Siapakah Muslim “Moderat”?

Pada tanggal 18 Desember 2010, Toronto Star menerbitkan sebuah artikel yang menganjurkan pelarangan tidak hanya Niqab (penutup wajah) dan Burqa (penutup seluruh tubuh), tetapi juga hijab/jilbab (penutup kepala).

Artikel itu menyatakan, “burqa dan niqab merupakan tradisi yang memandang bahwa perempuan sebagai objek seksual, seorang penggoda, yang dengan gerakan pergelangan kakinya, dapat membawa laki-laki (makhluk yang lemah yang tidak mampu menahan godaan ini) untuk bertekuk lutut dihadapan mereka. Ini adalah sistem nilai yang menjijikkan dan saya menolaknya Jadi. semua warga Kanada harus menganut feminisme sekuler. Marilah kita larang burqa, niqab dan hijab.”

Artikel tersebut menggunakan istilah “Muslim moderat” untuk menggambarkan orang-orang yang menyatakan bahwa, “Hukum memakai penutup kepala tidak hanya memalukan bagi perempuan, tetapi merupakan penghinaan bagi laki-laki.”

“Muslim Moderat”:  Suatu Ukuran yang Islami?
Artikel itu memberikan kesempatan untuk meneliti praktek yang dilakukan media, para politisi oportunistik dan yang lainnya yang memuji sebagian orang Islam lain sebagai “Muslim moderat” dan mencela sebagian lainnya sebagai “militan,” “radikal” dan “ekstrimis.” Merupakan hal yang cukup menggoda untuk menampilkan diri sebagai bagian dari kelompok itu yang tidak menunjukkan arti negatif. Namun, sebelum menggunakan istilah-istilah seperti “Muslim moderat” dan “Ekstrimis Muslim,” kita perlu memahami masing-masing arti istilah itu.

Apa artinya “Muslim moderat”? Siapa sebenarnya “kaum ekstrimis”?
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa istilah-istilah tersebut tidak berbahaya, dan bahwa semuanya itu hanyalah sebuah cara untuk membedakan antara Muslim yang “baik” dan yang “buruk”.  CNN  member predikat Aljazair sebagai negeri kaum “ekstremis” karena melarang impor alkohol. Sebelum adanya larangan ini, kaum muslim Aljazair dianggap sebagai “moderat.”

Untuk menganalisa masalah ini (atau hal manapun), pertama kita harus merujuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Apakah Rasulallah SAW membagi para Sahabat (ra) menjadi kaum “moderat” dan  kaum ‘ekstrimis’?

Apakah para Sahabat (ra) mengukur satu sama lain dengan ukuran “moderat” atau “ekstremism”?

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. [al-Hujraat, 49:13]

Oleh karena itu, ukuran mengelompokkan kaum Muslim menjadi “moderat” dan “ekstremis” adalah suatu tindakan mengada-adakan dalam Islam. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh generasi salah ulama Islam, dan hany baru-baru ini saja diperkenalkan ke dalam wacana Islam.

Menjadikan Islam Agar Terlihat Tidak Diinginkan

Kenyataan dari wacana ini adalah untuk membuat Islam agar terlihat tidak diinginkan. Media, lembaga kajian,  dan politisi mengecam Islam sebagai “militan,” “radikal” dan “ekstrimis” sehingga umat Islam merasa terancam ketika mereka mempraktekan dien mereka. Beberapa contohnya termasuk
Pantang Minum Alkohol: Kaum Muslim dianggap ekstremis karena melarang kaum Muslim lain untuk membeli alkohol di negeri kaum muslim! CNN melaporkan: “Suatu pemungutan suara mengejutkan dilakukan oleh parlemen Aljazair untuk melarang impor minuman beralkohol di negara Muslim moderat yang merupakan tanda kembalinya ekstremisme Islam …” Kita bisa melihat bahwa media menganggap bahwa mengkonsumsi alkohol sebagai ciri khas seorang muslim “moderat”. Sebaliknya, seseorang yang melarang umat Islam mengkonsumsi alkohol adalah seorang “ekstrimis”.

Mengenakan Hijab: The Toronto Star – Surat kabar yang berhaluan kiri di salah satu kota paling toleran di Kanada – menjadikan Hijab sebagai sumber ketakutan dan menyerukan untuk melarangnya! Artikel pada surat kabar Toronto Star itu sebelumnya memuji kaum “Muslim Moderat” karena membenci hokum memakainya bagi wanita untuk menutup rambut mereka seperti yang ditetapkan oleh Allah SWT, yakni dengan memakai Jilbab (yang menutupi tubuh), dan bagi pria dan wanita karena menjaga kesopanan mereka ketika berhubungan satu sama lain. Allah SWT berfirman:

 

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. [Al-Ahzab, 33:59]

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Dan (bagi wanita) hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya[An-Nur, 24:31]

Meninggalkan Kewajiban Menegakkan Khilafah: Suatu Terbitan dari RAND, yang berjudul “Membangun Jaringan Muslim Moderat,” menyatakan: “Apakah filsafat politik yang berasal dari Barat ataukah sumber-sumber Al-Quran, untuk bisa dianggap demokratis, semuanya harus secara tegas mendukung pluralisme dan hak asasi manusia yang diakui secara internasional … Dukungan terhadap demokrasi berarti bertentangan dengan konsep negara Islam … Muslim moderat memegang suatu pandangan bahwa tidak ada yang bisa berbicara atas nama Allah Sebaliknya,. Hal ini adalah merupakan konsensus masyarakat (ijma), sebagaimana tercermin dalam opini publik yang diungkapkan secara bebas, yang menentukan apakah keinginan Allah dalam suatu kasus tertentu. “

Oleh karena itu, lembaga kajian, pribadi di media, dan para politisi tertentu mendefinisikan Muslim “moderat” sebagai seseorang yang bersedia untuk meninggalkan perintah Allah SWT apabila hal itu bertentangan dengan nilai-nilai liberal yang berasal dari akidah sekuler. Di sisi lain, seorang muslim yang mentaati perintah-perintah Allah SWT dianggap sebagai seorang ekstremis dan seseorang yang harus dijauhi oleh masyarakat.

Bahaya Adanya Kompromi
Kita juga harus menyadari bahaya dilakukannya kompromi. Kita mungkin tergoda untuk mengurangi praktek-praktek Islam kita dengan harapan agar dianggap moderat. Namun, Allah SWT telah memperingatkan kita terhadap praktek-praktek semacam ini:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Maka mereka menginginkan supaya kamu berkompromi sehingga mereka (juga) akan berkompromi dengan kamu. [al-Qalam, 68:9]

Meskipun taktik untuk mempromosikan “Muslim moderat” ini adalah hal yang baru dilakukan, hal ini bukanlah hal baru. Kekuasaan kolonial telah bekerja selama berabad-abad untuk membuat kaum Muslim mengadopsi sekularisme sebagai titik acuan tunggal mereka. Visi untuk menimbulkan mentalitas terjajah telah disosialisasikan pada tahun 1854 oleh Mountstuart Elphinstone, yang mengatakan, “kita tidak boleh bermimpi atas adanya kepemilikan abadi, tetapi harus menetapkan bagi diri kita sendiri untuk bisa membawa kaum pribumi ke dalam suatu negara yang akan mengakui hak mengatur diri mereka sendiri dengan cara yang mungkin bermanfaat bagi kepentingan kita … “

Tetap Berpegang Teguh pada Agama

Kaum Muslim telah jatuh berkali-kali. Ketika kita membaca sebuah surat kabar, menghidupkan televisi atau surfing internet kita selalu mendapatkan berita yang berisi tuduhan dan kebohongan yang dilontarkan terhadap Din kita, Nabi SAW, atau Umat Islam. Tekanan ini telah memaksa sebagian orang untuk menjelaskan Islam dengan cara untuk meredakan kritik itu – dengan harapan agar dianggap “moderat”. Kita jangan saqmpai jatuh ke dalam perangkap ini. Sebaliknya, pertama kita harus memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT dan mengingat bahwa Allah SWT telah memperingatkan kita tentang tersebut:

وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا

Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. [al-Imran, 3:186]

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [al-Ankabut, 29:2-3]

Dan Rasulallah SAW memperingatkan kita bahwa: “Akan datang suatu masa dimana pada jika berpegang teguh kepada Deen akan menjadi sebagaimana memegang bara api di tangan ” [At-Tirmidzi]

Dalam masa fitnah ini, kita harus menegaskan kembali komitmen kita terhadap Allah SWT, bekerja keras untuk mempertahankan identitas Keislaman kita, dan tetap percaya diri dimana Allah SWT telah berjanji kepada kita  :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [Muhammad, 47:7]

Kita juga harus menyadari bahwa tujuan sebenarnya dari keberadaan kita di dunia adalah untuk memperoleh ridho Allah SWT dan kemudian dibangkitkan kembali bersama dengan para Sahabat Rasulullah SAW. Karena itu,  kita harus tabah atas cobaan apapun yang menimpa kita dan tetap teguh dengan tugas yang telah kita emban. Seorang yang beriman tidak pernah merasa rugi ketika dia menahan penderitaan untuk mendapatkan ridho Allah SWT,  karena sesungguhnya dia sedang bekerja untuk mendapatkan balasan yang abadi: Surga.

Ini secara langsung menyerang konsep Khilafah yang telah ditetapkan oleh Rasulallah SAW. Kami menyadari bahwa para Sahabat (ra), yang menggantikan Rasulullah SAW, mendirikan Khilafah, di mana Negara itu menerapkan Hukum Syariah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, Ijma-Sahabat , dan Qiyas. Mereka tidak pernah menerapkan undang-undang berdasarkan keinginan kolektif rakyat.

Rasulullah SAW bersabda: “Urusan orang beriman sungguh menakjubkan! Seluruh hidupnya adalah menguntungkan, dan itu hanya didapat pada orang beriman. Jika dia mendapat kebaikan dan bersyukur maka itu adalah baik untuknya, dan jika dia mendapat keburukan dan dia bersabar maka itu juga baik untuknya.” [Muslim]

Jika kita melihat kepada para Sahabat (ra), kita akan dapatkan bahwa mereka adalah contoh yang sangat baik untuk keteguhan hati dan ketabahan. Mereka mendapat cobaan yang sama dengan yang kita hadapi dimana orang-orang kafir menggunakan taktik busuk untuk memberi predikat buruk pada Islam. Kaum Ahli Kitab berusaha untuk membuat Islam terlihat buruk dengan membuat rintangan bagi dakwah Islam. Allah SWT berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya untuk menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?” [Al-Imran, 3:99]
Kaum Quraish juga menggunakan propaganda untuk menyebut Rasulallah SAW dan para Sahabat (ra) sebagai elemen-elemen ekstrim masyarakat. Meskipun terminologi yang mereka gunakan berbeda, tujuan mereka adalah sama: untuk menekan kaum muslimin sehingga pemikiran mereka akan sesuai dengan pemikiran, emosi, dan hukum Quraish yang kufur. Misalnya, Al-Waleed bin Al-Mughirah memimpin upaya untuk merancang strategi propaganda untuk mengisolasi Rasulullah SAW. Beberapa ide (misalnya yang menyebut beliau sebagai penyair, peramal, orang yang kerasukan oleh jin, dll) telah ditolak karena itu semua tidak realistis. Mereka menyebut beliau sebagai seorang penyihir dengan kata-kata yang memutuskan keluarga.

Meskipun pada masa Fitna dan ketakutan, Rasulallah SAW dan para Sahabat (ra) berdiri teguh di atas Din mereka dan tidak bergeser karena berada di bawah tekanan. Sebaliknya para sahaba (ra) menunjukkan keberanian yang besar. Misalnya, ketika Rasulallah SAW dan para Sahabat (ra) yang tinggal di Mekah (yaitu sebelum Hijrah), Abdullah bin Mas’ud (ra) mengatakan bahwa ia akan membuat kaum Quraisy agar mendengarkan Al Qur’an. Jadi, suatu pagi ia pergi ke Kabah dan membaca Al Qur’an dengan suara keras, sehingga orang-orang Quraisy menyerangnya. Ketika ia kembali kepada para Sahabat (ra), mereka berkata: “Inilah yang kita khawatirkan akan terjadi padamu.”

Dia mengatakan, “musuh-musuh Allah tidak pernah lebih hina di mataku daripada saat ini, dan jika kamu mau saya akan pergi lagi dan melakukan hal yang sama besok.”
Allah  SWT akhirnya membuat mereka menang atas musuh-musuh mereka di dunia ini, dan memberikan mereka kesenangan-Nya di akhirat:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah [at-Taubah, 9:100]

Jika kita menginginkan ridho Allah SWT, kita harus mengikuti contoh Rasulallah SAW dan para sahabatnya (ra) dan, Insya Allah, kita akan di antara orang-orang yang Allah SWT ridhoi.

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan tekad untuk menanggung penderitaan di zaman ini dan selalu berada di garis depan dalam membawa misi Islam dan mengembalikan kehidupan Islam di dunia ini. Amin.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. [al-Imran, 3:139]

Sumber:

http://www.khilafah.com/index.php/concepts/general-concepts/10920-who-is-a-qmoderateq-muslim

Posted on January 5, 2011, in Pengetahuan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: