Monthly Archives: August 2010

Yaman di Bawah Rezim Saat ini Berada di Tepi Jurang Kehancuran


Sebelum Islam, Yaman mencerminkan titik temu pertarungan antara Persia dan Rumawi (Habasyi) dikarenakan pentingnya Yaman karena potensi dan posisinya. Setelah penduduk Yaman masuk Islam, mereka menjadi pelopor dalam penyebaran Islam di semua tempat, sehingga Persia dan Rumawi hancur di bawah pedang tentara-tentara Allah SWT. Penduduk Yaman seperti kaum muslim yang lain, dengan Islam, mereka berubah dari posisinya sebagai pihak yang lemah dicengkeram oleh kekuatan imperialis menjadi tuan-tuan yang mulia bagi dunia dan disegani oleh siapa saja yang belum didatangi oleh mereka. Demikian pula hari ini, pasca runtuhnya Daulah Khilafah yang dicabik-cabik oleh musuh-musuh Islam, kita pun kembali menjadi lemah sebagaimana dahulu sebelum Islam, untuk memperlihatkan pertarungan Anglo-Amerika dalam bentuk kebrutalan yang tersebar di negeri-negeri kaum muslim, dikomandani oleh antek-antek, duta-duta dan orang-orang mereka yang berkeliaran di seluruh penjuru negeri mencari kesempatan untuk memicu kekacauan dan pertumpahan darah. Kadang-kadang mereka berhasi merealisasikannya.

Di utara Yaman mereka memicu enam rangkaian perang Sha’ada dan Harf Sufyan yang pertama kali meletus tahun 2004. Perang itu telah menghancurkan tanaman dan ternak, menciptakan janda-janda, kehancuran, dan anak-anak yatim. Rezim tanpa belas kasihan menggunakan segala jenis peralatan dan senjata berat dan yang terlarang secara internasional, membunuh ribuan nyawa dan mengusir ratusan ribu orang, dan menghancurkan ribuan rumah. Rangkaian penghancuran itu terus berlangsung selama tujuh musim. Semua kejahatan keji itu dilakukan oleh pasukan Anglo-Amerika menggunakan tangan-tangan penduduk Yaman dan keluarga Sa’ud. Betapa memalukan semua perbuatan itu, yang kita berharap justru diarahkan kepada pencaplok Palestina, Afganistan, Irak dan negeri-negeri Islam lainnya.

Sedangkan selatan Yaman, maka imperialis memanfaatkan perasaan masyarakat yang merasa termarjinalisasi, tertindas, dizalimi dan korupsi yang sangat mudah diketahui oleh setiap orang yang memiliki mata, untuk menuntut pemisahan sebagai solusi untuk mengakhiri kesengsaraan mereka. Padahal pemisahan itu diharamkan oleh syara’ dengan tegas dan jelas!

Di bagian negeri lainnya seperti al-Ma’jalah di Abyan yang dibombardir oleh pesawat-pesawat tempur rezim, al-Yaman Times pada no 1371 tanggal 10 Juni di halaman pertamanya melansir gambar sisa-sisa rudal Tomahawk buatan Amerika dan hanya dimiliki oleh Amerika, dan gambar bom cluster yang tidak meledak. Bagaimana rezim menggunakan rudal semisal itu di tengah kaum muslim untuk menumpahkan darah para wanita, anak-anak dan laki-laki yang tak berdosa?

Mahfad di Sabwa dan Obeida di Ma’rib dibombardir menggunakan pesawat tak berawak Amerika yang menyebabkan korban tewas dengan dalih memerangi terorisme dan untuk menyenangkan Amerika yang telah mensuport rezim dengan ratusan juta dolar. Yang paling akhir, di Aden kota kedua terpenting di Yaman baik secara politik maupun ekonomi, Rezim tanpa belas kasihan menembaki para demonstran dalam sebuah aksi damai memprotes korupsi yang menyebar di seluruh Yaman, yang menyebabkan sejumlah korban tewas, terluka dan sejumlah orang ditangkap. Aksi-aksi rezim seperti itu menunjukkan kekacauan yang telah melanda seluruh negeri, dengan tanda tangan Rezim untuk memuaskan Amerika. Semestinya kekuatan Rezim Yaman digunakan untuk menghadapi kekuatan imperialis dalam serangannya, bukan malah berjalan sesuai arahan imperialis dalam menjerumuskan negeri dan penduduknya ke jurang kesengsaraan dan kehancuran!

Rezim Yaman tidak lagi memiliki kesibukan kecuali mengganggu kehidupan kaum muslim di Yaman yang hidup dalam kemiskinan, dilanda penyakit, kelaparan, ketakutan, kengerian dan tanpa rasa aman. Artileri dan pesawat terus membantai masyarakat! Tidak ada makanan. Ketergantungan kepada remah-remah yang datang dari luar negeri mewariskan kehinaan dan kemiskinan, karena remah-remah itu tidak bisa membuat kenyang dan mengilangkan rasa lapar, bahkan hanya menimbulkan kerendahan dan kehinaan! Lisrtik pun tidak ada. Kalaupun ada maka pemutusan aliran melanda seluruh kota di Yaman. Tidak ada air, kalaupun ada maka tercemar yang menyebabkan penyakit dan wabah epidemi. Tidak ada jalan. Kalaupun ada jalan-jalan itu sempit penuh lubang dan bergelombang. Bahkan tidak ada yang mulus meski hanya beberapa meter. Karenanya kondisi itu menyebabkan korban tewas dan terluka bukan karena perang terhadap nyawa dan harta benda. Berdasarkan laporan yang ada dalam masalah itu, hal itu merendahkan semua orang.

Semua itu menegaskan kesengajaan Rezim Yaman menyengsarakan masyarakat dan tidak peduli dengan nasib mereka.

Wahai pemilik keimanan dan hikmah.

Wahai para pemuka Yaman.

Bukankah Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang Anda ketahui tetapi tidak Anda kerjakan? Apakah Anda tidak mau berbuat agar Allah SWT meridhai Anda dan mengampuni kesalahan-kesalahan Anda yang telah lalu? Fakta keadaan Anda lebih dari cukup dari perkataan Anda. Tidakkah Anda menghisab diri sendiri sebelum Anda dihisab nanti. Maka mohonlah ampunan kepada Rabb Anda dan bertaubatlah kepada-Nya. Bersikaplah layaknya sikap penganut kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Dengan itu berikutnya Anda bisa berharap Allah akan meringankan azab terhadap Anda? Karena minimal (sebelumnya) Anda diam saja dan yang paling tinggi justru ikut berkonstribusi sehingga kedua tangannya basah oleh darah orang-orang yang tak berdosa!

Wahai ahlul quwah di bumi Yaman, para Komandan militer.

Tidakkah Anda tahu bahwa Anda hanya membunuhi saudara Anda sendiri, pada waktu di mana musuh-musuh Anda menumpahkan darah dan mempermainkan potensi dan kekayaan negeri serta menyebarkan kekacauan dan kemungkaran?? Padahal Allah SWT telah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنْ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنْ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS al-Baqarah [2]: 120)

Belum cukupkah Anda memperpanjang sikap bungkam Anda?? Apa yang Anda berikan kepada umat Anda dan sampai kapan Anda akan membiarkan darah orang-orang tak berdosa yang ditumpahkan tanpa hak, dan bukannya menghalangi dan menindak orang-orang zalim itu? Tidakkah Anda memperhatikan peran nenek moyang Anda dalam meninggikan kalimat Allah dan berjihad di jalan-Nya menyebarkan agama-Nya dan membela kesucian dan tempat sucinya? Tidakkah Anda tahu bahwa nenek moyang Anda dahulu memiliki andil besar dalam futuhat Persia, Rumawi, Andalusia, Afrika Utara, India dan Sind? Tidakkah Anda akan bersegera kepada kemuliaan di dunia dan akhirat, lalu Anda dirikan Daulah Islam, Khilafah Rasyidah, sehingga Anda akan sukses di dunia dan akhirat dan itu adalah kesuksesan yang besar? Bukankah Anda adalah bagian dari kaum Muslim dan kemuliaan adalah milik Anda, lalu kenapa musuh-musuh Allah bisa menguasai Anda? Dimana ghirah Anda terhadap agama Anda dan darah serta kehormatan saudara-saudara Anda seagama? Demi Allah, Allah akan meminta pertanggungjawaban Anda, lalu apa jawaban Anda? Bukankah dunia itu fana, lalu apa yang Anda persiapan untuk sesuatu yang kekal selain duduk membisu?

Hizbut Tahrir ada di tengah Anda dan bagian dari Anda, menyeru Anda untuk mendirikan daulah Khilafah yang telah dijanjikan oleh Allah SWT

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur[24]: 55)

Juga menjadi berita gembira dari Rasulullah saw :

…… ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

… kemudian akan ada Khilafah berdasarkan manhaj kenabian (Hr Ahmad).

Jadi janganlah Anda malas untuk melaksanakan kewajiban Anda karena takut kepada orang-orang zalim dan permusuhan mereka kepada Anda. Sesungguhnya siapa saja yang menolong Allah maka tidak ada yang bisa mengalahkannya. Allah SWT berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمْ اللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلْ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS Ali Imran [3]: 160)

Sungguh Allah adalah penolong orang-orang yang beriman dan Yang mengalahkan musuh-musuh-Nya. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad [47]: 7)

Hizbut Tahrir membangkitkan semangat dan tekad Anda untuk menolong kebenaran tanpa takut di jalan Allah kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Maka penuhilah seruan kebenaran. Tolonglah Hizb dalam perjuangannya untuk melanjutkan kembali kehidupan Islami dengan menegakan Khilafah Rasyidah yang dengan itu akan bisa meraih kemuliaan di dunia dan akhirat.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS al-Anfal [8]: 24)

11 Sya’ban 1431 H/23 Juli 2010 M

Hizbut Tahrir Wilayah Yaman

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/06/yaman-di-bawah-rezim-saat-ini-berada-di-tepi-jurang-kehancuran/

Bila Shaum Menjadi Benteng Individu Kita, Dimana Khilafah yang Menjadi Benteng Umat ?


shaum

Suatu waktu Rasulullah SAW bersabda: “Shaum itu adalah benteng (junnah). Maka, orang yang sedang shaum hendaknya tidak berkata jorok dan tidak bertindak bodoh. Apabila ada pihak yang memeranginya atau mengejeknya, maka katakanlah kepadanya ‘Aku sedang berpuasa!’ (beliau mengulanginya dua kali)” (HR. Bukhari, Muslim). Ada hal amat menarik dalam hadits ini. Shaum disebut sebagai junnah atau benteng. Junnah artinya penjaga (wiqoyah) dan penutup (satrah) dari terjerumusnya seseorang kedalam kemaksiatan yang menyebabkan pelakunya masuk neraka. Juga, junnah bermakna penjaga dari neraka karena menahan syahwat (al-Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar, Juz II, hal. 670).

Hal ini menegaskan bahwa shaum (puasa) merupakan benteng yang sifatnya individual. Shaum menjadi penawar terhadap nafsu dan syahwat pribadi dan berujung pada penjagaan kemaksiatan secara individual. Perkara tersebut menjadi lebih jelas ketika kita memperhatikan penuturan Abdullah bin Mas’ud. Dahulu kala, beliau berjalan bersama dengan Rasulullah SAW. Pada saat berjalan bersama-sama itu, Nabi bersabda: “Barangsiapa yang sudah mampu, hendaklah dia kawin (menikah) karena menikah itu lebih bisa menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak sanggup (menikah) maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi benteng (wijaun) baginya” (HR. Bukhari). Hadits ini mengisyaratkan puasa sebagai benteng ‘nafsu dan syahwat individual’. Karenanya, dapat dipahami bahwa shaum memang merupakan benteng individual.

Bila shaum merupakan benteng individual maka hal-hal yang merusak masyarakat, tentu, tidak dapat dicegah dan dijaga oleh semata-mata shaum. Namanya juga individual hanya akan dapat menuntaskan perkara yang sifatnya juga individual. Karenanya dapat dipahami mengapa kristenisasi masih terjadi, aliran sesat terus dibiarkan, peredaran video mesum tak terbendung, harta kekayaan rakyat terus digasak pejabat dan dijual kepada asing, korupsi para pejabat tambah menggila, stigma Islam dengan terorisme tak berhenti, pemutar balikan Islam ala liberal makin dilegalisasi. Adalah kurang relevan bila untuk melindungi umat dari semua itu sekedar mengandalkan shaum yang sifatnya individual.

Islam memang agama paripurna. Allah SWT bukan hanya mensyariatkan shaum sebagai benteng individual, melainkan juga mensyariatkan kepemimpinan umat (imamah, khilafah) sebagai benteng masyarakat secara keseluruhan. Berkaitan dengan masalah ini, Junjungan kita Muhammad SAW bersabda: “Dan sesungguhnya imam adalah laksana benteng (junnah), dimana orang-orang akan berperang mengikutinya dan berlindung dengannya. Maka jika dia memerintah dengan berlandaskan taqwa kepada Allah dan keadilan, maka dia akan mendapatkan pahala. Namun jika dia berkata sebaliknya maka dia akan menanggung dosa” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari berbagai kitab hadits maupun syarahnya dapat dipahami bahwa istilah imam maksudnya sama dengan khilafah. Menurut Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhariy, imam disini maknanya pemerintah tertinggi yang mengurusi urusan umat. Dengan menjadi benteng, imam mencegah musuh menyakiti kaum Muslim dan mencegah masyarakat saling menyakiti satu sama lain (al-Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar, Juz III, hal. 1080). Sementara itu, meminjam penjelasan Imam as-Suyuthi, imam sebagai benteng berarti imam sebagai pelindung sehingga dapat mencegah musuh menyakiti kaum Muslim dan mencegah masyarakat saling menyakiti satu sama lain. Juga, memelihara kekayaan Islam. Kaum Muslim bersama dengan imam tersebut memerangi kaum kafir, pembangkang dan penentang kekuasaan Islam, dan semua pelaku kerusakan. Imam melindungi umat dari seluruh keburukan musuh, pelaku kerusakan, dan kezhaliman (ad-Dibaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hujaj, Juz IV, hal. 454; Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, Juz XII, hal. 230).

Kenyataan bahwa imam/khalifah sebagai benteng kaum Muslim ini dicatat dengan baik dalam sejarah Islam. Sekedar contoh, ketika Islam diterapkan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (rh), pendapatan Negara surplus hingga tak ada seorang pun yang berhak mendapatkan zakat. Rakyat betul-betul tersejahterakan. Dulu pernah ada tentara Romawi melecehkan perempuan dengan menarik jilbabnya, segeralah Khalifah Mu’tashim mengerahkan pasukan untuk melindungi keamanan dan kehormatan perempuan itu. Berbeda dengan itu, perempuan Islam sekarang nyawanya saja tidak dihargai. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), penjajahan AS di Afghanistan telah membunuh 2 juta perempuan muslimah, sementara sebanyak 744.000 perempuan Muslim di Irak tewas. Saat Islam diterapkan, kehormatan perempuan dijaga dengan sebaik-baiknya.

Nyatalah, kita perlu dua benteng. Shaum sebagai benteng individual, dan yang tak kalah pentingnya adalah khalifah sebagai benteng umat Islam secara keseluruhan. Karenanya, benteng individual yang diraih pada bulan Ramadhan selayaknya dijadikan modal untuk mewujudkan kekhilafahan sebagai benteng umat Islam dalam kehidupan. Insya Allah.[MR Kurnia]

Al Qur’an Sumber Solusi, Mengapa Tetap Diabaikan?


alquran

[Al Islam 521] Tak terasa, hari-hari shaum yang kita jalani sudah memasuki pertengahan Ramadhan. Sebagai Muslim kita meyakini, di antara malam-malam Ramadhan itu akan hadir Lailatul Qadar yang ditunggu-tunggu, karena nilai keutamaannya yang setara dengan seribu bulan. Selain itu, pada malam Lailatul Qadar ini pula al-Quran pertama kali diturunkan oleh Allah SWT dari Lauhil Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di Langit Dunia. Allah SWT berfirman:

إِنّا أَنزَلنٰهُ فى لَيلَةِ القَدرِ ﴿١﴾ وَما أَدرىٰكَ ما لَيلَةُ القَدرِ ﴿٢﴾ لَيلَةُ القَدرِ خَيرٌ مِن أَلفِ شَهرٍ ﴿٣﴾

Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran pada Lailatul Qadar. Apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik nilainya dari seribu bulan (QS al-Qadar [97]: 1-3).

Sebagian Muslim meyakini al-Quran pertama kali turun ke bumi tanggal 17 Ramadhan. Untuk itu, pada 17 Ramadhan mereka biasa memperingati peristiwa turunnya al-Quran atau mengadakan Peringatan Nuzulul Quran. Karena itu, tentu penting untuk memaknai kembali peristiwa Nuzulul Quran yang setiap tahun diperingati oleh kaum Muslim, bahkan biasa diperingati oleh Kepala Negara dan jajaran para pejabatnya di negeri ini.

Makna Nuzulul Quran

Allah SWT berfirman:

شَهرُ رَمَضانَ الَّذى أُنزِلَ فيهِ القُرءانُ هُدًى لِلنّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِنَ الهُدىٰ وَالفُرقانِ

Bulan Ramadhan, itulah bulan yang di dalamnya al-Quran diturunkan, sebagai petunjuk (bagi manusia), penjelasan atas petunjuk itu serta sebagai pembeda (QS al-Baqarah [2]: 185).

Ayat di atas tegas menyatakan bahwa al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT berfungsi sebagai hud[an], bayyinat dan furq[an]. Maknanya, al-Quran adalah petunjuk bagi manusia; memberikan penjelasan tentang mana yang halal dan mana yang haram, juga tentang berbagai hudud dan hukum-hukum Allah SWT; serta pembeda mana yang haq dan mana yang batil (Lihat: al-Baidhawi/I/220; Ibn Abi Salam, I/154; an-Nasisaburi, I/48; As-Suyuthi, I/381). Lebih tegas dinyatakan oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Aysar at-Tafasir, saat menafsirkan potongan ayat di atas, bahwa al-Quran merupakan petunjuk bagi manusia yang bisa mengantarkan mereka untuk meraih kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Maknanya, al-Quran turun dalam rangka: (1) memberi manusia petunjuk; (2) menjelaskan kepada mereka jalan petunjuk itu; (3) menerangkan jalan kebahagiaan dan kesuksesan mereka; (4) memandu mereka agar bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil dalam seluruh urusan kehidupan mereka (Al-Jazairi, I/82).

Al-Quran: Sumber Solusi

Dengan memahami maksud ayat di atas, jelas harus dikatakan bahwa al-Quran sesungguhnya sumber solusi bagi setiap persoalan hidup yang dihadapi manusia. Hal ini juga ditegaskan dalam ayat berikut:

وَنَزَّلنا عَلَيكَ الكِتٰبَ تِبيٰنًا لِكُلِّ شَيءٍ وَهُدًى وَرَحمَةً وَبُشرىٰ لِلمُسلِمينَ

Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim (QS an-Nahl [16]: 89).

Menurut Al-Jazairi (II/84), frasa tibyan[an] li kulli syay[in] bermakna: menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat (Al-Jazairi, II/84). Ayat di atas juga menegaskan bahwa al-Quran merupakan petunjuk (hud[an]), rahmat (rahmat[an]) dan sumber kegembiraan (busyra) bagi umat.

Sayang, meski Allah SWT secara tegas menyatakan al-Quran sebagai sumber solusi, kebanyakan kaum Muslim saat ini mengabaikan penegasan Allah SWT ini. Buktinya, hingga saat ini al-Quran tidak dijadikan rujukan oleh umat, khususnya para penguasa dan elit politiknya, untuk memecahkan berbagai persoalan hidup yang mereka hadapi. Padahal jelas, umat ini, khususnya di negeri ini, sudah lama dilanda berbagai krisis: krisis keyakinan (misal: munculnya banyak aliran sesat), krisis akhlak (munculnya banyak kasus pornografi/pornoaksi, perselingkuhan/perzinaan, dll), krisis ekonomi (kemiskinan, pengangguran, dll) krisis politik (karut-marut Pemilukada, separatisme, dll), krisis sosial, krisis pendidikan, krisis hukum, dll. Semua ini tentu membutuhkan solusi yang pasti, tuntas dan segera.

Memang, para penguasa dan elit politik negeri ini bukan tidak berusaha mencari solusi. Namun, solusi yang mereka gunakan alih-alih mampu mengatasi berbagai krisis tersebut, tetapi malah memperpanjang krisis dan menambah krisis baru. Ini karena solusi yang dipakai selalu merujuk pada ideologi sekular, yakni Kapitalisme. Untuk mengatasi krisis keyakinan, misalnya, mereka malah mengembangkan pluralisme. Untuk mengatasi krisis ekonomi, mereka mengembangkan ekonomi yang makin liberal antara lain dengan mengembangkan program privatisasi (penjualan aset-aset negara), terus menumpuk utang luar negeri yang berbunga tinggi, menyerahkan pengelolaan (baca: penguasaan) berbagai sumberdaya alam (SDA) kepada swasta/pihak asing, menyerahkan harga barang-barang milik rakyat (BBM, listrik, gas, bahkan air) kepada mekanisme pasar, dll. Akibatnya, kemiskinan dan pengangguran justru makin meningkat, dan krisis ekonomi makin parah.

Untuk mengatasi krisis politik mereka terus mengembangkan demokrasi yang justru menjadi akar persoalan politik. Untuk mengatasi krisis pendidikan mereka malah terus melakukan sekularisasi dan ‘kapitalisasi’ pendidikan. Akibatnya, sudahlah mahal, pendidikan tidak menghasilkan generasi beriman dan bertakwa serta berkualitas.

Lalu untuk mengatasi krisis hukum dan keadilan mereka malah memproduksi hukum buatan sendiri yang sarat dengan kepentingan para pembuatnya. Demikian seterusnya. Akibatnya, berbagai krisis tersebut bukan malah teratasi, tetapi malah makin menjadi-jadi. Semua itu jelas, karena mereka benar-benar telah mengabaikan al-Quran sama sekali.

Dosa Mengabaikan al-Quran

Selain menjadikan berbagai krisis tidak pernah teratasi, mengabaikan al-Quran sesungguhnya merupakan dosa besar bagi kaum Muslim. Allah SWT berfirman:

وَقالَ الرَّسولُ يٰرَبِّ إِنَّ قَومِى اتَّخَذوا هٰذَا القُرءانَ مَهجورًا ﴿٣٠﴾

Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.” (QS al-Furqan [25]: 30).

Dalam ayat ini, Rasulullah saw. mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan al-Quran sebagai mahjûr[an], yakni melakukan hajr al-Qur’ân (mengabaikan al-Quran).

Dulu ayat ini berkaitan dengan orang-orang kafir. Namun saat ini, tidak sedikit umat Islam yang bersikap abai terhadap al-Quran, sebagaimana kaum kafir dulu. Memang mereka tidak mengabaikan al-Quran secara mutlak. Namun, mereka sering memperlakukan ayat-ayatnya secara diskriminatif. Misal: mereka bisa menerima apa adanya hukum-hukum ibadah atau akhlak, tetapi menolak hukum-hukum al-Quran tentang kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, pidana, atau hubungan internasional. Contoh, terhadap ayat-ayat al-Quran yang sama-sama menggunakan kata kutiba yang bermakna furidha (diwajibkan atau difardhukan), sikap yang muncul berbeda. Ayat kutiba ‘alaykum al-shiyâm (diwajibkan atas kalian berpuasa) dalam QS al-Baqarah [2]: 183 diterima dan dilaksanakan. Namun, terhadap ayat kutiba ‘alaykum al-qishâsh (diwajibkan atas kalian qishash; dalam QS al-Baqarah [2]: 178), atau kutiba ‘alaykum al-qitâl (diwajibkan atas kalian berperang; dalam QS al-Baqarah [2]: 216), muncul sikap keberatan, penolakan bahkan penentangan dengan beragam dalih; apalagi ketika semua itu diserukan untuk diterapkan secara praktis. Sikap ini jelas terkategori ke dalam sikap mengabaikan al-Quran dan karenanya merupakan dosa besar.

Pentingnya Membumikan al-Quran

Dengan mencermati paparan di atas, umat ini sejatinya segera menyadari, bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi seluruh persoalan hidup mereka saat ini tidak lain dengan kembali menjadikan al-Quran sebagai sumber solusi. Tentu aneh jika selama ini banyak yang mempertanyakan peran Islam dan kaum Muslim dalam menyelesaikan aneka krisis, namun pada saat ada tawaran untuk menjadikan syariah Islam-yang notabene bersumber dari al-Quran-sebagai solusi malah ditolak. Bahkan belum apa-apa mereka menuduh penerapan syariah Islam sebagai ancaman terhadap pluralisme, Pancasila, NKRI dll. Padahal jelas, solusi-solusi yang tidak bersumber dari syariah (al-Quran) itulah yang selama ini nyata-nyata telah “mengancam” negeri dan bangsa ini, yang berakibat pada makin panjangnya krisis dan membuat krisis makin bertambah parah.

Jelas, di sinilah pentingnya umat ini segera membumikan al-Quran, dalam arti menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab,    al-Quran memang harus diterapkan. Di dalamnya terdapat hukum yang mengatur seluruh segi dan dimensi kehidupan (QS an-Nahl [16]: 89).

Hanya saja, ada sebagian hukum itu yang hanya bisa dilakukan oleh negara, semisal hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik luar negeri; termasuk pula hukum-hukum yang mengatur pemberian sanksi terhadap pelaku pelanggaran hukum syariah. Hukum-hukum seperti itu tidak boleh dikerjakan oleh individu dan hanya sah dilakukan oleh khalifah atau yang diberi wewenang olehnya.

Berdasarkan fakta ini, keberadaan negara merupakan sesuatu yang dharûrî (sangat penting). Tanpa ada sebuah negara, mustahil semua ayat al-Quran dapat diterapkan. Tanpa negara Khilafah Islamiah, banyak sekali ayat al-Quran yang terbengkalai. Padahal menelantarkan ayat al-Quran-walaupun sebagian-termasuk tindakan mengabaikan al-Quran yang diharamkan. Oleh karena itu, berdirinya Daulah Khilafah Islamiah harus disegerakan agar tidak ada satu pun ayat yang diabaikan.

Lebih dari itu, al-Quran telah terbukti menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan umat manusia, terutama dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan mereka. Simaklah pengakuan jujur seorang cendekiawan Barat, Denisen Ross, “Harus diingat, bahwa al-Quran memegang peranan yang lebih besar bagi kaum Muslim daripada Bibel dalam agama Kristen…Demikianlah, setelah melintasi masa selama 13 abad, al-Quran tetap merupakan kitab suci bagi seluruh Turki, Iran, dan hampir seperempat penduduk India. Sungguh, sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama pada masa kini…” (E. Denisen Ross, dalam buku, Kekaguman Dunia Terhadap Islam).

Simak pula komentar W.E. Hocking tentang al-Quran, “Saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan Abad Ketiga belas, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461).

Walhasil, jika al-Quran nyata-nyata merupakan sumber solusi, mengapa penguasa negeri ini tetap mengabaikannya dan enggan menerapkannya dalam kehidupan?!

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-islam:

DPD Harap Tingkatkan Sinergi dengan Pemerintah Bahasa Amandemen UUD 1945 (Detik.com, 24/8/2010).

Amandemen UUD negara puluhan kali tetap sia-sia belaka jika tidak merujuk pada al-Quran.

Penduduk DKI Jakarta setara dengan 4 Negara


jakartaPemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan memperketat pembuatan kartu tanda penduduk (KTP). Pengetatan ini untuk mengatasi laju pertumbuhan penduduk di Ibu Kota.

Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pengendalian Kependudukan dan Pemukiman, Margani M Mustar, mengatakan ada beberapa program yang dijalankan untuk mengatasi pertumbuhan penduduk. Program yang dimaksud berupa pendekatan administrasi, pengawasan, program keluarga berencana, dan transmigrasi. “Dalam pengawasan administrasi kita lakukan melalui operasi yustisi,” kata Margani di Jakarta, Selasa (24/8).

Margani merasa telah berhasil mengerem laju pertumbuhan penduduk DKI Jakarta. Selama sepuluh tahun, kilahnya, pertumbuhan penduduk kurang DKI dari satu juta jiwa. Meski demikian, pemprov akan selalu siaga karena ledakan penduduk selalu mengancam Jakarta.

Untuk mengatasi masalah pertumbuhan penduduk, tuturnya, di tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Pemprov DKI, tapi harus bekerja sama dengan daerah lain. Mengenai pembatasan pembuatan KTP bagi warga luar daerah yang mau pindah ke Jakarta, Margani berpendapat tidak bisa dilakukan.

Ia mengatakan Jakarta merupakan daerah terbuka bagi setiap orang. Pemprov DKI hanya bisa memperketat persyaratan pembuatan KTP. “Kita buat syaratnya seketat mungkin. Selama masih memenuhi persyaratan, pembuatan KTP masih diperbolehkan,” tuturnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Jakarta mencapai 9,58 juta. Sedangkan, jumlah penduduk di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) mencapai 26,6 juta. Jumlah penduduk Jabodetabek tersebut setara dengan jumlah penduduk di empat negara, yakni Australia 20,8 juta jiwa, Singapura 4,4 juta jiwa, Timor Leste 1,1 juta jiwa, dan Brunei Darussalam 0,39 juta jiwa.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), Franky Mangatas Panjaitan, menambahkan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi pertumbuhan penduduk adalah mewujudkan tertib administrasi kependudukan. Ini antara lain dilakukan melalui operasi yustisi kependudukan dengan memperketat kedatangan penduduk dari luar DKI.

sumber : http://www.ditox.co.cc/penduduk-dki-jakarta-setara-dengan-4-negara.html

Obama Perlu Dialog Dengan Ikhwanul Muslimin untuk Menghadapi Salafi


LONDON- Sebuah laporan merekomendasikan Presiden AS Barack Obama agar membuka ruang dialog dengan Ikhwanul Muslimin untuk mencegah apa yang ia sebut dengan kelompok-kelompok ekstremis Salafis mengisi kekosongan akibat tidakadanya partisipasi “Aktivis Islam Moderat” dalam politik.

Laporan yang dibuat oleh Institut Brookings Amerika, dan disusun oleh peneliti di the Saban Center untuk Kebijakan Timur Tengah, Shadi Hamid dengan judul: “Reaksi Aktivis Islam Terhadap Penindasan …. Apakah Mainstream Kelompok Islam Akan Memakai Ekstremisme?

Laporan itu menetapkan langkah-langkah praktis yang perlu diambil oleh pemerintah Obama, terutama dukungan secara terbuka terhadap hak semua kelompok oposisi, termasuk gerakan Islam, khususnya Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Yordania, untuk berpartisipasi dalam pemilu mendatang. Dan mendukung hak semua kelompok politik “non kekerasan” untuk berpartisipasi dalam proses pemilihan .

Menanamkan Pengaruh Amerika

Laporan ini juga merekomendasikan tentang perlunya kedutaan Amerika kembali berdialog dengan para aktivis Islam, setelah hampir satu dekade setelah pemerintah mantan Presiden AS, George W. Bush dan Ikhwanul Muslimin memutuskan untuk tidak berdialog di antara kedua belah pihak pasca serangan 11 September 2001.

Laporan tersebut menegaskan bahwa dengan saluran-saluran dialog yang terbuka ini memungkinkan Amerika Serikat untuk menanamkan pengaruh dalam strategi yang ditempuh oleh kelompok Islam, khususnya yang berkaitan dengan partisipasi dalam pemilu.

Korban “Permainan” Hasil Pemilihan

Laporan tersebut mengakui bahwa Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Yordania telah menjadi korban dari “permainan” hasil pemilihan terakhir.

Laporan itu memaparkan inisiatif reformasi yang dilontarkan oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir pada tahun 2004. Bahkan hal ini dianggapnya sebagai “Tonggak utama dalam evolusi politik dalam Ikhwanul Muslimin, yang merupakan upaya untuk mengangkat masalah demokrasi dan pengumpulan kekuatan-kekuatan politik lainnya di sekitar visi bersama demi sebuah perubahan.”

Laporan itu mengatakan bahwa ini merupakan yang pertama kalinya kelompok (Ikhwanul Muslimin) menyatakan keyakinan mereka terhadap sistem parlemen, dan hak partai untuk memenangkan sebanyak mungkin suara dalam rangka membentuk pemerintahan.

Laporan itu juga memaparkan pengalaman Ikhwanul Muslimin di Yordania, serta pemboikotan mereka terhadap pemilihan umum pada tahun 1997, dan kembali berpartisipasi di tahun 2003. Bahkan dalam pemilihan kali ini mereka mendapatkan 17 kursi, dan memenangkan mayoritas suara.

Laporan juga menunjuk pada program reformasi yang diumumkan oleh kelompok (Ikhwanul Muslimin) pada tahun 2005. Dan laporan menilai hal ini sebagai “Ekspresi dari arah jangka panjang gerakan Islam baru untuk fokus pada reformasi demokratis.”

Laporan memaparkan tentang keputusan Ikhwanul Muslimin di Yordania untuk memboikot pemilu yang akan berlangsung tahun ini setelah menuduh pemerintah berlaku curang dalam pemilihan umum tahun 2007.

Menurut laporan itu, bahwa penyelenggaraan pemilu tanpa partisipasi kelompok Islam “Akan mengurangi legitimasi, dan membuka pintu bagi kelompok-kelompok Salafis untuk mengisi kekosongan itu.” (islammemo.cc, 23/8/2010)

%d bloggers like this: