Ada 119 Organisasi Dukung LGBT di Indonesia, Ini Penyebabnya…

Meski mendapat predikat sebagai negeri muslim terbesar sedunia tetapi lesbian, gay, biseks dan transgender (LGBT) semakin unjuk gigi hingga menyebarkan foto pernikahan homo di Bali, padahal dalam ajaran islam tak ada toleransi kepada penyakit yang satu ini, tapi dalam laporannya kepada UNDP dan USAid  2014 mereka mengklaim sudah memiliki jaringan 119 organisasi pendukung LGBT di Indonesia dan jumlah pelakunya jutaan.

“Gerakan LGBT di Indonesia terus bergerak didukung sistem sekuler yang ada, difasilitasi oleh media yang berorientasi bisnis dan bahkan mendapat sokongan dana yang tidak sedikit dari donor-donor internasional, karena itu di tengah kaum muslim yang merosot taraf berfikirnya dan lemah penjagaan akidahnya, pengikut LGBT terus bertambah banyak,” ungkap Jubir muslimah hizbut tahrir Indonesia (HTI) Iffah Ainur Rochmah, seperti diberitakan Media Umat Edisi 159: Kaum Homo Ancam Indonesia, Jum’at (18 Dzulhijjah – 2 Muharram 1436 H/ 2 – 15 Oktober 2015).

Modus operandinnya, menurut Iffah, dengan mengagungkan penghormatan terhadap HAM dan liberalisme. Dan atas nama dua konsep kufur inilah, mereka menuntut pengakuan dan perlakuan anti diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan, hak politik dan sikap/pandangan dari masyarakat. Selama mereka tidak ‘merugikan’, menimbulkan keresahan dan kekacauan maka tidak ada alasan menolak keberadaan mereka. Itu hak dan pilihan masing-masing orang. Apalagi bila ternyata mereka memberi ‘kebaikan’ karena sikap-sikap manusiawinya.

“Begitu kira-kira logika yang dikembangkan.  Masyarakat kita yang sudah terlanjur mengadopsi HAM tanpa sadar memenuhi tuntutan mereka,” keluh Iffah.

Iffah mengungkap, untuk mendapat keabsahan atas kesesatannya mereka menggunakan mekanisme suara terbanyak yang memang dijadikan patokan dalam demokrasi. Suara terbanyak menjadi kebenaran. Hukum diputuskan berdasar mekanisme voting. Amerika sebagai contoh kongkret terbaru. Lihatlah apa yang terjadi di AS. Kaum LGBT terus mendesakkan kepentingannya, mempengaruhi pengambil kebijakan melalui dana yang disumbangkan, menuntut hak sebagai pembayar pajak dsb. Hingga mereka menemukan momentum untuk melegalkan perkawinan sejenis dengan memperbanyak proporsi pengambil keputusan (hakim MA) yang mendukung mereka. Jadilah mereka memenangkan pembuatan aturan. Tanpa peduli sedikitpun pada pijakan agama. Bahkan mereka menantang norma agama yang paling mendasar tentang penciptaan manusia laki-laki dan perempuan berikut karakter bawaannya.

“Jadi jelas ya bahwa HAM, liberalisme, demokrasi dan turunannya menjadi lahan subur berkembangnya perilaku menyimpang bahkan mendorong agnotisme, menolak mengakui aturan agama. Masihkah akan kita biarkan?” pungkasnya.[] Joko Prasetyo

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1OrgGK9
via IFTTT

Posted on October 10, 2015, in Hizbut Tahrir Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: