Monthly Archives: January 2011

Mahasiswa Indonesia di Mesir Ikut Diperiksa


Headline

INILAH.COM, Jakarta – Kebijakan rezim Hosni Mubarak memblokir situs jejaring sosial Facebook dan Twitter menyulit mahasiswa Indonesia di Mesir.

Menurut, Abdu Jalil yang tengah menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo, akibat pelarangan Facebook dan Twitter, mahasiswa Indonesia kesulitan berkomunikasi dan mencari informasi.

“Akun Facebook diblokir. Sebab, melauli FB berita yang terjadi di Alexandria yang bergolak cepat tersebar. Mungkin hal ini khawatir terulang,” ujar Abdul kepada INILAH.COM, Kamis (27/1/2011).

Mahasiswa asal Madura, Jawa Timur ini menjelaskan situasi di Mesir masih mencekam. Mahasiswa Indonesia terpaksa membatasi diri dalam beraktivitas sehari-hari.

“Situasi di sini sedang panas, sudah dua sipil meninggal. Tiap orang asing diperiksa identitasnya, termasuk mahasiswa Indonesia,” terangnya.

Seperti diberitakan, situasi politik di Mesir bergejolak, rakyat memprotes kepemimpinan Presiden Hosni Mubarak selama tiga dekade terakhir. Sebanyak 860 pengunjuk rasa diamankan aparat Mesir, sejak gelombang unjuk rasa terbesar terhadap pemerintahan Mubarak (82) dimulai pada Selasa (25/1/2011). [mah]

sumber : http://www.inilah.com/read/detail/1186582/mahasiswa-indonesia-di-mesir-ikut-diperiksa

Advertisements

Krisis politik Mesir picu kenaikan harga minyak


 

 

 

 

 

 

 

 

JAKARTA: Harga kontrak berjangka minyak untuk pengiriman Februari naik sebesar US$1,47 barel menjadi US$90,8 per barel pada perdagangan pukul 07:16 WIB hari ini di New York Mercantile Exchange.

Dengan demikian harga minyak naik untuk hari ketiga setelah krisis politik di Mesir meningkatkan kekhawatiran bahwa unjuk rasa yang dilakukan rakyat akan menganggu produksi dan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga juga terjadi untuk kontrak pengiriman barang Maret, April, Mei, dan Juni masing-masing sebesar US$1,15 per barel menjadi US$92,81 per barel, US$0,95 per barel menjadi US$94,35 per barel, dan US$0,79 per barel menjadi US$95,43 per barel.

Sementara itu, harga minyak untuk pengiriman Juli naik senilai US$0,71 per barel menjadi US$96,28 per barel, untuk pengiriman Agustus naik US%$0,31 per barel menjadi US$96,5 per barel, dan untuk pengiriman September menjadi US$97,14 per barel setelah naik senilai US$0,52 per barel.

Kontrak minyak untuk pengiriman November juga meningkat sebesar US$0,33 per barel menjadi US$98 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah untuk pengiriman bulan lain, tidak mengalami perubahan sejak 28 Januari 2010.

Seperti dikutip Bloomberg, Menteri Energi Amerika Serikat Steven Chu melalui konferensi jarak jauh mengatakan harga kontrak berjangka naik sebesar 4,3% sejak 28 Januari 2011, kenaikan tertinggi sejak September 2008.

Kenaikan harga itu terjadi setelah terjadi bentrokan antara aparat militer dan demonstran di Mesir yang menuntut Presiden Mesir Hosni Mubarak mundur dari jabatannya yang telah berlangsung selama 30 tahun.

Steven Chu menilai gangguan pasokan minyak di Timur Tengah akan meningkatkan harga. Senada dengan Chu, Ben Westmore, ekonom mineral dan energi National Australia Bank Ltd berbasis di Melbourne, mengatakan masalah di Mesir akan berdampak pada harga komoditas dan pasar keuangan. (esu)

sumber : http://www.bisnis.com/market/komoditas/10371-krisis-politik-mesir-picu-kenaikan-harga-minyak

Dunia Luar Jangan Ikut Campur


AP Photo/Victoria Hazou Turis asing masuk ke bus di dekat tempat wisata Piramida Giza, Mesir, Sabtu (29/1/2011). Tempat wisata tersebut kini ditutup pihak militer setelah kerusuhan melanda Mesir.

DAVOS, KOMPAS.com – Sementara politisi mempertimbangkan krisis di Mesir, para ahli internasional di Davos, Swiss, mengatakan bahwa dunia luar harus bertindak hati-hati dan membiarkan warga Mesir memutuskan masa depan mereka sendiri.

Mantan Presiden Meksiko Ernesto Zedillo, yang kini memimpin Pusat Kajian Globalisasi Universitas Yale, mengatakan, salah satu prinsip utama hukum internasional adalah ”tidak ikut campur masalah dalam negeri negara lain”. ”Saya rasa itu sebuah aturan yang sangat baik,” ujarnya.

Lord Mark Malloch-Brown, mantan Deputi Sekjen PBB yang kini ketua urusan global pada FTI Consulting di Inggris, mengatakan, PBB mencatat ketidaksetaraan dan ketiadaan ruang politik yang diprotes demonstran Mesir dalam Laporan Pembangunan Arab hampir 10 tahun lalu.

”Ini adalah saat yang luar biasa bagi Mesir,” katanya hari Minggu (30/1). ”Kita harus berharap hasilnya adalah sebuah pemerintahan yang lebih inklusif. Namun, bagaimana mereka mencapainya, kapan dan apakah pemerintah berganti, itu harus menjadi urusan orang Mesir.”

Kishore Mahbubani, mantan Duta Besar Singapura di PBB yang adalah Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, mengingatkan para VIP yang menghadiri sebuah panel dalam Forum Ekonomi Dunia bahwa ”jenis revolusi jalanan semacam ini bisa menyebabkan hasil negatif”.

”Itu sebabnya Anda melihat antusiasme dalam peliputan media Barat mengenai kejadian-kejadian ini tidak terasakan di tempat lain—karena mereka semua berpikir, hati-hati akan apa yang Anda harapkan, Anda bisa mendapatkan hal yang lebih buruk,” katanya.

Zedillo mengatakan bahwa dia, Malloch-Brown, dan Mahbubani adalah ”sahabat dekat” Mohamed ElBaradei, pemimpin oposisi Mesir pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang dilaporkan berada dalam tahanan rumah.

”Kami di sini, bertiga, mengatakan hati-hati, biarkan keadaan menjadi lebih jernih—dan kami adalah teman-teman tokoh oposisi dan kami mengatakan agar berhati-hati,” kata Zedillo.

Li Daokui, Direktur Pusat bagi China dalam Perekonomian Dunia, mengatakan, dia ”teramat berhati-hati mengenai apa yang mungkin terjadi”.

”Mungkin satu implikasi mendalam dari apa yang terjadi sekarang di Mesir bagi dunia adalah banyak pemerintah akan mendengarkan secara saksama melalui internet pada nada opini publik dan kemudian… mungkin merancang atau menerapkan prosedur untuk segera merespons pesan-pesan baru tertentu di internet,” katanya.

Li mengatakan, para pembuat keputusan di China ”sangat tahu betul hal ini”.

Mereka mengetahui distribusi dan pertumbuhan inklusif adalah penting dan ”mereka mendapat kelas pelatihan, program pelatihan untuk mendengarkan serta merespons pesan-pesan publik di internet”, katanya.

Malloch-Brown mengatakan, ”Kita hidup di sebuah dunia di mana Anda dapat mengatakan hal mendalam bahwa pemerintah yang peka, representatif, inklusif yang mendengarkan dan merespons kemarahan rakyat… adalah jenis pemerintah yang akan bertahan, dan mereka biasanya, namun tidak selalu, demokratis.”

Tanpa menyebut nama, Malloch-Brown mengatakan, pemerintah yang menjadi kaku dan formalistik, yang mengandalkan pasukan keamanannya dan bukan menggunakan antena politik untuk merespons dan menguasai rakyat, akan mendapat masalah.

(AP/DI)

sumber : http://internasional.kompas.com/read/2011/01/31/07540763/Dunia.Luar.Jangan.Ikut.Campur

Inilah Kecemasan Mahasiswa Indonesia di Mesir


foto

REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

TEMPO Interaktif, Kairo – Apa yang ditakutkan pelajar dan mahasiswa Indonesia dari aksi demo besar-besaran di seantero Mesir yang sekarang tengah berlangsung? Bukan keamanan atau terganggunya kuliah mereka, tapi naiknya harga-harga dan penerbangan dari dan ke Kairo yang tak menentu.

Koresponden Tempo di Kairo, Akbar Pribadi, melaporkan bahwa mahasiswa dan pelajar Indonesia tak terlalu cemas dengan keamanan karena  apartemen mereka berjarak relatif jauh dari pusat demonstrasi di Tahrir Square, yang berada di pusat kota dan pemerintahan.

Mayoritas warga Indonesia tinggal di Nasser City yang berjarak sekitar satu jam dari Tahrir Square yang selama enam hari ini dipenuhi hingga 50 ribu demonstran. “Sangat kecil kemungkinan terdapat WNI yang rumahnya terkepung kerusuhan,” kata petugas KBRI Kairo Abu Taufan.

Di Mesir, ada sekitar enam ribu warga Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 4.297 pelajar dan mahasiswa, 1.002 tenaga kerja wanita, sisanya staf kedutaan dan keluarga. Terdapat pula 370 wisatawan Indonesia yang kini berada di Kairo. “Kami imbau agar mereka menjauhi keramaian,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Kusuma Habir.

Kendati aksi unjuk rasa menuntut Presiden Hosni Mubarak itu terus membesar, sebagian besar sekolah atau kampus–kecuali yang berada di dekat pusat demonstrasi–tak tutup. Saat ini sebagian besar sekolah malah sedang menyelenggarakan ujian di awal musim dingin di Mesir.

“Saya tetap ujian,” kata Ariawan, mahasiswa Indonesia fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar asal Jawa Tengah itu. “Untuk sampai ke kampus saya harus cari jalan yang aman buat dilewati dan menghidar dari orang-orang berkumpul.”

Komaruddin, mahasiswa dengan jurusan yang sama dengan Ariawan, lebih mencemaskan naiknya harga-harga bahan pokok akibat eskalasi politik yang meningkat. “Saya takut ke depan harga-harga naik terus karena saya masih harus tinggal tiga tahun lagi di sini,” ujarnya kepada Tempo.

Harga roti misalnya, dalam waktu empat hari sudah naik dari 7 EGP (Pound Mesir) menjadi 7,25 EGP (1 Pound Mesir setara dengan Rp 1.540). Begitu pula dengan harga beras yang biasanya dikonsumsi mahasiswa Indonesia. “Saya berharap harga-harga kembali normal,” kata Komaruddin.

Tak hanya terhadap harga bahan pangan yang siap meroket, pelajar dan mahasiswa Indonesia juga cemas dengan sebagian besar maskapai penerbangan yang memilih menutup operasinya di Kairo. Bukan apa-apa, biasanya mahasiswa Indonesia di Kairo menyimpan tiket pulang yang dapat digunakan sewaktu-waktu. Dengan ditutupnya jadwal penerbangan akibat situasi politik Mesir yang memanas, sebagian mahasiswa Indonesia tak lagi leluasa pulang kampung.

Keadaan ini diperparah dengan belum dibukanya akses internet dan sebagaian telepon seluler oleh pemerintah Mesir. Telepon seluler memang sudah bisa digunakan, tapi masih untuk komunikasi dalam negeri. Sebagian besar telepon dari dan keluar Mesir tak lancar.

Terhadap situasi ini, Kementerian Luar Negeri meminta warga Indonesia di Mesir untuk selalu berkomunikasi dengan kantor kedutaan besar Republik Indonesia yang beralamat di 13 Aisah El Taimoria street, Garden City, Kairo. Kedutaan pun terus memantau pelajar dan mahasiswa Indonesia dengan berkoordinasi dengan Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Mesir.

Akbar Pribadi (Kairo)

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/timteng/2011/01/30/brk,20110130-309902,id.html

update utk situasi pelajar malaysia di mesir


Asssalamualaikum..

ini adalah update utk situasi pelajar malaysia di mesir ketika krisis ini:

1. laluan ke airport dipenuhi dgn roadblock yg dibina oleh pihak samseng dalam usaha untuk merompak dan membayakan rakyat awam

2. keselamatan pelajar kita terancam, orang awam sudah berbalas tembakan

3. rumah2 sudah dimasuki dan dirompak oleh golongan samsung (area samanoudi, mansurah)

4. kerajaan malaysia (Muhyidin Yasin) menolak untuk menghantar bantuan kecemasan bagi mengeluarkan rakyat negara kita di mesir

5. talian internet dan telefon bimbit masing2 masih lagi terputus terhad (limited connectivity)

6. berita mengatakan ada pelajar malaysia di Iskandariah dirogol (dalam proses utk mensahihkan berita)

sumber: Suffian Sani, dilaporkan oleh: Azizi Al Fahri [ fakulti perubatan universiti mansurah mesir)

PLEASE DO SOMETHING ABOUT MALAYSIAN STUDENTS THERE.

7 jam yang lalu..

sumber : http://www.facebook.com/ctnughulnadeeya88/posts/489523250951

%d bloggers like this: