Monthly Archives: March 2010

Tolak Liberalisasi di Balik Gerakan Lesbian Gay Biseksual Transeksual (LBGT)!


Syabab.Com – Sekularisme dan liberalisme telah menampakkan kerusakkannya pada negeri berpenduduk mayoratas Muslim terbesar di dunia ini. Sangat mengejutkan, gerakan lesbian gay biseksual transeksual (LBGT) akan mengadakan pertemuan Konferensi se-Asia ke-4 Asosiasi Kaum Gay, Lesbian, Biseksual, Trangender & Intersex (4th ILGA-Asia Regional Conference), di Surabaya. Tentu saja, kaum Muslim tidak tinggal diam atas rencana pertemuan mungkar tersebut.

Berbagai komponen ormas Islam, termasuk MUI menolak penyelenggaraan tersebut. Pihak kepolisian pun tidak memberikan izin atas terselenggaranya konferensi ILGA itu.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Surabaya, melakukan aksi menolak liberalisasi di balik gerakan lesbian gay biseksual transeksial (LGBT) di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Jum’at (26/03).

Sepanjang rute longmarch yang dilalui terkibar Al-liwa’ dan Arrayah, dan Takbir dikumandangkan. Syabab Hizbut Tahrir menyerukan penolakan liberalisasi disertai dengan poster dan banner yang bertuliskan “Tolak Upaya Liberalisasi dibalik LGBT”, “LGBT Haram, Kriminal, Menjijikkan”, “Khilafah penjaga umat penghukum LGBT”.

Menurut Ketua DPD HTI Kota Surabaya Fikri A. Zudiar, aksi ini bukan terkait dengan penolakan konfrensi ILGA (International Lesbian Gay Asociation) oleh kepolisian yang memang telah menjadi tanggung jawabnya, dengan tidak mengijinkan kegiatan yang merusak umat tersebut. Aksi lebih ditekankan untuk menyampaikan dan menyerukan pandangan Islam serta mengingatkan akan bahaya liberalisme kepada masyarakat.

Atas penolakan pihak kepolisian terhadap konferensi ILGA tersebut, HTI merasa bersyukur. HTI juga mengingatkan kepada pemilik kebijakan bahwa aktivitas tersebut hanyalah bagian kecil dari aktivitas mereka, sehingga sebenarnya Hizbut Tahrir bukan hanya menginginkan pembatalan konferensi itu saja tapi pelarangan aktivitas LGBT.

Menurutnya, LGBT ini merupakan aktivitas yang lahir dari liberalisme, dan dipastikan sangat berbahaya bagi umat. Sehingga aktivitas mereka ini wajib diwaspadai karena sebenarnya tak terlepas dari upaya-upaya liberalisasi yang selama ini telah melanda masyarakat kita.

Dengan alasan HAM dan kebebasan, mereka menuntut kesetaraan dan pengakuan. Padahal bagaimana bisa kebebasan akan dilakukan sementara Pencipta kita telah memberikan batasan, mana yang boleh dan mana yang tidak.

Demikianlah fenomena kerusakkan sistem sosial di bawah tatanan sekularisme liberalisme yang sangat berbeda jauh bila sistem Islam diterapkan. Sudah saatnya kaum Muslim mengenyahkan semua ide rusak tersebut dan kembali kepada syariat Islam di bawah naungan Khilafah Rasyidah. [m/htipress/syabab.com]

Khalifah Tidak Mengadopsi Hukum-hukum Ibadah dan Ide-ide Yang Terkait Akidah


Pengantar

Di tengah masyarakat sering kita jumpai khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam hukum-hukum ibadah, misalnya dalam jumlah rakaat shalat tarawih. Ada yang tarawih 11 rakaat dan ada yang tarawih 23 rakaat. Mungkin muncul pertanyaan, apakah Khilafah akan mengadopsi pendapat tertentu dalam masalah ini dan mengharuskan rakyat untuk mengamalkannya?

Ada pula khilafiyah dalam ide-ide yang berkaitan dengan akidah. Dulu, misalnya, pernah muncul perdebatan sengit apakah al-Quran makhluk atau kalamullah. Pada masa Khilafah Abbasiyah, Khalifah Al-Ma’mun (berkuasa 813-833 M) yang terpengaruh aliran Muktazilah mengadopsi ide al-Quran adalah makhluk dan mengharuskan rakyat menganut pendapat itu. Sebaliknya, Imam Ahmad bin Hanbal yang dianggap sebagai representasi aliran Ahlus Sunnah bersiteguh bahwa al-Quran adalah kalamullah, bukan makhluk. Akibatnya, beliau mendapat perlakuan keras dari penguasa saat itu. Apakah Khilafah akan mengadopsi ide tertentu dalam persoalan akidah seperti itu dan mengharuskan rakyat untuk menganutnya?

Hizbut Tahrir telah menjawab pertanyaan semacam ini dalam kitabnya, Rancangan UUD Negara Khilafah (Masyrû’ ad-Dustûr). Pasal 4 Rancangan UUD itu berbunyi: Khalifah tidak mengadopsi hukum syariah tertentu dalam ibadah, kecuali zakat dan jihad, serta apa saja yang menjadi keharusan untuk menjaga persatuan kaum Muslim. Khalifah juga tidak mengadopsi ide apa pun yang berkaitan dengan akidah Islam.” (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 19).

Telaah kitab kali ini akan menjelaskan lebih jauh pasal tersebut berdasarkan uraian dalam kitab Muqaddimah ad-Dustûr karya Imam Taqiyyuddin An-Nabhani (2009).

Tak Mengadopsi Lebih Baik daripada Mengadopsi

Jelas dari bunyi pasal itu, bahwa Khalifah tidak mengadopsi hukum-hukum syariah tertentu yang bersifat khilafiyah dalam persoalan ibadah. Khalifah juga tidak mengadopsi ide-ide tertentu yang terkait dengan akidah Islam, misalnya mengadopsi mazhab (aliran) Muktazilah atau aliran Wahabi (Salafi).

Imam an-Nabhani menyatakan sikap Khalifah yang demikian itu dimaksudkan untuk menjauhkan diri dari berbagai masalah serta untuk mewujudkan ketenteraman dan kerukunan di tengah umat (Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 19).

Dapat dibayangkan, andaikata Khalifah mengadopsi satu hukum tertentu dalam persoalan ibadah atau mengadopsi suatu aliran akidah tertentu, akan banyak masalah yang harus dihadapi Khalifah. Misalnya, munculnya rasa tidak senang dari rakyat kepada Khalifah. Ketidakpuasan rakyat ini dapat berkembang ke arah sikap pembangkangan rakyat yang tentu tidak baik bagi stabilitas negara.

Sebagai contoh, andai Khalifah mengadopsi pendapat bahwa melafalkan niat dalam ibadah (seperti wudhu, shalat, puasa, dsb) adalah bid’ah. Umat pun dilarang oleh Khalifah untuk melafalkan niat. Apa yang akan terjadi? Pasti di antara umat Islam ada yang tersinggung dan sangat keberatan dengan pelarangan oleh Khalifah itu, meski memang ada ulama yang berpendapat melafalkan niat itu bid’ah (Abdat, Risâlah Bid’ah, hlm. 175). Akan timbul pro-kontra yang merusak kerukunan umat karena sebagian umat yang tidak terima akan menjawab bahwa melafalkan niat bukanlah suatu bid’ah. (Harmi dkk, Kiai NU Tidak Berbuat Bid’ah, hlm. 15).

Contoh lain, jika Khalifah mengadopsi pendapat Wahabi (Salafi) bahwa ayat-ayat sifat tidak boleh ditakwilkan. Kelompok Wahabi tidak membenarkan pemahaman penganut Asy’ariyah yang menakwilkan “tangan Allah” (yadulLâh) sebagai “kekuasaan Allah” (qudratulLâh) (QS al-Fath [48] : 10). Penganut Wahabi pun sering menganggap penganut Asy’ariyah sebagai kelompok sesat, meski paham Asy’ariyah itu sesungguhnya didasarkan pada pemahaman lughawi dan pemahaman syar’i yang kuat. Jika Khalifah mengadopsi paham Wahabi ini, pasti di antara umat Islam ada yang tidak terima disebut sesat atau menyimpang.

Di sinilah kita dapat mengerti bahwa memang lebih bijaksana dan lebih tepat kalau Khalifah tidak mengadopsi baik itu menyangkut hukum-hukum tertentu yang khilafiyah dalam masalah ibadah maupun menyangkut ide-ide tertentu yang berkaitan dengan akidah. Khalifah cukup melakukan pengawasan secara umum (isyraf ‘âm) kepada masyarakat dan mencegah tindakan saling membid’ahkan atau mengkafirkan di antara anggota masyarakat.

Namun, Imam An-Nabhani menegaskan, bahwa ketika Khalifah tidak mengadopsi, bukan berarti mengadopsi itu haram bagi Khalifah, namun artinya ialah Khalifah memilih untuk tidak mengadopsi. Sebab, mengadopsi suatu hukum asalnya adalah mubah bagi Khalifah. Jadi Khalifah boleh mengadopsi dan boleh tidak mengadopsi. Namun, Imam an-Nabhani lebih cenderung agar Khalifah tidak mengadopsi. Bunyi pasal 4 di atas redaksinya adalah: Khalifah tidak mengadopsi…” dan bukannya, “Khalifah haram mengadopsi…” (Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 20).

Alasan Memilih Tidak Mengadopsi

Lalu apa alasannya Imam an-Nabhani lebih cenderung agar Khalifah tidak mengadopsi? Ada dua alasan yang dikemukakan beliau. Pertama: karena adopsi dalam hukum-hukum ibadah dan ide yang berkaitan dengan akidah dapat menimbulkan haraj (rasa sempit di dalam hati). Padahal Islam tidak menghendaki adanya kesempitan dalam mengamalkan ajaran Islam, sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan (QS al-Hajj [22]: 78).

Kedua: karena adopsi seperti itu menyalahi fakta adopsi. Sebab, adopsi itu berada pada interaksi antarsesama manusia, bukan pada interaksi antara manusia dengan Allah SWT. Adopsi itu faktanya terkait dengan hukum-hukum muamalah atau ‘uqûbât, yang memang akan menimbulkan konflik dan sengketa di antara individu masyarakat jika tidak diatur dengan hukum yang sama.

Adapun hukum-hukum ibadah dan juga ide yang berkaitan dengan akidah, faktanya adalah pengaturan interaksi antara manusia dengan Allah SWT, bukan interaksi antarsesama manusia. Jika ada perbedaan hukum, relatif tidak akan menimbulkan konflik atau sengketa di antara individu masyarakat.

Berdasarkan dua alasan itulah, yang lebih tepat adalah Khalifah itu hendaknya tidak mengadopsi (Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 21).

Pengecualian

Meski sikap yang lebih baik adalah Khalifah tidak mengadopsi, namun ada pengecualiannya, yaitu boleh saja Khalifah mengadopsi hukum-hukum ibadah atau ide yang berkaitan dengan akidah dalam rangka untuk memelihara persatuan umat, meskipun dapat menimbulkan rasa sempit di dalam hati (haraj) dan menyalahi fakta adopsi.

Pengecualian ini karena adanya tarjîh (pengunggulan) pada nash-nash yang qath’i (pasti), yaitu nash yang qath’i tsubût (pasti penetapannya) dan qath’i dalâlah (pasti pengertiannya). Nash qath’i seperti ini lebih kuat daripada nash yang tak menghendaki adanya kesempitan dalam agama Islam. Misalnya, nash qath’i yang mewajibkan kaum Muslim bersatu dengan ikatan Islam dan melarang mereka untuk bercerai-berai (QS Ali ‘Imran [3]: 103). Nash qath’i ini lebih râjih (kuat) daripada nash yang tak menghendaki rasa sempit dalam agama Islam (QS Al-Hajj [22]: 78).

Maka dari itu, sebagai pengecualian, boleh Khalifah mengadopsi hukum-hukum ibadah tertentu, seperti hukum-hukum jihad dan zakat, demi menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam. Sulit dibayangkan negara Khilafah dapat memungut zakat secara optimal dari umat Islam kalau Khilafah tidak mengadopsi hukum-hukum tertentu dalam masalah zakat. Khalifah juga boleh mengadopsi kesatuan awal puasa Ramadhan, kesatuan pelaksanaan haji, juga kesatuan Idul Fitri dan Idul Adha, dalam rangka untuk memelihara persatuan kaum Muslim. Fakta menunjukkan bahwa perbedaan hari raya sering menimbulkan suasana tidak nyaman bahkan permusuhan di antara anggota masyarakat, atau bahkan di antara sesama anggota keluarga yang kebetulan berbeda mazhab. Mereka terbukti lebih senang dan lebih berbahagia jika Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari yang sama. Maka sudah selayaknya, Khalifah nanti mengadopsi kesatuan Idul Fitri dan Idul Adha bagi kaum Muslim di seluruh dunia. WalLâhu a’lam. []

Daftar Bacaan

Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Risâlah Bid’ah, (Jakarta: Pustaka Abdullah), 2004.

Al-Baghdadi, Abdul Qahir, Al-Farqu bayna al-Firaq, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah), 2005.

Al-Ghumari, Ahmad bin Muhammad, Tawjîh al-Anzhar li Tawhîd al-Muslimîn fî ash-Shawm wa al-Ifthâr (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah), 2006.

Al-Hafni, Abdul Mun’im, Ensiklopedi Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam (Mawsû’ah al-Harakât wa al-Madzâhib al-Islamiyyah fi al-‘Alam), Penerjemah Muhtarom, (Jakarta: Soegeng Saryadi Syndicate & Grafindo Khazanah Ilmu), 2006.

Al-Hawali, Safar bin Abdurrahman, Ushûl al-Firaq wa al-Adyân wa al-Madzâhib al-Fikriyyah, (t.tp.: t.p.), t.t.

Al-Hamd, Muhammad bin Ibrahim, Rasâ’il fî al-Adyân wa al-Firaq wa al-Madzâhib, (t.tp.: t.p.), 1426.

Al-Khalidi, Mahmud Abdul Majid, Qawâid Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, (Kuwait: Dar al-Buhuts Al-Ilmiyyah), 1980.

An-Nabhani, Taqiyuddin, Muqaddimah ad-Dustur aw al-Asbâb al-Mûjibah Lahu, Jilid I, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan II, 2009.

Harmi, Bakhtiar dkk, Kiai NU Tidak Berbuat Bid’ah, (Ponorogo: Lajnah Ta‘lif wan Nasyr NU Ponorogo), 2009.

Hawari, Muhammad, ‘Isyrûna Nadwah fî Syarh wa Munâqasyah Masyrû’ Tathbîq al-Islâm fî al-Hayâh, (t.t.p.: t.p), 2002.

Mufti, M. Ahmad & Al-Wakil, Sami Shalih, At-Tasyrî’ wa Sann al-Qawânin fî ad-Dawlah al-Islâmiyyah, (Beirut: Dar Al-Nahdhah al-Islamiyyah), 1992.

Zarkasyi, Amal Fathullah, ‘Ilmu al-Kalam Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyyah wa Qadhâyaha al-Kalamiyyah, (Gontor: Darus Salam), 2006.

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2010/03/09/khalifah-tidak-mengadopsi-hukum-hukum-ibadah-dan-ide-ide-yang-terkait-akidah/

AL-QUDS TAK BISA DIBEBASKAN OLEH BARISAN KATA-KATA, TETAPI OLEH BARISAN TENTARA YANG MEMERANGI NEGARA YAHUDI!


[Al-Islam 500] Para penguasa Arab menutup KTT Arab ke-22 pada sore hari (Ahad) ini, 28 Maret 2010, setelah berlangsung selama dua hari di kota Sirte Libia. Resolusi-resolusi KTT dipenuhi oleh paragraf lama yang diperbarui—seputar upaya perdamaian, konflik Arab-Israel, Inisiatif Arab, situasi di Irak dan Semenanjung Emirat; dukungan atas perdamaian; pembersihan kawasan Arab dari senjata nuklir; dan lain- lain. Semuanya merupakan resolusi bombastik yang tak ada artinya, hanya sekadar kata-kata kosong!

Hanya saja, terdapat dua perkara menarik selama penyelenggaraan KTT hingga dikeluarkannya pernyataan final. Pertama: antek-antek Inggris secara jelas melakukan sejumlah ‘upaya panas’ untuk mempengaruhi sekaligus mengendalikan resolusi Liga Arab. Yaman, misalnya, mengusulkan pembentukan Persatuan Arab untuk menggantikan Liga Arab. Jelas, usulan itu sesuai dengan pendapat Ketua KTT, Penguasa Libia (Qadafi). Kemudian Qadafi mengatakan bahwa resolusi tersebut disetujui. Ini di satu sisi. Di sisi lain, Qadafi sebagai ketua KTT pada periode saat ini telah meminta keistimewaan sebagai ketua KTT untuk memiliki wewenang mengoreksi Sekjen Liga dan menyerukan penyelenggaraan KTT Istimewa. Di sisi ketiga, Qatar mengusulkan pembentukan suatu komite yang bisa berkomunikasi langsung dengan Ketua KTT.

Semua itu menunjukkan bahwa melalui antek-anteknya Inggris ingin menancapkan pengaruhnya atas Liga Arab atau membentuk organisasi pengganti Liga Arab. Ini karena Liga Arab merupakan buatan Inggris pada tanggal 22 Maret 1945. Namun, pada tahun-tahun terakhir ini Amerika telah masuk sangat dalam ke dalam Liga dan memiliki pengaruh yang ada nyata dalam resolusi-resolusi yang dikeluarkan oleh Liga. Pusat pengaruh AS itu ada di Kairo. Presiden Mesir adalah antek Amerika sekaligus penjaga Amerika dan nilai-nilai Amerika.

Kedua: masalah al-Quds. Sejumlah resolusi KTT menjadikan masalah al-Quds dipenuhi dengan berbagai hal yang menyenangkan para peserta konferensi dan sarat dengan kata-kata manis. Mereka dengan bangga telah mengumumkan bahwa mereka telah menyiapkan strategi untuk membebaskan al-Quds, yang mereka fokuskan pada tiga poros: politik, perundang-undangan dan finansial. Mereka menyerukan agar Dewan Keamanan (DK) PBB memikul tanggung jawabnya sekaligus bergerak mengambil langkah-langkah dan mekanisme yang diperlukan untuk menyelesaikan pertikaian Arab-Israel. Mereka memutuskan untuk mengarahkan resolusi kepada Mahkamah Kejahatan Internasional untuk menghakimi kejahatan Israel di kota-kota yang disucikan. Mereka juga memutuskan mendukung al-Quds dengan dana sebesar setengah miliar dolar AS untuk menghadapi rencana-rencana permukiman Israel. Akhirnya, meski bukan yang paling akhir, mereka saling berlomba secara ‘hangat’ untuk menyampaikan kecintaan atas al-Quds dan pujian atas al-Aqsa.

Wahai Manusia:

Sungguh para penguasa itu memiliki akal tetapi tidak mereka gunakan untuk berpikir; mereka memiliki telinga tetapi tidak mereka gunakan mendengar; mereka juga memiliki mata tetapi tidak melihat. Sungguh bukanlah mata mereka yang buta melainkan hati yang ada di dalam dada merekalah yang buta! Bisakah al-Quds dibebaskan dengan perundingan umum yang tidak memiliki kekuasaan sedikitpun? Ataukah al-Quds bisa dibebaskan dengan dukungan finansial yang tidak akan bisa sampai ke al-Quds kecuali di bawah pengawasan Yahudi? Bisakah al-Quds dibebaskan dengan seruan kepada Dewan Keamanan PBB yang justru telah mendirikan negara Yahudi di Palestina? Ataukah al-Quds bisa dibebaskan dengan mengajukan tuntutan kepada Mahkamah Internasional yang tidak bisa memutuskan kebenaran dan tidak pula bisa menolak kebatilan?! Ataukah al-Quds bisa dibebaskan dengan ucapan-ucapan hangat tentang kecintaan dan kerinduan kepada al-Quds, sementara pemilik ucapan itu justru membuka kedutaan untuk negara Yahudi di negerinya dan mengundang pembantai al-Quds ke negerinya?!

Wahai Manusia:

Dulu ada orang yang mengatakan bahwa para penguasa itu—meski berlepas diri dari Palestina yang diduduki—tidak akan pernah berlepas diri dari al-Quds dan al-Aqsa; jika bukan karena dorongan takwa, pastilah karena dorongan rasa malu. Namun, sekarang al-Quds telah digali dari sekelilingnya, bahkan dari jantungnya; dari arah kubah ash-Shakhrah dan masjidnya. Yahudi telah bermain di atas dan bawahnya. Yahudi telah mengosongkan tanah di bawahnya, menodai kehormatannya dari atasnya serta memenuhi tanahnya dengan permukiman dari depan dan belakangnya. Bahkan Yahudi telah ‘menghadiahi’ KTT mereka, pada sore hari pelaksanaannya, dengan agresi atas Gaza dan deklarasi panas seputar kelanjutan kebijakan pembangunan permukiman di al-Quds tanpa ada perubahan sedikitpun. Para penguasa itu telah menyaksikan dan mendengar semua itu; mereka saling bertemu dan berjabat tangan, makan-makan dan tertawa. Namun, nyatanya mereka hanya berdiri temangu!

Wahai Kaum Muslim:

Sungguh yang bisa membebaskan al-Quds adalah seorang panglima yang ikhlas kepada Rabb-nya, yang membenarkan Rasul-Nya serta yang memimpin tentara kaum Muslim dan menghimpun orang-orang yang mampu untuk bergabung di dalam pasukan. Yang bisa membebaskan al-Quds adalah seorang panglima yang kuat lagi bertakwa, yang mengembalikan jejak al-Faruq (Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.) yang telah membebaskan al-Quds pada tahun 15 H dan menetapkan Dokumen Umariah, yang di dalamnya dinyatakan bahwa tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal di al-Quds. Yang bisa membebaskan al-Quds adalah seorang panglima yang mengembalikan jejak langkah Shalahuddin yang telah membebaskan al-Quds dari najis kaum Salibis pada tahun 583 H dan mengangkat Qadhinya, Muhyiddin, yang membuka khutbah Jumat pertama setelah pembebasannya itu dengan ayat yang mulia:

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala pujian bagi Allah, Tuhan semesta alam (QS al-An’am [6]: 45).

Yang bisa membebaskan al-Quds adalah panglima yang mengembalikan sejarah Abdul Hamid II, yang menjaga al-Quds dan menghalangi Hertzel dan para begundalnya untuk memasuki al-Quds, meskipun harta yang besar ditawarkan Hertzel ke kas negara. Jawaban Abdul Hamid II pada tahun 1901 adalah: “Sesungguhnya Palestina bukanlah milikku, tetapi milik bangsaku yang telah mengairinya dengan darah mereka. Karena itu, hendaklah Yahudi menyimpan saja jutaan uangnya. Sesungguhnya sayatan pisau di badanku lebih sepele daripada aku melihat Palestina dikerat dari negaraku. Perkara itu tidak akan terjadi.”

Begitulah, al-Quds akan bisa dibebaskan dari gerombolan Yahudi oleh tentara kaum Muslim yang mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka duga dan menyerang mereka dengan serangan yang membuat mereka melupakan bisikan-bisikan setan. Mereka adalah tentara yang bergegas meraih satu di antara dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid.

Wahai Para Tentara di Negeri Kaum Muslim:

Sungguh tidak ada alasan dan uzur bagi orang yang mencari-cari alasan dan uzur. Janganlah Anda mengatakan bahwa para penguasa telah melarang Anda. Di tangan Andalah kekuatan. Bahkan Anda yang menjaga para penguasa itu. Di tangan Andalah nasib mereka. Jika Anda menaati mereka, niscaya mereka menjerumuskan Anda ke dalam dosa dan permusuhan, dan Anda tidak akan bisa merasakan telaga Rasulullah saw. Jika Anda tidak menolong mereka dalam kezalimannya, tidak membenarkan kebohongan mereka, maka Rasul saw. akan menjadi bagian dari Anda dan Anda menjadi bagian dari beliau; Anda pun akan bisa merasakan nikmatnya telaga Rasulullah saw. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Kaab bin Ujrah:

«أُعِيذُكَ بِاللَّهِ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ أُمَرَاءَ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِى فَمَنْ غَشِىَ أَبْوَابَهُمْ فَصَدَّقَهُمْ فِى كَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْهُ وَلاَ يَرِدُ عَلَىَّ الْحَوْضَ وَمَنْ غَشِىَ أَبْوَابَهُمْ أَوْ لَمْ يَغْشَ فَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ فِى كَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّى وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَىَّ الْحَوْضَ»

Aku berlindung kepada Allah untukmu, wahai Kaab bin Ujrah, dari para pemimpin yang akan ada sesudahku. Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu mereka lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka atas kezalimannya, maka ia bukan bagian dari golonganku dan aku bukan bagian dari golongannya; ia pun tidak akan bisa merasakan telaga bersamaku. Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu mereka atau tidak mendatangi, lalu tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu mereka atas kezalimannya, maka dia bagian dari golonganku dan aku bagian dari golongannya serta ia akan bisa merasakan telaga bersamaku (HR at-Tirmidzi).

Wahai Para Tentara di Negeri Muslim:

Sungguh Hizbut Tahrir meminta pertolongan (nushrah) Anda untuk menegakkan Khilafah. Karena itu, berikanlah nushrah Anda. Hizbut Tahrir menyeru Anda untuk berhambur memerangi Yahudi. Karena itu, penuhilah seruan itu. Sungguh memerangi Yahudi dan kemenangan atas mereka itu telah dinyatakan di dalam Kitabullah SWT (lihat: QS al-Isra’ [17]: 7-8); juga di dalam hadis Rasul saw.:

«لَتُقَاتِلُنَّ الْيَهُودَ فَلَتَقْتُلُنَّهُمْ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِىٌّ فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ»

Sungguh kalian akan memerangi Yahudi dan kalian memerangi mereka hingga batu pun berkata, “Hai Muslim, ini Yahudi. Kemarilah, bunuh dia.” (HR Muslim dari Ibn Umar ra.).

Tidak adakah di antara Anda orang cerdas yang berangkat dengan tentaranya; yang melindas setiap penguasa yang menghadangnya; yang menegakkan pemerintahan Islam di atas muka bumi, yaitu Khilafah Rasyidah; yang membebaskan al-Aqsa; yang membaca dalam khutbah Jumat pertama setelah pembebasannya dari najis Yahudi ayat yang pernah dibaca oleh Qadhi Muhyiddin (QS al-An’am [6]: 45); yang kemudian disebut oleh Allah SWT di dalam Kerajaan-Nya di sisi-Nya, dicemburui oleh para malaikat di langit dan orang-orang shalih di muka bumi sehingga ia menjadi mulia di dunia dan di akhirat; yang semua itu benar-benar kesuksesan yang agung?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (QS al-Anfal [8]: 24).

[Diringkas dari nasyrah resmi yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tanggal 12 Rabi ats-Tsani 1431 H/28 Maret 2010]

21 Mayat Kaki Bayi Ditemukan di Sungai Cina


INILAH.COM, Jakarta – Warga Beijing, Cina gempar setelah temuan 21 potong mayat kaki bayi mengapung di sungai bagian timur Cina. Kaki-kaki mungil itu terbungkus kantung plastik.

Pada pergelangan kaki-kaki bayi itu terdapat tag identifikasi rumah sakit. Bungkusan itu pertama ditemukan oleh seorang warga yang melihat kantung plastik hitam yang mengapung di tepi sungai, seperti dilansir news.com.au Rabu (30/3).

Setelah melaporkan kejadian tersebut ke polisi, terungkaplah misteri kaki-kaki bayi itu. Ternyata, pelaku yang membuang ‘limbah medis’ berupa tubuh bayi tersebut adalah dua petugas kamar mayat sebuah rumah sakit di Beijing Cina.

Pelaku memasukkan dalam kantong plastik kuning, dan kondisinya sudah membusuk berbalut lumpur sungai. Beberapa di antara potongan kaki bayi itu ada yang masih mengenakan popok. Kantor berita resmi Xinhua mengatakan di sungai itu bukan hanya potongan kaki-kaki bayi, tetapi sempat ditemukan pula mayat janin.

Sementara itu, juru bicara pemerintah Jining Zhenhua Gong mengatakan dua pekerja kamar mayat Rumah Sakit Zhu dan Wang Zhijun Zhenyu dipecat dan telah dibawa ke polisi. Motif pelaku pembuangan masih belum jelas apakah Wang Zhu dan membuang mayat langsung di sungai atau jika mereka berupaya untuk menguburkan mereka.

“Ini memperlihatkan kelalaian serius manajemen rumah sakit dan menunjukkan kurangnya etika dan kesadaran hukum dari beberapa staf rumah sakit. Ini diberikan dampak yang sangat negatif pada masyarakat dan mengajarkan kepada kita pelajaran yang mendalam,” kata Gong. [ikl]

http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/03/31/430382/21-mayat-kaki-bayi-ditemukan-di-sungai-cina/

Gayus, Pegawai Pajak Pemilik Rekening Rp 25 Miliar Itu


“Tidak tahu, Mas. Saya tahunya dari koran doang,” kata seorang pegawai Ditjen Pajak yang namanya tak mau disebutkan kepada Persda Network di Kantor Ditjen Pajak Jakarta, Senin (22/3/). Seorang pegawai Ditjen Pajak lainnya hanya menggelengkan kepala ketika ditanya soal Gayus.

Namun seorang satpam yang bertugas di Ditjen Pajak mengaku kenal sosok Gayus. “Minggu lalu katanya cuti mau pulang kampung,” kata Siti Zulaeha, satpam  berambut sebahu itu kepada wartawan.

Nama Gayus melejit ketika Mantan Kabareskrim Polri Komjen (Pol) Susno Duadji menuding Gayus memiliki rekening Rp 25 miliar terkait kasus yang sedang diperiksa Mabes Polri.

Gayus adalah pegawai Bagian Penelaah Keberatan di Kantor Ditjen Pajak Pusat. Diduga Gayus adalah makelar kasus (Markus) di Ditjen Pajak. “Ruang kerja (Gayus) di lantai 18 (gedung utama Ditjen Pajak),” kata seorang pegawai Ditjen Pajak.

Menurut Dirjen Pajak Mochamad Tjiptardjo, Gayus sejak dulu adalah seorang petugas pegawai negeri sipil (PNS) biasa tanpa jabatan struktural di lingkungan Ditjen Pajak. Lengkapnya, Gayus  merupakan petugas bagian Penelaan Keberatan golongan 3A. “Sejak kasus ini GT tidak jadi petugas penelaah keberatan lagi,” kata Tjiptardjo.

Dari data yang diperoleh Persda gaji PNS untuk golongan 3A  dengan masa kerja 10 tahun sekitar Rp Rp 1,9 juta. Namun apakah Gayus sudah bekerja di Ditjen Pajak selama 10 tahun lamanya juga belum ada informasi resmi. Juga apakah Gayus memiliki “bisnis sampingan” di luar pendapatannya sebagai PNS juga belum ada informasi yang pasti.

Yang jelas, Tjiptardjo agak heran bagaimana bisa pegawai biasa seperti Gayus memiliki rekening hingga Rp 25 miliar. “Makanya GT (Gayus Tambunan) kita periksa hari ini,” kata Tijptardjo.

Gayus  diperiksa di Direktorat Kepatuhan Internal Sumber Daya Aparatur (Kitsda) lantai 20 Gedung Utama Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (22/3/2010), sejak pukul 10.00 WIB. Hingga pukul 16.00 WIB, Gayus masih diperiksa. Tjiptardo mensilahkan Gayus kalau hendak memberikan keterangan ke wartawan. “Tapi itu hak azasi dia,” kata Tjiptardjo. (persda network/aco)

sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/45126

%d bloggers like this: