Monthly Archives: July 2015

Artis Jadi Duta Kawin Sejenis


homo“Pernyataan itu adalah cara mereka ingin memperlihatkan pada publik kalau ‘aku adalah seorang liberal dan persetan dengan agama’.”

Pernyataan mantan Rocker Hari Moekti bahwa artis sebenarnya adalah ujung tombak untuk menyebarkan paham setan kembali dikukuhkan oleh pernyataan artis Sherina Munaf dan penyanyi Anggun C Sasmi. Melalui akun twitter masing-masing keduanya langsung mendukung perkawinan sejenis (homoseksual/lesbian) yang baru saja dilegalkan di seluruh negara bagian Amerika Serikat.

“YES!!!!! Mariage is between love and love ??,” tulis Anggun di akun Twitter-nya yang menyatakan iya, perkawinan adalah antara cinta dan cinta, Jum’at (26/5).

Tentu saja penembang lagu Mimpi dan Tua Tua Keladi tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak karena mendukung lesbian, homo, biseks, dan transgender (LGBT).

Seorang netizen (warga internet) berkomentar: “ini ane heran yah, yang melegalkan kawin sesama jenis itu amerika, kenapa si anggun promosinya ke indonesia, apa dia udah jadi “duta” kawin sesama jenis ya di sana, terus dia ngajakin siapa saja fansnya yang mau kawin sejenis bisa langsung bikin visa n ngajuin ijin di sana. Lah iya kalo tuh orang punya duit buat berangkat ke amrik buat ngelegalin surat kawin doang, apa si anggun ini mau sponsorin duitnya juga? aya2 wae…”

Netizen lainnya menimpali, “sepertinya anggun sudah terjangkiti virus liberalisme.. satu saran untuk anggun, banyak2 baca dan bertanya kepada ahli agama yang konon dianutnya sebelum otaknya melenceng jauh..”

Terang saja, di negeri mayoritas Muslim ini, LGBT sangat ditentang. Di tengah kecaman berbagai pihak atas perbuatan yang mengundang azab Allah tersebut, bintang film dan penyanyi Sherina Munaf malah mengharapkan kelakuan bejat dan menjijikkan seperti yang dilakukan kaum Sodom dan Gomorah bisa diakui di seluruh dunia.

“Banzai! Pernikahan sesama jenis kini ada hukumnya di Amerika Serikat. Mimpi: berikutnya, di dunia! Dimanapun Anda berada, bangga siapa Anda. #LGBTRights,” kicau Sherina dalam akun resmi twitternya dalam bahasa Inggris, Ahad (28/6).

Menurut penulis Buku Detik-Detik Penghancuran Keluarga Iwan Januar kicauan kedua artis kontroversial tersebut bisa menjadi tolak ukur seberapa jauh keduanya telah menjadi orang-orang liberal.

“Pernyataan itu adalah cara mereka ingin memperlihatkan pada publik kalau ‘aku adalah seorang liberal dan persetan dengan agama’. Jadi jangan terkecoh dengan bayangan masa lalu Sherina itu artis cilik yang polos dan chubby,” kata Iwan mengingatkan.

Terlepas di kolom agama pada KTP keduanya masih mencantumkan kata “Islam” atau tidak, menurut Iwan, bagi kaum liberalis agama itu kan hanya urusan personal mereka dengan Tuhan, itupun tak ada kewajiban bagi mereka harus tunduk pada aturan agama. Karena mereka merasa berhak menafsirkan sendiri maunya Tuhan seperti apa. “Kalau dalam istilah Alquran mereka itu ‘menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya’, “ ujar Iwan kepada Media Umat, Selasa (30/6).

Melalui pernyataannya yang melampaui batas tersebut, Iwan menilai mereka justru ingin memengaruhi para fans agar mengikuti pendapat mereka. Dengan jumlah follower jutaan mereka lontarkan pernyataan sesat itu dalam keadaan sesadar-sadarnya, bukan sedang mengigau. Di sisi lain mereka juga berpikir ‘ah paling reaksinya cuma sebentar’. Artinya kagak ngaruh untuk popularitas mereka. “Malah membuat mereka semakin diburu media sekuler. Sebentar lagi juga bakal ada media sekuler yang wawancara mereka,” prediksi Iwan.

Hal senada juga disampaikan Felix Yanwar Siauw. Ustadz muda yang kerap menjadi rujukan para netizen tersebut pun kebanjiran pertanyaan soal LGBT.

“Banyak yang bertanya tentang ‘apa pandangan terhadap legalisasi LGBT di US’. Lha, dalam Islam itu sudah jelas, itu jelas-jelas dosa besar,” ungkapnya di akun twitter resminya, Selasa (30/6).(mediaumat.com, 1/7/2015)

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1KuujGG
via IFTTT

Advertisements

Para Mantan Menteri Serukan Pencopotan dan Pengadilan Terhadap Al-Sisi


president-sisi-7Sejumlah mantan menteri dan anggota parlemen di Mesir telah menyerukan agar Presiden Abdel Fattah Al-Sisi dicopot dari jabatannya dan diadili “atas kejahatan yang telah dia lakukan”. Seruan yang dikeluarkan setelah pembunuhan jaksa utama di negara itu dan serangan yang telah menewaskan sedikitnya 50 tentara di Sinai, dalam pernyataannya kelompok itu mengutuk “semua tindakan terorisme, siapa pun pelakunya.”

“Bersama-sama, kita meratapi kehilangan putra dan putri patriotik – baik tentara, warga sipil, wanita maupun anak-anak – yang tewas setiap hari,” kata pernyataan itu. “Pencopotan dan pengadilan terhadap Abdel Fattah Al-Sisi atas kejahatan yang telah dia lakukan bukan lagi tuntutan dari lawan kudeta saja.”  Kelompok itu menambahkan, hal itu sudah menjadi senakin kuat, dan menjadi tuntutan rakyat setelah Al-Sisi “mendorong negara ke tepi jurang sehingga menyebabkan rakyat dan tentara mengalami penghinaan.”

“Karena arogansi komandan kudeta,” klaim seruan itu, telah menempatkan keamanan nasional Mesir dalam bahaya besar. “Dia telah salah dalam mengurus negara, menindas dan meneror rakyat, membanting dan menutup pintu dialog dan rekonsiliasi, dan berjudi dengan masa depan Mesir dan rakyat Mesir.”

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Dr Ayman Nour, pemimpin Partai Ghad El-Thawra; Dr Tharwat NAFIE, seorang  anggota parlemen dan profesor universitas; Hatem Azzam,  anggota parlemen dan Wakil Presiden Partai Al-Wassat; Dr Tarek AlZumar, Presiden Partai Membangun dan Pembangunan; Dr Amr Darrag, mantan Menteri Perencanaan dan Kerjasama Internasional; Dr Mohamed Mahsoub, mantan Menteri Urusan Parlemen dan profesor universitas; Dr Maha Azzam, kepala Dewan Revolusi Mesir; dan Yehia Hamed, mantan Menteri Investasi.

“Kami menyerukan kepada rakyat Mesir,” kata mereka, “semua partai, organisasi dan lembaga masyarakat sipil, untuk bergabung menyatukan tangan dalam menghadapi rezim militer yang berpikir secara serampangan dan junta milter yang bertindak gila ini, untuk menyelamatkan Mesir dan mencapai tuntutan sah rakyat bagi kebebasan, hidup layak dan keadilan sosial. “

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1GPS3zj
via IFTTT

Sekolah Kenya Memaksa gadis-gadis Muslim Untuk Menghadiri Misa di Gereja


To match feature AFRICA-PENTECOSTALS/Para pemimpin Muslim di Mombasa County telah menyatakan kemarahan mereka dan akan mengangkat isu ini dengan menteri pendidikan setelah para siswi Muslim di sekolah menengah dipaksa untuk menghadiri misa di gereja Kristen atau akan diusir.

Siswi Muslim di SMA Bura yang khusus untuk putri mengatakan mereka dipaksa untuk menghadiri misa gereja Kristen, sebuah pelanggaran atas hak konstitusional mereka untuk bebas beribadah.

Abdulswamad Nassir, seorang anggota parlemen untuk konstituen di mana sekolah itu berada, mengatakan dia telah menerima beberapa laporan dari para orang tua siswi yang bersangkutan, yang protes bahwa mereka telah kehilangan hak untuk bebas beragama.

Aden Bare Duale, pemimpin mayoritas di majelis nasional Kenya, untuk wilayah itu, telah berjanji untuk mengangkat masalah ini dengan Menteri Pendidikan, Jacob Kaimenyi.

“Di Sekolah Sheikh Khalifa, tidak ada siswa Kristen yang dipaksa untuk memasuki masjid,” Duale menambahkan, mengacu pada sebuah sekolah Muslim di pantai Kenya yang diikuti oleh siswa Muslim dan Kristen.

Menurut laporan, 40 siswi Muslim  diskors dari sekolah itu minggu lalu karena mereka tidak mau menghadiri misa gereja hari Minggu.

Larangan Berjilbab

Perselisihan agama di sekolah bukan hal baru untuk Kenya yang didominasi Kristen, di mana umat Islam disebutkan merupakan sekitar 11 persen dari jumlah penduduk.

Pada bulan Maret, Dewan Imam dan Da’i mengutuk keputusan pengadilan tinggi Kenya yang melarang jilbab di sebuah sekolah di timur laut negara itu.

Pengadilan memutuskan saat itu bahwa mengenakan jilbab adalah “diskriminatif” dan melanggar peraturan sekolah.

Dewan Imam dan Da’i menanggapi putusan itu dengan menuduh pengadilan sengaja mengabaikan Pasal 32 Konstitusi, yang menyatakan bahwa warga Kenya “tidak boleh dipaksa untuk bertindak, atau terlibat dalam kegiatan apapun, yang bertentangan dengan keyakinan atau agama seseorang. ” (worldbulletin.net, 30/6/2015)

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1FTSiIM
via IFTTT

Hanya Qutaibah Kedua yang Akan Menghentikan Penindasan China terhadap Muslim Uighur


muslim-uighur-kembali-dari-shalat-berjamaah-di-masjid-id-_110521141910-636Berulangnya penindasan China terhadap Muslim Uyghur di bulan suci Ramadhan menuai reaksi keras dari Umat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Mesir, Indonesia dan Amerika. Insiden terbaru telah menewaskan 28 Muslim Uyghur karena mereka melawan pembatasan ibadah puasa oleh China yang sejak tahun lalu secara resmi diberlakukan kepada anggota partai, pegawai negeri, siswa, dan guru. “Tindakan ini jelas-jelas telah menyakiti hati umat Islam dunia” ujar, Anwar Abbas, seorang intelektual Muslim dan salah satu ketua dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sementara komunitas muslim Amerika yang diwakili CAIR mengirim surat kepada Presiden Xi Jin Ping, mendesak untuk mengakhiri semua penolakan dan sanksi negara dari kebebasan beragama yang menargetkan Muslim, termasuk puasa di bulan Ramadhan. Bahkan Universitas Al Azhar beserta Imam Besarnya, Ahmed al-Tayeb, mengutuk keras otoritas Cina yang telah melarang kaum Muslim, terutama dari kawasan Xinjiang, berpuasa dan menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan.

Sungguh, penindasan Muslim Uighur ini tidak bisa dilepaskan dari sistem tata dunia yang terus memelihara rezim predator China dan rezim-rezim boneka Muslim Asia Tengah yang terus menarget muslim Uighur. Tata dunia kapitalistik hari ini telah menempatkan kepentingan ekonomi dan politik lebih tinggi dari kemanusiaan dan hak-hak dasar manusia, termasuk hak beribadah kepada Allah Swt.

Kepentingan Geopolitik China di Asia Tengah : Memangsa Muslim Uighur

Bagi rezim China, ratusan nyawa Muslim Uyghur seperti tidak ada harganya, dibandingkan nilai kepentingan geopolitiknya di Turkestan Timur. Mega proyek China New Silk Road yang baru saja diluncurkan adalah salah satu indikasi kuatnya motivasi China memenangkan persaingan geopolitik baru di kawasan Asia Tengah. Beberapa pakar memperkirakan bahwa China mungkin akan menggusur peran AS dan Rusia di Asia Tengah – sebuah kawasan geostrategis penting bagi semua pihak. Apalagi penarikan pasukan militer AS dari Afghanistan akan meninggalkan kekosongan kekuasaan, dan resistensi negeri-negeri Asia Tengah terhadap Rusia membuat Cina semakin popular di mata rezim-rezim “stan” di Asia Tengah sebagai mitra dagang, keamanan dan pembangunan bersama. [i]

Meskipun proyek ini merupakan kepentingan ekonomi China dalam energi, bahan baku, dan pasar yang akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi, namun tidak dapat dipahami hanya dari segi ekonomi saja. Karena kesepakatan puluhan miliar dollar (40 milliar US$) antara China dan negara-negara Asia Tengah yang telah dibuat adalah tentang penyaluran minyak dan gas dari negara-negara tetangga Asia Tengah langsung ke China melalui wilayah Xinjiang yang bergolak dimana 10 juta jiwa Muslim Uighur tinggal. Lebih jahat lagi, di tengah transaksi bisnis itu, semua negara anggota dan negara pengamat dari Shanghai Cooperation Organization (SCO) – serikat politik dan ekonomi yang dipimpin Cina – hampir semua menjanjikan dukungan mereka untuk memerangi apa yang disebut Beijing sebagai “terorisme Uighur”. [ii]

Atas nama kepentingan ekonomi dan geopolitik, rezim pemangsa China telah dengan sengaja menargetkan Muslim Uyghur, dengan dalih memerangi terorisme. China telah menempatkan kepentingan ekonomi dan politik lebih tinggi dari kemanusiaan dan hak-hak dasar manusia.  Betapa murahnya harga nyawa Muslim di mata negara komunis-kapitalis seperti China!

Hanya Qutaibah Kedua yang akan mampu menghentikan China!

Selain kepentingan ekonomi dan geopolitik, sikap psikopat China terhadap Muslim sebenarnya juga dilandasi oleh pengalaman sejarah ketidakberdayaan mereka menghadapi kekuatan Aqidah Islam. China menyadari betul dahsyatnya kekuatan ideology Islam yang sudah mereka rasakan sejak abad ke 6 M dan begitu cepat mempengaruhi masyarakatnya yang berbondong-bondong masuk Islam. Khilafah Islam di zaman al-Walid bin ‘Abdul Malik menaklukkan wilayah Asia Tengah di bawah panglimanya Qutaibah bin Muslim yang dimulai sejak tahun 86 H/705 M.

China semakin gemetar setelah mereka menyaksikan kekuatan kaum Muslim saat itu, yang berhasil menaklukkan wilayah-wilayah Asia, dan tidak bisa dibendung oleh para penguasa di sana. Bagaimana pengkhianatan penguasa Bukhara, yang sebelumnya melakukan perjanjian damai, setelah sebelumnya dikepung oleh pasukan Qutaibah, namun mereka berkhianat. Setelah itu, mereka digempur habis-habisan oleh pasukan kaum Muslim di bawah panglima Qutaibah, hingga tunduk dengan paksa (‘anwah) tahun 87 H/706 M. Pengalaman ini mempunyai dampak politik yang luar biasa yang terukir dalam memori sejarah China, apalagi ketika Qutaibah berhasil menaklukkan kota Kashgar, Samarkand hingga berhasil menguasai jalur sutera perdagangan di Asia Tengah yang sangat penting bagi Cina dan dunia.

Sejarah pun akan kembali berulang, rezim predator Cina akan kembali menghadapi sosok Qutaibah kedua di bawah komando Khilafah Islam untuk yang kedua kalinya. Panglima seperti Qutaibah di bawah panji Islam akan membebaskan Muslim Uighur dan mengembalikan kekuatan geopolitik Islam di Asia Tengah, dimana darah, harta dan kehormatan setiap jiwa Muslim akan terlindungi, karena Khilafah adalah negara yang menempatkan nyawa seorang Muslim lebih berharga daripada seisi bumi, seperti sabda Rasulullah Saw :

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Nasa’I dan Tirmidzi).

Khilafah akan menggunakan seluruh perangkat dan sarana, mengerahkan segenap daya upaya, baik politik, ekonomi, dan militer untuk melindungi umat Islam dari penindasan, dan membela darah dan kehormatan karena Islam telah mewajibkannya. Khilafah akan mengerahkan kekuatan militernya secara penuh untuk membela Muslim tanpa memandang lagi dimana mereka berada dan berapapun biayanya. Hal ini karena Khilafah adalah negara yang berprinsip, berdasarkan nilai moral Islam yang luhur yang menempatkan kehormatan jiwa manusia di tempat yang tinggi, yang mewajibkan untuk melindungi darah kaum Muslim, dibandingkan sekedar melakukan tindakan hanya berdasar kepentingan nasional yang egois ataupun karena keuntungan ekonomi, sebagaimana Rasulullaah (Saw) bersabda :

إِنَّمَا الْإِمَامُ ‏‏جُنَّةٌ ‏ ‏يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

‏“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya” (HR. Muslim)

 

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir oleh

Fika Komara

Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir

 

[i] The Diplomat  – China’s New Silk Road and Its Impact on Xinjiang http://ift.tt/1Mat0wa
[ii] Al Jazeera –  Bolstered Silk Road trade could hurt China’s Uighurs http://ift.tt/10Wl52J

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1JzbLDQ
via IFTTT

Pengkhianatan Mesir dan Otoritas Palestina dalam Serangan Israel di Gaza


 Naftali Bennett

Naftali Bennett

Sebagaimana dilansir Middle East Monitor (29/6/2015), Mesir dan Otoritas Palestina (PA) mendorong berlanjutnya serangan Israel di Gaza. Demikian sebagaimana diberitakan oleh koran Yordania Al-Sabeel kemarin mengutip Menteri Pendidikan Israel dan Ketua Partai Naftali Bennett.

Menggambarkan sambutannya itu, Al-Sabeel melaporkan betapa mengejutkan Bennett ketika berbicara kepada TV Israel Channel 2.

Dia mengatakan, Israel harus mengubah cara saat berurusan dengan situasi di Gaza. Dia menyerukan sebuah inisiatif internasional untuk membangun kembali Jalur Gaza dengan imbalan penghentian pengembangan senjata untuk kelompok perlawanan Palestina.

Menteri ekstremis itu mengatakan bahwa Otoritas Palestina dan Mesir tidak tertarik dengan Jalur Gaza. Keduanya menginginkan wilayah itu diserang sepanjang waktu. Mereka juga tidak tertarik jika tentara Israel ada yang mati di sana.

Bennett menambahkan bahwa pilihan untuk tindakan keras terhadap Hamas di Gaza saat ini tidak tersedia. Dia keberatan dengan hal ini dan bersikeras bahwa hal itu harus tetap dalam agenda.

Dia menambahkan bahwa solusi yang baik untuk Jalur Gaza harus diusulkan. Hal ini bisa melalui rekonstruksi fasilitas sipil di Gaza.

Menteri itu mengatakan tidak keberatan dengan gagasan untuk membangun sebuah pelabuhan di Gaza di bawah pengawasan internasional. Dia pun mengatakan usulan tersebut akan dibahas di Dewan Menteri.

Memperhatikan tindakan pejabat institusi Yahudi itu, juga memperhatikan perilaku buruk Mesir dan Otoritas Palestina di atas, nyata sekali sejumlah perkara di antaranya: Pertama, institusi Yahudi di Palestina itu tetap menunjukkan wajahnya yang asli, yakni jahat sekaligus licik. Jahat karena telah puluhan bahkan ratusan kali institusi Yahudi itu menyerang dengan membantai umat Islam dan menghancurkan berbagai fasilitas mereka di Jalur Gaza khususnya dan di wilayah Palestina umumnya. Licik karena mereka menjadikan pembangunan kembali Jalur Gaza—yang notabene merekalah pelaku penghancurannya itu—sebagai bahan negosiasi dengan tujuan untuk melemahkan bahkan menghapuskan perlawanan rakyat Palestina terjadap institusi Yahudi itu.

Kedua, makin jelas dukungan Mesir dan Otoritas Palestina terhadap institusi Yahudi itu. Ini sekaligus menunjukkan makin jelasnya pengkhianatan mereka terhadap Allah SWT, Rasul-Nya dan umat Islam yang selama ini mungkin samar bagi sebagian orang.

Ketiga, makin jelas pula bahwa persoalan Palestina bukan semata-mata pendudukan dan penjajahan institusi Yahudi atas Palestina, tetapi juga karena pengkhianatan para penguasa dan pemimpin Arab, bukan hanya Otoritas Palestina dan Mesir, tetapi juga Yordania, Libanon dan yang lainnya yang nyata-nyata terus membiarkan pendudukan dan penjajahan institusi Yahudi itu atas Bumi Palestina. Padahal banyak umat Islam tertindas, di Palestina, yakni di al-Quds, terdapat pula Masjidil Aqsha yang amat dimuliakan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, yang saat ini tetap berada dalam cengkeraman institudi Yahudi.

Keempat, pengkhianatan para penguasa Arab itu—yang tampak abai terhadap masalah Palestina—itulah di antaranya yang menjadikan institusi Yahudi makin berani secara terus-menerus mengangkangi Palestina.

Kelima, hanya Khilafahlah yang bakal sanggup mengusir bahkan memusnahkan institusi Yahudi di Bumi Palestina, sebagaimana dulu Rasullullah saw.—yang notabene saat itu telah menjadi kepala Negara Islam—mengusir mereka semuanya dari Madinah sebagai konsekuensi atas pengkhianatan mereka. Khilafahlah—dengan syariahnya—yang bakal sanggup menyelesaikan persoalan Palestina secara tuntas, juga berbagai persoalan yang menimpa umat Islam saat ini. [arif]

 

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1dwxiBd
via IFTTT

%d bloggers like this: