Monthly Archives: April 2013

Pemerintah Sri Langka Dukung Gerakan Anti Islam


Washingtonpost.com (9/4), melaporkan meningkatnya pidato penuh kebencian dan serangan terhadap kaum Muslim di negara pulau itu dan memperingatkan bahwa sentimen tersebut jangan dibiarkan terus memburuk.
Pidato penuh kebendian, fitnah dan bahkan serangan terhadap perusahaan-perusahaan milik kaum Muslim dan tempat ibadah mereka oleh kelompok nasionalis Sinhala-Budha telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir, dan kelambanan pemerintah dan polisi telah mendorong tuduhan bahwa pemerintah mendukung gerakan itu, suatu hal yang mereka sangkal.

Sebuah resolusi yang disponsori AS di Sri Lanka pada Dewan HAM PBB bulan lalu juga menyatakan keprihatinannya atas diskriminasi agama.

Kelompok-kelompok yang dipimpin oleh para biksu Budha telah menyebarkan tuduhan bahwa umat Islam mendominasi bisnis dan mencoba mengambil alih negara dengan meningkatnya tingkat kelahiran mereka dan secara diam-diam mensterilkan penduduk Sinhala-Budha. Kaum Muslim merupakan 9 % populasi Sri Lanka, sementara kaum Sinhala-Budha hampir merupakan 75 % dari 20 juta penduduk negara itu.

Sebuah kelompok relawan Muslim yang tidak ingin disebut namanya karena takut akan tindakan pembalasan telah mendokumentasikan 33 kejadian sejak tahun 2011 termasuk serangan terhadap tempat-tempat ibadah.

Sison juga menyatakan keprihatinannya atas ancaman lanjutan dan serangan terhadap media lokal pada hampir empat tahun setelah berakhirnya perang saudara dan ketidakmampuan pemerintah untuk menyelesaikan berbagai peristiwa pembunuhan, penculikan dan penyerangan terhadap para wartawan.

“Saya tahu bahwa ruangan ini penuh dengan wartawan yang sadar bahwa serangan terhadap media terus terjadi sampai hari ini, dan bahwa pelakunya jarang ditangkap. Atau, jika ditangkap, mereka hampir tidak pernah dihukum,” katanya.

Menurut Amnesti Internasional, sedikitnya 14 wartawan dan staf media telah dibunuh oleh yang dicurigai sebagai paramiliter pemerintah dan para pemberontak sejak awal tahun 2006. Yang lainnya telah ditahan, disiksa atau telah hilang sementara 20 wartawan lainnya telah meninggalkan negara itu karena diancam untuk dibunuh, katanya.

Perang saudara yang dilancarkan oleh pemberontak Macan Tamil untuk menciptakan sebuah negara merdeka berakhir pada tahun 2009 setelah pasukan pemerintah mengalahkan kelompok pemberontak itu.

Pekan lalu, sekelompok pria bertopeng bersenjatakan pentungan menyerang para pekerja kantor surat kabar Uthayan di bekas zona perang di negara itu. Surat kabar yang mendukung pemerintahan otonom bagi etnis minoritas Tamil sering menjadi sasaran serangan selama perang saudara itu. (rz)

Advertisements

Bentrokan Antara Rohingya-Budha di Indonesia Disebabkan Pemerkosaan Terhadap Tiga Wanita Muslim


Suasana Rumah detensi Imigrasi Medan setelah terjadi bentrok antara warga Rohingya dan Myanmar (foto: Kompas)

Seperti diberitakan http://www.ibtimes.co.uk, suatu kerusuhan antara nelayan Myanmar dan Muslim Rohingya pecah di sebuah pusat penahanan di Sumatera, Indonesia, yang dipicu oleh pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap tiga wanita Muslim Rohingya, menurut sebuah penyelidikan baru oleh polisi.

Kekerasan itu meletus di pusat Penahanan Belawan di Sumatera Utara di mana 117 pengungsi Muslim Rohingya dan 11 orang Buddha dituduh melakukan penangkapan ikan secara illegal sehinga ditahan di tempat yang sama. Kerusuhan itu menyebabkan 8 orang Budha tewas dan 15 Muslim Rohingya terluka.

Kejadian itu awalnya disebabkan oleh perselisihan antara seorang ulama Rohingya dengan seorang nelayan Budha Myanmar mengenai kekerasan sektarian yang terjadi di Myanmar tengah.

Namun, suatu laporan polisi mengatakan perkelahian itu pecah ketika Muslim Rohingya mengeluh kepada petugas di pusat penahanan itu bahwa para nelayan Budha telah memperkosa dan melecehkan tiga wanita Rohingya.

Reuters melaporkan bahwa seorang wanita diperkosa pada tanggal 31 Maret oleh tiga nelayan Myanmar. Seorang wanita lain, yang telah selesai mandi pada tanggal 3 April dilecehkan oleh dua nelayan dan seorang wanita usia 20 tahun, yang sedang mengeringkan pakaiannya diperkosa oleh sejumlah penyerang.

Meskipun ada laporan langsung oleh seorang pemimpin Rohingya, para pelaku hanya “ditegur dan ditampar “.

Sekelompok orang Buddha sebanyak 8 orang kemudian membalas melakukan serangan terhadap Rohingya, sehingga memicu perkelahian.

Kedua belah pihak menggunakan tongkat kayu, pisau dan besi untuk menyerang satu sama lain. Polisi berhasil memadamkan kekerasan setelah tiga jam.

Warga Rohingya pencari suaka telah mengambil resiko dengan melakukan perjalanan sepanjang 2.000 km lewat laut dengan menyeberang ke Indonesia untuk menghindari gelombang kekerasan sektarian di negara bagian Rakhine, Myanmar Barat. Ratusan orang tewas dan lebih dari 100.000 orang telah mengungsi dalam bentrokan antara etnis Rakhine dan Muslim Rohingya .

Pada bulan Maret, beberapa kelompok umat Buddha, yang dipimpin para biksu, menyerang warga Muslim setelah bertengkar di sebuah toko emas milik Muslim. Setidaknya 40 orang tewas dalam kekerasan dan 12.000 orang mengungsi.

Seperti diungkapkan oleh IBTimes, bentrokan anti-Muslim mungkin telah dipicu oleh komentar seorang biksu kontroversial yang telah memimpin banyak kampanye dengan pidato kebencian yang menyerang Muslim.

Saydaw Wirathu, nama biksu itu,  menyerukan dalam sebuah video yang muncul di YouTube untuk memboikot bisnis nasional Muslim di Myanmar.  (rz)

Dua Tahun Revolusi Suriah


Dua tahun yang lalu, pada maret 2011, sejumlah pemuda yang berusia dibawah 15 tahun ditangkap di Dar’aa, Suriah. Pasalnya, mereka dengan berani menulis di dinding kota : “Rakyat ingin menggulingkan rezim”. Setelah itu, perlawanan pun meletus di Dar’aa. Pergolakan Arab, telah mengalir dari Tunisia, Mesir, Libya, dan selanjutnya Suriah.

Melanjutkan warisan kebuasan bapaknya, Bashar Asad menutup telinga, mata, dan hatinya dari tuntutan perubahan rakyatnya. Asad membantai rakyatnya sendiri. Seperti bapaknya, Asad menerapkan politik bumi hangus, “al-Asad au nahriqu al-bilad” (mendukung Asad atau kami bumihanguskan negeri ini) .

Beberapa kota yang menjadi pusat perlawanan dihentikan pasokan listrik, air dan makanannya. Rakyat pun hidup dalam kesulitan yang sangat.  Wilayah-wilayah perlawanan dibombardir termasuk dengan menembakkan misil. Lebih dari 70 ribu orang telah terbunuh, lebih dari 1 juta hidup di luar Suriah, di kamp pengungsian yang kondisinya menyedihkan.

Asad mengira, kekejamannya akan menghentikan perlawanan rakyat Suriah. Ternyata tidak. Perlawanan semakin membesar, terjadi di mana-mana. Rakyat Suriah pun memutuskan mengangkat senjata untuk menumbangkan rezim bengis ini. Mereka ingin menghentikan kebrutalan Asad dan begundal-begundal Shabihah yang menyiksa, membunuh, dan memperkosa secara keji Muslimah-Muslimah Suriah.

Rakyat Suriah yang mewarisi keberanian, keteguhan, dan kesabaran pahlawan-pahlawan Islam seperti Khalid bin Walid yang dikubur di tanah as Syam, melakukan perlawanan yang luar biasa. Para mujahidin Suriah, terinspirasidengan kata-kata mulia pahlawan Islam Khalid bin Walid  sebagaimana yang terdapat dalam kitab al Ishabah karya al Asqalani,  yang dipatri pusat Kota Homs“Aku mencari kematian, dengan kemungkinan itu bisa didapat, tetapi aku belum ditakdirkan, kecuali mati di atas tempat tidurku. Tidak ada satu perbuatan yang paling aku harapkan, setelah kalimah lailaha illa-llah, ketimbang suatu malam di mana aku bermalam dengan memakai perisai, di bawah cahaya bulan di langit dan guyuran hujan hingga Subuh, sampai kami menyerang [dan mengalahkan] kaum kafir.”

Asad pun saat ini menjelang ajal, kekuasaannya di ujung tanduk.  Sejak Revolusi Islam meletus 2 tahun lalu, dan kini memasuki tahun ke-3, para pejuang Islam di sana telah meraih kemenangan demi kemenangan. Beberapa pekan lalu, mereka telah sampai di istana Bashar, dan berhasil menduduki istana di Raif Damaskus. Sebelumnya, pangkalan militer dan gudang alutsista juga berhasil dikuasai oleh para pejuang Islam ini. Hingga kini, hampir 90 persen wilayah Suriah telah mereka kuasai. Bashar pun sudah sangat-sangat terjepit, andai bukan karena ditopang oleh Amerika, Rusia dan Cina yang terus-menerus mendukungnya, niscaya kekuasaannya sudah tidak lagi tersisa.

Kondisi ini diakui oleh Direktur Intelijen Nasional James Clapper di hadapan Komite Intelijen Senat  Amerika (12/3). Sebagaimana yang dilansir Worldtribune.com (12/3), Clapper menyatakan pihak oposisi semakin meraih kemenangan dan merebut semakin banyak wilayah, sementara rezim Asad semakin mengalami kekurangan dukungan sumberdaya manusia dan logistik. Menurutnya, rejim Asad tidak akan bisa menghentikan kemenangan pasukan perlawanan dengan cara-cara konvensional.

Berbeda dengan pergolakan di wilayah lain, di Suriah Amerika Serikat kesulitan untuk mencari pengganti Asad yang bisa dikontrol oleh Barat. Pada awalnya AS membentuk Dewan Nasional Suriah (SNC), namun tidak mendapatkan hati di masyarakat. Mereka pun membentuk boneka baru The Syrian National Coalition (Koliasi Nasional Suriah) di bawah pimpinan Muadz al Khatib. Hingga saat ini tidak mendapatkan dukungan penuh dari rakyat.

Tidak hanya itu, rakyat Suriah pun menolak tawaran demokrasi Amerika, meskipun dengan embel-embel istilah negara madani yang menyesatkan. Para mujahidin bersama rakyat lebih memilih Khilafah Islam sebagai solusi untuk masa depan Suriah. Khilafah yang tidak hanya menumbangkan rezim Asad tapi juga akan menyatukan negeri-negeri Islam di seluruh dunia. Khilafah yang akan melebur batas-batas negara bangsa yang selama ini telah mengkotak-kotak dan memperlemah dunia Islam.

Sesuatu yang sangat ditakuti oleh Barat. Seperti yang dikatakan oleh politisi senior dan berpangaruh Amerika Henry Kissinger. Menurutnya, yang mendorong Amerika tetap mendukung Asad adalah ketakutan akan adanya sebuah negara yang tersentralisasi yang akan menarik daerah sekitarnya. Senada dengan itu, Menlu Rusia Sergei Labrov juga menyatakan hal yang sama. Ia menegaskan kalau konfrontasi Suriah melebar, negara tetangga Suriah seperti Yordania dan Libanon akan hilang dari peta dunia.

Kita percaya rakyat Suriah tetap akan berpegang teguh dengan tujuan mereka untuk menegakkan Khilafah, apapun tantangannya. Sebagaimana sumpah yang telah dinyatakan oleh para mujahidin ketika mendukung tegaknya Khilafah di depan delegasi politik Hizbut Tahrir.

Penduduk Syam insya Allah sedang menjalani apa yang terdapat dalam hadits Rasulullah, menjadikan Syam sebagai buminya para suhada. Rasulullah  SAW bersabda: “Allah benar-benar membangkitkan 70.000 orang (syuhada’ dan shalihin) dari sebuah kota di Syam, yang disebut Homs, mereka tidak dihisab dan tidak diadzab. Tempat kebangkitan mereka antara Zait dan Hait di al-Barats (wilayah dekat Homs).”

Kita juga yakin mereka ingin mengembalikan as Syam termasuk Suriah sebagai ibukota dari Khilafah. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW : Pangkal dan tempat Darul Islam (Khilafah) adalah Syam (Suriah, Libanon, Yordania dan Palestina) – HR at-Thabrani dengan rijal yang terpercaya. Allahu Akbar (Farid Wadjdi).

%d bloggers like this: