasil dan Argentina setali tiga uang. Situasi yang sama segera menyusul di negeri tercinta ini. Baru saja ICW melaporkan sepuluh tersangka korupsi berhasil menjadi Kepala Daerah. Mengapa, soalnya rakyat Republik bola tak terlalu paham poltik.

Kebodohan politik dimanfaaatkan kaum oponturir politk membeli suara mereka. Cukup dengan merogoh kocek sepuluh ribu, mereka membeli suaranya. Sebab mereka hanya butuh untuk makan dan membeli tiket bola.

Akibatnya politisi korup menikmati sikap cuek bebek rakyatnya. Jurus Wirosableng 212 — 2 tahun pertama kembalikan modal, hanya 1 tahun untuk membangun dan 2 tahun sisanya bkin proyek-proyek untuk curi star kampanye jabatan keduanya — dipakai untuk menaklukkan konstituenya. Ya sungguh mengenaskan!

Kebanggaan Semu
Ketum Partai Demokrat mengomentari kemenangan itu sebagai modal untuk memupuk rasa kebanggaan bangsa Indoensia. “Sepak bola telah terbukti bisa membangkitkan rasa nasionalisme, membangkitkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang kadang-kadng turun naik,” kata Ical.

Sementara itu, kata Presiden kemenangan itu adalah wujud persatuan, dimana diharapkan dapat menjadi tradisi dan dibudayakan sehingga rakyat Indonesia bisa berbangga terhadap negerinya. Jadi begitu sederhananya makna nasionalisme di negeri ini. Tidakkah ada kebanggaan yang lebih hebat dibandingkan sekedar prestasi olah raga.

Tidaklah mengherankan mereka membuang kebanggaan nasional yang hakiki dengan menjual industry strategis itu kepada pihak asing. Indosat melayang, Krakatau Steel dan industry semen nasinal dijual, Pertamina tidak dipercaya mengelola blok Cepu, Natuna pasca kedatangan Obama diserahkan ke Exon, dan Telkom dan PLN pun segera menyusul.

Pada rezim sebelumnya karena desakan IMF, IPTN dibubarkan, Gas Tangguh diobral murah dan Kapal Tangker dilego. Para elit berkonspirasi menikmati hasil penjualan industry strategis di atas. Sementara rakyat dininabobokan dengan hingar bingar permainan si kulit bundar itu.

Atas ‘prestasi’ tersebut mereka masih saja mengklaim sebagai pembela slogan demi menjaga NKRI dan Pancasila. Sedangkan para pejuang Syariah ikhlas harus siap mendpatkan stigma negatifi sebagai kelompok radikal pengusung ideology transasional yang membahayakan NKRI.

Sesungguhnya nasionalisme (qaumiyah) yang bekembang saat ini merupakan perwujudan ashobiyah jahiliyyah. Ashobiyyah dipicu oleh dorongan naluri mempertahankan diri (survival instink) yang lahir dalam bentuk ambisi cinta kekuasaan (hubbub as-siyadah) dan rasa ingin memiliki (hubb attamalluk).

Naluri ini juga diciptakan oleh Allah SWT kepada sekawan gajah dan harimau. Ikatan berdasarkan qaumiyah adalah ikatan yang derajatnya paling rendah, menjijikkan dan hina. Ia juga berwatak emosional dan temporal.

Di era jahiliyah orang-orang Quraisy terbiasa menunmpahkan darah sesama mereka hanya gara-gara unta dan perempuan. Di abad modern lahirlah nazisme Hitler dan Fasisme Mussolini. Sekarang Hologinisme dan fenomena bonek juga hadir karena fanatisme sporter bola.

Contoh lain dalam kasus konfrontasi Indo-Malaisya, penganut faham nasionalis juga lebih peduli membela sengketa soal batik dan reyog daripada menjaga persaudaraan Islam antar bangsa Melayu.

Penutup
Rasulullah mengingatkan dengan ungkapan LAISA MINNA MAN DA’A, WA MAN QATALA, WA MAN MATA, ‘ALA ‘ASHOBIYATIN (Bukan termasuk golongan kami, barang siapa yang menyeru, berperang dan mati membela ‘ashobiyah). Belia juga memperingatkannya FAINNAHU MUNTANITUN (sesungguhnya slogan jahiliyyah itu menjijikkan).

Maka hendaklah kita mencamkan wasiat Shahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Ikatan Islam akan lepas satu persatu bila di kalangan Umat Islam timbul sebuah generasi yang tidak paham dengan jahiliyyah” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Al-Fawaid, hal. 143).

Sebagai penutup marilah kita renugkan kata-kata hikmah Al hafid ibn ‘Abd Al Barr Al Andalusy:

 

Wahai saudaraku, sesungguhnya di antara laki-laki itu berujud binatang…..dalam bentuk seorang laki-laki yang mendengar dan melihat….cerdas pada setiap musibah yang menimpa hartanya….namun, jika agamanya ditimpa musibah ia tidak pernah merasa…

Jadi kalau soal bola kemenangan menjadi kebanggan dan kekalahan adalah mushibah besar. Sementara berita maraknya pornografi, free sex di kalangan remaja, penjualan BUMN, legalisasi kaum homo, syariat Islam malah dianggap melanggar HAM, dan maraknya aliran sesat dibiarkan angin lalu. Wallahu A’lam.

Sumber: eramuslim.com

Siapakah Muslim “Moderat”?


Pada tanggal 18 Desember 2010, Toronto Star menerbitkan sebuah artikel yang menganjurkan pelarangan tidak hanya Niqab (penutup wajah) dan Burqa (penutup seluruh tubuh), tetapi juga hijab/jilbab (penutup kepala).

Artikel itu menyatakan, “burqa dan niqab merupakan tradisi yang memandang bahwa perempuan sebagai objek seksual, seorang penggoda, yang dengan gerakan pergelangan kakinya, dapat membawa laki-laki (makhluk yang lemah yang tidak mampu menahan godaan ini) untuk bertekuk lutut dihadapan mereka. Ini adalah sistem nilai yang menjijikkan dan saya menolaknya Jadi. semua warga Kanada harus menganut feminisme sekuler. Marilah kita larang burqa, niqab dan hijab.”

Artikel tersebut menggunakan istilah “Muslim moderat” untuk menggambarkan orang-orang yang menyatakan bahwa, “Hukum memakai penutup kepala tidak hanya memalukan bagi perempuan, tetapi merupakan penghinaan bagi laki-laki.”

“Muslim Moderat”:  Suatu Ukuran yang Islami?
Artikel itu memberikan kesempatan untuk meneliti praktek yang dilakukan media, para politisi oportunistik dan yang lainnya yang memuji sebagian orang Islam lain sebagai “Muslim moderat” dan mencela sebagian lainnya sebagai “militan,” “radikal” dan “ekstrimis.” Merupakan hal yang cukup menggoda untuk menampilkan diri sebagai bagian dari kelompok itu yang tidak menunjukkan arti negatif. Namun, sebelum menggunakan istilah-istilah seperti “Muslim moderat” dan “Ekstrimis Muslim,” kita perlu memahami masing-masing arti istilah itu.

Apa artinya “Muslim moderat”? Siapa sebenarnya “kaum ekstrimis”?
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa istilah-istilah tersebut tidak berbahaya, dan bahwa semuanya itu hanyalah sebuah cara untuk membedakan antara Muslim yang “baik” dan yang “buruk”.  CNN  member predikat Aljazair sebagai negeri kaum “ekstremis” karena melarang impor alkohol. Sebelum adanya larangan ini, kaum muslim Aljazair dianggap sebagai “moderat.”

Untuk menganalisa masalah ini (atau hal manapun), pertama kita harus merujuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Apakah Rasulallah SAW membagi para Sahabat (ra) menjadi kaum “moderat” dan  kaum ‘ekstrimis’?

Apakah para Sahabat (ra) mengukur satu sama lain dengan ukuran “moderat” atau “ekstremism”?

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. [al-Hujraat, 49:13]

Oleh karena itu, ukuran mengelompokkan kaum Muslim menjadi “moderat” dan “ekstremis” adalah suatu tindakan mengada-adakan dalam Islam. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh generasi salah ulama Islam, dan hany baru-baru ini saja diperkenalkan ke dalam wacana Islam.

Menjadikan Islam Agar Terlihat Tidak Diinginkan

Kenyataan dari wacana ini adalah untuk membuat Islam agar terlihat tidak diinginkan. Media, lembaga kajian,  dan politisi mengecam Islam sebagai “militan,” “radikal” dan “ekstrimis” sehingga umat Islam merasa terancam ketika mereka mempraktekan dien mereka. Beberapa contohnya termasuk
Pantang Minum Alkohol: Kaum Muslim dianggap ekstremis karena melarang kaum Muslim lain untuk membeli alkohol di negeri kaum muslim! CNN melaporkan: “Suatu pemungutan suara mengejutkan dilakukan oleh parlemen Aljazair untuk melarang impor minuman beralkohol di negara Muslim moderat yang merupakan tanda kembalinya ekstremisme Islam …” Kita bisa melihat bahwa media menganggap bahwa mengkonsumsi alkohol sebagai ciri khas seorang muslim “moderat”. Sebaliknya, seseorang yang melarang umat Islam mengkonsumsi alkohol adalah seorang “ekstrimis”.

Mengenakan Hijab: The Toronto Star – Surat kabar yang berhaluan kiri di salah satu kota paling toleran di Kanada – menjadikan Hijab sebagai sumber ketakutan dan menyerukan untuk melarangnya! Artikel pada surat kabar Toronto Star itu sebelumnya memuji kaum “Muslim Moderat” karena membenci hokum memakainya bagi wanita untuk menutup rambut mereka seperti yang ditetapkan oleh Allah SWT, yakni dengan memakai Jilbab (yang menutupi tubuh), dan bagi pria dan wanita karena menjaga kesopanan mereka ketika berhubungan satu sama lain. Allah SWT berfirman:

 

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. [Al-Ahzab, 33:59]

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Dan (bagi wanita) hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya[An-Nur, 24:31]

Meninggalkan Kewajiban Menegakkan Khilafah: Suatu Terbitan dari RAND, yang berjudul “Membangun Jaringan Muslim Moderat,” menyatakan: “Apakah filsafat politik yang berasal dari Barat ataukah sumber-sumber Al-Quran, untuk bisa dianggap demokratis, semuanya harus secara tegas mendukung pluralisme dan hak asasi manusia yang diakui secara internasional … Dukungan terhadap demokrasi berarti bertentangan dengan konsep negara Islam … Muslim moderat memegang suatu pandangan bahwa tidak ada yang bisa berbicara atas nama Allah Sebaliknya,. Hal ini adalah merupakan konsensus masyarakat (ijma), sebagaimana tercermin dalam opini publik yang diungkapkan secara bebas, yang menentukan apakah keinginan Allah dalam suatu kasus tertentu. “

Oleh karena itu, lembaga kajian, pribadi di media, dan para politisi tertentu mendefinisikan Muslim “moderat” sebagai seseorang yang bersedia untuk meninggalkan perintah Allah SWT apabila hal itu bertentangan dengan nilai-nilai liberal yang berasal dari akidah sekuler. Di sisi lain, seorang muslim yang mentaati perintah-perintah Allah SWT dianggap sebagai seorang ekstremis dan seseorang yang harus dijauhi oleh masyarakat.

Bahaya Adanya Kompromi
Kita juga harus menyadari bahaya dilakukannya kompromi. Kita mungkin tergoda untuk mengurangi praktek-praktek Islam kita dengan harapan agar dianggap moderat. Namun, Allah SWT telah memperingatkan kita terhadap praktek-praktek semacam ini:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu berkompromi sehingga mereka (juga) akan berkompromi dengan kamu. [al-Qalam, 68:9]

Meskipun taktik untuk mempromosikan “Muslim moderat” ini adalah hal yang baru dilakukan, hal ini bukanlah hal baru. Kekuasaan kolonial telah bekerja selama berabad-abad untuk membuat kaum Muslim mengadopsi sekularisme sebagai titik acuan tunggal mereka. Visi untuk menimbulkan mentalitas terjajah telah disosialisasikan pada tahun 1854 oleh Mountstuart Elphinstone, yang mengatakan, “kita tidak boleh bermimpi atas adanya kepemilikan abadi, tetapi harus menetapkan bagi diri kita sendiri untuk bisa membawa kaum pribumi ke dalam suatu negara yang akan mengakui hak mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang mungkin bermanfaat bagi kepentingan kita … “

Tetap Berpegang Teguh pada Agama

Kaum Muslim telah jatuh berkali-kali. Ketika kita membaca sebuah surat kabar, menghidupkan televisi atau surfing internet kita selalu mendapatkan berita yang berisi tuduhan dan kebohongan yang dilontarkan terhadap Din kita, Nabi SAW, atau Umat Islam. Tekanan ini telah memaksa sebagian orang untuk menjelaskan Islam dengan cara untuk meredakan kritik itu – dengan harapan agar dianggap “moderat”. Kita jangan saqmpai jatuh ke dalam perangkap ini. Sebaliknya, pertama kita harus memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT dan mengingat bahwa Allah SWT telah memperingatkan kita tentang tersebut:

وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا

Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. [al-Imran, 3:186]

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [al-Ankabut, 29:2-3]

Dan Rasulallah SAW memperingatkan kita bahwa: “Akan datang suatu masa dimana pada jika berpegang teguh kepada Deen akan menjadi sebagaimana memegang bara api di tangan ” [At-Tirmidzi]

Dalam masa fitnah ini, kita harus menegaskan kembali komitmen kita terhadap Allah SWT, bekerja keras untuk mempertahankan identitas Keislaman kita, dan tetap percaya diri dimana Allah SWT telah berjanji kepada kita  :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [Muhammad, 47:7]

Kita juga harus menyadari bahwa tujuan sebenarnya dari keberadaan kita di dunia adalah untuk memperoleh ridho Allah SWT dan kemudian dibangkitkan kembali bersama dengan para Sahabat Rasulullah SAW. Karena itu,  kita harus tabah atas cobaan apapun yang menimpa kita dan tetap teguh dengan tugas yang telah kita emban. Seorang yang beriman tidak pernah merasa rugi ketika dia menahan penderitaan untuk mendapatkan ridho Allah SWT,  karena sesungguhnya dia sedang bekerja untuk mendapatkan balasan yang abadi: Surga.

Ini secara langsung menyerang konsep Khilafah yang telah ditetapkan oleh Rasulallah SAW. Kami menyadari bahwa para Sahabat (ra), yang menggantikan Rasulullah SAW, mendirikan Khilafah, di mana Negara itu menerapkan Hukum Syariah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, Ijma-Sahabat , dan Qiyas. Mereka tidak pernah menerapkan undang-undang berdasarkan keinginan kolektif rakyat.

Rasulullah SAW bersabda: “Urusan orang beriman sungguh menakjubkan! Seluruh hidupnya adalah menguntungkan, dan itu hanya didapat pada orang beriman. Jika dia mendapat kebaikan dan bersyukur maka itu adalah baik untuknya, dan jika dia mendapat keburukan dan dia bersabar maka itu juga baik untuknya.” [Muslim]

Jika kita melihat kepada para Sahabat (ra), kita akan dapatkan bahwa mereka adalah contoh yang sangat baik untuk keteguhan hati dan ketabahan. Mereka mendapat cobaan yang sama dengan yang kita hadapi dimana orang-orang kafir menggunakan taktik busuk untuk memberi predikat buruk pada Islam. Kaum Ahli Kitab berusaha untuk membuat Islam terlihat buruk dengan membuat rintangan bagi dakwah Islam. Allah SWT berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya untuk menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?” [Al-Imran, 3:99]
Kaum Quraish juga menggunakan propaganda untuk menyebut Rasulallah SAW dan para Sahabat (ra) sebagai elemen-elemen ekstrim masyarakat. Meskipun terminologi yang mereka gunakan berbeda, tujuan mereka adalah sama: untuk menekan kaum muslimin sehingga pemikiran mereka akan sesuai dengan pemikiran, emosi, dan hukum Quraish yang kufur. Misalnya, Al-Waleed bin Al-Mughirah memimpin upaya untuk merancang strategi propaganda untuk mengisolasi Rasulullah SAW. Beberapa ide (misalnya yang menyebut beliau sebagai penyair, peramal, orang yang kerasukan oleh jin, dll) telah ditolak karena itu semua tidak realistis. Mereka menyebut beliau sebagai seorang penyihir dengan kata-kata yang memutuskan keluarga.

Meskipun pada masa Fitna dan ketakutan, Rasulallah SAW dan para Sahabat (ra) berdiri teguh di atas Din mereka dan tidak bergeser karena berada di bawah tekanan. Sebaliknya para sahaba (ra) menunjukkan keberanian yang besar. Misalnya, ketika Rasulallah SAW dan para Sahabat (ra) yang tinggal di Mekah (yaitu sebelum Hijrah), Abdullah bin Mas’ud (ra) mengatakan bahwa ia akan membuat kaum Quraisy agar mendengarkan Al Qur’an. Jadi, suatu pagi ia pergi ke Kabah dan membaca Al Qur’an dengan suara keras, sehingga orang-orang Quraisy menyerangnya. Ketika ia kembali kepada para Sahabat (ra), mereka berkata: “Inilah yang kita khawatirkan akan terjadi padamu.”

Dia mengatakan, “musuh-musuh Allah tidak pernah lebih hina di mataku daripada saat ini, dan jika kamu mau saya akan pergi lagi dan melakukan hal yang sama besok.”
Allah  SWT akhirnya membuat mereka menang atas musuh-musuh mereka di dunia ini, dan memberikan mereka kesenangan-Nya di akhirat:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah [at-Taubah, 9:100]

Jika kita menginginkan ridho Allah SWT, kita harus mengikuti contoh Rasulallah SAW dan para sahabatnya (ra) dan, Insya Allah, kita akan di antara orang-orang yang Allah SWT ridhoi.

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan tekad untuk menanggung penderitaan di zaman ini dan selalu berada di garis depan dalam membawa misi Islam dan mengembalikan kehidupan Islam di dunia ini. Amin.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. [al-Imran, 3:139]

Sumber:

http://www.khilafah.com/index.php/concepts/general-concepts/10920-who-is-a-qmoderateq-muslim

2011, Aset Perbankan Syariah Dekati Rp 120 Triliun


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tren pertumbuhan rata-rata perbankan syariah sebesar 25,53 persen per tahun dalam lima tahun terakhir menjadi asumsi standar untuk pencapaian aset di 2011. MC Consulting memperkirakan aset perbankan syariah berada di angka Rp 117 triliun pada 2011.

Direktur Utama MC Consulting, Wahyu Dwi Agung, mengatakan pertumbuhan aset pada tahun depan tetap terdorong dengan kondisi perekonomian yang membaik dan industri perbankan syariah yang belum memiliki tingkat relevansi tinggi dengan industri keuangan global. “Pertumbuhan juga didorong oleh aktivitas pembiayaan dan DPK serta jasa perbankan syariah yang masih didominasi oleh aktivitas perekonomian lokal atau domestik dan mulai masuknya perbankan syariah ke sektor selain perdagangan,” kata Wahyu saat pemaparan kajian Outlook Perbankan Syariah 2011 di Hotel Sofyan, Kamis (16/12).

Ia menambahkan jika bank syariah menetapkan target cukup besar, maka pembiayaan korporasi tetap tak akan bisa ditinggalkan. Wahyu mengakui selama ini perbankan syariah lekat dengan UKM, tetapi untuk mengejar volume target pembiayaan korporasi tetap harus dikejar.

“UKM penting sebagai diversifikasi yang memberikan yield agak lebar, tapi untuk perbesar volume tetap harus kejar korporasi. Salah satu strategi yang dimasuki bank syariah untuk menjadi besar di 2011 mereka akan main di komersial, retail banking dan konsumsi seperti KPR baru UKM,” kata Wahyu.

Wahyu memaparkan sektor industri manufaktur, perkebunan besar, maupun yang terkait infrastruktur harus tetap dimasuki oleh perbankan syariah supaya bisa berkompetisi dengan perbankan konvensional. Sementara, di sektor konsumsi pada tahun depan seperti pembiayaan pemilikan rumah dan kendaraan bermotor juga masih akan menjadi primadona.

Nama-nama Islami dengan Awalan Huruf ‘M’


Nama        Arti

Laki-laki

Ma’amar        Kemakmuran
Ma’arif        Kecantikan, pengetahuan
Mabruk        Yang diberkati
Ma’asyir        Pandai bergaul
Mabrur        Membuat kebajikan
Majad        Kemuliaan
Makmun        Beramanah
Mahasin        Kebaikan
Majid        Dihormati
Majdi        Kemulianku
Mahamid        Pujian, terpuji
Mahdi        Yang mendapat hidayah
Mahbub        Yang dikasihi
Mahadhir    Menulis kebaikan
Mahfuz        Terpelihara
Madani        Kemajuan
Makhluf        Maju ke hadapan
Mahmud        Terpuji
Makhlad        Yang kekal
Mahzuz        Bernasib baik
Maisur        Yang senang
Makarim        Kemulian
Mahran        Kebijaksanaan
Malazi        Tempat perlindungan
Mamduh        Terpuji
Mahir        Pakar
Manaf        Ketinggian, kenaikan
Manan        Pemurah
Mansur        Pemenang (yang mendapat pertolongan)
Manzur        Yang boleh diterima, dipersetujui
Maqbul        Diterima, dipersetujui
Marjan        Batu karang
Marzuq        Yang mendapat rezeki
Marzuqi        Rezekiku
Marwan        Bermaruah
Masrur        Yang riang, suka
Masykur        Yang bersyukur
Mas’ud        Bertuah
Masyhad        kesaksian
Masyahadi    Persaksianku, tuntutanku
Masyruh        Lapang dada
Masun        Yang terpelihara
Mathlub        Cita-cita
Maula        Tuan besar
Maulawi        Yang berzuhud (Maulana)
Mawardi        Nisbah, bunga mawarku
Mazhud        Yang zuhud
Maziz        Mulia
Mikyad        Yang bertaubat
Miftah        Pembuka, perintis
Mirza        Anak yang baik
Minhaj        Acara, biasa
Mikbad        Ibadah
Mifzal        Teramat mulia
Mikdam        Berani
Misbah        Pelita, cahaya
Mizwar        Rajin berkunjung
Muammar        Panjang umur
Muawiyah    Nama sahabat nabi Muhammad SAW
Muadz        Nama sahabat nabi Muhammad SAW
Muayyad        Kuat, menang
Muazhzham        Dihormati, disanjungi
Mubarrak        Yang diberkati
Mubin        Lut sinar, jernih
Mubasyir    Pembawa petanda yang baik
Mughis        Penolong
Muhaimin    Yang memelihara dan mengawal
Muqtadir    Yang berkemampuan
Muhammad    Yang terpuji, dirahmati
Muharram    Bulan Muharram
Muhazzab    Yang terdidik
Muhajir        Yang berhijrah
Muhsin        Yang membuat kebaikan
Muhib        Kekasih, peminat
Muqri        Ahli ibadat
Muhibbuddin    Pengasih agama
Muhtadi        Beroleh hidayah
Mujahid        Pejuang Islam
Mujib        Penyahut
Mujibuddin    Penyahut agama
Mujibur Rahman        Penyahut seruan Allah Yang Maha Pengasih
Mulhim        Pemberi inspirasi
Mu’inuddin    Pembela agama
Muntasir    Yang menang
Muizzuddin    Penyokong agama
Mu’tasim    Terjaga
Mukhtar        Yang terpilih
Mukthi        Pemberani
Munawwar    Berkilau
Munawwir    Bersinar
Munir        Yang menerangi
Munabbih    Pemberi peringatan
Mundzir        Yang memberi amaran
Muntazhar    Yang diawasi
Murad        Keinginan, cita
Mursyid        Pemimbing, guru
Mursil        Wakil
Muradi        Harapanku
Mus’ab        Nama sahabat nabi Muhammad SAW
Musa        Nama nabi
Mus’ad        Yang bahagia
Musaid        Penolong
Musawi        Yang adil
Muslih        Yang membaiki
Muslihin    Yang memulihkan
Muslihuddin    Pemulih agama
Muslim        Yang menyerah diri kepada Allah
Musayyad    Nama sahabat nabi Muhammad SAW
Mushthafa        Yang terpilih
Mustaqim    Yang lurus
Musyrif        Tinggi, pengawas
Muthalib        Yang menuntut dari masa ke semasa
Muzaffar    Kemenangan

Wanita

Maghfirah    Pengampunan
Mahbubah    Disenangi – dicintai
Mahdiyah    Yang mendapat hidayah
Mahfudzah    Terpelihara
Mahirah        Pandai – cakap
Maimanah    Keberkahan
Maimunah    Yang diberkahi Allah
Maisaroh    Ketenangan
Maisun        Berwajah dan bertubuh cantik
Majidah        Mulia
Maknunah    Menutup muka karena malu
Malihah        Cantik
Mani’ah        Mulia – Kuat
Maqbulah    Diterima permintaannya
Mardhiyah    Mendapat keridhoan Allah
Mariah        Istri Rasulullah Saw
Marwa        Berhati-hati dalam memikirkan
Marwah        Bukit Marwah di Masjidilharam
Maryam        Ibunda nabi Isa As
Maryana        Nama Orang
Masarrah    Kesenangan
Ma’shumah    Bebas dari dosa
Masikah    Nama wanita sahabat Nabi SAW
Masyithoh    (1) Penyisir rambut (2) Yang mati syahid oleh Firaun
Mawaddah    Cinta kasih
Muazarah    Bantuan, Pertolongan
Mudhiah        Menyinari
Mudrikah    Dapat memahami
Mufidah        Memberi manfaat
Muhajirah    Yang berhijrah
Mukhbitah    Tunduk patuh
Mu’minah    Beriman
Mumtazah        Istimewa
Muna        Cita-cita
Munibah        Berinabah (Taubat)
Munifah        Kedudukan yang tinggi – menonjol
Muniroh        Bercahaya
Mu’nisah    Teman yang menyenangkan
Muqsithoh    Yang berbuat adil
Muslimah    Beragama Islam
Mustajabah    Terkabul Do’anya
Muthi’ah    Yang taat
Muthmainnah    Tenang – Tentram
Muznah        Berdandan bagus

%d bloggers like this: