Monthly Archives: August 2015

Ngobrol Politik dengan Santai, HTI Kolaka Pahamkan Umat akan Syariat Islam


Ngopi HTI KolakaHTI Press, Kolaka. Ummat Islam harus paham politik, sehingga mampu bersikap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi baik perubahan berskala lokal, nasional maupun internasional, oleh karena itu umat harus paham Syariah Islam sehingga sikap yang diambil senantiasa dilandasi oleh pemikiran atau syariat Islam. Demikian tutur Anggota DPP HTI ustad Faisal Abbas dalam acara NGOPI pada Selasa (18/8).

“NGOPI” Ngobrol Politik Islam, adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh DPD II Kolaka Hizbut Tahrir Indonesia pada pukul 20.00 WITA di Warung Kopi “Goeboek” di jalan Tamalaki Kolaka. Acara dikemas santai, nyaman penuh dengan rasa kekeluargaan, sambil menikmati minuman hangat dan gorengan. Kegiatan ini menghadirkan nara sumber dari Dewan Pimpinan Pusat HTI Ustadz Ruslan Gunawan Djawahir atau biasa disapa ust. Faisal Abbas.

Acara dihadiri oleh puluhan tokoh ummat dan muballigh Kota Kolaka dan sekitarnya (Sulawesi Tenggara). Peserta sangat antusias berdialog dengan narasumber yang dipandu oleh DPD II HTI Kolaka ust. Abu Hakim.

“Pemahaman yang mendalam dan menyeluruh terhadap kondisi ummat dapat memetakan problematika utama kaum muslimin sehingga metode perubahan yang dilakukan oleh kelompok atau organisasi Islam lebih fokus dan terarah dengan mengikuti Jalan Dakwah Rasulullah. Karena tidak tegaknya hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dalam Bingkai Sistem Khilafah merupakan problematika utama kaum muslimin seluruh dunia.” Lanjut Ustadz Faisal Abbas.

Dukungan positif terhadap gerak dakwah Hizbut Tahrir diungkapkan oleh para peserta.

“Hizbut Tahrir adalah harapan ummat untuk mengembangkan dakwah Islam” kata Rusli, mantan Camat Lambandia Kolaka, dengan penuh semangat berusaha menjelaskan posisi ummat, harapan dan dukungannya terhadap HTI.

Dukungan serupa juga diungkapkan oleh salah satu tokoh dari Tikonu. “Semoga acara seperti ini terus dilaksanakan dengan mengundang lebih banyak lagi peserta  agar ummat tercerahkan dengan pemikiran Islam yang didakwahkan oleh Hizbut Tahrir “ kata Mustarif, tokoh Ummat dari Tikonu.  []MI Kolaka/kafi

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1EsDVBq
via IFTTT

Advertisements

Pengantar [Sisi Gelap BPJS Kesehatan]


Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, sejak kemunculannya, keberadaan BPJS, khususnya BPJS Kesehatan, memang mengundang kontroversi. Pertama, karena BPJS Kesehatan mirip dengan asuransi kesehatan. Para anggota BPJS diwajibkan membayar iuran (baca: premi) tiap bulan, apakah mereka nanti memanfaatkan layanan kesehatan yang difasilitasi BPJS ataukah tidak. Padahal sejak awal digagas, keberadaan BPJS sering diidentikan dengan jaminan kesehatan masyarakat yang terkesan cuma-cuma alias gratis, dijamin oleh Pemerintah. Kedua, layanan kesehatan yang diterima masyarakat anggota/peserta BPJS sering minimalis alias tidak optimal. Bahkan dalam beberapa kasus, klaim pasien peserta BPJS acapkali ditolak, terutama dalam kasus pasien yang harus melakukan operasi dengan biaya besar. Seain itu, banyak tindakan medis, termasuk obat-obatan, yang tidak di-cover oleh BPJS. Ketiga, keberadaan BPJS disinyalir merupakan bentuk lepas tanggung jawab Pemerintah dalam menjamin kesehatan warganya. Melalui BPJS Pemerintah seolah mau ’cuci-tangan’ dari kewajibannya melayani rakyat di bidang kesehatan. Keempat, adanya fatwa MUI seputar ketidaksesuaian BPJS Kesehatan dengan syariah Islam alias haram. Di antaranya karena BPJS Kesehatan mengandung unsur gharâr (penipuan), maysir (judi) dan riba yang memang diharamkan dalam Islam.

Karena itu, tentu penting untuk mengkaji ulang BPJS. Apalagi, dalam pandangan Hizbut Tahrir Indonesia, keharaman BPJS Kesehatan sesungguhnya tak semata-mata karena di dalamnya ada unsur gharar (penipuan), maysir (judi) dan riba. Lebih dari itu, keharaman BPJS Kesehatan terletak pada asasnya. Karena itu menghilangkan unsur dharar, maysir dan riba di dalam BPJS Kesehatan tak serta-merta menjadikan lembaga itu absah secara syar’i.

Jika demikian, bagaimana sesungguhnya jaminan kesehatan yang sesuai syariah? Bagaimana pula implementasinya dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah? Inilah yang dibahas dalam tema utama al-waie edisi kali ini.

Sejumlah tema lain tentu layak pula untuk dibaca dan dikaji. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

181-500-cover1

 

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1KxUixT
via IFTTT

Peringatan Untuk Rezim Diktator Mesir


Tak lama setelah kunjungan Menlu AS John Kerry, Rezim Diktator Mesir menyepakati pemberlakuan UU antiterorisme. UU ini ditargetkan untuk memberangus apa yang kerap disebut rezim Mesir dan Barat sebagai kelompok militan. Istilah ini digunakan terutama untuk gerakan Islam yang dianggap menganggu kekuasaan diktator Sisi dan mengancam kepentingan Barat.

Sebagaimana dilaporkan situs BBC Online (17/8), lewat UU ini persidangan terhadap tersangka kelompok yang dicap militan bisa dipercepat melalui pengadilan khusus. Siapapun yang terbukti anggota kelompok yang dianggap militan dapat dihukum penjara selama 10 tahun. Tak hanya itu, yang dianggap mendanai kelompok itu bisa dikenai sanksi penjara seumur hidup.

Pasal karet penghasutan pun digunakan untuk menjerat kelompok yang menentang kejahatan Sisi; dijatuhi hukuman penjara lima hingga tujuh tahun. Sama halnya dengan yang menciptakan laman daring, dengan tuduhan penyebar pesan teroris, dikenai hukuman penjara 5 hingga 7 tahun.

Wartawan pun bisa dijatuhi hukuman lewat undang-undang itu. Mulai Senin (17/08), setiap wartawan yang memberitakan versi berbeda dari versi Pemerintah mengenai serangan kelompok anti Pemerintah (militan) akan didenda sebesar US$25.000 atau Rp 347,25 juta.

Sangat jelas, UU antiterorisme ini merupakan perangkat hukum yang digunakan oleh diktator Sisi untuk membungkam siapapun yang menjadi lawan politiknya. UU ini juga akan menjadi senjata bagi Sisi untuk membungkam kelompok-kelompok yang menginginkan penegakan syariah Islam, dengan alasan menghasut atau memprovokasi. Apa yang dilakukan Sisi tidak lain menjalankan peran bonekanya untuk mengamankan kepentingan penjajahan Barat di Timur Tengah.

Diktator Sisi sendiri bertanggung jawab dalam pembantaian ribuan orang saat terjadi kudeta terhadap pemerintahan Mursi. Pemerintahan Sisi juga telah menahan ribuan pendukung Ikhwanul Muslimin dan memenjarakan tokoh-tokohnya. Beberapa di antaranya terancam hukum berat termasuk hukuman mati. Militer Mesir juga menghukum dua wartawan Aljazeera karena dianggap terkait dengan Ikhwanul Muslimin.

Kebengisan Sisi ini berjalan mulus karena mendapat dukungan dari negara-negara Barat. Seperti biasa, perang melawan terorisme seperti ISIS digunakan sebagai pembenaran. Dalam pidato pembukaannya, seperti yang dilansir VOA (2/8), pada pembicaraan di Kairo, Kerry mengatakan, kedua pihak akan membahas ancaman ISIS dan bahwa Mesir telah banyak menderita dalam usahanya memerangi ekstremisme. Pernyataan Kerry jelas memuakkan. Pasalnya, kekejaman Sisi yang didukung Baratlah menjadi sumber penderitaan rakyat Mesir.

Hizbut Tahrir telah memberikan peringatan keras kepada Rezim Sisi terkait kezalimannya, seperti yang dilakukan alat-alat keamanan Sisi terhadap Ustadz Syarif Zayid. Ketua Kantor Media Hizbut Tahrir Wilayah Mesir itu ditangkap pada tanggal 11/7/2015, melalui sebuah operasi pengecut yang disiapkan oleh departemen imigrasi daerah di Provinsi Tanta. Mereka menyerahkan Syarif Zayid kepada penyidik keamanan negara yang telah melakukan penyiksaan selama enam hari. Ia kemudian dipindahkan ke bagian keamanan selama lima hari. Akhirnya ia diserahkan kepada wakil jaksa yang memerintahkan untuk menahan dia selama lima belas hari, lalu ditambah lima belas hari lagi!

Dalam pernyataan persnya (30 Syawal 1436 H/15 Agustus 2015 M) Hizbut Tahrir mengingatkan:

Kami telah menunggu sebulan, mungkin orang-orang zalim ini sadar, lalu mereka menebus penangkapannya yang zalim dan membebaskan dia. Namun, itu tidak mereka lakukan selain semakin memusuhi para wali (kekasih) Allah. Mereka ini lupa atau pura-pura lupa dengan Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: Allah SWT telah berfirman, “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka Aku benar-benar menyatakan perang terhadap dia.” Siapa saja yang berperang melawan Allah, maka benar-benar akan membuat dia terhina di dunia dan siksaan yang berat di akhirat jika mereka mengetahui.”

Sungguh, alat-alat kejahatan yang mengklaim bahwa mereka telah menyita—bersamaan dengan penangkapannya—sejumlah dokumen kitab yang berisi seruan-seruan kebenaran; yang dengan lantang menentang pemerintahan yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, menyerukan yang makruf dan mencegah yang mungkar, menjelaskan kepada mereka perkara yang halal dan memperingatkan mereka dari perkara yang haram; menasihati mereka dan juga masyarakat, namun mereka menutup telinganya, menutup muka mereka dengan bajunya, mereka terus menerus bersikap angkuh dan sombong.

Diktator Sisi sepertinya tidak belajar dari nasib tragis diktator Timur Tengah selama ini seperti Zainal Abidin bin Ali, Khadafi dan menyusul Bassar Assad. Para diktator ini hidupnya berakhir tragis, dihinakan oleh rakyatnya sendiri. Penyiksaan yang dilakukan oleh para rezim bengis tak akan pernah menghentikan perjuangan untuk menegakkan syariah Islam dan Khilafah.

Peringatan keras Hizbut Tahrir dalam akhir pernyataan persnya sudah seharusnya diperhatikan oleh siapapun yang menghalangi perjuangan penegakan Khilafah. “Untuk itu, bebaskan Ustadz Syarif Zayid, mungkin dengan itu kami akan mengingat kalian dalam waktu dekat pada saat Khilafah tegak dengan izin Allah, sehingga ada alasan kami menolong kalian. Janganlah kalian terperdaya rayuan setan sehingga kalian mengira bahwa dakwah kepada Allah akan mengguncang makar kalian dengan menangkap orang yang mulia. Ingat, bahwa di Hizbut Tahrir dan di tengah-tengah umat terdapat jutaan orang yang seperti Syarif.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya (yang artinya): Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak suka (TQS at-Taubah [9]: 32).

AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1O33V6C
via IFTTT

Mewujudkan Pengorbanan Sempurna


Dzulhijjah adalah bulan pengorbanan, momen Idul Adha. Bukan sekadar momen untuk menyembelih kurban semata, namun juga menjadikan kita semakin taat dari tahun ke tahun. Di satu sisi, umat Muslim bisa menunaikan shalat, puasa dan berkurban. Namun, di sisi lain banyak terjadi kelaparan dan kezaliman.

Penderitaan demi penderitaan yang dialami oleh negeri ini tidak lain adalah akibat dari penerapan sistem kufur, yakni demokrasi-kapitalisme yang justru menjadikan negeri ini hancur. Mengapa? Karena sistem demokrasi meletakkan kedaulatan, yakni wewenang untuk mebuat hukum, ada di tangan manusia, bukan pada Allah SWT. Padahal jelas manusia tak akan mampu mengatur kehidupan ini.

Karena itu sudah selayaknya umat mencampakkan demokrasi-kapitalisme dan menggantinya dengan sistem dari Zat Yang Mahatahu, yakni Islam. Saat Islam dan syariahnya belum diterapkan maka sudah seharusnya seorang Muslim berkorban untuk menegakkan seluruh syariah-Nya melalui perjuangan penegakan Khilafah.

Tidak akan mungkin negeri ini menemukan ‘oase’ selain dari Islam. Meski tidak mudah berjuang untuk menegakkan Khilafah yang akan melaksanakan seluruh syariah Islam, sesungguhnya juga tidak sulit bagi Allah SWT untuk memberikan Khilafah saat kaum Muslim sudah layak untuk mendapatkannya. Karena itu sudah waktunya bagi umat terbaik ini untuk melipatgandakan amal shalih, melayakkan diri untuk mendapatkan pertolongan-Nya demi penerapan syariah dalam naungan Khilafah ‘ala manhaj an-nubuwwah.         Caranya adalah dengan senantiasa meningkatkan ketakwaan dan tidak berputus asa untuk menyerukan syariah dan Khilafah kepada umat.

Karena itu, momen Idul Adha seharusnya tidak hanya menjadikan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. sekadar kisah di atas mimbar semata. Pengorbanan dan ketaatan keduanya harus benar-benar diteladani. Tidaklah pengorbanan itu melainkan dengan taat dan ridha dengan menjalankan syariah-Nya secara kâffah. WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [Ima Susiati; Anggota HTI Malang]

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1O33Uj4
via IFTTT

Melayakkan Diri Meraih Pertolongan-Nya


Allah SWT berfirman (yang artinya): Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (TQS adz-Dzariyat []: 56).

Ibadah kepada Allah SWT adalah tujuan hidup setiap manusia. Namun, lingkungan buruk sistem sekular demokrasi saat ini telah berperan besar dalam membelokkan orientasi tujuan hidup manusia sehingga tidak memahami akan tujuan hidup yang sesungguhnya. Bahkan, kebanyakan manusia dijebak untuk hanya mengejar materi. Padahal ibarat sebuah perjalanan, dunia ini tempat perantauan sebentar. Bagi kaum Muslim, surga adalah kampung halaman sesungguhnya. Tempat perantauan (dunia) adalah tempat mencari berbekalan. Ibadah, itulah sejatinya bekal yang bisa kita kumpulkan untuk menyiapkan kehidupan abadi di akhirat.

Islam itu aturan dari Zat Yang Maha Pencipta. Islam itu syariah paripurna. Islam itu solusi kehidupan dunia. Islam memiliki sistem negara untuk menjagai ketaatan ibadah secara totalitas. Sistem itulah Khilafah. Khilafah memiliki tiga pilar untuk menegakkan aturan Allah SWT secara sempurna. Pilar pertama adalah ketakwaan individu. Kedua: Kesadaran masyarakat untuk berdakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Ketiga: Penjagaan Negara Islam dalam menjalankan aturan Allah SWT secara kâffah. Karena itu ketika ada pelanggaran terhadap hukum Allah SWT, akan ada sanksi yang bersifat zawajir (pencegahan) dan jawabir (penebus dosa). Sungguh hanya dengan tiga pilar tersebutlah tujuan hidup manusia untuk beribadah kepada Allah SWT bisa terwujud dengan sebaik-sebaiknya.

Namun, akibat penerapan sistem demokrasi, saat ini kita dijauhkan dari pilar kedua dan ketiga. Bahkan pilar pertama pun bisa runtuh jika diri kita tak membentengi diri dengan kesadaran hubungan kita dengan Allah SWT.

Dunia merupakan tempat perantauan. Dunia adalah tempatnya berajang ikut perlombaan, fastabiqul-khayrat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Kita harus menyadari bahwa kita sedang mengikuti perlombaan tersebut. Karena itu kita harus bangkit, bertekad kuat dan istiqâmah di jalan dakwah sebagai ajang melayakkan diri untuk meraih gelar “pribadi taqwa”.

Pengorbanan untuk mewujudkan kemuliaan Islam dan kaum Muslim harus dilalui dengan cara yang haq, yakni dengan meneladani Rasulullah saw. Caranya adalah melalui tahap pembinaan, tahapan berinteraksi dengan umat dan tahap penerapan syariah Islam secara kâffah. Jelas, mengikuti jalan dakwah Rasulullah saw. bukanlah hal yang mudah. Namun demikian, inilah jalan paling efektif untuk mewujudkan ketaatan kepada Allah secara totalitas.

Saudara seakidah yang dirahmati Allah SWT. mari ber-muhâsabah diri, sudah sejauh mana konstribusi kita di jalan dakwah Islam ini? Sudah optimalkah usaha kita? Jika belum, semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa terus melayakkan diri menjadi pribadi yang istiqamah menapaki jalan dakwah mewujudkan Khilafah ala’ minhaj an-nubuwwah. Amin, AlLahumma amin. WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Hernani Sulistyaningsih, S.Pd.I; Pendidik tinggal di Sleman DIY]

 

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1KxUixR
via IFTTT

%d bloggers like this: