Monthly Archives: September 2015

PKI Bangkit Kembali ?


PKIPamekasanBangkitnya kembali komunisme di Indonesia —lebih populer disebut PKI, bukan hisapan jempol belaka. Dalam sebuah acara tablig akbar di Jakarta, Wakil Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Jafar Shodiq mengungkap indikasinya.

“Ada beberapa indikasi!” ungkapnya dalam tabligh akbar Mewaspadai Munculnya Kekuatan PKI di Indonesia Pasca Reformasi, Ahad (27/9) di Masjid Hubbit Taqwa, Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara.

Pertama, tuntutan pencabutan Tap MPRS No XXV / 1966. Kedua, Penghapusan sejarah pengkhianatan PKI dalam kurikulum Sejarah Indonesia. Ketiga, penghentian pemutaran film G30S/PKI. Keempat, penghapusan LITSUS bagi calon pejabat. Kelima, putra putri PKI masuk Parpol dan instansi negara. Keenam, pembuatan buku dan film pembelaan terhadap PKI. Ketujuh, RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KRR) bertujuan memutihkan kesalahan PKI. Kedelapan, Komnas HAM meminta negara meminta maaf kepada PKI. Kesembilan, Cina memberikan bantuan dalam jumlah besar dalam bentuk dana. “Masih ingat poros Jakarta-Beijing waktu zaman PKI ? Waspada!” pekiknya. Kesepuluh, kerja sama partai politik Indonesia dengan negara komunis Cina. Kesebelas, seminar/ temu kangen dan promosi PKI. Keduabelas,pembentukan Ormas/Orsospol yang berafiliasi pro PKI. Ketigabelas, pemutarbalikan sejarah PKI. Keempatbelas, banyak ditemukan lambang PKI dikalangan selebritis dan tokoh-tokoh politik. Kelimabelas, adanya wacana penghapusan kolom agama pada KTP.

Tidak Pernah Mati

Dalam kesempatan tersebut, anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Farid Wadjdi menyatakan yang namanya ideologi itu tidak pernah mati termasuk juga komunisme selagi ada yang mengusungnya. Yang membedakan itu apakah ideologi masih diterapkan oleh negara atau tidak.

“Komunisme meskipun dari sisi penerapan negara sudah bangkrut tapi masih disebarluaskan oleh penganutnya, ini tampak dari berkembangnya paham ateisme, sosialisme, komunisme di kampus-kampus dan di situs-situs,” ” ungkap pemimpin redaksi tabloid Media Umat tersebut.

Farid pun mengungkapkan penyebab paham yang diusung PKI tersebut bisa menyebar. “Ide ini masih bisa berkembang, karena negara mengusung ideologi liberal bukan Islam. atas nama HAM, kebebasan berpendapat memberikan peluang penyebaran ideologi ini. Di situlah umat Islam membutuhkan negara yang melindungi umat Islam baik secara fisik maupun pemikiran,” pungkasnya.

Dalam acara yang digelar Komunitas Gerakan Menentang Palu Arit (Gempar), panitia acara Ismail Rohani menyatakan maksud diadakannya tabligh akbar. “Acara ini digelar untuk mengingatkan kaum Muslimin atas bahaya kebangkitan kembali komunisme, untuk itu diperlukan persatuan umat Islam untuk menghadangnya,” ungkapnya.

Selain FPI dan HTI, Gempar juga mengundang ormas lain termasuk HMI, KNPI, Perhimpunan Al Irsyad, Muhammadiyah, NU, GPI, PII, Al Washliyah dan Persis.[]joko prasetyo

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1JCbcG1
via IFTTT

Perselisihan AS-Rusia “Sandiwara” Sebelum KTT Obama-Putin


putin dan obamaDi tengah kabut perselisihan AS-Rusia tentang pengaturan pertemuan yang rencananya akan fokus pada krisis Suriah, maka pada hari Senin besok akan digelar KTT dua presiden: Barack Obama dan Vladimir Putin di New York. Sebelumnya, Gedung Putih mengatakan bahwa Rusia meminta dan mendesak agar Obama menerima untuk menggelar KTT dengan Putin. Sementara Kremlin meresponnya dengan mengatakan bahwa sebenarnya Amerika yang meminta untuk menggelar pertemuan, dan apa yang mereka katakan mengenai pengaturan KTT adalah “penyesatan”. Semua tahu bahwa presiden Amerika menolak pertemuan dengan Putin sejak pertemuan terakhir mereka pada bulan Juni 2013 di Irlandia Utara. Dalam hal ini, tampaknya Obama berpura-pura marah terkait kebijakan Moskow mengenai Ukraina, dan khususnya Suriah.

KTT AS-Rusia ini dilakukan di tengah bayang-bayang pengumuman banyak negara “yang pura-pura mendukung revolusi Syam” menyusul perubahan sikapnya terhadap masa depan Assad, setelah pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menunjukkan sikap “fleksibilitas” tentang masa depan Bashar Assad.

Sementara itu, meski juru bicara Kementerian Luar Negeri Perancis, Romain Nadal mencoba untuk mengurangi penurunan sikap Perancis tentang masalah ini, di mana ia mengatakan bahwa pertemuan di Paris antara Menteri Luar Negeri Laurent Fabius, Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond, dan Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier, juga dihadiri perwakilan Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri yang diwakili oleh Frederica Mogherini “menunjukkan kesesuaian yang luas seputar transisi politik, yang merupakan satu-satunya cara untuk mencapai solusi krisis Suriah”. Namun ia menegaskan bahwa transisi politik adalah “satu-satunya yang bisa mengakhiri kekacauan”, dan “jika Assad adalah elemen dari solusi, tentu kami telah melihatnya sejak empat tahun lalu”. Sementara fakta menunjukkan bahwa “keberadaannya justru memperburuk krisis, sehingga lengsernya adalah bagian dari solusi”. Dan itulah sikap Perancis sebenarnya yang dikenal pemalu, yang sekarang berusaha untuk menggabungkan semua kontradiksi dalam masalah ini, dimana ia ingin dari sikapnya ini untuk mendapatkan sedikit kredibilitas dari mereka yang tertipu oleh penjajahan gaya lama.

Sikap Eropa saat ini, yang bisa digambarkan sebagai sikap yang plin-plan dijelaskan oleh Hammond Menteri Luar Negeri Inggris, yang mengatakan dalam sebuah wawancara: “Assad harus lengser, dan ia tidak mungkin menjadi bagian dari masa depan Suriah.” Namun ia menambahkan: “Adalah penting berbicara dengan Assad sebagai pihak dalam proses ini, jika kita mencapai kesepakatan mengenai otoritas transisi, maka Assad merupakan bagian dari solusi itu.” Ini merupakan sikap naif hanya untuk menyenangkan Amerika, yang dari awal telah menginginkan untuk mempertahankan anteknya, Bashar Assad, ketika mencoba untuk menipu rakyat Suriah. Padahal mengalahkan revolusi Syam dan mencegah lepasnya umat Islam dari ketergantungan pada kaum kafir penjajah merupakan tujuan yang telah disepakati oleh semua negara besar: Amerika, Rusia dan negara-negara Eropa, seperti Inggris, Perancis dan Jerman ; … ketika mobilitas militer Rusia terus merapat di pantai, di mana telah mendarat setidaknya 15 pesawat kargo Rusia yang mengangkut “peralatan dan orang”dalam waktu dua minggu di pangkalan militer Humaimam, di bandara Basil al-Assad, di provinsi Lattakia, dalam rangka Moskow memperkuat kehadirannya di Suriah, seperti yang dikatakan oleh sumber militer Suriah.

Sementara surat kabar Al-Quds Al-Arabi (18/9) melaporkan bahwa tampaknya segala sesuatu yang terjadi seperti dukungan militer Rusia yang terbuka pada Damaskus muncul di tengah kesepakatan AS-Rusia, dan kepuasan Eropa, pada saat dimana ibukota-ibukota Eropa menunjukkan fleksibilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pidato para pemimpinnya terhadap Presiden Suriah Bashar Assad, terutama Jerman, Inggris dan Spanyol, yang menyatakan secara terbuka bahwa mereka tidak keberatan dengan peran Assad di fase berikutnya.

Al-Quds Al-Arabi juga melaporkan bahwa para intelijen negara-negara Eropa memberitahu kepemimpinan Suriah tentang keinginannya untuk kerjasama jangka panjang dengan Damaskus dalam rangka memerangi organisasi negara (ISIS) (kantor berita HT, 29/9/2015).

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1KKGUoC
via IFTTT

Mengakhiri Bencana Kabut Asap


[Al-Islam edisi 774, 18 Dzulhijjah 1436 H – 2 Oktober 2015 M]

Kabut asap telah menjadi musibah yang menimpa masyarakat dalam cakupan yang sangat luas. Cakupan musibah kabut asap kali ini paling luas; meliputi wilayah di 12 provinsi, dengan luas jutaan kilometer persegi. Kabut asap pekat terutama menyelimuti wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Di Sumatera, kabut asap menyelimuti 80 persen wilayahnya (Kompas, 5/9).

Kabut asap itu disebabkan oleh kebakaran yang menghanguskan puluhan ribu hektar hutan dan lahan. Kebakaran menghanguskan lebih dari 40.000 hektar lahan di Jambi. Sebanyak 33.000 hektar yang terbakar adalah lahan gambut. (Kompas, 9/9).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, luas area yang mengalami kebakaran di Kalimantan Tengah (Kalteng) mencapai 26.664 hektar (Kontan.co.id, 27/9).

Kerugian Sangat Besar

Total nilai kerugian akibat bencana asap pada tahun 2015 belum bisa dihitung. Namun, berdasarkan data BNPB, kerugian pada tahun 1997 saja, yaitu mencapai 2,45 miliar dolar AS. Menurut Kepala BNPB Willem Rampangilei, kerugian akibat kebakaran lahan dan hutan serta bencana asap di Riau tahun 2014 lalu, berdasarkan kajian Bank Dunia, mencapai Rp 20 triliun.

Saat ini, di Jambi saja—akibat pencemaran udara yang timbul oleh kabut asap, dampak ekologis, ekonomi, kerusakan tidak ternilai dan biaya pemulihan lingkungan—kerugian diperkirakan Rp 2,6 triliun. Nilai kerugian itu belum termasuk kerugian sektor ekonomi, pariwisata dan potensi yang hilang dari lumpuhnya penerbangan.

Bencana kabut asap juga telah menyebabkan bencana kesehatan massal. Sebanyak 25,6 juta jiwa terpapar asap, yaitu 22,6 juta jiwa di Sumatera dan 3 juta jiwa di Kalimantan. Puluhan ribu orang menderita sakit. Hingga 28/9, di Riau saja tercatat 44.871 jiwa terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut/ISPA (Riau Online, 28/9). Jumlah itu masih mungkin akan bertambah. Jumlah itu belum ditambah total puluhan ribu kasus ISPA di Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan daerah lainnya.

Akibat Ulah Manusia

Sebagian musibah yang ditimpakan oleh Allah SWT terhadap manusia adalah akibat perbuatan manusia sendiri, termasuk bencana kabut asap. Musibah tersebut seharusnya menyadarkan manusia akan kesalahan mereka sehingga mereka segera kembali ke jalan yang benar.

]ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ[

Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).

 

Penyebab kebakaran di Indonsesia sudah banyak dikaji oleh para peneliti berbagai belahan dunia. Semua berkesimpulan bahwa ulah manusialah penyebab utama kebakaran hutan dan lahan. Pengelolaan lahan yang masih menjadikan api sebagai alat yang murah, mudah dan cepat menjadi inti dari penyebab kebakaran.

Banyaknya pelaku yang ditindak kali ini adalah bukti. Menurut Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti, Polri telah resmi menetapkan 10 korporasi (perusahaan) dan 167 warga sebagai tersangka pelaku pembakaran hutan dan penyebab bencana kabut asap (Elshinta.com, 22/9). Menurut Menteri LHK Siti Nurbaya, sedikitnya 124 perusahaan diduga melakukan pelanggaran dalam kasus kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan (Elshinta.com, 18/9).

Terus Berulang

Kebakaran lahan dan hutan yang cukup dahsyat sudah terjadi setidaknya sejak 1967. Sejak itu kebakaran lahan dan hutan terus berulang tiap tahun. Semua ini menunjukkan tiga hal. Pertama: Penindakan terhadap para pelaku selama ini begitu lemah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, karena adanya pembiaran dan penegakan hukum yang lemah, pelanggaran terus terjadi (Kompas.com, 14/9). Kedua: Seolah tak pernah ada upaya Pemerintah untuk mengambil pelajaran. Padahal dengan belajar dari kasus-kasus sebelumnya, seharusnya kebakaran lahan dan hutan sudah bisa dicegah semaksimal mungkin oleh Pemerintah. Ketiga: Kebijakan/aturan tak memadai dan tak konsisten dijalankan sehingga tak bisa mencegah dan mengakhiri kebakaran lahan dan hutan. Masih banyak celah hukum sehingga para pelaku bisa lolos dari jerat hukum.

Pemerintah saat ini telah menggunakan pendekatan baru, yaitu pemberian sanksi berupa pembekuan hingga pencabutan izin usaha yang dimiliki oleh korporasi atau perusahaan. Menurut Walhi, sanksi administratif akan efektif jika dilakukan secara serius untuk mencegah kembali kasus pembakaran lahan dan hutan yang terus berulang (Elshinta.com, 8/9). Namun, hal itu tak akan mengakhiri secara tuntas kasus kebakaran karena tak menyentuh akar masalahnya.

Akar Masalah

Para ahli dan aktivis lingkungan menilai akar masalah dari kebakaran lahan adalah kerusakan ekosistem lahan gambut. Kebakaran terjadi karena alih fungsi di lahan yang sangat mudah terbakar sangat besar. Pemicu kebakaran ini adalah karena keringnya lahan gambut setelah alih fungsi lahan. Dalam proses alih fungsi, lahan gambut itu selalu disertai pengeringan lewat pembuatan kanal-kanal. Ahli hidrologi dari Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanuddin, mengatakan, akar dari kebakaran lahan gambut di Sumsel adalah adanya pengeringan berlebih dan tidak terkendali. Hal senada diungkapkan oleh peneliti gambut Universitas Riau, Haris Gunawan. Menurut dia, gambut di wilayah Sumatera dan Kalimantan kini mudah terbakar karena maraknya alih fungsi lahan. Bentang alam gambut berubah. Area gambut dengan biodiversitas beragam dan basah disulap menjadi area perkebunan dengan satu jenis tanaman dan dikanalisasi untuk mendukung budidaya. Akibatnya, gambut kering dan mudah terbakar (Kompas, 10/9).

Adapun menurut Direktur Eksekutif Walhi Nasional Abetnego Tarigan, akar persoalan dari bencana kabut asap tersebut bersumber dari monopoli penguasaan tanah oleh segelintir orang (Kompas.com, 12/9).

Solusi Tuntas

Bencana akibat kebakaran lahan dan hutan sangat sulit atau bahkan mustahil diakhiri dalam sistem kapitalis saat ini. Pasalnya, demi kepentingan ekonomi, jutaan hektar hutan dan lahan diberikan konsesinya kepada swasta. Padahal itulah yang menjadi salah satu akar masalahnya.

Bencana kebakaran hutan dan lahan hanya akan bisa diakhiri secara tuntas dengan sistem Islam melalui dua pendekatan: pendekatan tasyrî’i (hukum) dan ijrâ’i (praktis).

Secara tasyrî’i, Islam menetapkan bahwa hutan termasuk dalam kepemilikan umum (milik seluruh rakyat). Rasul saw. bersabda:

«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلإَِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»

Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Sebagai milik umum, hutan haram dikonsesikan kepada swasta baik individu maupun perusahaan. Dengan ketentuan ini, akar masalah kasus kebakaran hutan dan lahan bisa dihilangkan. Dengan begitu kebakaran hutan dan lahan bisa dicegah sepenuhnya sejak awal.

Pengelolaan hutan sebagai milik umum harus dilakukan oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, tentu harus secara lestari. Dengan dikelola penuh oleh negara, tentu mudah menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi, kepentingan rakyat dan kelestarian hutan. Negara juga harus mendidik dan membangun kesadaran masyarakat untuk mewujudkan kelestarian hutan dan manfaatnya untuk generasi demi generasi.

Jika ternyata masih terjadi kebakaran hutan dan lahan, maka wajib segera ditangani oleh Pemerintah karena Pemerintah wajib memperhatikan urusan rakyatnya dan memelihara kemaslahatan mereka. Pemerintah akan dimintai pertanggungjawaban atas hal itu di dunia maupun di akhirat.

Adapun secara ijrâ’i, Pemerintah harus melakukan langkah-langkah, manajemen dan kebijakan tertentu; dengan menggunakan iptek mutakhir serta dengan memberdayakan para ahli dan masyarakat umum dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan dampak kebakaran yang terjadi.

 

Wahai Kaum Muslim:

Mengakhiri kebakaran hutan dan lahan secara tuntas dengan dua pendekatan, tasyrî’i dan ijrâ’i, hanya bisa diwujudkan dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa diwujudkan melalui penerapan syariah Islam dalam sistem Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Inilah yang harus sesegera mungkin diwujudkan oleh seluruh kaum Muslim negeri ini. Dengan itu berbagai bencana akibat ulah manusia, termasuk bencana kabut asap, bisa diakhiri. Pada akhirnya, masyarakat akan bisa merasakan hidup tenang tanpa merasa khawatir terhadap bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

 

Komentar al-Islam:

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mencatat 572 perusahaan logistik dan jasa transportasi barang berhenti beroperasi. Order pengiriman barang terhenti akibat dari perlambatan ekonomi. “Sekitar 15 persen dari anggota kami mati suri, belum termasuk 1.500 pengusaha yang tak terdaftar ALFI,” ujar Ketua Umum ALFI Yukki N. Hanafi, di Jakarta, Senin, 28 September 2015. ALFI, katanya, memiliki 3.812 perusahaan (Tempo.co, 29/9).

  1. Sebelumnya puluhan ribu orang telah di-PHK. Angka pengangguran terus bertambah. Sebanyak 7,2 juta jiwa menganggur penuh alias sama sekali tak bekerja. Kurang lebih 40 juta penduduk lainnya masih atau sedang mencari pekerjaan yang lebih layak (Kompas.com, 21/9). Rupiah pun terus jeblok, bahkan sudah mencapai 14.700 perdolar AS (Tempo.co, 28/9). Masih banyak tanda-tanda keterpurukan ekonomi lainnya.
  2. Semua keterpurukan itu adalah akibat penerapan sistem kapitalisme neoliberal.
  3. Oleh karena itu sistem kapitalisme neoliberal harus segera dihentikan, ditinggalkan dan diganti dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang menyejahterakan.

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1KKD1jt
via IFTTT

Phobia Islam: Cina Melarang Nama Islami


muslim uighur sholatPihak berwenang Cina di daerah Hotan, wilayah Xinjiang yang mayoritas Muslim dari minoritas Uighur mengeluarkan larangan terhadap 22 nama Islami.

Pihak berwenang meminta semua warga yang memiliki nama-nama yang dilarang itu agar mengubahnya untuk menghindari sanksi atau larangan terhadap anak-anak mereka untuk mendaftar di sekolah-sekolah dan taman kanak-kanak.

Larangan itu meliputi nama laki-laki seperti: Bin Laden, Saddam, Hussein, Asadullah dan Abdul Aziz. Sementara untuk nama perempuan seperti: Amanah, Muslimah, Aisyah, Fatimah dan Khadijah.

Pihak berwenang telah mempublikasikan daftar nama-nama yang terlarang itu melalui situs jejaring sosial, karena paling luas penggunanya di Cina (aljazeera.net, 28/9/2015).

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1JBOptV
via IFTTT

Perjuangan Menegakkan Syariat Islam di Nusantara Memiliki Fakta Empirik


????HTI Press, Cilacap. Penerapan syariat Islam di Nusantara memiliki realitas empirik dan bukan ahistoris. Perjuangan penegakan syariat Islam di Nusantara juga mempunyai fakta sejarah. Demikian ungkap Imaduddin dalam acara Halqah Islam dan Peradaban, Ahad (27/9) di Masjid Agung Daarussalaam Cilacap.

Terdapat fakta sejarah dari mulai masuknya Islam ke Nusantara, berdirinya kesultanan di Nusantara yang menerapkan syariat Islam, hingga reaksi ummat Islam di Nusantara atas memburuknya kondisi kekhilafahan Utsmani hingga kernutuhannya.

Mengenai bukti penerapan syariat Islam di Nusantara, Imaduddin mencontohkan adanya pelaksanaan hukuman potong tangan bagi pencuri oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1680).

Adapun menjelang dan pasca runtuhnya kekhilafan Utsmani sebagai institusi yang menerapkan syariat Islam, tokoh – tokoh Islam termasuk di Nusantara berupaya untuk mengembalikan kekhilafan Islam itu. Mereka menyelenggarakan kongres Dunia Islam.

Pada bagian akhir pemaparannya ust. Imaduddin menegaskan bahwa penerapan syariat Islam di Nusantara memiliki realitas empirik dan bukan ahistoris. Maka ketika para tokoh-tokoh Islam pendahulu kita belum berhasil mencapai apa yang mereka memperjuangkan, maka kita tidak boleh meninggalkan perjuangan mereka ketika mereka sudah tiada. Tapi kita seharusnya melanjutkannya untuk menegakkan syariat Islam. []MI Cilacap/kafi

 

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1PMPPY0
via IFTTT

%d bloggers like this: