IHSG Dalam Kepungan Sentimen Negatif

Jakarta – alam sepekan terakhir, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat baik, IHSG ditutup pada level 3487,6 atau tercatat menguat 3,2% setelah pekan sebelumnya sempat terbenam hingga 5,3%.

Penguatan yang terjadi pada IHSG pekan lalu didorong oleh aksi beli broker asing atas saham-saham unggulan yang telah mengalami koreksi cukup dalam pada pekan sebelumnya. Pekan lalu broker asing tercatat memborong saham PT Astra International Indonesia (ASII), PT Telkom (TLKM), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Analis dari BNI, Muhammad Fikri menjelaskan, derasnya aksi beli broker asing tidak hanya terjadi dipasar saham tapi juga dipasar obligasi negara, kondisi tersebut pada akhirnya mendorong Mata uang rupiah mengalami penguatan mingguan terbesarnya tahun ini. Selain akibat derasnya aksi beli broker asing, penguatan Rupiah pekan lalu juga ditopang oleh pelemahan dolar AS.

“Namun demikian pada akhir perdagangan jumat pekan lalu bursa saham dunia dihujani oleh berbagai sentimen negatif sehingga membuat pasar saham dihampir seluruh dunia mengalami koreksi, investor memanfaatkan berbagai sentimen negatif yang muncul untuk melakukan aksi profit taking setelah IHSG menguat dalam 3 hari berturut-turut,” jelas Fikri dalam reviewnya, Senin (31/1/2011).

Sentimen negatif yang paling signifikan datang dari Amerika dimana dikabarkan bahwa kinerja perusahaan-perusahaan besar di Amerika pada kuarter ke empat 2010 lebih rendah dari ekspektasi para analis. Kondisi ini tergambar dari laba produsen mobil the ford motor serta produsen software terbesar dunia Microsost yang mengalami penurunan laba pada kuarter ke empat 2010. Sentimen tersebut memicu Indeks 500 Standard & Poor’s terpuruk paling dalam sejak 11 Agustus 2010.

Disamping itu, tambah Fikri, investor di Amerika juga dikhawatirkan oleh besarnya estimasi defisit anggaran Pemerintah AS dan pengeluaran negara yang dipercaya akan menjadi ancaman terbesar bagi perekonomian global. Lembaga pemeringkat Moody’s pekan lalu bahkan mengatakan bahwa kemungkinan akan menempatkan peringkat obligasi pemerintah AS kedalam outlook negatif dalam dua tahun kedepan karena membesarnya defisit anggaran pemerintah tersebut.

Sedangkan dari Asia, sentimen negatif datang dari Jepang, dimana pekan lalu Standard & Poor’s mengumumkan penurunan peringkat hutang Jepang untuk pertama kalinya sejak tahun 2002, sehingga mendorong kejatuhan saham-saham perbankan di Jepang.

Kondisi tersebut diperparah oleh sentimen dari Mesir dimana memanasnya kondisi di Mesir dikhawatirkan akan merebet kenegara bagian penghasil minyak utama di Timur Tengah. Sehingga mempengaruhi suplai minyak dunia dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. tanda-tanda tersebut terlihat pada jumat pekan lalu dimana Harga minyak naik 4,3% menjadi US$ 89,34 per barel di pasar New York dan menjadi lompatan terbesar sejak 30 September 2009.

“Tidak hanya itu karena the Fitch Rating pun langsung menurunkan peringkat Mesir dari stabil menjadi negatif sebagai akibat dari upaya penggulingan pemerintah tersebut,” jelas Fikri.

Dari dalam negeri, Fikri memperkirakan pada pekan ini IHSG masih diselimuti oleh bayang-bayang kenaikan suku bunga acuan BI akibat kemungkinan tingginya inflasi bulan januari ini. Perlu diketahui bahwa pekan ini BPS akan mengumumkan data inflasi bulan Januari dan diikuti oleh rapat dewan Gubernur BI untuk menentukan BI rate.

Apabila inflasi bulanan masih dibawah 0,5%, BI kemungkinan masih bisa menjaga BI rate tetap di 6,5%. Tetapi apabila BI rate berada diatas 0,5% besar kemungkinan BI akan menaikkan BI rate 25 basis point menjadi 6.75%. Langkah BI yang diprediksi akan menaikkan BI rate, seiring dengan naiknya inflasi juga didorong oleh langkah Bank Central China yang akan menaikan suku bunga acuannya.

“Berbagai sentimen negatif tersebut membayangi pasar pekan ini dan mendorong investor untuk bermain aman dengan mengambil sikap ‘wait and see’. Ancaman tingginya inflasi, kenaikan BI rate, ketidakpastian ekonomi di Amerika dan Jepang serta instabilitas politik dunia yang dipicu oleh kerusuhan di Mesir akan menjadi perhatian utama investor pekan ini. Lebih lanjut, melihat bursa di Amerika pada akhir perdagangan pekan lalu yang melemah cukup siginifikan maka diprediksi kondisi tersebut akan berimbas ke IHSG pekan ini dan mendorong IHSG bergerak melemah selama pekan ini,” paparnya.

NB: review tidak mencerminkan pandangan institusi

(qom/qom)

sumber : http://www.detikfinance.com/read/2011/01/31/074627/1556764/6/ihsg-dalam-kepungan-sentimen-negatif

Posted on January 31, 2011, in Berita Terbaru, Luar Negeri, mesir, politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: