Category Archives: Muallaf

Carol Doyle, Menjadi Muslim Sebulan


Carol Doyle, Menjadi Muslim Sebulan

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL–Khawatir dan was-was. Itulah gambaran hati Carol Doyle, pelatih kuda dan terapis pijat dari Dublin, Irlandia, saat menginjakan kaki di  Istanbul Turki. Doyle, 27 tahun, sedang mengikuti program menjadi Muslim selama sebulan.

Dua pertanyaan yang mengemukan dalam benak Doyle. Pertama, apakah tempat tidurnya senyaman miliknya? Kedua, apakah secara fisik dan mental akan membuat dirinya nyaman. “Ya ampun, saya akan belajar menjadi Muslim selama sebulan,” gumam dia dalam hati, seperti dikutip dari Alarabiya, Senin (13/6).

Program Muslim sebulan merupakan program Yayasan Muslim For A Month yang berbasis di Istanbul, Turki. Yayasan ini memberikan kesempatan kepada warga dunia untuk mengenal tradisi Islam di Turki. Oleh yayasan tersebut, mereka yang terpilih akan diajak untuk menyelami ajaran-ajaran Rumi dan Sufi yang berkembang di Turki. Doyle merupakan salah seorang yang terpilih mengikuti program tersebut.

Doyle, yang baru pertama kali menginjakan kaki di Turki, sempat mengunjungi Masjid Eyup, masjid bersejarah di Turki. Di tempat ini, Doyle yang ditemani seorang pembimbing diperkenalkan dengan tradisi yang berkembang di masjid Eyup. Doyle mengaku, program ini banyak menceritakan kisah menarik.

Sebagai contoh, Doyle berkesempatan untuk mendapatkan cerita dari dua orang Muslim kelahiran Barat. Sosok pertama, merupakan Muslim yang lahir dan dibesarkan di Kanada. Yang kedua, seorang perempuan Inggris yang memutuskan masuk Islam. Dari kedua narasumber itu, Doyle mendapatkan pengetahuan tentang seluk beluk Islam. “Mereka banyak berbicara kehidupan mereka sebagai Muslim dan bagaimana keyakinan mereka kepada Islam membantu untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia,” cerita Doyle.

Dalam kesimpulannya, Doyle mengatakan bahwa agama memberikan pengaruh pada budaya yang selanjutnya membantu individu mengintepretasikan sosok Tuhan. Lantaran pengaruh itu pula, agama mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. “Lantas mana yang datang terlebih dahulu, berdoa atau keyakinan itu sendiri?” tanya Doyle.

Doyle mengatakan dengan suasana Islam yang begitu kental, seorang turis yang tidak beragama pun sulit untuk menghindari suasana azan yang kental dengan nuansa ritual Muslim. Dia mengaggumi panggilan ritual itu yang menyebutkan nama Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengejawantahan kemurahan hati dan kebaikan. “Apa pun alasan Anda, saya menemukan kebaikan dalam diri masyarakat jika diikuti, sama hal melepaskan kebencian dalam diri,” kata Doyle.

Doyle juga menganggumi pemandangan indah Istanbul, Bursa, Edirne, dan Konya, tempat asal Rumi. Secara pribadi, Doyle menilai keindahan arsitektur  begitu mencengangkan. Apalagi, ketika mengetahui bagaimana setiap bangunan yang ada dibangun dengan tidak mengandalkan inteletual tetapi juga spiritualitas. “Saya merasa dalam batu bata itu semua untuk saya. Saya merasa bagian dari itu,” ungkap Doyle.

Doyle pun menyempatkan diri mengenalkan jilbab. Saat mengenakan jilbab, ia merasa dekat dengan Tuhan. Doyle percaya setiap manusia memiliki perasaan khusus dan terhubung dengan yang lain, dan merasa memiliki kelemahan yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Mungkin, kata dia, manusia hanya berpikir kelemahan hadi karena mempermalukan manusia lain. “Kita bukanlah mahluk yang kuat. Apalagi saat kita menyadari bahwa diri kita berasal dari batu bata itu, kuat dan indah,” kata dia.

Menurut dia, memasuki kepercayaan agama lain tidak akan membagi organisasi agama, tetapi membagi keyakinan terhadap Tuhan dengan perspektif baru. Satu hal lain, dari setiap anggota dari kelompoknya melihat dan merasakan bagaimana kepercataan dalam praktek kehidupan membuat mereka melihat kembali keyakinannya dengan pandangan baru. “Kamu menemukan banyak hal yang belum pernah kami lihat sebelymnya,” kata dia.

Setiap Muslim,  tidak percaya Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.Bagi mereka, Tuhan itu tak berbentuk, tak terbatas dan mencakup semua. Bagi mereka tidak ada pemisahan antara siapa dan apa pun, entah itu Yahudi, Kristen, atau Ateis.

Redaktur: Johar Arif
Reporter: Agung Sasongko

Mualaf Prancis Itu Mencari Pencerahan dengan Berhaji


Mualaf Prancis Itu Mencari Pencerahan dengan Berhaji

REPUBLIKA.CO.ID,MINA–Usianya baru 25 tahun. Dia belum menikah dan lulusan sekolah manajemen di Selatan Prancis. Sejak lahir, seperti orang tuanya, dia seorang Kristiani. Namun berbagai pertanyaan yang menyesaki otaknya tentang agama lamanya itu justru membawanya mengenal Islam.

Pria yang enggan mengungkapkan nama lamanya ini, setelah menjadi mualaf berganti nama menjadi Abdul Aziz. Dia tampak enggan terlalu dalam mengungkap jati dirinya dengan alasan negaranya tidak terlalu toleran menyikapi perbedaan budaya dan agama, sebuah ironis bagi negara di Eropa dengan komunitas Muslim yang besar.

Aziz mengungkapkan awal perjumpaannya dengan Islam. Sejak lama dia rupanya sudah mempertanyakan ajaran Kristen yang dinilai banyak menyimpan pertentangan. ”Sejak remaja saya kerap berpikir apa yang terjadi setelah kematian,” ujarnya kepada Arab News. ”Jadi saya banyak mempelajari hal itu dan saya tidaka menemukan jawabannya dalam agama saya yang dulu.”

Karena tak merasa puas, Aziz lantas menanyakan hal itu kepada teman-temannya yang berlatar belakang budaya dan agama beragam. ”Saya berdiskusi dengan teman yang beragama Yahudi dan juga teman-teman Muslim. Kami membahas masalah agama. Tapi jelas ada banyak perspektif sehingga saya memutuskan untuk mempelajarinya sendiri,” tuturnya.

Aziz lantas banyak belajar dari buku-buku dan internet hingga akhirnya menemukan jawaban yang paling sesuai dalam Islam. ”Dalam Islam tak ada kontradiksi, semuanya logis,” ujarnya. ”Dalam Kristen, saya menemukan beberapa hal yang kontradiksi.”

Akhirnya setelah melakukan pencarian sekian lama, Aziz memutuskan untuk menjadi mualaf di usia 17 tahun. Dia memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan teman-temannya. Sementara keluarganya, meskipun tidak terlalu mempertanyakan keputusannya ini, sedikit banyak ingin saling bertukar pikiran mengenai keputusan besar yang diambilnya itu.

”Mereka (keluarga) mengajukan beberapa pertanyaan karena mereka khawatir mengenai gerakan fundamentalis yang coba mempengaruhi orang lain untuk menjadi ekstrimis,” ungkapnya.

”Saya jelaskan kepada mereka mengapa memilih Islam, karena saya takut mati. Setiap malam sebelum tidur, saya selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi kelak di akherat. Jadi saya menjelaskan hal ini kepada ayah dan dia bisa menerimanya.”

Dan kini, Aziz masih berada di Makkah usai menunaikan ibadah haji. Dia tak mampu mengungkapkan perasaan hatinya bisa memenuhi rukun Islam kelima ini. Dia berharap bisa menunaikan seluruh rukun Haji dengan benar sehingga mendapatkan pencerahan usai berkunjung ke tanah suci.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/11/19/147614-mualaf-prancis-itu-mencari-pencerahan-dengan-berhaji

Gema Syahadat Para Mualaf di Masjid Sunda Kelapa


Gema Syahadat Para Mualaf di Masjid Sunda Kelapa

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Hujan lebat mengguyur kawasan Jakarta, khususnya Menteng, Jumat (12/11) siang. Hujan yang turun saat shalat Jumat baru saja usai ditunaikan itu membuat ribuan jamaah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, lebih memilih untuk bertahan sembari menunggu hujan reda.

Apalagi pada saat bersamaan, di masjid tersebut ada prosesi pengislaman tiga mualaf. Mereka adalah Juan Alvarez Vita ( Duta Besar Peru untuk Indonesia), Julien Meltzer (seorang musisi asal Prancis), dan Peter John Cass (seorang pensiunan asal Kanada). Upacara pengucapan syahadat tersebut dipimpin Ustaz Dr H Abdurrahim Yapono MA dan disiarkan langsung melalui CCTV sehingga bisa disaksikan dengan jelas oleh para jamaah, baik yang berada di lantai satu maupun lantai dasar.

Setiap kali salah seorang dari mereka mengucapkan syahadat, jamaah berseru, “Allahu Akbar”. Setelah itu, Ustaz Abdurrahim bertanya dalam bahasa Inggris, “Sekarang, apa agama Anda?” Mereka menjawab, “Islam.” Abdurrahim lalu memberikan wejangan singkat mengenai tugas dan tanggung jawab menjadi seorang Muslim.

Dalam acara yang juga dihadiri dan disaksikan oleh dubes dari empat negara sahabat (Saudi Arabia, Iran, Somalia, dan Bosnia) itu, Ustaz Abdurrahim mengupas rukun Islam yang lima. Mulai dari syahadat, shalat fardhu lima waktu, kewajiban berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke Tanah Suci bagi yang mampu melaksanakannya.

Kemudian, ia memimpin doa untuk ketiga mualaf tersebut maupun seluruh jamaah yang hadir. “Ya Allah, bahagiakan ketiga saudara kami ini, bahagiakan mereka di dunia dan akhirat, bahagiakan kami di dunia dan akhirat.”

Upacara tersebut ditutup dengan acara pemberian ucapan selamat. Ratusan jamaah menyalami, bahkan memeluk hangat ketiga mualaf tersebut. Wajah ketiganya semringah mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari saudara-saudaranya sesama Muslim.

Seusai upacara ikrar syahadat, tiga orang mualaf itu diundang oleh Ketua Dewan Pengurus Masjid Sunda Kelapa, HM Aksa Mahmud, untuk berbincang di ruang pengurus. Dengan senang hati, Juan Alvarez Vita dan Julien Meltzer memenuhi undangan tersebut, sedangkan Peter John Cass sudah pulang lebih dahulu karena ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Juan Alvarez Vita dan Julian Metlzer berbagi cerita tentang perjalanan mereka menemukan Islam. Vita mengatakan, sebelum datang ke Indonesia ia telah mempelajari Islam selama 10 tahun. “Sejak berada di Indonesia empat tahun lalu, saya makin aktif belajar Islam, baik melalui diskusi-diskusi, khususnya dengan dua orang guru saya, Pujadi dan David, maupun membaca berbagai buku tentang Islam dan Alquran,” ungkapnya.

Setelah mengenal dan memahami ajaran Islam, Juan merasa ajaran Islam itu sangat indah. “Islam adalah agama yang cinta damai dan sangat menghormati eksistensi manusia. Namun, selama ini Barat melancarkan propanda yang menjelekkan Islam,” sesalnya.

Sementara Meltzer mengisahkan sudah mempelajari Islam sejak empat tahun lalu saat masih tinggal di Prancis. ”Dan, saya makin yakin kepada Islam setelah belajar Islam di Indonesia selama dua tahun,” ungkap Meltzer.

Pada kesempatan tersebut, Aksa Mahmud memberikan cendera mata berupa Alquran terjemah dan songkok hitam. Ia mengatakan, Masjid Sunda Kelapa secara aktif terlibat dalam kegiatan mengislamkan orang-orang non-Muslim yang memutuskan untuk menjadi Muslim (mualaf).

“Tiap minggu selalu ada orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Sunda Kelapa. Mereka berasal dari berbagai negara,” kata pengusaha nasional yang terjun ke politik (menjadi wakil ketua MPR priode 2004-2009 dan anggota DPD priode 2009-2014) dan kini menjadi pengurus masjid itu.

Kepala Bagian Mualaf Masjid Sunda Kelapa, Drs Anwar Sujana, menyebutkan, sejak 1993 sampai saat ini, Masjid Sunda Kelapa sudah mengislamkan belasan ribu orang. “Hingga November 2010, jumlahnya sudah mencapai 15.956 orang,” papar Anwar Sujana.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/11/22/148038-gema-syahadat-para-mualaf-di-masjid-sunda-kelapa

Sebagai Warga AS Kulit Putih, Izinkan Saya Berbicara Tentang Islam


 Sebagai Warga AS Kulit Putih, Izinkan Saya Berbicara Tentang Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Saban hari kita dibombardir dengan kabar terbaru seputar olahraga, politik dan berita dunia, dan kita kerap berinisiatif menggali lebih jauh atas cerita dan topik yang menarik minat. Lalu, mengapa ini menjadi salah satu topik paling signifikan dalam dekade lalu dan terus menjadi salah satu yang paling disalahpahami?
Islam, sejauh ini, adalah salah satu bahasan paling kontroversial. Namun, sejak serangan pada 11 September, hanya ada peningkatan sekitar 6 persen pada jumlah orang-orang yang tahu sebagian atau banyak tentang Islam, setidaknya menurut Riset Pew.

Miskin komunikasi dan interaksi antara Muslim dan non-Muslim adalah sebagian faktor yang patut disalahkan atas ketiadaan hubungan yang kian memburuk. Beberapa Muslim, sangat dipahami, bila menarik diri dari masyarakat karena didorong ketakutan atas penolakan dan diskriminasi. Terutama di tengah situasi nasional yang benci dengan tindak kejahatan.

Pada saat bersamaan, banyak warga non-Muslim mungkin merasa tidak nyaman berinteraksi dengan seseorang yang memiliki agama berbeda secara nyata dari agama mereka. Ironisnya itu adalah pandangan yang diyakini oleh 65 persen non-Muslim dalam sebuah survei terpisah, yang juga dilakukan oleh Pew Riset.

Sebagai warga Amerika kulit putih keturunan Eropa, saya secara pribadi selalu melihat dunia dari dua prespektif. Hanya, setelah mengenal dan akrab dengan teman-teman satu kelas berdarah Arab-Amerika di kampus, baru saya tertarik memelajari budaya mereka yang memesona, termasuk agama mereka, Islam. Setelah bertahun-tahun memelajari Islam secara non-formal, saya menjadi salah satu dari beberapa ribu warga Amerika–sebagian besar adalah wanita–yang beralih memeluk Islam.

Pengamatan saya tentang berbagai praktik Islam telah memberi dampak pada kehidupan pribadi, termasuk shalat lima kali sehari dan berpuasa selama Ramadhan, namun tidak ada yang lebih berdampak langsung dari keputusan saya untuk mengenakan penutup kepala. Saat pertama kali menggunakan kerudung, saya mendapat banyak tentangan, keberatan dan bahkan pandangan dan sikap diskriminasi.

Tak hanya itu, beberapa kali saya malah diminta “kembali pulang ke negara saya”. Tampaknya kulit putih yang terang dan mata biru saya tidak berarti apa-apa. Kerudung yang saya kenakanlah yang kini mengatakan semuanya. Saya kini memahami bahwa sikap alami manusia untuk tidak menyukai apa yang mereka tidak tahu dan tidak pedulikan. Satu-satunya cara untuk hadir berdampingan antara satu dengan yang lain adalah mendidik diri sendiri untuk hidup dalam kemajemukan masif berisi orang-orang yang juga memanggil Amerika rumah mereka.

Jika salah satu dari mereka memilih untuk mengenal hanya sedikit juta Muslim Amerika, maka mereka pun akan menemukan bahwa banyak dari Muslim yang tidak jauh beda dengan warga lain. Malah, fakta di lapangan mengatakan satu seperempat populasi Muslim di Amerika adalah warga kulit putih yang beralih dan juga keturunan Afrika-Amerika, sebagian besar memiliki latar belakang Kristen, demikian menurut survei Pew Forum pada 2007.

Mungkin yang lebih mengejutkan adalah ajaran Islam sesungguhnya sangat kontras dari selip pemahaman umum yang banyak beredar. Kemiripan Islam dengan keyakinan Ibrahim lain, mungkin dapat menjadi titik tolak menakjubkan bagi dialog antarkeyakinan yang sangat dibutuhkan.

Dari keyakinan satu Tuhan yang sesungguhnya, dipanggail sebagai Allah; keyakinan yang dianut banyak nabi di agama Ibrahim lain, juga keyakinan Yesus dan Maria Perawan; seseorang dipastikan akan menemukan bahwa tiga pohon keyakinan itu berakar dari fondasi yang sama, namun bercabang ke berbagai arah seiring dengan waktu.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/11/22/148110-sebagai-warga-as-kulit-putih-izinkan-saya-berbicara-tentang-islam

%d bloggers like this: