Monthly Archives: July 2013

Yang Menolak Syariah Islam Justru Mengidap “hipocracy democracy”!


Dalam sebuah pemberitaan terbaru, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan ada banyak kebijakan yang tertuang dalam bentuk peraturan-peraturan daerah (perda) syariah yang mengandung unsur-unsur diskriminatif bahkan mendorong terciptanya kekerasan di wilayah publik.

Haidar pun menyatakan perlu diwaspadai tumbuhnya gerakan Islam Syariat,  yakni faksi yang mengusung semangat anti-nasionalisme, anti-demokrasi, dan menolak konsep negara-bangsa yang secara utopia mencoba menghidupkan kembali isu Negara Islam atas dasar sistem Khilafah Islam.  

 Faksi Islam Syariat ini, menurutnya juga mengidap apa yang disebut sebagai hypocracy in democracy, kemunafikan terhadap demokrasi. Di satu sisi secara tegas menolak demorkasi tetapi menikmati kehidupan di bawah alam demokrasi.

 Untuk membincangkan masalah tersebut, wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo mewawancarai Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya.

 Apakah benar perda syariah mengandung unsur dikriminatif bahkan mendorong kekerasan?

Bukan kali ini saja dilontarkan pernyataan seperti itu di seputar perda-perda yang disebut sebagai perda syariah. Tapi, sama dengan pernyataan sebelum-sebelumnya, pihak-pihak itu tidak pernah bisa membuktikan mana perda yang diskriminatif itu, dan mana pula perda yang mendorong kekerasan.

Juga mana itu perda yang disebut perda syariah, karena faktanya memang tidak ada yang disebut perda syariah.

Lantas?

Itu hanyalah istilah yang dibuat oleh kelompok-kelompok atau orang sekuler di Jakarta. Mereka selalu meributkan perda-perda ini, sementara di daerah, di tempat perda-perda itu ada dan diterapkan orang-orangnya tidak pernah ribut. Mereka malah menikmati adanya perda-perda itu.

Contohnya?

Di Kabupaten Bulukumba, misalnya. Masyarakat di sana senang sekali dengan Perda Anti Miras— itu kalau perda ini yang dianggap sebagai perda syariah— karena berhasil menurunkan kriminalitas di sana hingga 80%.  Juga Perda Zakat berhasil meningkatkan PAD Kabupaten Bulukumba dari semula hanya sekitar Rp 9 miliar menjadi lebih dari Rp 90 miliar.

Jadi sungguh tidak layak seorang Muslim, apalagi tokoh ormas besar, melontarkan pernyataan seperti itu. Yang diperlukan darinya adalah justru seruan untuk penerapan syariah secara kaffah di negeri ini untuk tercapainya kemaslahatan rakyat, bukan justru menimbulkan stigma negatif terhadap semua yang berbau syariah.

Bagaimana dengan tudingan faksi Islam Syariat mengidap hipocracy in democracy, menolak demokrasi tetapi menikmati demokrasi?

Harus diperjelas, siapa faksi atau kelompok yang dimaksud itu. Kalau yang dimaksud adalah Hizbut Tahrir (HT), maka HT memang dengan tegas menolak demokrasi.

Alasannya?

Demokrasi yang mengajarkan prinsip kedaulatan atau hak membuat hukum (menentukan benar – salah, boleh – tidak boleh) di tangan rakyat  itu bertentangan dengan aqidah Islam yang mewajibkan kita untuk meyakini bahwa hak membuat hukum itu ada di tangan Allah SWT semata.

Apa yang salah dengan pendapat ini?

Bukankah kita sebagai Muslim memang harus mendasarkan seluruh pendapat kita pada aqidah Islam?

Kalau HT disebut sebagai termasuk kelompok Islam Syariat, memang ada Islam tanpa Syariat? Islam model apa itu?

Kemudian harus diperjelas juga apa yang dimaksud dengan menikmati demokrasi. Kita semua, rakyat Indonesia tanpa kecuali, termasuk HT dan kelompok Islam lain, memang hidup di negara ini, negara yang menerapkan sistem demokrasi. Tapi itu tidak berarti kita semua menikmati dengan senang sistem busuk ini.

Silakan tanya kepada rakyat, siapa yang senang dengan sistem seperti ini, yang telah membuat makin kokohnya sistem sekularisme dan kapitalisme, yang telah membuat hidup makin susah, harga apa-apa mahal,  yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, korupsi dan kerusakan moral merajalela di mana-mana, sementara intervensi asing makin menjadi-jadi dan bentuk kerusakan lainnya?

Saya sangat yakin, andai disuruh milih antara hidup di bawah sistem demokrasi dengan hidup di bawah sistem Islam, pasti mayoritas rakyat yang di negeri ini akan lebih baik hidup di bawah sistem Islam.

Itu artinya, sistem demokrasi di negeri ini bisa berjalan karena dipaksakan, bukan atas dasar kerelaan. Lalu, secara semena-mena memaksa juga syariat tidak boleh diberlakukan.

Lihatlah, baru satu dua perda yang tampak “bernuansa syariah” saja sudah dikecam kiri kanan. Katanya demokrasi, katanya kedaulatan rakyat, lalu mengapa ketika rakyat menginginkan syariah tidak boleh? Inilah hipocracy democracy yang sesungguhnya. Demokrasi yang hipokrit (munafik, red)!

Pada sisi lain, saya ingin mengatakan, bukan hipocracy democracy, yang lebih mengkhawatirkan adalah hipocracy Muslim. Yaitu, satu sisi ia menikmati diri sebagai seorang Muslim, tapi menolak syariat. Satu sisi menikmati diri sebagai hamba Allah, menikmati semua rizki dan karunia Allah, ketika mati nanti juga minta ampunan dan surganya Allah, tapi menolak kedaulatan Allah. Inilah Muslim hipokrit!

Bagaimana Hizbut Tahrir memposisikan nasionalisme?

Tergantung apa yang dimaksud dengan nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan di situ. Bila yang dimaksud adalah komitmen kepada keutuhan wilayah,  HTI berulang menegaskan penentangannya terhadap gerakan separatisme dan segala upaya yang akan memecah belah wilayah Indonesia.

Menjelang jajak pendapat Timor Timur beberapa tahun lalu  misalnya, HTI menentang keras karena itu akan menjadi jalan bagi Tim Tim lepas. Dan benar saja, akhirnya terbukti Timor Timur setelah jajak pendapat yang penuh rekayasa itu benar-benar lepas dari Indonesia.

Bila nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan artinya adalah pembelaan terhadap kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia, HTI berulang juga dengan lantang menentang sejumlah kebijakan yang jelas-jelas bakal merugikan rakyat Indonesia.

Contohnya?

Seperti protes terhadap pengelolaan SDA yang lebih banyak dilakukan oleh perusahaan asing; atau penolakan terhadap sejumlah UU seperti UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal dan sebagainya yang sarat dengan kepentingan pemilik modal.

Karena itu, salah besar bila menuduh HTI dengan seruan syariah dan khilafahnya itu tidak peduli kepada nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan.

Tapi bila nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan diartikan sebagai kesetiaan kepada sekularisme, maka dengan tegas HTI menolak karena justru sekularisme inilah yang telah terbukti mempurukkan Indonesia seperti sekarang ini. Maka, benar sekali fatwa MUI tahun 2005 yang mengharamkan sekularisme.

Kelompok liberal sering menganggap Hizbut Tahrir sebagai ancaman bagi moderasi, kenapa?

Tergantung apa yang dimaksud dengan moderasi di sini. Kalau yang dimaksud moderasi adalah sikap toleransi, mengedepankan dialog, menghargai pendapat dan keyakinan bahkan agama orang lain, juga sikap non kekerasan, saya tegaskan bahwa HT adalah gerakan yang sangat menghargai pendapat orang lain, selalu mengedepankan dialog dan non kekerasan.

Tapi bila moderasi itu diartikan sebagai sikap menjauh dari Islam yang kaffah, jelas HT menolak keras, karena sebagai Muslim, sesungguhnya tidak ada pilihan lain kecuali ya memang harus menjadi Muslim yang sebenarnya atau Muslim yang kaffah.

Menjauh dari Muslim kaffah itu artinya memberi ruang kepada sekularisme. Masak iya, kita mau jadi Muslim sekuler?

Jadi yang harus kita khawatirkan bukanlah ancaman terhadap moderasi, tapi ancaman riil terhadap negeri ini.

Apa ancaman riil tersebut?

Sekularisme yang makin memurukkan negeri ini dan neo imperialisme atau penjajahan model baru yang dilakukan oleh negara adikuasa.

Tolong jelaskan masing-masing ancaman tersebut…

Semenjak Indonesia merdeka, telah lebih dari 60 tahun negeri ini diatur oleh sistem sekuler, baik bercorak sosialistik di masa orde lama maupun kapitalistik di masa orde baru dan neo liberal di masa reformasi.

Dalam sistem sekuler,  aturan-aturan Islam atau syariah memang tidak pernah secara sengaja selalu digunakan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja, misalnya pada saat shalat, puasa, zakat, haji, kelahiran, pernikahan dan kematian.

Sementara  dalam urusan sosial kemasyarakatan, agama (Islam) ditinggalkan. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk  tatanan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik dan machiavellistik, budaya hedonistik yang amoralistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta sistem  pendidikan yang materialistik.

Maka, bukan kebaikan yang diperoleh oleh rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim itu, melainkan berbagai problem berkepanjangan yang  datang secara bertubi-tubi.

Lihatlah, meski Indonesia adalah negeri yang amat kaya dan sudah lebih dari 60 tahun merdeka, tapi sekarang ada lebih dari 100 juta orang terpaksa hidup dalam kemiskinan.

Puluhan juta angkatan kerja menganggur.. Sementara,  jutaan anak putus sekolah. Jutaan lagi mengalami malnutrisi. Hidup semakin tidak mudah dijalani, sekalipun untuk sekadar mencari sesuap nasi. Beban kehidupan bertambah berat seiring dengan kenaikan harga-harga yang terus menerus terjadi.

Ajaib, ini negeri penghasil minyak, tapi untuk mendapatkan minyak tanah rakyat harus mengantri berjam-jam.

Bagi mereka yang lemah iman, berbagai kesulitan yang dihadapi itu dengan mudah mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Berbagai bentuk kriminalitas mulai dari pencopetan, perampokan maupun pencurian dengan pemberatan serta  pembunuhan dan tindak asusila, budaya permisif, pornografi dengan dalih kebutuhan ekonomi  terasa  semakin meningkat tajam.

Tak mengherankan bila oleh AFP, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling liberal setelah Rusia. Sepanjang krisis,  kriminalitas dilaporkan meningkat 1000%, angka perceraian meningkat 400%, sementara penghuni rumah sakit jiwa meningkat 300%. Wajar bila lantas orang bertanya, sudah 60 tahun merdeka, hidup koq makin susah.

Bagaimana dengan ancaman neo imperialisme?

Indonesia memang telah merdeka. Tapi penjajahan ternyata tidaklah berakhir begitu saja. Nafsu negara adikuasa untuk tetap melanggengkan dominasi mereka atas dunia Islam, termasuk terhadap Indonesia, demi kepentingan ekonomi dan politik mereka tetap bergelora.

Neo imperialisme dilakukan untuk mengontrol politik pemerintahan dan menghisap sumberdaya ekonomi negara lain. Melalui instrumen utang dan kebijakan global,  lembaga-lembaga dunia seperti IMF, World Bank dan WTO dibuat tidak untuk sungguh-sungguh membantu negara berkembang, tapi sebagai cara untuk melegitimasi langkah-langkah imperialistik mereka.

Akibatnya, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia tidak lagi merdeka secara politik. Penentuan pejabat misalnya, khususnya di bidang ekonomi, harus memperturutkan apa  mau mereka. Wajar bila kemudian para pejabat itu bekerja tidak sepenuhnya untuk rakyat, tapi untuk kepentingan “tuan-tuan’ mereka.

Demi memenuhi kemauan “tuan-tuan” itu, tidak segan mereka merancang aturan (lihatlah UU Kelistrikan yang telah dianulir oleh Mahakamah Konstitusi, juga UU Migas dan UU Penamanan Modal yang penuh dengan kontroversi) dan membuat kebijakan yang merugikan negara.

Lihatlah penyerahan blok kaya minyak Cepu kepada Exxon Mobil, juga pembiaran terhadap Exxon yang terus mengangkangi 80 triliun kaki kubik gas di Natuna meski sudah 25 tahun tidak diproduksi dan kontrak sudah berakhir Januari 2007 lalu.

Tak pelak lagi, rakyatlah yang akhirnya menjadi korban, seperti yang kita saksikan sekarang.

Kenapa Hizbut Tahrir percaya khilafah adalah sistem yang akan memberikan kebaikan bagi Indonesia? 

Karena itu, dalam konteks Indonesia, ide khilafah yang substansinya adalah syariah dan ukhuwah, sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan terhadap penjajahan baru (neo-imperialisme) yang nyata-nyata sekarang tengah mencengkeram negeri ini yang dilakukan oleh negara adikuasa.

Hanya melalui kekuatan global, penjajahan global bisa dihadapi secara sepadan. Sementara, syariah nantinya akan menggantikan sekularisme yang telah terbukti memurukkan negeri ini.

Karena itu pula, perjuangan HTI dengan segala bentuk aktifitasnya itu, harus dibaca sebagai bentuk kepedulian yang amat nyata dari HTI dalam berusaha mewujudkan  Indonesia lebih baik di masa datang, termasuk guna meraih kemerdekaan hakiki negeri ini atas berbagai bentuk penjajahan yang ada.

Bisakah dikatakan bahwa semua itu adalah wujud dari kecintaan HTI terhadap negeri ini?

Betul sekali. Dakwah HTI dilakukan tidak lain adalah demi Indonesia ke depan yang lebih baik. Bila hancurnya khilafah disebut sebagai ummul jaraaim, maka diyakini bahwa tegaknya kembali syariah dan khilafah akan menjadi pangkal segala kebaikan, kerahmatan dan kemashlahatan, termasuk bagi Indonesia. (Mediaumat.com, 21/7)

Advertisements

Soal Jawab : Apa yang Membuat Amerika Berbalik Menentang Mursi?


Apa yang Membuat Amerika Berbalik Menentang Mursi?

Pertanyaan:

Amerika terus saja ragu-ragu dalam mensifati apa yang terjadi di Mesir dengan kudeta. Akan tetapi Amerika mendorong peta jalan yang diumumkan oleh pemerintah interim (pemerintah sementara) yang baru. Juru bicara departemen luar negeri Amerika mengatakan: “Perancangan peta jalan (road map) oleh pemerintahan interim untuk tahapan ke depan merupakan perkara yang didorong” (seperti yang dikutip oleh Aljazeera.net, 11/7/2013). Jane Psaki, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, pada 12 Juli 2013 menyatakan, pemerintahan presiden Muhammad Mursi “tidak demokratis”, seperti yang tercantum dalam (al-yawm as-sâbi’ al-Mishriyah). Juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, menyatakan kepada para wartawan kemarin tanggal 11/7/2013, seperti dikutip al-Jazeera.net: “Kami menilai bagaimana kebijakan kekuasaan dan bagaimana berinteraksi dengan situasi sekarang” dalam suatu isyarat terhadap apa yang diumumkan oleh menteri pertahanan dan panglima militer di Mesir, Abdul Fattah as-Sisi, pada 3/7/2013 tentang pencopotan Muhamamd Mursi dan penunjukan Adly Mansour, Ketua Mahkamah Konstitusi, sebagai presiden interim … Lalu apa yang membuat Amerika berbalik menentang Mursi, padahal Amerika dahulu telah mendukung Mursi sejak awal pemerintahannya? Kenapa Amerika tidak menyebut apa yang terjadi itu sebagai Kudeta, dan terus saja “menilai” hingga hari ini! Dan apa yang bisa dihasilkan dari semua itu?

 

Jawaban:

Sesungguhnya jawaban pertanyaan itu akan jelas dengan memaparkan point-point berikut:

  1. Ketika berlangsung pemilu presiden tahun lalu pada putaran pertama 23-24 Mei 2012, Mursi belum bisa menang dan suara terdistribusi pada sejumlah calon. Setelah dilangsungkan putaran kedua pada 16-17 Juni 2012, diumumkanlah kemenangan Mursi dengan mendapat suara 51,73 %, sekitar 13 juta suara, berbanding dengan Ahmad Shafiq yang mendapat 48,27% atau sekitar 12 juta suara. Itu artinya ada hampir separo pemberi suara tidak menginginkan Mursi sebagai presiden dan mereka lebih mengutamakan salah seorang tokoh rezim sebelumnya yang memberontak kepada rezim. Penting disebutkan bahwa pengumuman hasil pemilu presiden mengalami keterlambatan. Hal itu menunjukkan adanya sesuatu di belakang koalisi, lalu diputuskanlah kemenangan untuk Mursi atas Ahmad Shafiq, setelah Muhammad Mursi memberikan penegasan-penegasan kepada Amerika bahwa ia akan berpegang dengan perjanjian-perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan yang dibuat oleh rezim sebelumnya, terutama perjanjian Camp David. Ini bagi Amerika merupakan masalah penting, yang ditunjukkan oleh pernyataan-pernyataan Amerika dahulu dan belakangan. Duta besar Amerika menyatakan kepada surat kabar ar-Ra’yu al-Kuwaitiyah yang dipublikasikan pada 30/11/2012: “Amerika Serikat berpegang kepada perjanjian damai antara Mesir dan Israel dan menganggapnya sebagai hal penting untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan dan kemakmuran di posisi pertama untuk rakyat Mesir dan Israel. Sebagaimana kami menganggap perjanjian ini merupakan asas adanya rekayasa perdamaian dan stabilitas di kawasan seluruhnya dan tentu saja kami senang bahwa pemerintah Mesir mengungkapkan berulang kali bahwa akan menghormati semua komitmen Mesir secara internasional”. Ia menambahkan: “Kami mendorong Mesir dan Israel untuk melanjutkan diskusi secara langsung seputar situasi keamanan di Sinai dan isu-isu lainnya yang menjadi perhatian bersama. Kami menegaskan bahwa keamanan di Sinai merupakan hal paling penting sebelum yang lainnya”. Dalam hal ini ada penunjukkan bahwa kampanye rezim Mesir sejak berbulan-bulan lalu melawan gerakan-gerakan bersenjata yang mengatakan berjihad melawan musuh itu yang berada di belakangnya, yakni di belakang kampanye itu, adalah Amerika dan entitas Yahudi
  2. Karena itu, Amerika mendukung dan bekerja untuk menjaga Mursi di atas kursinya. Diantara yang pertama direalisasikan untuk kepentingan Amerika dan keamanan Yahudi adalah apa yang dia lakukan untuk merealisasi gencatan senjata antara entitas Yahudi dan pemerintahan Hamas di Gaza. Gencatan senjata itu benar-benar terjadi sampai pada tingkat Hamas menempatkan beberapa unsurnya di pemisah antara Gaza dan entitas Yahudi untuk menghalangi pelanggaran atau penembakan ke arah Yahudi! Waktu itu Amerika memuji apa yang dilakukan Mursi dan implementasi politiknya berkaitan dengan masalah Gaza… Demikian juga Amerika mendukung Mursi pada insiden resolusi konstitusional berkaitan dengan perlindungannya dari peradilan. Pada saat itu juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Victoria Nuland membela presiden Mesir dengan mengatakan: “Presiden masuk dalam diskusi dengan kekuasaan yudikatif dan para pemangku kepentingan lainnya dan saya yakin hingga sekarang kita tidak tahu apa yang akan dihasilkan dari hal itu, akan tetapi sikapnya pada situasi di sini betul-betul jauh dari sikap orang yang memaksakan pendapatnya dan mengatakan jalanku atau tidak sedikit pun” (kantor berita ash-Sharq al-Awsath, 27/11/2012). Artinya Nuland menafikan perkataan-perkataan para pemrotes yang mensifati presiden Mursi sebagai diktator atau Fir’aun Mesir baru dan Nuland membela Mursi dan keputusan-keputusan yang dibuatnya … Amerika juga mendukung Mursi dalam memutuskan kepemimpinan di negeri. Ia mencopot beberapa komandan militer, terutama menteri pertahanan dan panglima militer, Husain Thanthawi dan kepala staf Sami Annan, di mana Mursi mengeluarkan resolusi konstitusional berkaitan dengan hal itu. Keputusan itu tidak mendapatkan penentangan yang besar … Kemudian Amerika juga mendukung Mursi dalam masalah konstitusi. Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland, menyebutkan bahwa “Mrs Clinton dalam kunjungannya ke Kaero dan bertemu presiden Mursi, ia berbicara tentang pentingnya dikeluarkan konstitusi yang melindungi seluruh hak orang Mesir” (Ash-Sharq al-Awsath, 27/11/2012). Pengaruh politik Amerika jelas terhadap pemerintah Mursi dan oposisinya … Begitulah, berlangsung persetujuan konstitusi dengan persetujuan Amerika. Dan itu adalah naskah “revisi” dari konstitusi 1971 milik rezim sebelumnya setelah dilakukan referendum yang diikuti oleh 32,9%, yaitu sepertiga orang yang memiliki hak suara, dan diboikot oleh dua pertiga lainnya. Hasil referendum itu, konstitusi disetujui dengan mendapat 63,8% dari sepertiga pemilik suara yang berpartisipasi! Jadi mayoritas masyarakat tidak rela dengan konstitusi tersebut dan tidak pula rela terhadap presiden Mursi dan berbagai keputusannya.
  3. Amerika telah berusaha menenangkan situasi dan meyakinkan masyarakat tentang presiden, berbagai keputusannya, dan konstitusi, sehingga ada stabilitas dalam pemerintahan Mesir yang bisa menjaga kelangsungan negeri di tangan Amerika pasca revolusi. Meski demikian ternyata tidak terwujud stabilitas yang didengungkan oleh Mursi dan Ikhwan Muslimin sebagai partainya presiden dan partai terbesar yang terorganisir sejak pembubaran Partai Nasional. Dahulu diperkirakan mereka bisa bekerja menstabilkan situasi seperti yang dilakukan Partai Nasional bersama presiden terguling (Hosni Mobarak) selama 30 tahun. Amerika mementingkan agar Mesir menjadi pusat stabilitas bagi pengaruh Amerika. Stabilitas yang dimaksudkan di sini bukan demi orang Mesir akan tetapi agar Amerika bisa menjadikan Mesir sebagai titik tolak yang aman bagi pengaruhnya dan rencana-rencananya. Hanya saja masalahnya berjalan tanpa adanya stabilitas … Hal yang memperburuk situasi adalah kebingungan kepresidenan dalam masalah pengambilan keputusan-keputusan dan berikutnya terjadi penarikan diri dari keputusan-keputusan akibat di bawah tekanan. Demikian juga presiden mengambil keputusan-keputusan sendiri tanpa bermusyawarah dengan orang-orang yang berkoalisi dengannya dan tanpa berupaya untuk meyakinkan mereka. Juga tanpa melakukan upaya meraba denyut jalanan dan penyiapan opini umum sebelum mengambil suatu keputusan. Dan aksi-aksi kekacauan dan upaya melakukan revolusi terhadap presiden selama satu tahun pemerintahannya terus terjadi.

Kemudian masalah menjadi kacau dalam pidatonya yang panjang pada 26/6/2013. Dr. Mursi memperlihatkan diri berada dalam kondisi genting dan ia mengakui telah melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak ia tentukan apa kesalahan itu. Akan tetapi ia mengisyaratkan kepada deklarasi konstitusional pada 22/11/2012 yang memicu masyarakat menentangnya dan mereka berani menyerukan untuk menggulingkannya. Dalam pidato terakhirnya, pada 2/7/2013, Muhammad Mursi mengulangi ucapannya, bahwa ia melakukan kesalahan yang terjadi darinya tanpa sengaja untuk melakukan kelalaian dan bahwa ia siap untuk memperbaiki semua itu. Hal itu membisikkan bahwa dia menerima solusi jalan tengah apapun. Hal itu terjadi setelah ancaman militer kepadanya yang memberikan tenggat 48 jam. Maknanya adalah bahwa telah diputuskan masalah pelengserannya oleh militer dan pihak yang ada di belakang militer, yakni oleh Amerika. Perlu diketahui bahwa Mursi dahulu didukung oleh Amerika dalam mengambil keputusan-keputusan itu. Akan tetapi ketika tampak hasil-hasilnya berlawanan, maka Amerika meninggalkannya dan membiarkannya jatuh, bahkan berkonspirasi melawannya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Amerika terhadap setiap anteknya yang tidak mengambil pelajaran!

  1. Begitulah, kita menyaksikan Amerika meninggalkan Mursi dan mengecamnya atas keputusan-keputusannya. Kanal televisi CNN Amerika pada 2/7/2013 mengutip pejabat senior di pemerintah Amerika yang mengatakan bahwa “Duta Besar Amerika untuk Mesir, Anne Patterson, dan pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa tuntutan yang diserukan orang-orang Mesir dalam protes-protesnya dalam batas yang besar bersesuaian dengan reformasi-reformasi yang dituntut Washington dan sekutunya sejak beberapa minggu lalu.” Hal itu ditegaskan oleh keterangan Gedung Putih pada 2/7/2013 yang dikutip oleh Reuters: “Presiden Obama mendorong presiden Mursi agar mengambil langkah-langkah untuk menjelaskan bawa ia memenuhi tuntutan-tuntutan para demontsran”. Obama menegaskan bahwa “Krisis sekarang hanya bisa diselesaikan melalui aktifitas politik”. Itu artinya Amerika meninggalkan Mursi dan mencari aktifitas politik baru. Di dalam keterangan itu tidak dinyatakan bahwa Obama mendukung presiden Mesir terpilih akan tetapi menuntutnya untuk memenuhi tuntutan-tuntutan demonstran yang menuntut lengsernya presiden! Ketika terjadi kudeta, diumumkan adanya pertemuan presiden Amerika, Obama, dengan penasehat seniornya di Gedung Putih terkait apa yang terjadi di Mesir. Setelah itu Obama mengatakan: “Angkatan bersenjata Mesir harus bergerak cepat dan secara bertanggungjawab untuk mengembalikan kekuasaan secara penuh kepada pemerintahan sipil secepat mungkin” (Reuters, 3/7/2013). Obama tidak mengecam kudeta, bahkan ia tidak menyebutnya kudeta militer. Ia juga tidak menuntut kembalinya Mursi setelah dilengserkan dan tidak menentang vonis yang dikeluarkan atas perdana menteri Mursi berupa vonis penjara satu tahun dan dicopot dari jabatannya? Akan tetapi ia menuntut agar kekuasaan dikembalikan kepada pemerintahan sipil, yakni pemerintahan lain, bukan pemerintahan yang ada sekarang. Hal itu menunjukkan bahwa Amerika setuju terhadap kudeta dan pelengseran Mursi beserta pemerintahannya. Bahkan pemerintah Amerika secara gamblang mengatakan: “Mursi tidak mendengar suara-suara rakyat atau memenuhinya” (Reuters, 3/7/2013). Hal itu sama persis dengan yang dikatakan oleh panglima militer Mesir bahwa “Presiden Muhammad Mursi tidak memenuhi tuntutan rakyat”. Sudah diketahui bawa komando militer Mesir taat di tangan Amerika. Mayoritas bantuan Amerika yang mencapai sekitar 1,5 miliar dolar pertahun diberikan kepada militer.
  2. Mursi dan Ikhawan al-Muslimin tidak memahami masalah-masalah ini. Akan tetapi Dr. Mursi menganggap mendapat dukungan Amerika setelah dia setuju mengikuti politik Amerika dan menjaga kepentingan-kepentingan Amerika dan berbagai perjanjian yang dibuat oleh rezim republik Mesir, khususnya perjanjian Camp David. Maka Mursi mencopot komando militer lama dan menggantinya dengan yang lain di militer dan menjadikan mereka setuju dengan Mursi. Maka dia berimajinasi bahwa Amerika tidak akan meninggalkannya. Dia yakin Amerika ingin mengantarkan mereka yang disebut islamis moderat atau orang-orang jalan tengah ke tampuk pemerintahan dan terus mendukungnya seperti yang terjadi di Turki. Dia tidak paham bahwa Amerika bisa saja meninggalkan agennya yang manapun jika telah usang atau habis perannya; dan jika agennya itu tidak bisa merealiasi stabilitas rezim pemerintahan di negerinya. Amerika bisa saja mendatangkan orang lain untuk menjaga pengaruhnya seperti yang terjadi pada pendahulunya Hosni Mobarak yang dahulu merupakan orang yang paling dipercaya Amerika dan dia telah menyiapkan anaknya Gamal untuk menjadi pewarisnya. Ketika gerakan rakyat mengejutkan Amerika dan Amerika mendapati Mobarak sangat lemah untuk bisa menyelesaikan gerakan-gerakan itu dan mengembalikan stabilitas agar Mesir menjadi habitat yang pas untuk kelangsungan realisasi kepentingan-kepentingan Amerika; Amerika pun mencampakkan Mobarak, mendompleng gerakan rakyat dan mendatangkan Mursi … Hal yang sama kembali terulang terhadap Mursi. Ketika Amerika mendapati Mursi tidak mampu merealisasi stabilitas untuk kelangsungan kepentingan-kepentingan Amerika tetap aman dan pengaruhnya terus berlanjut tanpa ada kekacauan, maka Amerika mencampakkan Mursi… Hal itu bukan terjadi sesaat, akan tetapi sudah tampak sejak beberapa waktu. Situs “Harakah Mishra al-Madaniyah” yang merupakan laman sekuler, dua bulan lalu pada 22/4/2013, telah mengutip di bawah judul syarat-syarat Amerika untuk menyetujui intervensi militer dalam bentuk yang tidak tampak sebagai kudeta militer! Situs itu menyebutkan bahwa “Seseorang yang hingga sekarang tidak disebutkan namanya, telah mengunjungi Amerika Serikat beberapa hari lalu dan kembali setelah melakukan berbagai pertemuan dan kunjungan luas dengan para pengambil kebijakan di pemerintah Amerika Serikat, Pentagon dan Keamanan Nasional; di mana di dalamnya didiskusikan sikap Amerika terhadap pemerintahan Ikhwan”. Situs tersebut menyebutkan bahwa John Kerry yang menghadiri pertemuan itu membicarakan peran penting militer Mesir dalam mengontrol kejadian detik-detik turunnya rakyat ke Tahrir Square dan kembali tanpa meletus perang sipil di antara berbagai kelompok. Kemudian Kerry menambahkan: “bahwa dia terkejut dengan lemahnya kemampuan Ikhwan. Pembicaraannya kacau dan tidak memberi faedah apapun. Ia menegaskan bahwa ia percaya, pada waktu yang tepat milter akan melakukan perannya. Orang tersebut menyebutkan: bahwa pembicaraan berlangsung seputar pengganti dari pemerintahan Ikhwan dan posisi militer terhadap pengaturan urusan transisi mendatang. Situs itu mengutip salah seorang pengambil kebijakan di Pentagon yang juga anggota Institute Brookings Amerika yang ikut hadir dalam pertemuan itu mengatakan: “Sesungguhnya mereka sampai pada hingga seandainya Mursi yakin bahwa ia wajib lengser atau akan dilengserkan suka atau tidak, maka para pendukung Mursi tidak akan menerima. Di sini tiba peran orang-orang Mesir, sekali lagi bahwa mereka harus bergerak dalam jumlah besar untuk mendukung militer dan menampakkan tuntutan lengsernya Mursi”. Ucapan itu dilansir pada 22/4/2013, artinya dua bulan lebih sebelum terjadinya kudeta. Jelas dari situ bahwa Amerika telah mengatur kudeta sejak hari itu dan ingin memastikan perkara dalam bentuk itu. Kepastian akhir masalah itu terjadi pada 3 Juli 2013 dan Amerika tidak mau mensifatinya sebagai kudeta. Akan tetapi Amerika hanya mengeluarkan pernyataan remang-remang kemudian terderivasi di situ sampai pada bahwa Amerika “menilai” situasi dan terus “menilai”. Juga bahwa Mursi “tidak demokratis” dan perumusan peta jalan oleh pemerintahan interim merupakan “perkara yang didorong” seperti yang ada di dalam pertanyaan …
  3. Para pendukung presiden Mursi turun ke Tahrir Square untuk melakukan protes. Mereka terus melakukan demonstrasi dan makin meningkatkan kemasiffannya dan cakupannya serta merekrut masyarakat umum. Ini sudah cukup untuk mempermalukan administrasi militer dan Amerika, maka mereka memutuskan untuk menanggapi gerakan Ikhwan. Apalagi di tangan para pendukung Mursi ada data-data menguntungkan, yaitu bahwa presiden telah dipilih oleh rakyat, diakui oleh Mahkamah Konstitusi, lembaga-lembaga militer, dan lembaga-lembaga internasional; diakui Amerika dan seluruh negara. Di sisi lain presiden tidak melakukan hal-hal yang layak untuk dilengserkan menurut penilaian mereka… Sampai pada, keputusan melalui pemilu yang diakui bersih, akan tetapi dia digulingkan dengan kekuatan militer. Ini memberi mereka kekuatan dan legalitas dalam aksi-aksinya dan pihak-pihak lain pun berpihak kepada mereka. Mereka yang mendukung kudeta dan pencopotan presiden berada dalam situasi sulit dari aspek ini, di mana mereka menolak pemerintahan dan intervensi militer dan berkeras terhadap pemilu. Tetapi pada saat yang sama mereka mendukung perubahan melalui militer! Karena itu, Ikhwan al-Muslimin mampu menjatuhkan kudeta dan kembali ke pemerintahan atau minimal memiliki bagian besar dan berpengaruh dalam situasi baru, khsusnya jika mereka membangkitkan emosi … Adapun para pendukung presiden menerima dialog dan perundingan dan konsesi … maka mereka akan merugi dan menyesal ketika penyesalan itu sudah terlambat dan upaya mereka akan menjadi tersia-siakan dalam koridor politik dan ketidakpahaman atas jalannya politik!
  4. Kami tutup jawaban ini dengan hakikat faktual, yaitu bahwa siapa saja yang menyenangkan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia dan perkaranya akan kacau dan memperburuk hubungannya dengan manusia. Ini merupakan fenomena yang bisa diindera. Mursi dan Ikhwan telah berusaha menyenangkan Amerika dan menyetujui rencana-rencana Amerika dan menyetujui perjanjian Camp David yang menyia-nyiakan Palestina, melemahkan Sinai dan menyetujui entitas Yahudi pencaplok Palestina dan mengakui entitas Yahudi itu …Mursi meninggalkan banyak syiar-syiarnya. Ia mengumumkan persetujuannya terhadap sistem republik dan pemerintahan sekuler sipil demokratis. Dia bersumpah atas hal itu ketika dinobatkan sebagai presiden. Ia menjadikan Islam dan pemerintahan Islam di belakang punggungnya. Semua itu untuk menyenangkan Amerika agar ia tetap berada di kursi yang doyong. Maka pada akhrinya ia berhenti pada kerugian dunia dan akhirat, kecuali ia bertaubat dan memperbaiki perkaranya. Benarlah Rasulullah saw yang bersabda:

« مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَّلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مَؤْنَةَ النَّاسِ»

Siapa saja yang menyenangkan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah serahkan dia kepada manusia, dan siapa saja yang membuat marah manusia dengan keridhaan Allah maka Allah mencukupkannya dari bantuan manusia (HR at-Tirmidzi)

 

  1. Terakhir, kami mengingatkan bahwa kami telah menyampaikan nasehat kepada Dr Mursi sebanyak dua kali dalam dua leaflet kami: pertama pada 25 Juni 2012 dan kedua pada 13 Agustus 2012. Pada leaflet pertama kami katakan:

“ … nasehat tulus, karena Allah, kami sampaikan kepada presiden baru di Mesir: bertakwalah Anda kepada Allah dan kembali dari menyerukan negara sipil demokratis yang sekuler secara pemikiran, manhaj dan keinginan. Kembali kepada kebenaran itu banyak keutamannya. Hal itu supaya Anda tidak merugi dunia semuanya, setelah Anda merugi sebagian besarnya di mana Dewan Militer memangkas sayap-sayap Anda dan mengurangi wewenang Anda … dan supaya Anda tidak merugi Akhirat, dengan Anda menyenangkan Amerika dan Barat dengan pernyataan negara sipil demokratis, dan membuat murka Rabbnya Amerika dan Barat dengan duduk dari menegakkan khilafah dan menerapkan syariah Allah … Tidak diragukan bahwa Anda membawa hadits Rasulullah saw:

« مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَّلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مَؤْنَةَ النَّاسِ»

Siapa saja yang menyenangkan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah serahkan dia kepada manusia, dan siapa saja yang membuat marah manusia dengan keridhaan Allah maka Allah mencukupkannya dari bantuan manusia (HR at-Tirmidzi dan Abu Nu’aim di al-Hilyah dari Aisyah)

 

Sungguh ini adalah nasehat tulus karena Allah SWT. Kami tidak menginginkan dari Anda balasan dan terima kasih, kecuali pencegahan dari kesombongan kaum kafir dan antek-antek mereka dan semua musuh Islam, ketika mereka tertawa lebar sementara mereka mendengar bahwa rencana-rencananya pada negara sipil demokratis telah menjadi seruan kaum Muslimin, al-Ikhwan al-Muslimun, dan sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”

Dan di leaflet yang kedua kami katakan: “kami tutup keterangan ini dengan mengulangi nasehat kepada presiden Mesir, Muhammad Mursi, hingga meski ia tidak mengambil nasehat pertama kami … Kami tidak akan berputus asa memberikan nasehat kepada setiap muslim, khususnya jika ia memegang pemerintahan. Kami susul nasehat pertama kami dengan nasehat berikutnya seraya kami katakan: “sesungguhnya meski tangan-tangan Amerika terulur kepada panggung politik yang lama dan baru, namun memutusnya adalah mungkin dan mudah. Perbaikilah kesalahan dengan sekali saja menerima kebaikan, dari pada terus melanjutkan kesalahan yang diterima berkali-kali. Sungguh, tangan-tangan Amerika tidak bermanfaat untuk diberi kasih sayang dan kedekatan … akan tetap yang layak tangan-tangan itu diputus dan diamputasi. Jika tidak, maka penyelasan datang terlambat ketika kesempatan itu sudah lewat! Dan Kinanah Allah di bumi-Nya adalah memiliki kekuatan. Pendahulunya dalam hal itu sangat terkenal dan banyak. Siapa yang benar-benar bersama Allah maka ia pasti menang. Peringatan Zat yang Maha Bijaksana mengatakan itu. Presiden Mesir telah mengulang-ulang dalam pidato terakhirnya:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (TQS Yusuf [12]: 21)

 

Benar, Maha Benar Allah.

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (TQS an-Nisa’ [4]: 87)

 

Ingatlah, bukankah kami telah menyampaikan. Ya Allah saksikanlah … Ingatlah, bukankah kami telah menyampaikan. Ya Allah saksikanlah … Ingatlah, bukankah kami telah menyampaikan. Ya Allah saksikanlah … . Selesai.

 

03 Ramadhan 1434

12 Juli 2013

Sumber : http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_27237

%d bloggers like this: