Monthly Archives: June 2015

Di Bulan Ramadhan Arab Saudi Memberi Perancis 12 Miliar Dolar, Sementara Anak-anak Yaman Dibunuh dan Mati Kelaparan


wakil putra mahkota SaudiDalam sebuah laporan berita di televisi, tampak seorang ayah tengah berusaha menghibur putri kecilnya di rumah sakit yang sedang berjuang menahan sakit akibat luka bakar yang mengerikan di tangan dan kakinya. Sementara ibunya, dan dua saudara laki-lakinya meninggal dalam peperangan yang berlangsung di Yaman. Sedang rumah sakit di Yaman sedang kekurangan obat-obatan untuk mengobati pasien seperti ini. Menurut laporan, hampir 20 juta orang Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. Pada minggu yang sama, Wakil Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman mengunjungi Perancis untuk menandatangani kontrak pertahanan senilai 12 miliar dolar.

*** *** ***

Bulan Ramadhan adalah saksi kesatuan umat yang mulia ini dalam beribadah kepada Allah SWT. Kaum Muslim di mana-mana tengah melakukan ibadah puasa dan shalat yang sama untuk menggapai ampunan. Kaum Muslim juga disatukan oleh perasaan yang sama terhadap kaum Muslim yang miskin, sehingga mereka dengan murah hati membantunya, sebagaimana Nabi saw paling dermawan di bulan Ramadhan. Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah laporan berita tentang seorang gadis Yaman yang dirundung duka, karena luka bakar parah yang menimpa tubuhnya. Sementara pemerintah Arab Saudi menandatangani kontrak pertahanan dengan Perancis dengan nilai 12 miliar dolar.

Saya berpikir tentang kaum Muslim Rohingya yang melarikan diri dari penganiayaan, kaum miskin di Somalia yang mengharap uluran tangan, dan lainnya yang tengah membutuhkan pengobatan. Saya membayangkan bahwa semua itu hanya mewakili sebagian kecil dari 12 miliar dolar tesebut. Namun di Ramadhan ini, justru pemerintah Arab Saudi memberikan jumlah tersebut pada Perancis. Dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam surat Quraisy, Allah SWT menyatakan bahwa, meskipun kaum Quraisy tinggal di tempat yang tandus, namun mereka memiliki kekayaan dan posisi. Sedang suku-suku mereka melakukan perjalanan ke Yaman dan Syam di musim dingin dan musim panas tanpa khawatir dan takut, sebab mereka merasa sebagai pemilik Baitullah dan Ka’bah yang mulia. Oleh karena itu, mereka harus menyembah Tuhan pemilik rumah ini, yang telah memberi mereka semua berkah tersebut? Allah SWT berfirman: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka´bah).” (TQS. Quraisy [106] : 3).

Mengapa mereka tidak mengikuti Rasulullah saw? Ketika berpikir tentang ayat ini. Saya ingat pemerintah Iran dan Arab Saudi, serta peran keduanya di Yaman, di mana keduanya telah menjadi penyebab penderitaan dan pembunuhan, dan sebagai pelaksana perintah dari negara-negara kolonial. Seperti halnya kaum Quraisy, kedua pemerintah ini berkuasa di bumi yang diberkati dengan minyak dan gas, serta kekayaan lainnya yang sangat besar. Namun kedua negara ini, mengabaikan sunnah Rasulullah saw, dan tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Tuhan pemilik Ka’bah.

Sebaliknya, kedua negara itu justru sibuk menumpahkan darah umat, dan mendukung isu perang antara Sunni dan Syiah. Sementara yang lain menderita di saat mereka mempermainkan tubuh umat yang mulia ini.

Kami memohon kepada Allah SWT semoga memberkati umat Islam dengan kembalinya Khilafah Rasyidah ‘ala minhāji an-nubuwah, serta mengikuti model dan perjalanan hidup nabi. Sehingga umat Islam kembali dipimpin oleh orang yang akan menyatukan kami, dan memerintah kami berdasarkan al-Qur’an di semua aspek kehidupan kami. Karena itu, umat Islam akan mematuhi perintah Allah SWT ketika berfirman: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka´bah).” (TQS. Quraisy [106] : 3). [Taji Mustafa]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 29/06/2015.

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1g5Faf5
via IFTTT

Advertisements

Laporan: Orang Kulit Putih Adalah Ancaman Teror Terbesar di AS


teroris ASOrang kulit putih Amerika adalah ancaman teror terbesar di AS, yang menewaskan lebih banyak orang dalam serangan daripada serangan dari kaum Muslim atau kelompok-kelompok lain dalam 14 tahun terakhir, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh New America Foundation.

Kelompok peneliti memeriksa 26 serangan di wilayah AS yang didefinisikan sebagai teror dan menemukan bahwa 19 dari serangan-serangan itu dilakukan oleh non-Muslim. Semua serangan yang diteliti itu adalah pasca-11/9.

Sejak itu, 48 orang telah tewas oleh ekstrimis yang bukan Muslim, dibandingkan dengan 26 orang yang tewas oleh orang-orang yang mengaku sebagai jihadis. Kelompok-kelompok non-muslim itu termasuk kelompok sayap kanan, organisasi anti-pemerintah dan kelompok supremasi kulit putih.

Pada penembakan di Charleston minggu lalu – setelah muncul laporan adanya pengakuan ideologi supremasi kulit putih dari sang penembaknya – termasuk dalam kasus yang dihitung.

Serangan lainnya, seperti pembantaian di Aurora, Colorado dan Newtown, Connecticut, tidak dimasukkan, karena tampaknya tidak disebabkan oleh ideologi tertentu, sebagai standar yang digunakan oleh New America Foundation untuk memenuhi syarat terorisme.

Informasi ini mungkin akan mengejutkan publik, karena pasca-11/9  trauma telah membuat serangan teror jihadis lebih menonjol di media, tapi para penegak hukum AS menyadari bahaya kelompok ekstremis kulit putih, New York Times melaporkan.

Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di University of North Carolina dan Duke University meminta 382 departemen polisi AS untuk memasukan dalam daftar ancaman teratas dan hasilnya 74 persennya adalah kekerasan oleh kelompok anti-pemerintah, sementara hanya 39 persen yang mengatakan kekerasan yang “terinpirasi oleh Al Qaeda”.

“Lembaga-lembaga penegak hukum di seluruh negeri telah mengatakan kepada kami bahwa ancaman dari ekstremis Muslim tidak sebesar ancaman dari kelompok ekstrimis sayap kanan,” Charles Kurzman, seorang peneliti UNC, mengatakan kepada Times. (independent.co.uk, 24/6/2015)

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1JngMiv
via IFTTT

Pernyataan Sikap Hizbut Tahrir Terhadap Malam Penangkapan dan Pos Pemeriksaan di Jenin Sebagai Protes Terhadap Penangkapan Politis


Kantor Media
Hizbut Tahrir
Palestina

8 Ramadan 1436 H     25/6/2015               No: BN/S 015/195

 

Pernyataan Pers

Pernyataan Sikap Hizbut Tahrir Terhadap Malam Penangkapan dan Pos Pemeriksaan di Jenin Sebagai Protes Terhadap Penangkapan Politis

(Terjemahan)

 

Setelah shalat Ashar, Hizbut Tahrir memberikan pernyataan sikap di depan Masjid Baru di Jenin untuk memprotes penangkapan sewenang-wenang dan pemukulan selama dilakukannyapenangkapan terhadap para anggota Hizbut Tahrir di Jenin. Saudara Alaa Abu Saleh, anggota Kantor Media Hizbut Tahrir di Tanah Yang disucikan Palestina, yang meng atakan bahwa layananpreventif keamanan menahan tiga anggota Hizbut Tahrir malam sebelumnya karena berpartisipasi dalam ajakan un tuk berunjuk rasa, sementara mereka menangkap dua orang lain di pos-pos pemeriksaan yang dipasang di pintu masuk menuju Jenin untuk mencegah parapeserta unjuk rasa mencapai tempat unjuk rasa.

Para peserta mengutuk kebijakan yang membungkam dan serangan yang dilakukan terhadap masyarakat dan mereka memegang spanduk dan plakat yang bertuliskan “Tidak UntukPenangkapan Sewenang- wenang”, “Tidak Untuk Serangan Terhadap Para Pengemban Da’wah”, “Tidak Untuk Kebijakan Membung kam”, “Khilafah Akan Datang”, dan “Milik Allah-lah Segala Kehormatan, dan Rasul-Nya, dan Orang-orang Beriman”.

Pidato yang disampaikan kepada khalayak menekankan bahwa para anggota Hizbut Tahrir telah peduli terhadap umat, dan mereka menawarkan sesuatu yang berharga dan demi kehormatan dan kemuliaan mereka. Dan bahwa mereka tidak melakukan kejahatan atau tindak pidana, sebaliknya mereka mengemban dakwah untuk Allah dengan tulus bagi Deen-Nya; dengan memerintahkan yang ma’ruf, mencegah kemunkaran, dan mengatakan kebenaran dan tidak takut kecuali kepada Allah.

Pidato itu menunjukkan bahwa apa yang telah dilakukan para personil keaman an preventifdengan memukuli dan menyerang para pengemban dakwah Islam, yang merupakan paraanggota Hizbut Tahrir, adalah dosa besar di hadapan Allah, suatu kejahatan yang mereka haruspertanggung jawabkan. Dan menyembunyikan kejahatan yang dilakukan oleh Gubernur dantetap menangguhkan penahanan terhadap Saudara Jawad Abdul Aziz tanpa membawanya ke penuntutan dan tidak membebaskannya, meskipun dia menderita cedera parah, adalah suatukejahatan; tapi layanan keamanan itulah kelompok yang jahat yang harus bertanggung jawab. Dan jika Otoritas Palestina akan melind ungi Gubernur dan melarikan diri dari hukuman dunia, maka dia tidak akan lepas dari hukuman Sang Pemaksa, Sang Penindas atas hamba-hamba-Nya di hari ketika berdirinya saksi-saksi.

Para peserta aksi meneriakkan “Meskipun para penindas bertindak, kebanggaan adalah untuk Deen ini”, “Wahai tiran, wahai tiran, hari kejatuhan Anda telah dekat”, “Wahai penindas, musuh Allah, Khilafah adalah janji Allah” dan “Islam akan datang “.

Alaa Abu Saleh menambahkan bahwa pernyataan sikap ini telah disampaikan di pintu masuk Masjid tanpa adanya intervensi yang kuat dari pasukan keamanan di tempat tersebut.

 

Kantor Media Hizbut Tahrir

di Tanah Yang Diberkahi – Palestina

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1LS6FTb
via IFTTT

Kelompok Anti-Islam Inggris Adakan Unjuk Rasa


Britain FirstBritain First, kelompok sayap kanan yang baru di Inggris, telah berbaris melalui Luton dalam sebuah protes anti-Islam.

Kelompok anti-Islam itu mengklaim protesnya telah didukung oleh Angkatan Bersenjata Inggris.

Dalam video yang sangat membuat panas yang diposting di facebook hari Jumat, Wakil kelompok pemimpin sayap kanan itu, Jayda Fransen mengkaitkan kaum Muslim di Luton dengan kekejaman yang terjadi di seluruh dunia pada hari Jumat dan mendesak warga Inggris untuk tidak pergi ke negara-negara Muslim.

Britain First menjadi terkenal karena mereka melakukan serangan ke masjid-masjid, di mana mereka memfilmkan sendiri tindakan mereka ketika memasuki masjid di seluruh negeri dan membagi-bagikan selebaran yang berisi kebencian. (IslamicNews, 28/6/2015)

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1BT2WEN
via IFTTT

Inilah Rahasia Di Balik Ketidaktegasan Pemerintah terhadap Myanmar


bu iffah-1Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengecam pemerintah negeri-negeri Muslim termasuk Indonesia yang berlindung dibalik politik non intervensi sehingga tidak mampu bersikap tegas dengan memutus semua hubungan dengan rezim bengis Myanmar.

“Kok malah prioritaskan hubungan dagang dengan Myanmar ketimbang lindungi Muslim Rohingya? Ini menegaskan pemerintah lebih prioritaskan melindungi kepentingan ekonominya dibanding melindungi kehidupan dan martabat manusia,” ujar Juru Bicara Muslimah HTI Iffah Ainur Rochmah saat konferensi pers, Jum’at (26/6) di Kantor DPP HTI, Crown Palace, Jakarta.

Menurut Iffah, politik non intervensi merupakan konsekuensi dari penerapan sistem kufur nasionalisme. “Sistem yang membelenggu tersebut membatasi bantuan terhadap saudara sesama Muslim sebatas bantuan kemanusiaan tanpa komitmen untuk melindungi, memberikan suaka dan kehidupan yang bermartabat selayaknya sebagai warga negara bagi mereka yang melarikan diri dari penganiayaan,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Iffah, umat Islam di seluruh dunia adalah umat yang satu (ummatan wahidatan) yang harus bersatu dan tidak terpisah-pisah oleh jarak dan garis batas negara bangsa.

“Karena itu masalah dan penderitaan Muslim Rohingya sesugguhnya adalah masalah seluruh Muslim dan merupakan kewajiban seluruh Muslim untuk melindungi darah dan kehormatan serta memberikan kebutuhan mereka,” ujarnya kemudian mengutip hadits, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Jadi dia seharusnya tidak menindas atau menyerahkannya kepada penindas. Dan siapa pun yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

Jadi, mereka yang kerap dijuluki “Manusia Perahu” tersebut, tegas Iffah, merupakan bagian dari khairu ummah (umat terbaik/kaum Muslimin) yang sedang terombang-ambing di lautan tanpa negara.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 50 guru, dosen, mubalighah, mahasiswa, birokrat dan tokoh masyarakat lainnya, Iffah juga menolak keyakinan bahwa masyarakat internasional akan dapat membantu mengatasi krisis ini.

Dengan tegas Iffah menyatakan ASEAN tidak akan mampu mengakhiri krisis Rohingya karena organisasi ini lebih sering bertindak sebagai alat kekuasaan pemerintah kolonial Barat untuk melanjutkan ambisi ekonomi mereka di kawasan ini. PBB juga terbukti telah gagal untuk melindungi kehidupan kaum Muslimin tertindas di Suriah, Palestina, Afrika Tengah dan tempat lain.

“Oleh karena itu, masyarakat internasional tidak bisa diharapkan untuk menghentikan penganiayaan, pertumpahan darah, dan penderitaan yang mengerikan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar,” ujar Iffah.

Dalam kesempatan tersebut, Iffah menegaskan bahwa penegakan khilafah berdasarkan metode kenabian merupakan satu-satunya solusi yang shahih untuk mengakhiri berbagai penindasan yang dihadapi Rohingya dan Muslim lainnya di seluruh dunia.

Menurutnya, khilafah adalah negara yang mewakili kepentingan sejati dari umat Islam dan Islam karena didasarkan pada hukum Allah SWT.

“Hanya negara khilafah yang akan membuka perbatasannya untuk semua Muslim yang dianiaya; memberikan mereka perlindungan, hak, dan rumah sebagai warga negara yang sama; serta tanpa ragu memobilisasi tentaranya untuk membela dan menyelamatkan orang-orang beriman yang tertindas di mana pun mereka berada,” pungkas Iffah.[] joko prasetyo

from Hizbut Tahrir Indonesia http://ift.tt/1Ju75Ss
via IFTTT

%d bloggers like this: