Inilah Kecemasan Mahasiswa Indonesia di Mesir

foto

REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

TEMPO Interaktif, Kairo – Apa yang ditakutkan pelajar dan mahasiswa Indonesia dari aksi demo besar-besaran di seantero Mesir yang sekarang tengah berlangsung? Bukan keamanan atau terganggunya kuliah mereka, tapi naiknya harga-harga dan penerbangan dari dan ke Kairo yang tak menentu.

Koresponden Tempo di Kairo, Akbar Pribadi, melaporkan bahwa mahasiswa dan pelajar Indonesia tak terlalu cemas dengan keamanan karena  apartemen mereka berjarak relatif jauh dari pusat demonstrasi di Tahrir Square, yang berada di pusat kota dan pemerintahan.

Mayoritas warga Indonesia tinggal di Nasser City yang berjarak sekitar satu jam dari Tahrir Square yang selama enam hari ini dipenuhi hingga 50 ribu demonstran. “Sangat kecil kemungkinan terdapat WNI yang rumahnya terkepung kerusuhan,” kata petugas KBRI Kairo Abu Taufan.

Di Mesir, ada sekitar enam ribu warga Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 4.297 pelajar dan mahasiswa, 1.002 tenaga kerja wanita, sisanya staf kedutaan dan keluarga. Terdapat pula 370 wisatawan Indonesia yang kini berada di Kairo. “Kami imbau agar mereka menjauhi keramaian,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Kusuma Habir.

Kendati aksi unjuk rasa menuntut Presiden Hosni Mubarak itu terus membesar, sebagian besar sekolah atau kampus–kecuali yang berada di dekat pusat demonstrasi–tak tutup. Saat ini sebagian besar sekolah malah sedang menyelenggarakan ujian di awal musim dingin di Mesir.

“Saya tetap ujian,” kata Ariawan, mahasiswa Indonesia fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar asal Jawa Tengah itu. “Untuk sampai ke kampus saya harus cari jalan yang aman buat dilewati dan menghidar dari orang-orang berkumpul.”

Komaruddin, mahasiswa dengan jurusan yang sama dengan Ariawan, lebih mencemaskan naiknya harga-harga bahan pokok akibat eskalasi politik yang meningkat. “Saya takut ke depan harga-harga naik terus karena saya masih harus tinggal tiga tahun lagi di sini,” ujarnya kepada Tempo.

Harga roti misalnya, dalam waktu empat hari sudah naik dari 7 EGP (Pound Mesir) menjadi 7,25 EGP (1 Pound Mesir setara dengan Rp 1.540). Begitu pula dengan harga beras yang biasanya dikonsumsi mahasiswa Indonesia. “Saya berharap harga-harga kembali normal,” kata Komaruddin.

Tak hanya terhadap harga bahan pangan yang siap meroket, pelajar dan mahasiswa Indonesia juga cemas dengan sebagian besar maskapai penerbangan yang memilih menutup operasinya di Kairo. Bukan apa-apa, biasanya mahasiswa Indonesia di Kairo menyimpan tiket pulang yang dapat digunakan sewaktu-waktu. Dengan ditutupnya jadwal penerbangan akibat situasi politik Mesir yang memanas, sebagian mahasiswa Indonesia tak lagi leluasa pulang kampung.

Keadaan ini diperparah dengan belum dibukanya akses internet dan sebagaian telepon seluler oleh pemerintah Mesir. Telepon seluler memang sudah bisa digunakan, tapi masih untuk komunikasi dalam negeri. Sebagian besar telepon dari dan keluar Mesir tak lancar.

Terhadap situasi ini, Kementerian Luar Negeri meminta warga Indonesia di Mesir untuk selalu berkomunikasi dengan kantor kedutaan besar Republik Indonesia yang beralamat di 13 Aisah El Taimoria street, Garden City, Kairo. Kedutaan pun terus memantau pelajar dan mahasiswa Indonesia dengan berkoordinasi dengan Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Mesir.

Akbar Pribadi (Kairo)

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/timteng/2011/01/30/brk,20110130-309902,id.html

Posted on January 31, 2011, in Berita Terbaru, Luar Negeri, mesir, politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: