Ketika Teknologi dan Ekonomi Sapi Bersinergi

Sapi Amerika di tengah rumput alfalfa (www.ehow.com)

Sapi Amerika di tengah rumput alfalfa (www.ehow.com)

Oleh: Dr. Fahmi Amhar

Saat ini harga daging sapi sedang amat mahal.  Pedagang daging eceran sampai mogok.  Langkanya daging sapi membuat sebagian konsumen beralih ke daging ayam.  Akibatnya harga daging ayam juga melonjak.  Dalam angka, sebenarnya jumlah sapi di Indonesia itu cukup.  Namun ada dua problematika: Pertama, peternak sapi di Indonesia itu ukurannya mikro.  Ada jutaan “peternak sapi”, yang sapinya hanya 2-3 ekor saja.  Mereka tersebar di seluruh Indonesia.  Padahal konsumsi daging sapi tertinggi hanya di Jabotabek.  Tentu biaya logistik untuk mengumpulkan sapi-sapi itu jadi terlalu mahal.  Lebih murah impor sapi dari Australia daripada mengumpulkan dari seluruh Indonesia.  Masalah kedua, para pemilik sapi itu rata-rata hanya akan menjual sapinya pada dua kesempatan: pertama saat butuh uang seperti tatkala anaknya mau sekolah atau menikah, dan kedua saat menjelang Idul Qurban.

Pada sisi lain,  kualitas sapi-sapi lokal masih tergolong rendah.  Banyak yang masih diberi pakan seadanya, atau bahkan di beberapa daerah, sapi-sapi itu dilepas begitu saja agar mencari makan sendiri.  Berbeda dengan sapi-sapi bakalan impor.  Cukup hanya dengan menggemukkan selama 3-4 bulan, harga sapi-sapi itu bisa naik berlipat-lipat.

Memang orang bisa berkilah, bahwa sumber protein tidak hanya daging sapi.  Barangkali kalau telur, ikan dan ayam – juga bebek dan kelinci – dimasukkan, bangsa ini tidak kekurangan protein.  Tinggal soal distribusi saja.

Ketika tahun 711 pasukan Thariq bin Ziyad mendarat di Spanyol dan mengawali 781 tahun (711-1492) kekuasaan Islam di sana, mereka tidak hanya membawa visi hidup yang baru, tetapi juga banyak teknologi yang baru, antara lain di bidang pertanian.  Pertanian itu menentukan makanan yang menjaga kesehatan kaum Muslimin dan juga logistik untuk sarana jihadnya, yaitu kuda.

Posisi logistik dalam setiap ekspedisi jihad adalah vital.  Kemenangan perang di manapun sering ditentukan bukan oleh senjata atau kehebatan tempur pasukan, tetapi oleh logistik yang sudah direncanakan ditaruh di tempat yang tepat pada saat yang tepat.  Dalam perang modern, sebuah pesawat tempur yang canggih tidak ada artinya tanpa bahan bakar.  Demikian juga, sebuah kapal induk bertenaga nuklir, tak ada artinya bila awaknya kelaparan.

Pada masa Thariq bin Ziyad, logistik yang menentukan adalah makanan prajurit dan pakan kuda!  Jadi pada setiap pergerakan pasukan, harus ada rumput bergizi tinggi yang bisa ditanam atau disediakan dengan cepat.

Karena jihad menjangkau daerah yang luas dengan waktu yang lama – dapat tahunan – maka logistik berupa rumput ini juga harus bisa dihasilkan di daerah-daerah yang strategis yang sudah dikuasai oleh pasukan Islam. Rumput yang ditanam-pun juga bukan sembarang rumput, bila yang ditanam rumput yang biasa-biasa – maka akan dibutuhkan areal yang sangat luas atau waktu yang sangat lama untuk menanamnya dan kuda perang-pun tidak bisa tumbuh perkasa.

Maka bagian logistik dari pasukan Islam saat itu sudah mengenal rerumputan bergizi tinggi yang sangat efektif untuk menumbuhkan kuda, tanaman bergizi tinggi inilah yang disebut alfalfa. Karena penguasaan Islam yang lama khususnya di Spanyol, teknologi menanam alfalfa ini juga lalu menular ke bangsa Spanyol.

Ketika 800 tahun kemudian Panglima Perang Spanyol Hernando Cortez menaklukkan bangsa Aztecs di Mexico, bukan hanya strategi membakar kapalnya yang ia jiplak dari Thariq bin Ziyad – tetapi juga membangun logistik pasukan berkudanya dengan tanaman yang sama dengan yang diperkenalkan peradaban Islam di Spanyol selama 781 tahun !  Dari alfalfa yang dibawa ke benua Amerika inilah kini Amerika Serikat sangat dominan di bidang “nutritious plants” hingga kini.  Dan mereka adalah pengekspor daging terbesar di dunia.

Dari mana kita membuktikan bahwa alfalfa yang merupakan produk pertanian terbesar ke-3 di Amerika setelah jagung dan kedelai ini berasal dari dunia Islam? Yang termudah adalah dari sisi bahasa! Karena peradaban Islam yang berkembang hampir 8 abad di Spanyol, maka banyak sekali kata atau nama-nama yang berasal dari Islam – termasuk di antaranya ya alfalfa ini.  Keith Millier seorang warga Amerika yang pakar Timur Tengah menulis dalam karyanya “Arabic Words in English” (http://ift.tt/1V6DqkK) bahwa alfalfa berasal dari alfisfisa, yang berarti “fresh fodder” atau pakan segar.

Dalam bahasa Spanyol maupun dalam bahasa Inggris  hingga kini tidak ada kata lain yang searti alfalfa untuk nama tanaman bergizi tinggi (nutritious plants) yang dibawa dari dunia Islam 14 abad lalu itu. Maka dari nama ini tidak bisa disangkal lagi bahwa kekuatan produk pertanian terbesar ke-3 di Amerika tersebut bisa dirunut berasal dari peradaban Islam di masa lampau.

Ironinya di dunia Islam sendiri tanaman alfalfa ini kini nyaris tidak pernah terdengar lagi, karena tidak menjadi perhatian untuk di produksi.  Mereka yang belajar peternakan ke Australia tidak pernah belajar tentang alfalfa, bahkan dalam jangka panjang mereka tidak meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi sapi tetapi hanya meningkatkan impor sapi bakalan.

Prof DR Zagloul Al Najjar ilmuwan Mesir menjelaskan detil rantai makanan yang diungkapkan oleh Allah dalam surat ‘Abasa ayat 24-32.

“Hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, Kamilah yang mencurahkan air yang melimpah, kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu disana kami tumbuhkan biji-bijian, dan ‘anggur dan sayur-sayuran’, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun yang rindang, dan buah-buahan serta rerumputan, untuk kesenanganmu dan ternakmu”. (QS ‘Abasa: 24-32).

maka ayat 28 “wa ‘inaban wa qadhban”– yang dalam bahasa Indonesia menjadi “dan anggur dan sayur-sayuran” – dalam bahasa Inggris diterjemahkan “and grapes and nutritious plants” – beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan nutritious plants adalah tanaman alfalfa – yang memang sangat kaya dengan gizi.

Inilah, Qur’an masih sama, masih dihafal banyak orang, tetapi dulu kaum Muslimin bisa menjadi umat dengan fisik yang kuat serta memiliki pasukan jihad yang kuat, karena di belakangnya ada teknologi pertanian yang kuat, yang dikembangkan secara mandiri karena inspirasi Qur’ani.

Inspirasi itu menyulut ideologi untuk menjadi yang terbaik.  Di kalangan bangsa penjajah saja, meski hanya dengan dorongan ideologi dan bukan dorongan Alquran, banyak dari mereka yang mampu menguasai teknologi hanya dengan mengembangkan sendiri.  Artinya tidak belajar dari orang sebelumnya.  Bayangkan, ahli pertanian Belanda dulu membangun perkebunan teh di Jawa Barat, padahal di Belanda sendri tidak ada kebun teh.  Geolog Belanda juga menemukan tambang di pegunungan Papua, padahal di Belanda sendiri tidak ada gunung.  Dan insinyur Belanda membangun jalan kereta api memotong gunung dan melintasi lembah di Indonesia, padahal di Belanda sendiri tanahnya dataran rendah semata.

Jadi andai kita sekarang memiliki lagi negara yang merdeka secara ideologis, yang mendorong kita menjadi umat yang unggul, kita juga akan merdeka secara teknologi, dan antara teknologi dan ekonomi akan sinergi.  Meski produksi sapi kita tersebar di seluruh wilayah, tetapi kebutuhannya juga tidak akan memusat di satu lokasi saja, karena semua mengerti bagaimana hidup yang berimbang, dan negara juga paham untuk menjalankan ekonomi yang mandiri dan berkedaulatan.[]

Sumber: Tabloid Mediaumat

 

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1V6DssZ
via IFTTT

Posted on August 25, 2015, in Hizbut Tahrir Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: