Bagaimana Khilafah Rasyidah Akan Mengatur Haji?

haji mekkahKarena peristiwa tragis yang mengakibatkan nyawa ratusan jamaah haji hilang, kami (Redaksi) menerbitkan sebuah artikel yang ditulis tahun 2012 oleh Ustadz Abu Khalid al-Hijazi.

Negara Islam (Khilafah Islam) akan mengatur haji dengan tujuan untuk melayani para peziarah dan membantu mereka dalam menyelesaikan kewajiban ini dengan cara sebaik mungkin. Mengambil untung dari para jamaah, baik untuk hotel maupun transportasi atau makanan tidak akan menjadi tujuannya. Negara bahkan akan lebih mengurangi praktik-praktik tersebut jika terjadi.

Saat ini pengaturan Masjidil Haram tidak memungkinkan akomodasi bagi lebih dari 3,5-4 juta jemaah pada saat yang sama. Pasalnya, selain karena jumlah kaum Muslim dan pertumbuhan orang-orang yang masuk Islam, jumlah orang yang diizinkan untuk melakukan ibadah haji perlu ditingkatkan. Ini adalah tantangan pertama bagi Negara Islam. Setiap kenaikan dalam jamaah haji akan membutuhkan restrukturisasi di luar dan di dalam area masjid.

Pada tahun 1982, ketika Raja Fahd berkuasa, dia mengumumkan perluasan Masjidil Haram dan membangun perluasan masjid yang sekarang dikenal sebagai perluasan Raja Fahd. Raja Abdullah, Raja Saudi saat ini, juga telah mengumumkan perluasan Masjid tersebut yang diharapkan akan selesai pada tahun 2020.

Rencana perluasan area oleh Raja Fahd memerlukan luas lahan yang luas, yang akan diperoleh dari lingkungan Masjid. Ribuan rumah akan dihancurkan, termasuk banyak peninggalan masa lalu. Sebagian besar dari tanah yang diperoleh dan rumah-rumah diberikan kepada pengembang real estate sehingga menyebabkan beberapa orang non-Muslim (yang tidak dibolehkan masuk ke Makkah) bisa membuka hotel mereka di sekitar Masjidil Haram. Hotel Radission, Sheraton, Intercontinental; semuanya memiliki nilai tinggi karena terletak di sekitar Masjidil Haram. Tak hanya itu, mereka tidak keberatan untuk memberikan Tanah Suci kepada orang-orang yang terkenal memiliki reputasi buruk seperti Paris Hilton. Ia diizinkan untuk membuka showroom franchise-nya di sekitar Masjid.

Jadi, proyek perluasan bagi Raja tidak hanya memberinya keuntungan politik potensial, tetapi juga manfaat bagi banyak anggota keluarganya yang kini memiliki saham di perusahan real estate properti yang berkembang di Makkah.

Pertama kali, Negara Islam akan berusaha untuk memperluas ruang terbuka di sekitar Masjidil Haram sehingga lebih banyak jamaah yang dapat ditampung. Karena suhu bisa menjadi sangat tinggi selama musim panas, ruang terbuka juga akan ditutupi dengan payung mekanik (yang mirip dengan yang digunakan sekarang di Madinah). Dispenser oksigen juga akan dipasang bersama dengan payung mekanik itu yang akan memancarkan kombinasi oksigen dan uap air untuk mengurangi panas selama musim panas. Ini akan menjadi rencana awal Negara Islam. Kemudian perluasan wilayah akan dilakukan yang meliputi ruang tersebut dan membuat penyejuk udara.

Struktur saat ini mencakup area seluas 356.800 meter persegi (88,2 hektar), termasuk ruang indoor dan outdoor, untuk shalat dan dapat menampung hingga empat juta jamaah selama musim haji.

Penting untuk disebutkan bahwa proyek raksasa ash-Shamiyya ke barat laut tempat suci ini sedang dikembangkan di atas lahan seluas 1.500.000 meter persegi. Itu membentang dari ujung masjid hingga ke luar jalan yang melingkar ke utara dan dari Jalan Masjidil Haram ke timur dan Jalan Jabal al-Aqaba ke barat.

Rencana tersebut meliputi ash-Shamiya, Garoul, Al-Qarara wa Alnqa. Area yang akan dikembangkan mencapai tiga juta meter persegi yang didistribusikan di antara kegiatan-kegiatan yang berbeda; mulai dari hotel, hotel residence, pusat-pusat komersial dan pasar, pelayanan umum, selain tempat tinggal permanen bagi masyarakat.

Jika wilayah ini yang berdekatan dengan Masjidil Haram diubah menjadi pelataran tempat ibadah dengan lantai marmer untuk para jamaah, wilayah itu dapat menampung 4,5 juta jamaah! Jika diubah menjadi ruang tertutup dua lantai maka jumlah yang bisa ditampung akan menjadi dua kali lipat. Area yang ada untuk mengembangkan ash-Shamiya termasuk pengembangan perumahan dan ruang hotel untuk 250.000 orang dan ruang shalat hanya untuk 400.000 orang.

Proyek Jabal Umar di barat daya masjid yang telah menyita lebih dari 600 properti melibatkan pembangunan dua hotel bintang lima dengan 935 kamar dan enam hotel bintang tiga dengan 1.255 kamar di seluruh area yang mencakup 244.800 meter persegi. Bangunan perumahan dengan 20 lantai akan menampung 100.000 orang, 520 restoran dan 4.360 unit komersial dan ritel juga sedang dibangun. Rencana saat ini termasuk rencana untuk membuat sebuah bangunan 6 lantai untuk jamaah, untuk mengakomodasi 100.000 jamaah ini.

Misi Negara Islam akan memastikan bahwa rukun Islam ke 5 ini dapat dipenuhi oleh semakin banyak orang. Dalam melakukan ini Negara Islam tidak akan berusaha untuk mengambil keuntungan dari para jamaah. Negasra Islam justru bertujuan untuk membantu mereka dan memberikan semua fasilitas kepada mereka sehingga akan memudahkan mereka.

Jabal Umar, jika hanya diubah menjadi suatu bidang seperti yang disebutkan sebelumnya—dengan membuat payung mekanik dan dispenser oksigen—dapat mengakomodasi 750.000 jamaah untuk shalat.

Proyek lain, Jabal Khandama, yang meliputi lebih dari 600.000 meter persegi sedang dikembangkan menjadi area campuran yang digunakan yang sebagian besar untuk hotel dan apartemen untuk tempat tinggal dan wilayah perbelanjaan. Pembangunan kembali area ini sebagai ruang shalat akan memberikan ruang bagi sekitar 2 Juta jamaah.

Semua proyek ini berdekatan dengan Masjidil Haram dan dapat digabungkan dengan Masjidil Haram dengan mudah.

Dalam sebagian besar proyek-proyek properti ini, area yang dipakai sering diperoleh dengan memberikan sedikit atau tanpa kompensasi dan dalam beberapa kasus para pemilik diberikan waktu kurang dari seminggu untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

Ka’bah Jabal adalah proyek lain yang mencakup sekitar 46.000 meter persegi. Sama halnya dengan Benteng Ajyad di atas Gunung Bulbul yang dihancurkan untuk membangun Menara Abraj al-Bait. Menara ini bersama dengan struktur yang menjulang lainnya adalah pelanggaran atas kesucian Ka’bah. Tentu ironis, di satu sisi pesawat tidak boleh terbang di atas Masjidil Haram, tetapi di sisi lain menara-menara tinggi terus-menerus dapat membuat kerdil Masjidil Haram.

Tempat bersejarah yang penting lainnya yang telah dihancurkan oleh Saudi adalah lima dari “Tujuh Masjid” yang terkenal yang awalnya dibangun oleh anak perempuan Nabi Muhammad saw. dan empat “Sahabat Terbesar” beliau: Masjid Abu Bakar, Masjid Salman al-Farsi, Masjid Umar bin al-Khaththab, Masjid Sayyidah Fathimah binti Rasulullah dan Masjid Ali bin Abu Thalib.

Telah dilaporkan bahwa sekarang terdapat kurang dari 20 struktur bangunan yang tersisa di Makkah yang berasal dari zaman Nabi Muhammad saw. Bangunan-bangunan lainnya yang sudah dihancurkan adalah: Rumah Khadijah, istri Nabi Muhammad saw., yang dibongkar untuk membuat jalan bagi WC umum; rumah Abu Bakar, Sahabat Nabi Muhammad saw., yang sekarang menjadi tempat untuk Hotel Hilton lokal; rumah Ali-Oraid, cucu Nabi Muhammad saw., dan Masjid Abu-Qubais, yang sekarang menjadi lokasi Istana Raja di Makkah; Tempat lahir Nabi Muhammad saw., dibongkar untuk membuat jalan bagi perpustakaan; dan Menara Abraj Al-Bait, dibangun setelah menghancurkan Benteng Ajyad yang dibangun di era Khilafah Usmani.

Alasan yang sesungguhnya dari penghancuran banyak bangunan bersejarah adalah untuk pembangunan hotel, apartemen tempat parkir dan fasilitas infrastruktur lainnya untuk para jamaah Haji. Namun, banyak yang telah dihancurkan tanpa alasan seperti itu. Misalnya, ketika rumah Ali-Oraid, cucu Nabi Muhammad saw., ditemukan dan digali, Raja Fahd memerintahkan untuk meratakan karena khawatir rumah itu menjadi situs ziarah.

Istana Raja yang berada di Gunung Abu Qubais mencakup wilayah lebih dari 100.000 meter persegi akan memberikan tempat sebagai akomodasi bagi lebih banyak jamaah untuk shalat.

Jadi, jika wilayah sekitar Masjid dibebaskan dari bangunan, dan bahkan jika itu awalnya diubah menjadi ruang dengan lantai marmer terbuka, tempat itu akan memberikan ruang bagi setidaknya 10 juta peziarah.

Perubahan struktural tertentu untuk masjid juga harus dilakukan. Misalnya untuk mataf (area tawaf) yang harus diperluas. Pembongkaran tempat yang dibangun di era Khilafah Utsmani menyebabkan ruang lebih di daerah mataf dan memberikan perluasan lebih lanjut dari mataf yang dapat dilakukan dengan menghilangkan lebih luas tempat itu sehingga ukuran mataf bisa meningkat.

Untuk memudahkan anak-anak, perempuan dan orang tua, Negara Islam akan memanfaatkan teknologi modern seperti travelator di lantai atas. Hal itu tidak hanya akan meringankan masalah bagi para peziarah, tetapi juga akan menghentikan pemilik kursi roda untuk mengenakan biaya terlalu tinggi.

Adapun dalil mengapa travelator dapat digunakan kita mengetahuinya dari hadis riwayat Ibnu Abbas ra.. Dalam haji terakhirnya, Nabi Muhammad saw. melakukan tawaf dari Ka’bah dengan naik unta dan menunjuk dengan tongkat ke arah sudut (Hajar Aswad) (HR al-Bukhari).

Demikian pula travelator dapat digunakan antara Safa dan Marwa.

Tantangan kedua yang akan dihadapi Negara Islam adalah bagi penduduk Makkah dan para peziarah. Makkah menjadi wilayah pegunungan yang memiliki beberapa gunung yang menutupi datarannya. Menghilangkan pegunungan ini dan mengembangkannnya menjadi wilayah pemukiman akan memecahkan banyak masalah perumahan. Sebagian besar wilayah ditutupi oleh pegunungan ini yang menuju selatan timur masjid, dan di utara distrik tempat hijrah dan selatan dari tempat pemberhentian Mahbas Al-Jinn.

Dengan pertumbuhan penduduk Muslim, akan datang suatu masa ketika apa yang direncanakan negara akan gagal. Karena itu Negara Islam harus bekerja membangun kota-kota satelit yang bersebelahan dengan Makkah untuk rumah-rumah bagi peziarah dan penduduk kota. Kenyataan seperti itu memang tidak dapat diharapkan segera terjadi, tetapi pasti akan terjadi saat seluruh dunia masuk Islam. Tamim ad-Dari ra. mengatakan bahwa dia pernah mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda:

 

ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل والنهار ولا يترك الله بيت مدر ولا وبر الا أدخله الله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل عزا يعز الله به الإسلام وذلا يذل الله به الكفر

Sesungguhnya perkara ini (Islam) akan mencapai tempat-tempat yang dicapai oleh siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah bagus ataupun rumah sederhana kecuali Dia akan memasukkan agama ini ke dalamnya, baik dengan kehormatan orang-orang terhormat atau kehinaan orang-orang hina. Kehormatan adalah saat Allah memuliakan dia dengan Islam. Kehinaan adalah saat Allah menghinakan dia dengan kekufuran (HR Ahmad).

Tantangan ketiga yang akan dihadapi Negara Islam (Khilafah) adalah mengenai transportasi. Diperlukan sebuah sistem transportasi yang lengkap. Kombinasi Sistem Angkutan Umum & Mass Rapid Transport sistem (MRTS) akan melayani kebutuhan bagi para peziarah. Sistem transportasi Mass Rapid akan diterapkan di tempat-tempat suci seperti Masjid di Makkah, Mina, Muzadalifah dan Arafah pada awalnya; namun akhirnya akan mencakup semua wilayah di tempat suci.

Desain dan konstruksi MRTS akan dibuat di bawah tanah dan akan melibatkan beberapa jalur di setiap pelabuhan. Hal ini untuk menghindari kemacetan di pelabuhan-pelabuhan pada saat dan turun dari kapal. Contoh pemanfaatan yang efektif dari MRTS di kota-kota seperti Malaysia, Delhi, London dan lain-lain akan dipelajari dan dipakai.

Pada setiap stasiun, jumlah orang yang dapat naik kereta dan jumlah kereta yang tiba secara berkala harus direncanakan sedemikian rupa untuk menghindari kecelakaan akibat penumpang yang berlebih yang naik dari stasiun.

Tahun ini (2012) di Arafah, beberapa orang meninggal di stasiun metro. Hal ini karena terdapat 21 kereta dan setiap kereta dapat memuat 4000 jamaah pada satu waktu. Namun, jumlah jamaah yang memasuki stasiun setelah matahari terbenam jauh lebih besar. Banyak jamaah yang wafat karena sesak napas. Beberapa meninggal karena terjadi dorong-dorongan penumpang berikutnya. Negara Islam tidak akan melakukan uji coba dengan mengorbankan nyawa kaum Muslim sehingga akan merencanakan hal-hal itu dengan cara yang tidak menyebabkan kerumitan bagi para peziarah.

Adapun mengenai angkutan umum, ada kekurangan serius atas kendaraan angkutan umum dalam kota dan jalan-jalannya sempit dan diatur dengan buruk. Mobil-mobil pribadi tidak akan diizinkan berada dekat dengan daerah dengan kemacetan yang tinggi seperti Masjidil Haram dan Arafah. Transportasi di daerah-daerah ini akan disediakan oleh kendaraan-kendaran negara.

Tantangan Negara Islam akan dihadapi terkait Mina, Muzdalifah dan Arafah. Realitas kota ini mirip dengan yang dari Makkah, pegunungan. Mereka (jamaah) harus dibawa turun. Gedung-gedung bertingkat tinggi dibangun di tempat mereka. Sunnah untuk haji adalah untuk tinggal di Mina dan tidak harus di tenda. Pasalnya, gedung-gedung bertingkat tinggi akan memungkinkan pemanfaatan yang sangat tinggi dan efektif ruang.

Lalu mengapa Pemerintah Saudi belum mencoba mendirikan bangunan? Karena keuntungan yang sangat rendah atas investasi dari uang mereka. Namun bagi Negara Islam, kembalinya investasi adalah berupa ibadah haji yang lebih mudah bagi umat Islam.

Masalah saat ini di tiga kota adalah mengenai transportasi dan ruang. MRTS akan menyelesaikan masalah transportasi dan gedung-gedung tinggi akan mengatasi kendala ruang.

Perencanaan saat Jamarat saat ini adalah sangat baik dan dapat menampung jumlah yang jauh lebih besar dari jumlah peziarah pada hari ini.

Tantangan lain yang akan dihadapi Negara Islam adalah mengenai makanan dan air. Pabrik desalinasi besar akan didirikan di Jeddah untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan air dan air Zamzam yang akan dialirkan di tempat-tempat yang berbeda di sekitar kota dan tempat-tempat suci lainnya. Suatu kontrol ketat atas kualitas makanan tetap terjaga, tidak ada pemalsuan dalam makanan yang akan diperbolehkan dan mengenakan biaya yang berlebihan bagi para peziarah tidak akan diberbolehkan.

Semua hal ini akan dipertahankan lebih jauh dengan meningkatkan ketakwaan masyarakat dan mengingatkan mereka dan lebih sedikit dengan hukuman.

Negara Islam akan berusaha menerapkan program paralel yang sama di Madinah sebagaimana di Makkah.

Semoga Allah SWT memberikan kita kemenangan dan memungkinkan kita untuk mendirikan kembali Khilafah di jalan kenabian. [rz/http://ift.tt/1LVhqHm%5D

 

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1VrmkSs
via IFTTT

Posted on October 2, 2015, in Hizbut Tahrir Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: