Monthly Archives: June 2010

Islam in China: Under The Heel of a Dragon (via الله أكبر)


Artikel ini bisa menjadi rujukan, jika mencari artikel tentang Islam di Cina….

Syukran kepada Mba Zahra dan Ust. Felix….

Islam in China: Under The Heel of a Dragon by Felix Siauw Islam in China Apa yang muncul di benak kita ketika melihat wajah putih kekuningan dengan mata yang sipit? maka biasanya yang terbetik di benak kita adalah: kafir, musyrik, penjajah, pelit, egois, perebut harta pribumi, koruptor, penjual narkoba dan lain-lain. Well, that’s acceptable, kenapa? karena fakta itulah yang mungkin selalu terlihat oleh ummat muslim di Indonesia, sehingga beberapa orang yang berpandangan sempit lalu memben … Read More

via الله أكبر

Advertisements

Kungfu China di India


Wushu pelatih Rahman  Aqil (C) menginstruksikan pada seni bela diri wushu Cina praktik di  sekolah St Maaz tinggi, di kota India selatan Hyderabad, 8 Juli 2008.  Girls dari usia 10-16 berpartisipasi dalam sesi mingguan selama masa  sekolah.

Wushu pelatih Rahman Aqil (C) menginstruksikan siswa selama seni bela diri wushu Cina praktik di sekolah St Maaz tinggi, di kota India selatan Hyderabad 8 Juli 2008. Wanita muda dari usia 10-16 berpartisipasi dalam sesi mingguan selama masa sekolah.(Photo:chinadaily.com.cn/Agencies)

Seorang anak muslim dari sekolah Maaz St tinggi praktik seni bela  diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan  Hyderabad, 8 Juli 2008.

Seorang anak muslim dari sekolah St Maaz tinggi praktik seni bela diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan Hyderabad 8 Juli 2008. (Photo:chinadaily.com.cn/Agencies)

Muslim schoolgirls dari praktek sekolah St  Maaz tinggi seni bela diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota  India selatan Hyderabad, 8 Juli 2008.

Siswi Muslim dari sekolah tinggi Maaz St praktek seni bela diri wushu Cina  di dalam kompleks sekolah di kota India selatan Hyderabad 8 Juli 2008. (Photo:chinadaily.com.cn/Agencies)

Seorang anak muslim dari sekolah Maaz St tinggi praktik seni bela  diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan  Hyderabad, 8 Juli 2008.

Seorang anak muslim dari sekolah St Maaz tinggi praktik seni bela diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan Hyderabad 8 Juli 2008. (Photo:chinadaily.com.cn/Agencies)

Seorang anak muslim dari sekolah Maaz St tinggi praktik seni bela  diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan  Hyderabad, 8 Juli 2008.

Seorang anak muslim dari sekolah St Maaz tinggi praktik seni bela diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan Hyderabad 8 Juli 2008. (Photo:chinadaily.com.cn/Agencies)

Seorang anak muslim dari sekolah Maaz St tinggi praktik seni bela  diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan  Hyderabad, 8 Juli 2008.

Seorang anak muslim dari sekolah St Maaz tinggi praktik seni bela diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota India selatan Hyderabad 8 Juli 2008. (Photo:chinadaily.com.cn/Agencies)

Muslim schoolgirls dari praktek sekolah St  Maaz tinggi seni bela diri wushu Cina di dalam kompleks sekolah di kota  India selatan Hyderabad, 8 Juli 2008.

Muslim schoolgirls dari praktek sekolah tinggi Maaz St wushu Cina seni bela diri di dalam kompleks sekolah di kota India selatan Hyderabad 8, Juli 2008. (Photo:chinadaily.com.cn/Agencies)

(Xinhua News Agency 10 Juli 2008)

sumber : http://china.org.cn/sports/news/2008-07/10/content_15987444_2.htm

Islamic Chinese Wallpapers Galore! (via Islam in China)


Subhanallah…

Islamic Chinese Wallpapers Galore! Here are a few Islamic wallpapers with Chinese themes that I created recently. The map of the China is present in all the three wallpapers and the first two also have the name of the Prophet Muhammad (peace be upon him) in Chinese. You can click on the images to see the full scale wallpapers. I hope that people like these wallpapers (insha'Allah). All the wallpapers have the famous "China Hadith." The subject has come up before so I would like to … Read More

via Islam in China

Sejarah Ketentaraan dalam Dunia Islam


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Organisasi dan taktik militer menjadi sebuah kekuatan. Pemerintahan pada masa Abbasiyah, memiliki kekuatan itu sebagai penopang eksistensi mereka. Tentunya, selain pencapaian ilmu pengetahuan di berbagai bidang yang melahirkan decak kagum, organisasi dan taktik militer yang saat itu dikembangkan diakui efektivitasnya oleh pihak lain.

Buku Art of War, yang ditulis seorang sarjana bernama Charles Oman, mengungkapkan, dua hal yang membuat orang-orang Islam yang dipanggil dengan sebutan Saracen pada abad ke-10 menjadi musuh berbahaya, adalah jumlah dan kekuatan mesin perang luar biasa. Pengakuan atas kekuatan militer itu, terungkap pula dalam sebuah naskah tentang taktik militer yang dikaitkan pada Raja Leo VI. Ia berkuasa pada 886 hingga 912 Masehi. Menurut dia, dari semua bangsa atau berber, orang-orang Islam adalah yang paling baik dan paling hebat dalam taktik militernya.

Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, militer dibangun dengan mengandalkan pasukan Persia, bukan Arab. Bahkan, pasukan pengawal istana yang menjadi mesin militer terkuat kebanyakan diambil dari pasukan Khurasan. Saat itu, pasukan Arab dibagi menjadi dua divisi, yaitu Arab Utara yang berasal dari Mudhar.

Divisi lainnya adalah Arab Selatan yang berasal dari Yaman. Khalifah al Mu’tashim, di suatu hari membentuk divisi baru. Orang-orang Turki direkrut untuk mengisi divisi tersebut. Mereka berasal dari Farqanah dan sejumlah wilayah Asia Tengah lainnya. Meski pada akhirnya, divisi baru ini menjadi batu sandungan.

Seiring bergulirnya waktu, terutama setelah Khalifah Al-Muntashir, yang berkuasa antara 861 hingga 862 Masehi, mangkat, orang-orang Turki yang tergabung dalam divisi baru itu mulai memainkan peran mereka sebagai bagian dari pasukan pemerintah yang berpengaruh besar dalam urusan kenegaraan.

Dinasti Abbasiyah, mengadopsi sistem yang dikembangkan pihak lain dalam mengembangkan organisasi militernya, terutama saat membentuk pola pasukan. Mereka mengambilnya dari Romawi dan Bizantium, yang menempatkan 10 prajurit di bawah kendali satu orang yang disebut a’rif. Sama seperti decurion dalam militer Romawi.

Sedangkan, 50 prajurit di bawah komando seorang khalifah, 100 prajurit di bawah komando seorang qa’id, dan 10 ribu pasukan yang terdiri atas 10 batalion di bawah komando seorang amir atau jenderal. Pasukan yang terdiri atas 100 orang membentuk sebuah skuadron dan beberapa skuadron membentuk sebuah unit.

Tak hanya untuk pertahanan, Dinasti Abbasiyah memanfaatkan pasukannya untuk meredam berbagai pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah, seperti di Persia, Suriah, dan Asia Tengah. Selain itu pasukannya juga dikirim untuk berperang melawan kekuatan Bizantium.

Menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, sistem organisasi militer kekhalifahan Arab, pada umumnya tak mempunyai pasukan reguler dalam jumlah besar. Bahkan, pasukan pengawal khalifah yang disebut haras mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masing mengepalai sekelompok pasukan.

Terdapat pasukan bayaran dan sukarelawan serta beberapa pasukan yang berasal dari beragam suku dan distrik. Pasukan sukarelawan yang karib dengan sebutan mutathawwi’ah dibayar saat mereka sedang bertugas. Biasanya, pasukan ini beranggotakan orang-orang badui, petani, dan penduduk kota.

Pasukan tetap yang bertugas aktif, biasanya disebut sebagai murtaziqah. Mereka dibayar secara berkala oleh pemerintah. Sedangkan pasukan pengawal istana, memperoleh bayaran lebih tinggi dibandingkan pasukan lainnya. Mereka juga mengenakan seragam bagus dan dipersenjatai secara lengkap.

Namun, pada masa awal tampuk pemerintahan Dinasti Abbasiyah, mereka telah memiliki pasukan reguler, yang terdiri atas pasukan infanteri atau harbiyah yang dipersenjatai dengan tombak, pedang, dan perisai. Juga, ada pasukan panah (ramiyah) dan kavaleri (fursan), yang bersenjatakan tombak panjang dan kapak.

Perlengkapan lainnya yang mereka kenakan adalah pelindung kepala dan dada. Terkait dengan tingkat gaji, ratarata gaji yang diterima pasukan infanteri sekitar 960 dirham per tahun.
Mereka juga mendapatkan tambahan santunan rutin. Sedangkan, pasukan kavaleri mendapatkan gaji dua kali lipat dari gaji pasukan infanteri.

Pada masa Khalifah Al-Ma’mun, saat dinasti ini mencapai puncak kejayaan kekuasaannya, pasukan yang bermarkas di Baghdad, Irak, mencapai jumlah 125 ribu. Saat itu, pasukan infanteri hanya menangguk gaji sebesar 240 dirham per tahun. Namun, pasukan kavaleri tetap saja diberi gaji dua kali lipat dibandingkan mereka. Sejumlah terobosan Sejarawan Ibnu Khaldun dan AlThabari mengisahkan, saat tampuk kekuasaan di tangan Al-Mutawakil, pasukannya diajari membawa pedang di pinggang, layaknya gaya para pasukan Persia. Saat itu, orang-orang Arab telah terbiasa membawa pedang di punggungnya.

Sang khalifah, memerintahkan pasukan panah membawa pelontar, berpakaian antiapi, dan bertugas melontarkan bahan-bahan mudah terbakar ke area pasukan musuh. Para arsitek pembuat alat pelontar dan pendobrak ditugaskan untuk menemani pasukan di medan pertempuran.

Ada seorang arsitek terkenal bernama Ibn Shabir al-Manjaniqi yang hidup pada abad ke-11, pernah membuat sebuah karya tentang seni peperangan serta teknik peperangan yang diuraikannya secara sangat terperinci. Di sisi lain, Khalifah Harun alRasyid merupakan khalifah pertama memiliki ide pembuatan ambulans.

Ambulans ini digunakan untuk merawat personel pasukan yang terluka saat bertempur di medan peperangan. Ambulans pada masa itu berbentuk gerobak yang ditarik oleh unta. Di dalam gerobak tersebut, terdapat berbagai macam jenis obat untuk mengobati luka-luka para pasukan perang.

Bagaimana Mesin Propaganda Israel Membentuk Opini Dunia? (3-habis)


Bagaimana Mesin Propaganda Israel Membentuk Opini Dunia?  (3-habis)

Gambar yang disebar militer Israel untuk membangun opini sesat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Lalu bagaimana mesin propaganda Israel bekerja dalam pembantaian relawan di Kapal Mavi Marmara? Sebuah artikel menarik ditulis Antony Lerman di situs guardian.co.uk edisi 4 Juni 2010. Di situ dia menceritakan bahwa sesaat sebelum penyerangan terjadi, Israel telah memutus semua jenis komunikasi dari kapal yang ikut konvoi ke pihak lain.

Pemutusan alur komunikasi ini dilakukan Israel atas kesadaran yang tinggi akan pentingnya peran informasi dalam membentuk citra di dunia internasional. Dengan pemutusan itu, maka dunia tidak bisa menyaksikan secara jelas apa yang sesungguhnya terjadi saat itu. Kesaksian para relawan yang diungkapkan secara lisan, tidaklah bisa mewakili kondisi yang sesungguhnya secara tepat.

“Gambar-gambar yang disiarkan Al Jazeera, IHH, maupun sumber lain sesaat sebelum penyerangan, tidak begitu jelas,” tulis Lerman dalam artikel itu. Dalam gambar itu hanya terlihat orang terluka, helikopter, dan pasukan yang sedang menembak. Gambar-gambar itu tidak bisa secara detil menghadirikan kepada publik, kondisi yang sebenarnya terjadi.

Saat komunikasi dari kapal terputus, Israel kemudian menyebarkan berbagai gambar yang diperolehnya saat peristiwa tersebut terjadi. Tentu saja, gambar itu sudah mengalami proses editing yang harus menguntungkan pihak Israel. Kemudian militer Israel menayangkan gambar-gambar manipulatif itu di situs Youtube.

Video di situs tersebut menggambarkan pasukan Israel yang terjadi dari helikopter dan dihadang oleh para relawan di geladak kapal. Kemudian di video itu diberi keterangan-keterangan yang menempatkan tentara Israel sebagai ‘korban’. Misanya dalam video itu tertulis, kalimat ‘para aktivis memukuli tentara Israel dengan besi’.

Sama sekali di situ tidak dijelaskan bagaimana tentara Israel secara membabi buta menembaki para relawan. Kekejaman Israel terhadap para relawan ditutup rapat dan diputarbalikkanya sedemikian rupa agar relawan menjadi terlihat sadis.

Sialnya, video yang dirilis militer Israel ini hingga Selasa petang sudah diklik hampir 2 juta kali. Betapa banyak warga dunia yang menyaksikan video manipulatif itu. Video-video lain yang terkait dengan Mavi Marmara, belum ada yang diklik sebanyak itu.

Lagi-lagi agenda Israel untuk memainkan propaganda pun berjalan saat relawan diturunkan di Ashdod dan dipenjara. Mereka hanya diberikan akses komunikasi secara terbatas. Perangkat perekam yang dibawa para relawan maupun wartawan pun disita militer Israel. Dengan demikian, tidak ada lagi gambar versi relawan yang bisa disiarkan kepada publik.

Kemudian Israel pada kesempatan itu juga merilis gambar saat para relawan yang terluka diangkut ke helikopter untuk dirawat. Lewat gambar ini, Israel seolah-olah ingin menampilkan wajah kemanusiaannya.

Adakah semua cara itu membawa hasil? Meski dijalankan penuh rencana, ternyata propaganda itu tidak berhasil menjadikan citra Israel di mata dunia menjadi positif. Setelah kejadian itu, unjuk rasa mengutuk Israel berlangsung di berbagai belahan penjuru dunia. Sayangnya, kekuatan unjuk rasa itu belum juga berhasil menjadikan Israel mengakhiri blokade Gaza. warga Gaza masih terus berteman dengan derita yang berkepanjangan. (habis)

%d bloggers like this: