Monthly Archives: November 2010

Jika Ada Provokasi, Korea Utara Ancam Pembalasan Tanpa Ampun


REPUBLIKA.CO.ID,SEOUL–Korea Utara hari Minggu berjanji melakukan “serangan balasan militer tanpa ampun” jika terjadi penyusupan ke wilayah perairannya.Ancaman itu disampaikan ketika AS dan Korea Selatan melakukan latihan angkatan laut besar-besaran yang dimulai di sebelah selatan perbatasan.

Janji pembalasan itu disiarkan oleh surat kabar partai komunis berkuasa Rodong Sinmun lima hari setelah Korea Utara membom sebuah pulau perbatasan Korea Selatan, yang menewaskan dua warga sipil dan dua marinir serta membakar sejumlah rumah.

Korea Utara menyatakan melepaskan tembakan pekan lalu setelah bom-bom Korea Selatan mendarat di wilayah perairannya di sekitar perbatasan sengketa Laut Kuning yang tegang.”DPRK (Korea Utara) akan melakukan serangan balasan militer tanpa ampun atas aksi provokatif penyusupan ke wilayah perairannya di masa datang,” kata kantor berita resmi mengutip surat kabar itu.

Korea Utara menolak Garis Perbatasan Utara (NLL) yang dibuat oleh pasukan PBB setelah perang 1950-1953 dan menekankan bahwa garis itu seharusnya mengarah lebih jauh ke selatan. Daerah itu dilanda bentrokan laut mematikan pada 1999, 2002 dan November lalu.

Surat kabar itu mengatakan, provokasi Korea Selatan itu merupakan bagian dari upaya untuk mempertahankan garis batas utara dengan terus membiarkan kapal perang mereka ke wilayah perairan DPRK dengan dalih menyergap kapal nelayan.

Ketegangan meningkat setelah serangan artileri Korea Utara menewaskan empat orang di pulau Yeonpyeong, melukai 15 marinir serta tiga warga sipil, dan menghancurkan 19 rumah.Meski negara-negara besar dunia mengecam Pyongyang atas insiden mematikan itu, Beijing lagi-lagi bungkam, seperti juga ketika Korea Utara disalahkan atas penenggelaman sebuah kapal perang Korea Selatan pada Maret.

Ketegangan di Semenanjung Korea meningkat tajam sejak Korea Selatan dan AS menuduh Korea Utara mentorpedo kapal perang Seoul itu, yang menewaskan 46 orang.

Korea Utara membantah terlibat dalam tenggelamnya kapal itu dan mengancam melakukan pembalasan atas apa yang disebutnya latihan perang provokatif Korea Selatan yang dilakukan sebagai tanggapan atas insiden kapal tersebut.

Latihan itu, yang melibatkan 4.500 prajurit, 29 kapal dan 50 jet tempur, merupakan salah satu dari serangkaian latihan terencana dalam beberapa bulan ini, beberapa diantaranya dilakukan dengan AS, sekutu Seoul, dalam unjuk kekuatan terhadap Korea Utara.

Kapal perang Korea Selatan Cheonan tenggelam pada 26 Maret di dekat perbatasan Laut Kuning yang disengketakan dengan wilayah utara pada dalam kondisi misterius setelah ledakan yang dilaporkan. Dewan Keamanan PBB mengecam penenggelaman kapal Korea Selatan itu namun tidak secara langsung menyalahkan Korea Utara, meski AS dan Korea Selatan meminta kecaman PBB terhadap negara komunis itu.

Penyelidik internasional pada 20 Mei mengumumkan hasil temuan mereka yang menunjukkan bahwa sebuah kapal selam Korea Utara menembakkan torpedo berat untuk menenggelamkan kapal perang Korea Selatan itu, dalam apa yang disebut-sebut sebagai tindakan agresi paling serius yang dilakukan Pyongyang sejak perang Korea 60 tahun lalu.

Korea Selatan mengumumkan serangkaian pembalasan yang mencakup pemangkasan perdagangan dengan negara komunis tetangganya itu.Korea Utara membantah terlibat dalam insiden tersebut dan membalas tindakan Korea Selatan itu dengan ancaman-ancaman perang.

Seorang diplomat Korea Utara mengatakan pada 3 Juni, ketegangan di semenanjung Korea setelah tenggelamnya kapal perang Korea Selatan begitu tinggi sehingga “perang bisa meletus setiap saat”.

Dalam pernyataan pada Konferensi Internasional mengenai Perlucutan Senjata, wakil utusan tetap Korea Utara untuk PBB di Jenewa, Ri Jang-Gon, menyalahkan “situasi buruk” itu pada Korea Selatan dan AS. “Situasi semenanjung Korea saat ini begitu buruk sehingga perang bisa meletus setiap saat,” katanya.

Kedua negara Korea itu tidak pernah mencapai sebuah perjanjian pedamaian sejak perang 1950-1953 dan hanya bergantung pada gencatan senjata era Perang Dingin.

Advertisements

Tahukah Anda, Berapa Kali Indonesia Diguncang Gempa Bumi Setiap Tahun?


Tahukah Anda, Berapa Kali Indonesia Diguncang Gempa Bumi Setiap Tahun?

REPUBLIKA.CO.ID,MAKASSAR–Letak geografis Indonesi yang berada di atas tiga lempeng yang bergerak dinamis, mengakibatkan negara ini sering dilanda gempa bumi. Dalam setahun, gempa bisa menggoyang negeri ini hingga 8.000 kali.

“Indonesia terletak di wilayah cincin api pertemuan tiga lempeng bumi yang bergerak secara dinamis,” ungkap Utusan Khusus Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan (UKP4), William Sabandar, di Makassar, Ahad (28/11).

Menurutnya, 8.000 gempa bumi yang terjadi dalam setahun tersebut memiliki kekuatan di atas empat Skala Richter. Ia mengatakan, pergeseran lempeng bumi inilah yang menyebabkan gempa bumi di Indonesia dan juga disertai dengan gelombang tsunami seperti  terjadi di Aceh, Nias, Mentawai, dan sejumlah daerah lainnya.

“Selain gempa bumi dengan kekuatan di atas empat skala richter, Indonesia juga masih sering dilanda gempa bumi dengan kekuatan yang lebih kecil dengan tingkat intensitas yang sama,” imbuhnya.

Kondisi geografis yang berada pada wilayah cincin api ini juga membuat Indonesia memilikii 128 gunung berapi yang masih aktif. Pada bulan lalu, lanjutnya, sudah terdapat 22 gunung berapi aktif dan siap meletus kapan saja serta memuntahkan lahar yang dapat menciptakan bencana.

“Gesekan lempeng yang semakin dinamis telah memicu kembali aktifnya banyak gunung berapi di Indonesia, dan bahkan yang telah tertidur selama ratusan tahun,” tuturnya.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus semakin mengakrabkan diri dengan bencana alam, mengingat kondisi alam yang menuntutnya seperti itu. Hidup akrab dengan bencana ini harus dimaknai sebagai kesiapan dan kesiagaan masyarakat Indonesia menghadapi bencana yang bisa datang kapan saja.

 

Isu Khilafah dan Teroris Panaskan Halaqah MUI


Isu Khilafah dan Teroris Panaskan Halaqah MUI

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA–Khilafah Islamiyah dan terorisme meramaikan halaqah/seminar bertajuk “Penanggulangan Terorisme” yang digelar MUI Pusat di Masjid Nasional Al Akbar, Surabaya, Ahad (28/11). “Kita tidak bisa melarang khilafah Islamiyah bila sebatas wacana, tapi kalau berupa tindakan kekerasan, maka akan berhadapan dengan hukum,” kata Kepala Badan Penanggulangan Terorisme Nasional, Ansyaad Mbai.

Di hadapan 100 peserta halaqah dari 40-an organisasi Islam seperti MUI, NU, Muhammadiyah, HTI, FPI, dan sebagainya, Ansyaad mengemukakan, demokrasi yang dikembangkan Indonesia saat ini tidak dapat melarang wacana karena merupakan bagian dari kebebasan mengemukakan pendapat.

“Tapi, kalau sudah kekerasan atau tindakan melawan hukum dengan mendirikan negara Islam yang bertentangan UUD 1945 dan kesepakatan para pendiri bangsa ini yang mayoritas Islam tapi menghormati agama-agama lain,” katanya.

Penjelasan Ansyaad sempat dikritik seorang aktivis HTI bahwa kesepatan para pendiri negara tentang Piagam Jakarta itu merupakan penyelewenangan sejarah yang dipelopori Bung Hatta. “Ahli sejarah Manshur Suryonegoro justru menyatakan kelompok non-Islam sebenarnya sudah sepakat dengan `Khilafah` dan bahwa seorang pendeta mendukung 200 persen, tapi semuanya dipotong Hatta,” ungkap seorang pengurus HTI disambut teriakan `Allahu Akbar`.

Ansyaad menjawab, dia tidak bisa berputar ke masa lalu, namun berpegang kepada konstitusi yang ada sekarang. “Kalau HTI memang ingin mengubah, silakan ke DPR RI. Usulkan apa yang Anda inginkan tentang Khilafah Islamiyah, tapi kalau kalah dalam musyawarah jangan bertindak melanggar hukum,” katanya.

Kapolda Jatim Irjen Badrodin Haiti dan Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchory mendukung pernyatan Ansyaad. “Negara kita adalah negara hukum. Boleh saja kita punya gagasan, tapi gunakan cara-cara konstitusional. Kalau tidak maka akan bertindak pidana dan akan berhadapan dengan hukum,” kata Kapolda Jatim.

Sementara Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchory menyatakan,  “Negara ini ada prosedurnya. Kalau mau jujur sebenarnya sudah banyak peraturan Islam yang menjadi hukum positif dan hal itu melalui prosedur yang konstitusional.”

Ketika berbicara terorisme Ansyaad Mbai menyatakan terorisme itu tidak ada kaitannya dengan agama, tapi politik dan persepsi atau penafsiran tentang agama. “Karena itu, kita jangan bicara terorisme secara teori dan dikaitkan dengan agama, tapi kita harus melihat fakta bahwa orang yang menghalalkan darah orang lain dengan atas nama apapun, maka berhadapan dengan hukum,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengutip hasil penelitian UIN Malang bahwa pelaku teroris itu bukan dari pesantren, tapi justru dari perguruan tinggi umum. “PT yang umum itu pun bukan pinggiran, tapi PT yang top. Pelaku teror itu juga bukan dari jurusan sosial, tapi eksakta dan sains. Buktinya, teroris yang ditangkap di Bandung merupakan sarjana teknik kimia ITB,” katanya.

Namun, ia mengaku terorisme itu tidak bisa diselesaikan dengan perang atau hukum semata, karena keduanya tidak akan menyelesaikan masalah. Sementara Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti menilai teroris itu bukan hanya bom, bisa juga berupa pembunuhan, penculikan, dan sebagainya yang tujuannya sama dengan teroris.

“Itu karena faktor penyebab terorisme itu bukan hanya faktor ideologi, karena ada juga terkait faktor ketidakadilan politik seperti NII pada tahun 1949, faktor ketidakadilan global seperti AS dan sekutunya, dan faktor separatisme,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, solusi mengatasi terorisme adalah dengan mempersempit ruang gerak melalui penertiban administrasi kependudukan (KTP dan surat pindah). “KTP atau surat pindah itu bisa dibuat dimana-mana, karena itu nama teroris itu banyak dengan memanfaatkan sistem administrasi,” katanya.

“Yang juga penting adalah deradikalisasi, karena itu peran ulama sangat penting untuk membentengi masyarakat agar tidak terpengaruh radikalisme dan selektif terhadap tamu yang kadang memanfaatkan keramahan orang Indonesia,” katanya.

Sementara Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Bukhory berjanji untuk meningkatkan halaqah dengan peserta yang lebih banyak dan narasumber yang berskala nasional seperti Ustadz Jakfar Umar Thalib.

 

Menkeu: Konflik Korea Pengaruhnya Sementara Buat RI


Menteri Keuangan Agus Martowardojo
 

JAKARTA – Menteri Keuangan Agus Martowardojo yakin jika konflik yang terjadi di Semenanjung Korea antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) tidak akan terlalu mempengaruhi fundamental perekonomian dalam negeri.

Jika pun mempengaruhi perekonomian Indonesia, maka sifatnya hanya sementara dan ekonomi Indonesia akan kembali stabil dalam waktu dekat.

“Korea kita prihatin, tapi kita sudah tahu karena Korea sebetulnya selama bertahun-tahun statusnya gencatan senjata. Jadi kalau sampai terjadi ada perselisihan antara Korut dan Korsel kita dapat pahami karena belum selesai. Tapi sebagai negara berkembang, Itu tentu bisa pengaruh kalau perang itu terusan, tapi kami berkeyakinan meski ada pengaruh itu sifatnya sementara. Untuk Indonesia kita akan kembali stabil,” jelasnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (24/11/2010).

Tak dapat dipungkiri, penyerangan yang dilakukan Korut terhadap Korsel menimbulkan kekawatiran akan adanya pengaruh pada perekonomian. Ditakutkan akan ada krisis yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di asia, ditambah adanya kebijakan China.

Agus pun mengelak jika akibat konflik tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan dikawasan Asia Tenggaran dan Asia Timur. Menurutnya, kedua kawasan tersebut ditambah Amerika Latin saat ini telah menjadi sumber pertumbuhan global dana akan terus tumbuh kedepannya.

“Kami enggak sependapat dengan itu karena Asia Tenggara itu sebetulnya sumber pertumbuhan global sekarang ini. Asia timur dan Amerika
latin. Jadi saya berkeyakinanan bahwa Asia Timur kedepan masih akan terus tumbuh, Amerika Latin terus tumbuh. Tapi daerah yang perlu konsolidasi adalah daerah Eropa dan Amerika,” tandasnya.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) mewaspadai kemungkinan terburuk yang bisa menimpa perekonomian Indonesia akibat konflik yang tersulut di semenanjung Korea antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut).

Namun, Deputi Gubernur BI Budi Mulya tidak mau terburu-buru menyatakan kekhawatirannya akan konflik tersebut dan BI akan terus memantau perkembangan yang terjadi.

“Apa yang terjadi di Korea Selatan tentu ada dampak terhadap negara-negara lain termasuk Indonesia. Apa yang tejadi negatif di global tentu akan ada pengaruhnya, tetapi akan seperti apa akibatnya tentu kita lihat saja nanti seperti apa,” ujar Budi Mulya.

Sebagaimana diketahui, kondisi ekonomi global akhir-akhir ini dipengaruhi situasi politik yang tidak stabil di Irlandia dan konflik di semenanjung Korea sehingga berhasil menekan harga sejumlah komoditi, serta euro karena para investor berbalik dari berisiko aset.

Uni Eropa mendesak Irlandia untuk menerapkan penghematan anggaran seperti yang dijanjikan negara tersebut kepada Uni Eropa dan IMF. Ini sebagai langkah politik untuk menyelematan perekonomian negara tersebut. Hasilnya, euro merana di posisi terendahnya dalam dua bulan ini. Ancaman pelemahan juga tampaknya masih akan berlanjut.

Sementara Korea Selatan memperingkatkan Korea Utara akan melakukan pembalasan besar-besaran jika mengambil langkah lebih agresif setelah Pyongyang digempur habis-habisan oleh Korea Utara. Serangan ini merupakan serangan terhebat sejak Perang Korea berakhir pada tahun 1953.

Pasar saham AS mengalami pelemahan akibat investor melakukan aksi jual akibat ketegangan di semenanjung Korea dan sebagai dan kekhawatiran utang di Zona Euro.(adn)(rhs)

sumber : http://economy.okezone.com/read/2010/11/24/20/396682/menkeu-konflik-korea-pengaruhnya-sementara-buat-ri

Kapal Induk AS Menuju Korea Selatan, Awal Perang Besar?


AS dan Korea Selatan telah sepakat untuk mengadakan latihan militer bersama dalam beberapa hari mendatang di tengah terjadinya ketegangan antara Korea Utara dan Selatan.

Presiden AS Barack Obama dan  Presiden Korea Selatannya Lee Myung-bak telah membuat keputusan itu setelah pertemuan menyusul terjadinya bentrokan mematikan Selasa kemarin (23/11) di antara kedua Korea, kantor berita Yonhap melaporkan pada hari Rabu ini (24/11).

Kapal induk USS George Washington, saat ini sedang menuju Korea Selatan sebagai bagaian dari keputusan untuk mengadakan latihan perang.

Pada hari Selasa kemarin, Seoul dan Pyongyang terlibat saling tembak artileri di pulau perbatasan Laut Kuning dari Yeonpyeong dan masing-masing saling menyalahkan atas terjadinya pertempuran.

Korea Selatan mengatakan mereka membalas tembakan setelah pasukan Korea Utara melepaskan tembakan ke salah satu pulau tersebut. Namun Korea Utara mengatakan pihak Selatan lah yang menembak pertama kali. Dua marinir Korea Selatan tewas dalam bentrokan itu.

Obama telah berjanji akan memebrikan “dukungan penuh” untuk Seoul, dan menyebut Korea Utara sebagai “ancaman serius” yang harus segera ditangani. Namun, ia mengesampingkan akan adanya intervensi militer AS.

“Amerika Serikat tetap tegas dan berkomitmen penuh untuk membela sekutunya Republik Korea,” katanya.

Baru-baru ini, Amerika Serikat dan Korea Selatan telah melakukan beberapa latihan gabungan laut besar-besaran dan latihan udara di perairan timur Semenanjung Korea.(fq/prtv)

sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kapal-induk-as-menuju-korea-selatan.htm

%d bloggers like this: